1.1  Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopyctus. Faktor – faktor  yang mempengaruhi kejadian Demam Berdarah Dengue sangat kompleks, antara lain iklim dan pergantian musim, kepadatan penduduk, mobilitas penduduk dan transportasi. Sebaran nyamuk penular demam berdarah dengue, kebersihan lingkungan yang tidak memadai serta factor keganasan virusnya. Berdasarkan kejadian dilapangan dapat diidentifikasikan factor utama adalah kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal. Sehingga terjadi genangan air yang menyebabkan berkembangnya nyamuk (Dinkom,2007). Insiden dan prevalensi penyakit Demam Berdarah Dengue menimbulkan kerugian pada individu, keluarga dan masyarakat. Kerugian ini berbentuk kematian, penderitaan, kesakitan, dan hilangnya waktu produktif (Indra,2003).

Penyakit demam berdarah dengue menjadi momok tiap tahun. Insiden di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989-1995) dan pernah meningkat tajam saat Kejasian Luar Biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998(IPD,2007), hingga medio 2005 masih ada daerah berstatus Kejadian Luar Biasa, sampai mei tahun 2005 di seluruh Indonesia tercatat 28.224 kasus dengan jumlah kematian 348 orang, hingga awal oktober 2005 kasus demam berdarah dengue di 33 propinsi tercatat 50.196 kasus dengan 701 diantaranya meninggal. Dari data di atas menunjukkan peningkatan hampir 2 kali lipat dari mei hingga awal oktober 2005(Sisilia,2005). Beerdasarkan data dari Dinkes Jawa Timur hingga 20 oktober 2005 sebanyak 8.619 kasus dari jumlah tersebut meninggal 131 orang dan pada tahun 2006 ada 20.420 penderita dan menyebabkan kematian 233 jiwa, pada tahun 2007 sampai juli yakni 102.175 penderita dengan kematian 1.098 jiwa (Dinkom,2007). Dari hasil studi pendahuluan data yang diperoleh dari dinas kesehatan banyuwangi dari tahun 2005 sampai 2007 mangalami peningkatan yaitu 596 kasus pada tahun 2005, 677 kasus pasda tahun 2006 dan 788 kasus pada tahun 2007, sedangkan pada tahun 2008 mengalami penurunan kasus Demam Berdrah Dengue yaitu 581 kasus (Dinkes Kab. BWI,2008). Dan dari data yang diperoleh dari puskesmas Gitik  tahun 2005 sampai 2007 juga mengalami peningkatan yaitu 35 kasus pada tahun 2005, 55 kasus pada tahun 2006 dan 66 kasus pada tahun 2007 sedangkan pada tahun 2008 jumlah penderita Demam Berdarah Dengue mencapai 43 kasus (Dinkes Kab. BWI,2008).

Demam berdarah merupakan penyakit yang bisa mewabah. Usaha untuk mengatasi masalah penyakit tersebut di Indonesia telah puluhan tahun dilakukan, berbagai upaya pemberantasan vector, tetapi hasilnya belum optimal. Secara teoritis ada 4 cara untuk memutuskan rantai penularan demam berdarah dengue, yaitu: melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk dan pengendalian vector. Untuk pengendalian vector dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara kimia dan pengelolaan lingkungan , salah satunya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk. Pengendalian vector dengan cara kimia hanya membebankan perlindungan terhadap pindahnya penyakit yang bersifat sementara dan dilakukan hanya apabila terjadi letusan wabah. Cara ini memerlukan dana yang tidak sedikit serta mempunyai dampak negative terhadap lingkungan. Untuk itu diperlukan cara lain yang tidak menggunakan bahan kimia diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat untuk pengendalian vector dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (Indra, 2003). Keberhasilan pemberantas nyamuk aedes aegypti tidak lepas dari peran petugas kesehatan atau perawat yaitu memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang demam berdarah dengue secara intensif.

Upaya pemberantasan dan pencegahan yang dilakukan Puskesmas Gitik yaitu yang pertama dengan penyuluhan , penyuluhan yang dilakukan melalui rapat koordinasi desa dan kecamatan, selain itu penyuluhan dilakukan dari rumah kerumah oleh petugas kesehatan. Kedua dengan abatesasi yaitu pemberian abate kepada seluruh masyarakat. Ketiga denggan fogging atau pengasapan sebagai alternative terakhir untuk pemberantasan nyamuk dewasa yang telah mengandung virus dengue. Dengan latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitian guna mengetahui “ Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Angka Bebas Jentik Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008”.

1.2  Rumusan Masalah

Adakah Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Bedarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008?

1.3  Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Diketahuinya Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Bedarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008.

1.3.2 Tujuan Khusus

a)      Mengidentifikasi Pemberantasan Sarang Nyamuk(3M Plus)

b)      Mengidentifikasi Keadaan Bebas Jentik Demam Berdarah Dengue.

c)      Mengidentifikasi Adakah Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Bedarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008.

