Archives for posts with tag: Makalah

STUDY KASUS

I.     Pengkajian ( 1 – 4 – 2002 )

  1. Identitas

Nama               : Ny. Id                           Tgl MRS : 31 – 3 – 2002

Umur               : 31 tahun

Jenis Kelamin  : Perempuan

Suku/bangsa    : Jawa/Indonesia

Agama             : Islam

Pekerjaan         : Tidak bekerja ( Ibu Rumah tangga )

Pendidikan      : SMA ( tamat )

Nama Suami    : Tn. As

Umur               : 38 tahun

Pendidikan      : SMU ( tamat )

Pekerjaan         : Kuli Batu

Alamat                        : Banyu urip I / 24 A Surabaya

Alasan dirawat: Nyeri luka operasi

Keluhan Utama sebelumnya   :  Nyeri  hebat perut kanan bawah

Upaya yang telah dilakukan   : Periksa ke IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan dilakukan operasi ( Apendiktomy ) tanggal 31-3-2002 jam 23.35 WIB.

  1. Riwayat Keperawatan

2.1              Riwayat Penyakit sebelumnya :

Klien mengatakan :

- Sering mengalami tekanan darah rendah

-                      - Waktu SMA pernah sakit typhus dan sakit kuning, dengan berobat jalan sembuh

2.2              Riwayat Penyakit Sekarang :

Nyeri luka operasi daerah perut kanan bawah. Nyeri bertambah hebat terutama bila   bergerak, agak berkurang bila miring kekanan. Kepala pusing sejak keluar dari kamar operasi dan merasa nek serta mual, belum kentut ( flatus ), karena kepala pusing, nyeri luka operasi dan mual tidur sering terbangun.

2.3              Riwayat Kesehatan Keluarga :

Dari keluarga ayah maupun ibunya tidak ada yang menderita sakit kencing manis, ataupun sakit berat yang lainnya.

A.    Genogram

Keterangan :

=  Laki-laki                                                       = Ikatan Perkawainan     

=  Perempuan                                                    = Anak

=   Klien                                                            = Tinggal satu rumah

2.4  Riwayat Kesehatan lainnya :

-          Klien ikut KB suntik

-          Klien dirawat tanpa menggunakan alat bantu

2.5.Aktivitas hidup sehari-hari

Aktivitas sehari-hari Sebelum Sakit Di Rumah Sakit
  1. Makan dan minum
  1. Eliminasi
  1. Istirahat dan tidur
  1. Aktivitas
  1. Kebersihan diri
  1. Rekreasi
Makan 3 kali sehari, nasi, sayur dan ikan, buah kadang-kadang, tidak ada makanan pantangan, semua makanan yang ada disukai. Minum air putih, sehari 1500-2000 cc.

BAK lancar 5 – 6 kali sehari, warna kuning jernih, jumlah 1500-2000 cc / hari. BAB setiap 4 hari sekali, konsistensi lunak.

Tidur siang  jam 12.00-14.00

Malam jam 22.00-05.00

Sebagai ibu rumah tangga, jam 05.00 mulai memasak, mempersiapkan seragam anak-2 nya yang akan sekolah, mencuci dan membersihkan rumah 2 kali sehari.

Mandi dan gosok gigi 2 kali sehari, mencuci rambut 2 kali seminggu, memotong kuku bila sudah panjang, tidak ada jadwal khusus, ganti baju setiap sore.

Bila ada waktu senggang antara jam 20-00 – 22.00 menonton TV bersama suami dan anak-2nya, tidak pernah ketempat rekreasi.

Masih puasa

BAK lancar 5 kali sehari warna kuning agak gelap, belum BAB

Tidak bisa tidur siang, tidur malam sering terbangun

Ditempat tidur

Mandi 2 kali sehari diseka suaminya, tidak gosok gigi

  1. Pemeriksaan Fisik :

-          Keadaan umum :

Klien terbaring terlentang dengan posisi tangan kiri memegang perut saat bergerak, mengernyitkan dahi dan menggigit bibir.

-          Tanda Vital :

Suhu axilla 36 º C   Nadi 88 x/menit,  Tensi 100/80 mmHg, RR 18 x/menit

  1. Pengkajian Sistem :

4.1 Sistem Pernafasan :

Hidung bersih, pernafasan spontan, bentuk dada bulat datar tidak ditemukan tarikan  otot bantu pernafasan saat bernafas, suara nafas vesikuler, tidak ditemukan suara nafas tambahan.

