BAB II

ISI

TAHUN- TAHUN AWAL SEKOLAH

Anak usia antara 6-12 tahun, periode yang kadang – kadang disebut sebagai masa kanak – kanak pertengahan atau masa laten, mempunyai tantangan baru. Kekuatan kognitif untuk memikirkan banyak factor secara stimultan memberikan kemampuan pada anak usia sekolah untuk mengevaluasi diri sendiri dan merasakan evaluasi teman – temannya. Sebagai akibatnya, penghargaan diri menjadi masalah sentral. Tidak seperti bayi dan anak pra sekolah, anak – anak usia sekolah dinilai menurut kemampuanya untuk menghasilkan hasil yang bernilai soaial, seperti nilai – nilai atau pekerjaan yang baik. Karenanya Erikson mengidentifikasi masalah sentral psikososial pada masa inisebagai krisis antara keaktifan dan inferioritas. Perkembangan kesehatan membutuhkan peningkatan pemisahan dari orang tua dan kemampuan menemukan penerimaan dalam kelompok yang sepadan serta merundingkan tantangan – tantangan yang berada di dunia luar.

  • PERKEMBANGAN FISIK

Laju pertumbuhan selama tahun sekolah awal lebih lambat daripada setelah lahir, tetapi meningkat secara terus menerus. Pada anak tetentu mungkin tidak mengikuti pola secara tepat. Anak usia sekolah tampak lebih langsing daripada anak usia pra seolah, sebagai akibat perubahan ditribusi dan keterbatasan lemak (Edelman dan Madel, 1994). Laju pertumbuhan berbeda setiap anak dan waktu yang berbeda. Rata – ratatinggi badan maeningkat 5 cm per tahun dan berat badan yang lebih bervariasi, menigkat 2 – 3,5 kg per tahun. Banyak anak yang berat badannya dua kali lipat selama tahun ertengahan masa anak – anak.

Pertumbuhan wajah bagian tengah dan bawah terjadi secara bertahap. Kehilangan gigi desidua (bayi) merupakan tanda maturasi yang lebih dramatis, mulai sekitar 6 tahun setelah tumbuhnya gigi – gigi molar pertama. Penggantian dengan gigi dewasa terjadi pada kecepatan sekitar 4/tahun. Jarigan limfoid hipertrofi, sering timbul tonsil dan adenoid yang mengesankan, yang kadang – kadang membutuhkan penanganan pembedahan.

Organ – organ seksual secara fisik belum matang, namun minat pada jenis kelamin yang berbeda dan tingkah laku seksual tetap aktif pada anak – anak dan meningkat secar progresif sampai pubertas. Masturbasi adalah biasa, bila tidak universal. Dalam adat yang lebih longgar, anak – anak pra pubertas sering melakukan elsperimen seksual.

  • PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN BAHASA

Pemikiran anak usia sekolah secara kualitas berbeda dari pemikiran anak yang lebih muda 1-2 tahun. Pada tempat kgnisi yang berdaya tarik, egosentris, dan terikat persepsi anak usia-sekolah semakin mempraktekan aturan aturan yang didasarkan pada fenomena yang dapat diamati, faktor pada banyak dimensi dan pandangan serta menginterpretasi persepsiya berdasarkan teori – teori realistik mengenai hukum – hukum fisik. Pegeseran dari ’praoperasional’ ke operasi logis yang nyata’ didokumentasi oleh Piaget dalam suatu seri percobaan ’konservasi’. Misalnya, seorang anak berusia 5 tahun yang memandangi sebuah bola dari tanah liat yag digulirkan ke seekor ular dapat bersikeras bahwa ular itu memiliki ’lebih banyak’ karena ia lebih panjang. Anak berusia 7 tahun secara khas menanggapi bahwa bola dan ular harus memilki berat yang sama karena tidak ada yang telah ditambahkan atau diambil atau karena ular tersebut lebih panjang dan lebih pipih. Reorganisasi kognitif ini terjadi pada berbagai kecepatan dalam konteks yang berbeda. Pada konteks interaksi sosial dengan saudara – saudaranya, anak kecil sering memperagakan suatu kemampuan memaham berbagai pandangan, jauh sebelum mereka memperagakan kemampuan tersebu dalam pemikirannya tentang dunia fisik.

Perubahan kognitif pada anak usia sekolah adalah kemampan untuk berfikir dengan cara logis tentang di sini dan saat ini dan bukan tetang abstraksi. Pemikiran anak usiasekolah tidak lagi didominasi oleh persepsinya dasekaligus kemampuan untuk memahami dunia secara luas. Sekiar 7 tahun, anak emasuki tahap Piaget ke tiga yaitu perkembangan kognitif, yang dikenal sebagai operasioal konkrit, ketika mereka mampu menggunakan simbol secara operasioal (aktivitas mental) dalam pemikiran, bukan kerja. Mereka mulai menggunakan proses pemikiran yang logis dengan materi konkret (objek, manusia dan peristiwa yang dapat mereka lihat dan sentuh).