1.4  Manfaat Penelitian

a)      Teoritis

Menberikan wacana ilmiah bagi masyarakat tentang Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus) dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Berdarah Dengue.

b)      Praktis

Dengan dilaksanakannya penelitian ini di harapkan masyarakat dapat meningkatkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) secara rutin seminggu sekali secara optimal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemberantasan Sarang Nyamuk

2.1.1 Pengertian

Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue adalah kegiatan mamberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular Demam Berdarah Dengue (Aedes Aegypti) di tempat – tempat perkembengbiakannya.(Depkes,RI,2005)

2.1.2 Tujuan PSN DBD

Mengendalikan populsi nyamuk aedes aegypti, sehingga penularan DBD  dapat dicegah atau dikurangi.(Depkes,RI,2005)

2.1.3 Sasaran PSN DBD

Sasaran pemberantasan sarang nyamuk DBD yaitu semua tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, antara lain:

  • Tempat penampunga air (TPA) untuk keperluan sehari – hari.
  • Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari – hari.
  • Tempat penampung air alamiah. (Depkes,RI,2005)

2.14 Ukuran keberhasilan PSN DBD

Keberhasailan kegiatan PSN DBD antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan 95 % di harapkan penularan DBD dapat di cegah atau di kurangi.(Depkes RI, 2005).

2.1.5 Cara PSN DBD

PSN DBD dilakukan dengan cara ‘3M’ , yaitu :

  • Menguras dan menyikat tempat – tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc, drum, dll seminggu sekali (M1).
  • Menutup rapat – rapat tempat penampungan air, seperti gentong air/tempayan, dll (M2).
  • Mengubur dan menyingkirkan barang – barang bekas yang dapat menampung air hujan (M3).

Selain itu ditambah dengan cara lainnya, seperti:

  • Mengganti air vas bunga, tempat minim burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancer/rusak.
  • Menutup lubang – lubang pada potongan bambu /pohon, dll.
  • Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat – tempat yang sulit di kuras atau di daerah yang sulit air.
  • Memelihara ikan pemakan jentik di kolam / bak – bak penampung air.
  • Memasang kawat kasa.
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar.
  • Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai.
  • Menggunakan kelambu.
  • Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

Keseluruhan cara tersebut di atas di kenal dengan istilah  “3M Plus”.(Depkes RI, 2005).

2.1.6        Pelaksanaan PSN DBD

Pelaksanaan PSN DBD menurut Depkes RI (2005), yaitu:

  • Di rumah

Dilaksanakan oleh anggota keluarga

  • Tempat – tempat umum

Dilaksanakan oleh petugas yang di tunjuk oleh pimpinan atau pengelola tempat – tempat umum, seperti:

  1. kantor oleh petugas kebersihan kantor
  2. sekolah oleh petugas sekolah
  3. pasar oleh petugas kebersihan pasar, dll.(Depkes RI,2005).

2.1.8 Jenis Kegiatan PSN DBD

a)      Bulan Bakti Gerakan 3M atau juga dengan istilah bulan kewaspadaan 3M sebelum musim penularan atau gerakan 3M sebelum mas penularan (G 3M SMP) adalah suatu kegiatan yang di laksanakan pada saat sebelum terjadi penularan DBD, yaitu bulan dimana jumlah kasus DBD paling rendah, berdasarkan jumlah kasus rata – rata perbulan selama 5 tahun terakhir. Kegiatan ini dilakukan selama sebulan penu dengan mengajak warga melakukan PSN DBD dipimpin oleh Kepala wilayah setempat serta melibatkan lintas sector. Kegiatan ini di prioritaskan di desa/kelurahan rawan 1 (endemis) agar sebelum terjadi puncak penularan virus dengue, populasi nyamuk penular dapat ditekan serendah – rendahnya sehingga Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat dicegah.

b)      Penyeluhan kepada keluarga

Selain penyuluhan secara individu yang dilakukan penyuluhan kepada masyarakat luas juga dilakukan secara kelompok (seperti pada pertemuan kader, arisan, dan selapanan) dan secara missal (seperti pada saat pertunjukan layer tancap, ceramah agama dan pertemuan musyawarah desa)

c)      Pergerakan masyarakat dalam PSN DBD secara terus menerus dan berkesinambungan sesuai dengan situasi dan kondisi masing – masing daerah, apabila terjadi KLB atau wabah, dilakukan penyemprotan insektisida/pemberantasan vector dengan pengasapan (fogging) yang dilaksanakan 2 siklus dengan interval satu minggu yang melibatkan petugas dinas kesehatan kabupaten/kota,puskesmas dan tenaga lain yang terlatih (Depkes,RI,2005)

2.1.9 Perlunya 3M

Sudah tidak diragukan lagi bahwa penyebaran wabah dengue disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegipty terutama nyamuk betina. Nyamuk ini sangat pintar menyembunyikan suaranya dengan membuat gerakan sayap yang halus sehingga nyaris tak trdengar. Nyamuk betina ini menghisap darah menusia sebagai bahan untuk mematangkan telurnya (http://www.mediaindo.com)

Bila nyamuk jenis lain bertelur dan menetaskan pada sarangnya. Aedes aegipty betina melakukannya diatas permukaan air karena dengan demikianlah telur – telurnya itu berpotensi menetas dan hidup, telur menjadi larva yang kemudian mencari makan dengan memangsa bakteri yang ada di air tersebut, nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembang biak pada genangan air terutama yang kotor.