4.2 Sistem Cardiovaskuler :

Klien mengeluh pusing sejak keluar dari kamar operasi, Suara jantung S1 S2 suara tunggal lupdub. Ictus Cordis teraba 1 cm pada ICS med Clavicula kiri, percusi sonor, tidak ditemukan oedema pada palpebrae maupun extremitas, KRT kembali dalam detik pertama. Tensi : 110/80 mmHg, Nadi : 92 x/menit, Suhu 36º C.

4.2 Sistem Persyarafan :

-Kesadaran Composmentis, GCS : E 4  V 5  M 6 dengan total nilai 15.

-Kepala dan Wajah :

Mata : Konjungtiva merah muda , Sklera : Warna putih terdapat gambaran tipis pembuluh darah, Pupil isocor.

-Leher : Pergerakan bebas, tidak ditemukan pembesaran/bendungan vena yugolaris, pembesaran kelenjar gondok maupun limphe.

-Persepsi Sensori :

Klien mampu mendengar suara berbisik, mampu membedakan rasa manis, asin dan pahit, penglihatan sampai tak terhingga, ambang rasa raba terhadap hangat, dingin dan raba masih mampu membedakan.

4.3 Sistem Perkemihan :

Bak lancar warna kuning jernih 5-6 kali sehari, jumlah  ± 1500-200 cc perhari , baik sebelum sakit maupun selama dirawat dirumah sakit, tidak ada keluhan nyeri saat BAK.

4.4 Sistem Pencernaan :

-          Mulut dan tenggorok :

Bibir dan lidah kering tidak ditemukan stomatitis maupun aptea, gigi bersih tidak ada caries, tonsil/ovula warna merah muda tidak ada oedema.

-          Abdomen :

Saat bergerak, klien menahan perut , Bentuk datar flat, terdapat luka operasi  pada pertengahan inguinal kanan dan umbilikus dengan panjang ± 5 cm, luka bersih dengan jahitan ( HZ 6 buah ).Luka tertutup oleh kasa steril, Auskultasi bising usus belum terdengar, Perkusi hypertimpani. Skibala -.

-          Rectum :

Bersih, tidak ditemukan haemorrhoid, BCR +, Nyeri RT disangkal.

Sebelum sakit BAB tiap 4 hari sekali konsistensi lunak, selama dirawat di rumah sakit belum BAB. Klien mendapat Flagyl suposutoria 3 x 1 sehari, masih puasa.

4.5 Sistem Tulang Otot – Integumen

-          Kemampuan pergerakan sendi bebas, ekstremitas bawah pergerakan bebas, ekstremitas atas ( tangan kiri terpasang infus RL 35 tetes / menit menetes lancar, tidak ada ekstrapasase. Kekuatan tot 5, Flaping tremor -, KRT dan turgor kulit kembali detik pertama. Akral hangat.

4.6 Sistem Endokren :

Klien mengatakan tidak pertumbuhan dan perkembangan fisiknya berjalan sebagaimana orang lainnya. Tidak mempunyai keluhan yang berkaitan dengan hormonal misalnya poluri, polidipsi maupun kelemahan.

  1. Sosial / Interaksi :

Klien mendapat dukungan aktif dari keluarga, reaksi saat interaksi sangat kooperatif, kien mengatakan konflik yang pernah dialami adalah saat suaminya di PHK dari tempat kerjanya.

  1. Spiritual :

Klien mengatakan bahwa sakit yang dialami adalah ujian dari sang pencipta, dan ia bersama suaminya hanya berusaha dan Tuhan yang menyembuhkan. Selama sakit tidak berhenti berdo’a untuk kesembuhannya.

Pemeriksaan Penunjang :

Hb        10,3 gr % ( 11,4 – 15,1 )

Leuko   14,8 x 10.9 / l ( 4,3 – 11,3 )

Trombo 258 x 10.9 /l ( 150 – 350 )

PCV      0,33  ( 0,38 – 0,42 )

Terapi :

Infus RD 5   = 2 :  3

Kedacillin 3 x 1 gram

Antrain 3 x 1 amp

Mahasiswa yang mengkaji,

(  S u p a n i k   )

Analisa Data

Pengelompokan data K. Penyebab Masalah
Subyektif :

-          Klien mengeluh nyeri luka operasi daerah perut kanan bawah, nyeri bertambah hebat terutama bila bergerak, agak berkurang bila miring kekanan.