Perkembanga bahasa sangat cepat selama masa kanak – kaa tengah dan pencapaian berbahasa tidak lagi sesuai dengan usianya. Rata – rata anak usia 6 tahun memiliki kosa kata sekitar 3000 kata yang cepat berkembang dengan meluasnya pergaulan dengan sebaya dan orang dewasa serta kemampuan membaca. Anak meningkatkan penggunaan berbahasa dan emgembangkan pengetahuan strukturalnya. Mereka menjadi lebih menyadari aturan sintaksis, aturan merangkai kata menjadi frase dan kalimat. Mereka juga mengidentifikasi generalisasi dan pengecualian terhadap atyran ini. Mereka menerima bahasa sebagai alat unuk menggambarkan dunia dalam cara subyektif dan menyadari bajwa kata – kata mempunyai arti yang berubah ubah dan bukan absolut.

  • PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL

Tugas perkembangan pada anak usia sekolah adalah industri versus inferioritas. Selama masa ini anak berjuang untuk mendapatkan kompetensi dan keterampilan yang penting bagi mereka untuk berfungsi sama seperti dewasa. Anak usia sekolah yang mendapatkan keberhasilan positif merasa adanya perasaaan berharga. Anak – anak yang menghadapi kegagalan dapat merasakan mediokritas (biasa saja) atau perasaan tidak berharga, yang dapat mengakibatkan menarik diri dari sekolah dan sebaya.

  • PERKEMBANGAN MORAL

Kebutuhan kode moral fan aturan sosial menjadi lebih nyata sesuai peningkatan kemampuan kognitif dan pengalaman sosial anak usia sekolah. Misalnya, anak usia 12 tahun mampu mempertimbangkan seperti apa jadinya masyarakat tanpa aturan karena kemampuan mereka untuk membuat alasan secara logis dan pengalaman mereka dalam kelompok bermain. Mereka memandang aturan sebagai prinsip dasar kehidupan, bukan hanya perintah dari yang memiliki otoritas. Pada awal tahun sekolah, anak menginterpretasikan secara ketat dan patuh terhadap aturan. Seiring dengan mereka berkembang, mereka menilai lebih fleksibel dan mengevaluasi aturan untuk diterapkan pada situasi yang ada. Anak usia sekolah mempertimbangkan motivasi dan prilaku aktual saat membuat penilaian tentang bagaimana prilaku mereka memengaruhi mereka sendiridan orang lain. Kemampuan untuk fleksibel saat menerapkan aturan dan mengambil perspektif orang lain yang esensial dalam mengembangkan penilaian moral. Kemampuan ini muncul pada nasa awal tetapi tampak lebih konsisten pada masa usia sekolah berikutnya.

  • HUBUNGAN SEBAYA

Pencapaian kelompok dan personal menjadi sangat penting pada anak usia sekolah. Sukses merupakan hal penting dalam aktivitas fisik dan kognitif. Bermain melibatkan sebaya dan pencapaian tujuan kelompok. Meskipun kegiatan soliter tidak dihilangkan, aktivitas ii tertutup oleh permainan kelompok. Belajar berperan, berkolaborasi, da bekerja sama untuk mencapa tujuan umum menjadi ukuran kesuksesan.

Anak usia sekolah menyukai sebaya sejenis daripada sebaya lain jenis. Identitas jender yang kuat dapat dilihat pada ikatan yang kuat dengan teman sejenis yang dipertahankan oleh anak, biasa dsebut ”geng”. Umumnya anak laki – laki dan perempuan memandang jenis kelamin yang berbeda secara negatif. Pengaruh sebaya menjadi lebih berbeda selama tahap perkembangan ini. Konformitas terlihat pada perilaku, gaya berpakaian, dan pola bicara, yang didorong dan dipengaruhi adanya kontrak dengan sebaya. Identitas kelompok meningkat. Seiring perubahan anak usia sekolah menuju adolesence.

  • IDENTITAS SEKSUAL

Freud menggambarkan masa kanak – kanak tengah sebagai periode laten karena ia merasa pada periode ini anak memilki sedikit ketertarikan dalam seksualitasnya. Sekarang ini banyak peneliti percaya baha anak usia sekolah memilki ketertarikan yan besar pada seksualitasnya. Beberapa anak melakukan permainan seks dan masturbasi tetapi secara sembunyi – sembunyi karena tidak diperbolehkan orang dewasa. Keinginan anak melihat majalah orang dewasa atau arti kata – kata eksplisit secara seksual juga merupakan salah satu contoh ketertarikan seksualnya.

  • KONSEP DIRI DAN KESEHATAN

Selama usia sekolah, identitas dan konsep diri menjadi lebih kuat dan lebih individual. Persepsi sehat sakit berdasarkan pada fakta yang mudah diobservasi seperti adanya atu tidak adanya penyakit dan keadekuatan tidur atau makan. Kemampuan fungsional merupakan standar untuk kesehatan personal dan kesehatan yang lain dinilai.

Antwerp dan Spaniolo (1991) telah mengembangkan kuesioner yang dapat digunakan sebagai alat ubtuk mengkaji dan meningkatkan gaya hidup yang sehat di antara anak usia sekolah. Alat ini meningkatkan kesadarn anak dan oranng tua tentang aktivitas yang meningkatkan kesehatan dan mencegah cedera.

Perawat atau pendidik kesehatan juga dapat mengggunakan alat ini untuk memperolah data untuk mengkaji kebutuhan pendidikan kesehatan anak.

About these ads