Penyebaran wabah dengue dipengaruhi oleh ada tidaknya nyamuk aedes aegipty yang dipengaruhi lagi oleh ada tidaknya genangan air yang kotor, oleh karena itu pengontrolan dengue bias dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut :

a)      Pertama adalah membunuh nyamuk baik dengan peptisida maupun dengan ovitrap, yakni dengan bak perangkap yang di utup kasa, penggunaan peptisida selain memerlukan biaya dan berbahaya pada manusia, juga akan memicu munculnya nyamuk yang resisten, sehingga cara ini bukanlah cara yang efektif untuk jangka panjang, untuk jangka pendek cara ini masih digunakan

b)      Kedua adalh membuat nyamuk trasgenik supaya tidak terinfeksi oleh virus dengue, jika nyamuk tidak bisa terinfeksi oleh virus dengue otomatis manusia tidak akan pernah terinfeksi oleh virus dengue. Cara ini digunakan oleh beberapa peneliti unutk mengatsi masalah malaria, nmaun pengembangan cara ini masih memerlukan puluhan tahun untuk bias di aplikasikan(http://www.mediaindo.com)

c)      Cara yang ketiga adalah PSN yang efektif dan efisien melalui kegiatan 3M yaitu dengan menguras tempat penyimpanan air, menutup tempat penampungan air, mengubur barang – barang bekas yang memungkinkan dijadikan tempat perindukan dan perkembangbiakan jentik nyamuk aedes aegipty, menutup lubang – lubang pada bamboo dengan tanah atau adukan semen, melipat pakain/kain yang bergantungan pada kamr agar nyamuk tidak hinggap disitu, untuk tempat – tempat air yang tidak memungkinkan atau sulit di kuras taburkan bubuk abate kedalam genangan air tersebut untuk membunuh jenti – jentik nyamuk, ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali (Depkes,RI,2005)

2.2 Keadaan Bebas Jentik DBD

2.2.1 Pengertian Keadaan Bebas Jentik

Dari pengertian ABJ (Angka Bebas Jentik) di atas maka dapat disimpulkan bahwasanya Keadaan Bebas Jentik merupakan suatu keadaan dimana ABJ lebih atau sama dengan 95 %

2.2.2 Pengertian DBD

Penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue dan terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi pendarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian.(Faziah,2004)

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis , demam,nyeri otot, dan atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfa demopati, trombositopenia dan datesis hemoregic (IPD,2007)

Suatu infeksi arboirus (arthropod – borne virus)akut, ditularkan oleh nyamuk spesies aedes. (IKA,2005)

2.2.3 Penyebab Demam Berdarah Dengue

Penyebab penyakit adalah virus dengue. Virus ini termasuk kelompok arthropoda. Borne viruses (arbovirosis). Sampai saat ini dikenal ada 4 serotype virus yaitu :

  1. dengue 1 diisolasi oleh sabin pada tahun 1944
  2. dengue 2 diisolasi oleh sabin pada tahun 1944
  3. dengue 3 diisolasi oleh sather
  4. dengue 4 diisolasi oleh sather

keempat type virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di indonesia dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3. penelitian di indonesia menunjukkan dengue type 3 merupakan serotype vius yang dominan menyebabkan kasus yang berat.(Faziah,2004)

2.2.4 Patofisiologi dan Patogenesis

Fenomena patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan demam berdarah dengue dengan dengue klasik ialah tingginya permabilitas dinidng pembulu darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diabetes hemoragik. Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak dengan mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meninginya nilai hematokrit. Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam berdarah dengue hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian besar menganut “the secondary heterologous infection hypothesis” yang mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi dengue pertama mendapat infeksi berulang dengan type virus dengue yang berlainan dalam jangka waktu tertentu yang diperkirakan antara 6 bulan sampai 5 tahun. Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan hipotese infeksi sekunder dicoba dirumuskan oleh suvvate

Akibat infeksi kedua oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seseorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, respon antibodi ananmestik yang akan terjadi dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan menghasilkan antibodi IgG anti dengue titer tinggi. Disampaing itu replikasi virus dengue terjadi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah yang banyak. Hal-hal ini semuanya akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan c3a dan c5a akibat antivasi c3 dan c5 menyebabkan meningginya permeabilitas dinding pembulu darah dan merembesnya plasma melalui endotel dinding pembulu darah. Pada penderita ranjatan berat, volume plasma dapat berkurang samapai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24-48 jam. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekwat akan menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.

Sebab lain penyebab kematian pada DBD adalah perdarahan saluran pencernaan hebat yang biasa timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi. Trombositopenia merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar penderita DB. Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam.

Dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan. Jumlah tromosit secara cepat meningkatkan pada masa konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai sampai hari ke 10 sejak permulaan penyakit.

Kelainan sistem koagulasi mempunyai juga peranan sebagai sebab perdarahan pada penderita DBD. Berapa faktor koagulasi menurun termasuk faktor II, V, VII, IX, X dan fibrinogen. Faktor XII juga dilaporkan menurun. Perubahan faktor koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hepar yang fungsinya memang terbukti terganggu, juga oleh aktifitas sistem koagulasi.

Pembekuan intravaskuler menyeluruh (PIM/DIC) secara potensial dapat terjadi juga saling mempengaruhi sehingga penyakit akan memasuki renjatan irrevesible disertai perdarahan hebat, terlihatnya organ-organ vital dan berakhir dengan kematian.(Faziah,2004)

2.2.5 Penularan DBD

DBD dapat dengan mudah menular melalui vektor penularnya, yakni nyamuk Aedes aegypti melalui gigitannya. Meskipun nyamuk Aedes albopictus dapat menularkan DBD tetapi peranannya dalam penyebaran penyakit sangat kecil, karena biasanya hidup di kebun-kebun. Seminggu setelah digigit oleh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue, maka orang tersebut akan jatuh sakit demam berdarah, atau dapat juga tetap sehat tetapi menjadi carrier (sumber penular dengan menyimpan virus dengue).

Karena nyamuk yang menggigit orang yang darahnya mengandung virus dengue, sepanjang nyamuk tersebut hidup akan tetap mengandung virus dengue dan setiap saat dapat ditularkan kepada orang lain melalui gigitannya pula (menggigit pada siang hari).

Apabila terdapat tetangga Anda yang menderita DBD dan lokasi rumahnya berada tidak jauh dari rumah Anda, maka perlu diwaspadai akan keberadaan nyamuk Aedes aegypti, hal ini karena kemampuan terbang nyamuk tersebut +40 m, dan jangkauan terbang maksimal sejauh 100 m. Sehingga secepatnya melakukan pembersihan terhadap tempat-tempat penampungan air di sekitar Anda atau menghubungi Puskesmas terdekat.

Sehingga setiap orang dapat terserang demam berdarah setelah digigit oleh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue. Hanya saja ketahanan tubuh setiap orang yang memungkinkan tingkat kasus DBD berbeda satu sama lain. Sehingga selain memberantas vektor penular dan menghindarinya, ada baiknya setiap orang menjaga imunitasnya sehingga dapat terhindar dari kasus DBD.(DepKes,RI,2005)

2.2.6 Tempat Penularan DBD

Penularan DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Tempat potensial untuk terjadi penularan DBD adalah :

  1. Wilayah yang banyak kasus DBD (endemis)
  2. Tempat-tempat umum yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah. Tempat-tempat tersebut antara lain :
  • Sekolah, karena anak/murid sekolah berasal dari berbagai wilayah selain itu merupakan kelompok umur yang paling susceptible terserang DBD
  • Rumah sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Karena dalam hal ini orang yang datang dari berbagai wilayan dan kemungkinan diantaranya adalah penderita DBD atau carier virus dengue
  • Tempat umum lainnya seperti : hotel, pertokoan, pasar, restoran, dan tempat ibadah
  1. Pemukiman baru di pinggir kota

Karena di lokasi ini penduduknya berasal dari berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier yang membawa virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

2.2.7 Tanda dan gejala DBD

Pada umumnya penderita DBD dikenal dengan gejala bintik-bintik atau ruam merah pada kulit yang apabila diregangkan malah terlihat jelas bintik-bintiknya. Hal itu memang menjadi salah satu tanda bahwa telah tergigit nyamuk Aedes agypti. Untuk lebih waspada dan menindaklanjuti kasus DBD, berikut beberapa gejala DBD :

  1. Demam

Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung 2-7 hari. Panas dapat turun pada hari ke-3 yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 mendadak turun. Jika digambarkan, maka grafiknya menyerupai pelana kuda.

Jangan tunggu hingga 7 hari, lepas hari ketiga panas tetap tinggi, dianjurkan untuk memeriksakan diri dengan tes darah. Karena apabila dalam waktu kurang dari 7 hari penderita tidak ditangani dengan cepat dan tepat, penderita dapat meninggal dunia.

  1. Tanda-tanda pendarahan

Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa uji Torniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih manifestasi perdarahan sebagai berikut : Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan konjungtiva, Epistaksis, Perdarahan gusi, Hematemesis, Melena, dan Hematuri.

Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya, regangkan kulit, jika bintik merah pada kulit tersebut hilang maka bukan Petekie. Petekie merupakan tanda pendarahan yang tersering ditemukan. Tanda ini dapat muncul pada hari-hari pertama demam.

Uji Torniquet dinyatakan positif, jika terdapat 10 atau lebih Petekie pada kulit seluas 1 inci persegi (2,5 x 2,5 cm) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fossa cubiti).

  1. Pembesaran Hati (Hepatomegali)

Sifat pembesaran hati :

      1. Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit
      2. Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
      3. Nyeri tekan sering ditemukan tanpa disertai ikterus
  1. Renjatan (Syok)

Tanda-tanda renjatan:

      1. Kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki
      2. Penderita menjadi gelisah
      3. Sianosis di sekitar mulut
      4. Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba
      5. Tekanan nadi menurun, sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang

Penyebab renjatan: karena perdarahan, atau karena kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang terganggu.

  1. Trombositopeni
  2. Hemokonsentrasi (Peningkatan Hematokrit)
      1. Jumlah trombosit < 100.000/μl biasanya ditemukan diantara hari ke 3-7 sakit
      2. Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal atau menurun.
      3. Pemeriksaan dilakukan pada saat pasien diduga menderita DBD, bila normal maka diulang tiap hari sampai suhu turun.

Meningkatnya nilai hematokrit (Ht) menggambarkan hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka terjadinya perembesan plasma, sehingga dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala. Pada umumnya penurunan trombosit mendahului peningkatan hematokrit.

  1. Gejala Klinik lain
  2. Pada beberapa kasus terjadi hiperpireksia disertai kejang dan penurunan kesadaran sehingga sering di diagnosis sebagai ensefalitis
      1. Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita DBD ialah nyeri otot, anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi, dan kejang
      1. Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan gastrointestinal dan renjatan.(Depkes,RI,2005)

2.2.8 Siklus Nyamuk Aedes Aegipty

Aktif Pagi jam 07.00 – 12.00 WIB
Sore jam 15.00 – 17.00 WIB
Hinggap pada benda benda yang menggantung.
Larva Berkembang biak pada air jernih yang dasarnya bukan tanah.
Telur Diletakkan pada dinding kontainer tepat diatas permukaan air.
Jumlah telur selama hidupnya berjumlah 600 – 800 butir.
Lama hidupnya 3-4 Minggu.
Pupa Dibawah permukaan air.
Terbang Kemampuan terbang 50 – 200 m
Siklus hidup Telur  –  larva  –  pupa  –  dewasa
1-2 hr                    4-5 hr                   1-2 hr.

2.2.9 Ciri-Ciri Nyamuk DBD

`Adapun cirri-ciri nyamuk aedes Agypti adalah :

1.   Mempunyai ciri-ciri khusus dan paling mudah dikenal adalah warna hitam dan belang-belang ( Loreng-loreng ) putih pada seluruh tubuhnya dan benmtuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan nyamuk biasa.Tubuh nyamuk jika menghisap darah posisinya mendatar. Nymuk yang menggigit manusia hanya nyamuk aedes betina  (untuk mematangkan telur ), karena nyamuk jantan lebih tertarik pada cairan yang mengandung gula seperti bunga dan tumbuhan.

2.   Nyamuk ades agypti tidak dapat berkembang biak deselokan atau Got. Nyamuk ini        bertelur serta pembiakannya di air yang jernih, dimana permukaan air pada dinding tegak lurus dan terlindung pengaruh mata hari langsung.

3.  Biasanya mengigit ( menghisap darah ) pada pagi sampai sore hari.Ada 2 puncak aktivitas menggigit yaitu antara pukul 08.00 sampai 10.00 pagi dan pukul 16.00 samai 18.00 sore. Malam hari nyamuk lebih suka bersembunyi disela-sela pakaian yang tergantung atau korden, terutama diruang gelap atau lembab.

4.   Nyamuk aedes agypti tergolong antropilik yaitu doyan ( suka ) darah manusia.berbeda dengan  species nyamuk lain yang biasanya sudah puas menggigit/menghisap darah satu orang saja, maka nyamuk aedes agypti mempunyai kebiasaan menggigit berulang, yaitu menggigit beberapa orang secra bergantian dalam waktu singkat, sehingga semakin cepat proses penuralaran yang terjadi. Nyamuk ini setiap 2 hari sekali menggigit / menghisap darah manusia. Bagi nyamuk , darah manusia ini untuk kebutuhan repruduksi ( memetangkan terlur agar dapat dibuahi pada saat perkawinan.) , biasanya 3 hari setelah menghisap darah, nyamuk akan bertelur di tempat yang disukai yaitu digenangan air bersih.

5.  Mampu terbang sampai radius 100-200 meter saja sehingga selalu mencari mangsa  dekat . Mobilisasi penduduk dari tempa yang satu ketempat yang lain berpengaruh besar pada penyebaran nyamk ini, biasanya nyamuk bersembunyi didalam mobil, perahu, kapal kereta api, dll.

6.  Pada fase jentik berukuran 0,5-1 cm, selalu bergerak di dalam air ( gerakan berulang – ulang dari bawah keatas permukaan air untuk bernafas, kemudian kembali ke bawah ). Pada saat istirahat, posisinya hamper tegak lurus dangan permukaan air.

7.  Ukuran telur Aedes Agypti sangat kecil ( 0,7 mm ), berwarna hitam dan tahan sampai 6 bulan ditempat kering dan masih menyimpan larva yang siap menetas ketika turun hujan dan air.(Administrator.2008)

2.2.10 Diagnosa DBD

Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan:

a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7

b.  Manitestasi Perdarahan

c.  Tombositoperiia yaitu jumlah trombosit dibawah 150.000/mm3, biasanya Ditemukan antara hari ke 3-7 sakit.

d. Mokonsentrasi yaitu meningkatnya hematokrit, merupakan indikator yang peka Terhadap jadinya renjatan sehingga perlu dilaksanakan penekanan berulang secara periodik. Kenaikan Ht 20% menunjang diagnosa klinis Demam Berdarah Dengue.

Meningkatkan derajat berat ringan penyakit berbeda-beda, maka diagnosa secara klinis dapat dibagi atas (WHO 75).

1.  derajat demam I (ringan)

Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klien  lain, dengan manifestasi perdarahan dengan uji truniques positif

2.  derajat II (sedang)

Penderita dengan gejala sama, sedikit lebih berat karena ditemukan perdarahan spontan kulit dan perdarahan lain.

3.  derajat III (berat)

Penderita dengan gejala shoch/kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (<20 mmhg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab, dan penderita menjadi gelisah.

4.  derajat IV (berat)

Penderita shoch berat dengan tensi yang tak dapat diukur dan nadi yang tak dapat diraba.(Faizah,2004)

2.2.11 Pencegahan Penyakit DBD

Berdasarkan data pemantauan, sebagian besar jenis container (tempat penampungan air) yang positif adalah : bak mandi (50%), vas bunga (11%) dan ember (11%), sedangkan sisanya adalah ban bekas, botol minuman, tempat sampah dan lain-lain. (blog.360.yahoo.com).

Pencegahan paling efektif yang dapat dilakukan adalah :

    1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN DBD) yaitu dengan cara :
  1. Fisik

cara ini dikenal dengan kegiatan 3 m yaitu : menguras, (dan menyikat) baik bak mandi, bak wc, dan lain-lain, menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan, drum, dan lain-lain), serta mengubur, menyingkirkan atau memusnakan barang-barang bekas (seperti kaleng, ban dan lain-lain), pengurasan tempat-tempat penampungan air (TPA) perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak ditempat itu. Pada saat ini telah dikenal dengan istilah 3 M yang perluas. Bila PSN DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya, sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi. Untuk itu upaya penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan karena keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan perilaku masyarakat.

  1. Kimia

Cara memberantas jentik aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida) ini antara lain dikenal istilah larvasidasi. Larvasida yang biasa digunakan antara lain adalah Temephos. Formulasi temephos yang digunakan adalah granules (sand granules), dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gram (± 1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air, larvasida dengan temephos ini mempunyai efek resdu 3 bulan.

  1. Biologi

Dengan memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang/tempalo, dan lain-lain). Dapat juga digunakan bacillus thuringlen sisvar, isrealiensis (Bti).

(Depkes,RI.2005)

    1. Fogging/ Pengasapan

Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara pemyemprotan (pengasapan/pengabutan=fogging) dengan insektisida, mengingat kebiasaan nyamuk senang hinggap pada benda-banda bergantung, maka penyemprotan tidak dilakukan di dinding rumah seperti pemberantasan nyamuk penular malaria.

Inseksida yang padat digunakan antara lain inseksida golongan:

  1. organophospat, misalnya malathion
  2. pyretroid sintetic, misalnya lamda sihalotri, cypermetrin dan alfa methin
  3. carbamat

Alat yang digunakan  untuk penyemprotan adalah mesin fog atau mesin ULV dan penyemprotan dengan cara pengasapan tidak mempunyai efek residu. Untuk membasmi penularan virus dengue penyemprotan dilakukan dua siklus dengan interval 1 minggu, pada penyemprotan siklus pertama semua nyamuk yang mengandung virus dengue (nyamuk infektif) dan nyamuk-nyamuk yang lainnya akan mati, tetapi akan segera muncul nyamuk-nyamuk baru yang diantaranya akan menghisap darah penderita vevimia yang masih ada yang dapat menimbulkan terjadinya penularan kembali. Oleh karena itu perlu dilakukan penyemprotan siklus kedua, penyemprotan yang kedua dilakukan 1 minggu sesudah penyemprotan yang pertama agar nyamuk baru yang infektif tersebut akan terbasmi sebelum sempat menularkan pada orang lain.(DepkesRI.2005).

    1. Abatiasi (Penggunaan Abate)

Takaran penggunaan bubuk ABATE adalah sebagai berikut :

untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram bubuk ABATE

contoh :

untuk 10 liter air ABATE yang diperlukan = (100/10)x 1 gram = 10 gram ABATE, untuk menakar ABATE digunakan sendok makan, satu sendok peres berisi 10 gram ABATE.

Bila memerlukan ABATE kurang dari 10 gram, maka dapat dilakukan sebagai berikut :

  1. ambil 1 sendok makan peres ABATE dan tuangkan pada selembar kertas.
  2. Lalu bagilah ABATE menjadi 2,3 atau 4 bagian sesuai dengan takaran yang dibutuhkan.

Setelah dibubuhkan ABATE maka :

  1. selama 3 bulan bubuk ABATE dalam air tersebut mampu membunuh jentik aedes aegypti.
  2. selama 3 bulan bila tempat penampungan tersebut akan dibersihkan / diganti airnya, hendaknya jangan menyikat bagian dalam dinding tempat penampungan air tersebut.
  3. air yang telah dibubuhi ABATE dengan takaran yang benar tidak membahayakan dan tetap aman bila air tersebut diminum.(Depkes,RI,2005)

2.2.12 Pengobatan

Pengobatan terhadap penyakit ini terutama untuk mengatasi perdarahan, mencegah/mengatasi keadaan syok/presyok dengan mengusahakan agar penderita banyak minum, bila perlu dilakukan pemberian cairan melalui infuse, demam diusahakan diturunkan dengan kompres dingin atau antipivetika. (http://www.tabloid_nakita.com)

2.3 Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus) dengan Keadaan Bebas Jentik DBD

Demam berdarah merupakan penyakit yang bisa mewabah. Usaha untuk mengatasi masalah penyakit tersebut di Indonesia telah puluhan tahun dilakukan, berbagai upaya pemberantasan vector, tetapi hasilnya belum optimal. Secara teoritis ada 4 cara untuk memutuskan rantai penularan demam berdarah dengue, yaitu: melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk dan pengendalian vector. Untuk pengendalian vector dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara kimia dan pengelolaan lingkungan , salah satunya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk. Pengendalian vector dengan cara kimia hanya membebankan perlindungan terhadap pindahnya penyakit yang bersifat sementara dan dilakukan hanya apabila terjadi letusan wabah. Cara ini memerlukan dana yang tidak sedikit serta mempunyai dampak negative terhadap lingkungan. Untuk itu diperlukan cara lain yang tidak menggunakan bahan kimia diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat untuk pengendalian vector dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (Indra, 2003).

Demikian juga WHO (2000) telah menyatakan bahwa pemberantasan jentik nyamuk aedes aegipty dengan 3M Plus dapat efektif menanggulangi penyakit DBD. 3M Plus walaupun pengerjaannya menggunakan waktu yang agak lama ternyata efektif menurukan kepadatan populasi nyamuk aedes aegipty atau meningkatkan angka bebas jentik, sehingga menurunkan resiko terjadinya penyakit DBD. Pelaksanaan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) memang memerlukan waktu yang agak lama, karena memerlukan peran aktif keluarga, akan tetapi keberhasilan dalam upaya ini cukup besar dalam rangka penurunan angka penyakit DBD (Indra,2003).

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HEPOTESIS

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Metode Penelitian

Metode penelitian keperawatan merupakan urutan langkah dalam melakukan penelitian keperawatan. Hal-hal yang termasuk dalam metode penelitian adalah desain penelitian yang digunakan kerangka kerja penelitian. Populasi sampel yang akan diteliti. Jumlah sampel yang diperlukan, teknik sampling yang digunakan, cara mengidentifikasi variabel dengan definisi operasionalnya, cara pengumpulan data, metode analisis data yang digunakan, keterbatasan penelitian dan nilai etika penelitian. (Hidayat, 2007).

Pada penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah case control. Penelitian ini merupakan rancangan penelitian yang membandingkan antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol untuk mengetahui proporsi kejadian berdasarkan riwayat ada tidaknya paparan. Rancangan penelitian ini dikenal dengan sifat retrospektif, yaitu rancangan bangun dengan melihat kebelakang dari suatu kejadian yang berhubungan dengan kejadian kesakitan yang diteliti (Hidayat,2007)

4.2 Kerangka Kerja


4. 3 Populasi, Sampel, Sampling , dan besar sampel

4.3.1 Populasi

Populasi merupakan seluruh subyek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti. Bukan hanya objek atau subjek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subjek atau objek tersebut. (Hidayat,2007)

Pada penelitian ini yang akan menjadi populasi adalah semua masyarakat yang pernah menderita DHF diwilayah kerja Puskesmas Gitik Kabupaten Banyuwangi Pada tahun 2008 sebanyak 43 kasus.

4.3.2 Sampel

Sampel merupakan bagian poplasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karateristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat,2007)

Dengan kriteria sampel pada penelitian ini yaitu :

  1. Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel.(Nursalam,2003)

a)      Masayarakat yang bersedia menjadi responden

b)      Masyarakat yang kooperatif

c)       Masyarakat yang pernah terkena DBD sejak tahun 2008.

  1. Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian yang menyebabkan antara lain adalah adanya hambatan etis, menolak menjadi responden atau berada pada suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian.(Hidayat,2007)

a)      Masyarakat yang tidak menetap tempat tinggalnya

b)      Masyarakat yang tidak bersedia menjadi responden

c)      Masyarakat yang tidak kooperatif

4.3.3  Tekhnik Sampling

Tehnik sampling adalah proses menyeleksi porsi populasi untuk dapat mewakili poplasi. Tehnik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan objek penelitian. (Nursalam,2003)

4.3.4 Besar sampel

Besar sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagian ibu pasca persalinan di puskesmas klatak Banyuwangi . Dan besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus :

n =     N

1 + N ( d )2

Keterangan : n     = jumlah sampel

N    = jumlah populasi

d     = tingkat signifikan (a ) = 0,05

n =       43           = 39

1 + 43 ( 0,05 )2

4.4 Identifikasi Variabel Penelitian.

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu atau variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh yang lain. (Noto Adminodjo,2005)

4.4.1 Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel Independen ini merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam mempengaruhi variabel lain. Variabel ini punya nama lain seperti variabel predictor, resiko atau kuasa.(Hidayat,2007)

Variabel Independen adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain. Variabel independen ini biasanya dimanipulasi, diukur dan diamati untuk diketahui hubungannya terhadap variabel lain.(Nursalam,2003)

Pada penelitian ini variabel independen adalah : Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus).

4.4.2 Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Variabel dependen ini merupakan variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain. Variabel dependen ini merupakan faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan dari variabel independen.(Nursalam,2003)

Pada penelitian ini variabel dependen adalah: Keadaan Bebas Jentik DBD.

4.5  Definisi Operasional

Variabel Definisi Parameter Alat ukur Skala score
Variabel bebas : Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk memberantas jentik,telur dan kepompong nyamuk penular DBD di tempat – tempat perkembangbiakannya Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (3M plus) :

  1. Menguras dan menyikat bak mandi seminggu sekali
  2. Menutup rapat – rapat tempat penampungan air.
  3. Mengubur dan menyingkirkan barang – barang bekas
  4. Mengganti air vas bunga, tempat minum burung,dll seminggu sekali.
  5. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar.
  6. Menu tup lubang – lubang pada potongan bambu/pohon dengan tanah
  7. Memelihara ikan pemakan jentik dikolam
  8. Memasang kawat kasa
  9. Menghindari kebiasaan menggantung pakain dalam kamar

10.  Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai

11.  Menggunakan kelambu

12.  Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

observasi Ordinal 0-3 :

Kurang 4-6 :

Sedang

7-9 :

Baik

Variabel Definisi Parameter Alat ukur Skala score
Variabel terikat:

Keadaan Bebas Jentik DBD

Merupakan suatu keadaan dimana ABJ(Angka Bebas Jentik) lebih atau sama dengan 95% Keadaan dimana telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes Aegipty) berkurang atau tidak ada. Studi dokumentasi Ordinal > 95 %: Baik.(3-5)

< 95 %: Cukup.

(0-2)

4.6  Pangumpulan Data dan Analisa Data

4.6.1  Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan observasi dan studi dokumentasi. Observasi merupakan cara pengumpulan data dengan mengadakan, melakukan pengamatan secara langsung kepada responden penellitian untuk mencari perubahan atau hal-hal yang akan diteliti.(Hidayat,2007)

4.6.2  Analisa Data

Analisa data yang digunakan yaitu analisa data bervariabel yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi.(Notoatmodjo,2003)

  1. a. Coding

memberi kode-kode pada lembar observasi dan lembar studi dokumentasi.

  1. b. Scoring

1)      Variabel Independen        :Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus)

Score Baik             : 7-9

Score Sedang        : 4-6

Score Kurang        : 0-3

2)      Variabel dependen            :Keadaan Bebas Jentik DBD

Score Baik             : 3-5

Score Cukup         : 0-2

  1. c. Analisa Statistic dengan Uji Rank Spearmen.

Rumus : ρ = 1 –

Dimana :

ρ          = Rho = Koefisien korelasi, tata jenjang

b          = Beda = (Diferent)

i           = Interval

n          = Sampel

Jika ρ hasil > ρ tabel maka ada hubungan antara variabel independent dan variabel dependent Ho ditolak, Ha diterima.

4.7 Masalah Etika

Dalam melakukan penelitian ini peneliti mengajukan permohonan ijin pada Puskesmas Gitik untuk mendapatkan persetujuan peneliti di wilayah kerja Puskesmas Gitik. Setelah dilakukan pengumpulan data dengan menekan masalah etika pada subjek yang diteliti, meliputi :

4.7.1 Informed Consent

Informed consent diberikan sebelum penelitian dilaksanakan pada subjek yang diteliti. Subjek diberi tahu tentang maksud dan tujuan dari penelitian jika subjek bersedia, harus ada bukti persetujuan yaitu dengan tanda tangan.

4.7.2 Anonimity

Subjek tidak perlu mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data, cukup kode nomor saja untuk menjamin kerahasiaan identitas.

4.7.3 Confidentiality

Kerahasiaan informasi yang diperoleh dari subjek akan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti. Penyajian data atau hasil penelitian ditampilkan dalam forum akademik.

Lembar Observasi Untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus)

Nama Responden (inisial)     :

Umur Responden                  :

Alamat Responden                :

Kode Responden                   :

Tanggal                                  :

No Parameter

Dilakukan Tidak dilakukan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Mengubur kaleng bekas

Menutup tempat penampungan air

Menguras bak mandi seminggu sekali

Mengganti air vas bunga/tempat air minum burung

Memberikan saluran dan talang air yang tidak lancar

Menutup lubang – lubang pada potongan bamboo/pohon

Menaburkan bubuk larvasida

Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak – bak penampung air

Memasang kawat kasa

Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar

Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai

Menggunakan kelambu

Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

……………..

……………..

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

……………..

Jumlah skor

LEMBAR REKAPITULASI STUDI DOKUMENTASI UNTUK KEADAAN BEBAS JENTIK

Nama Responden (inisial)     :

Umur Responden                  :

Alamat Responden                :

Kode Responden                   :

Tanggal                                  :

No Parameter

Ada Tidak
1. Keadaan dimana telur, jentik, dan larva nyamuk penular DBD (Aedes Aegipty) berkurang atau tidak ada, minimal > 95%

DAFTAR PUSTAKA

Dinkom.2007.Jadikan PSN Sebagai Budaya.http://www.infokom.jatim.go.id

Indra Cahaya.2003.Pemberantasan vector demam berdarah di Indonesia.

http://www.library.usu.co.id

Tim Editor.2007. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:Departemen IPD FKUI.

Sisila,Pujiastuti.2005 DBD dalam Data. www.Pdat.co.id

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008

Depkes RI.2005.Pencegahan Dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengu Di Indonesia.Jakarta:Dirjen PP&PL

________,2004.Dengue dengan Permasalahannya.http://www.mediando.co.id

Dr.Faziah A. Siregar.2004.Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah       Dengue di Indonesia.http://www.library.usu.co.id

Staff  Pengajar Fkui 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Bagian IKA FKUI

Hidayat. Aziz.2007. Riset Keperawatan dan Tekhnik Penulisan Ilmiah. Surabaya: Salemba Medika

Nursalam.2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Medika Salemba.

Noto Adminodjo, S.2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta

About these ads