-          Mual, tidur sering terbangun

Obyektif :

-          Saat bergerak tangan kiri menahan perut, mengernyitkan dahi dan menggigit bibir.

-          Post operasi hari I

-          Luka operasi bersih, HZ VI

Subyektif : Klien mengatakan

-          Tidur malam sering terbangun, siang tidak bisa tidur

-          Kepala pusing, mual sejak keluar dari kamar operasi

Obyektif :

- Conjunctiva relatif merah muda

- Hb 10,3 gr %

- Tensi 100/80 mmHg

Subyektif : Klien mengatakan :

-          Masih puasa sejak keluar dari kamar operasi

-          Haus, mual, pusing

-          BAK lancar warna kuning gelap.

Obyektif :

-          Membrane mukosa lidah dan bibir kering

-          Turgor kulit dan KRT kembali detik pertama

-          Tangan kiri terpasang infus RL 35 tetes/menit

-          Tensi 100/80 mmHg

Hypoxia apendix

Apendictomy

Discontinuitas jaringan/syaraf

Nyeri

Discontinuitas jaringan/syaraf

Nyeri

Aktivitas tidak adequat

Perubahan posisi

Tidur terganggu

Fungsi GI tract turun

Puasa/intake kurang

Hidrasi tidak adequat

Nyeri akut

Pola tidur (terganggu )

Volume cairan kurang ( resiko tinggi )

Rumusan Diagnose Keperawatan :

  1. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b/d discontinuitas jaringan/syaraf sekunder dari apendictomy ditandai dengan mengeluh nyeri luka operasi perut kanan bawah, bertambah hebat bila bergerak, saat bergerak mengernyitkan dahi, menggigit bibir dan memegang perut.
  2. Gangguan pola tidur b/d nyeri luka operasi, tidak adequatnya aktivitas ditandai dengan tidak bisa tidur siang, tidur malam sering terbangun, mual, tensi 100/80 mmHg, Hb 10,3 gr %.
  3. Resiko tinggi terjadi kekurangan volume cairan b/d intake kurang/puasa sekunder dari fungsi GI tract menurun.

Rencana Tindakan Keperawatan

Dix. Kep dan hasil yang diharapkan Rencana Tindakan Rasional Nama mahasiswa
Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ).

Kriteria hasil :

-          Nyeri hilang/terkontrol

-          Tampak rileks, mampu istirahat dengan tenang

Gangguan pola tidur..

Kriteria hasil :

-          Tidur dengan pola sesuai kebiasaan dirumah

-          Mengidentifikasi tehnik untuk menginduksi tidur

-          Beradaptasi terhadap faktor yang menghambat tidur.

Resiko tinggi kekurangan cairan

Kriteria hasil :

-          Membrane mukosa lembab

-          Turgor kulit baik

-          Tanda vital stabil

-          Urine stabil

  1. Kaji nyeri, catat lokasi,        karakteristik, beratnya

( skala 0-10 )

  1. Dorong ambulasi dini
  1. Berikan aktivitas hiburan

Lakukan program kolaborasi :

  1. Pertahankan puasa pade fase awal
  1. Berikan analgesik sesuai indikasi
  1. Kurangi kebisingan
  1. Organisasikan prosedur untuk memberikan jumlah terkecil gangguan selama periode tidur.
  2. Tetapkan bersama klien jadwal untuk program aktivitas sepanjang hari.
  1. Diskusikan dengan klien tentang cara menggunakan waktu serileks mungkin sebelum tidur.

1.Awasi tekanan darah dan nadi

2. Observasi membrane mukosa, kaji turgor kulit dan pengisian kapiler

3. Auskultasi bising usus,  catat      kelancaran flatus dan, gerakan usus.

4. Awasi intake dan output, catat warna urine/konsentrasi, berat jenis.5.

.

  1. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan diit sesuai toleransi.
  1. Berikan perawatan mulut dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir.
  1. Lakukan program kolaborasi cairan IV dan elektrolit
Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan.

Meningkatkan normalisasi fungsi organ ( merangsang peristaltik dan flatus, menurunkan ketidaknyamanan abdomen

Meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping

Menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltik usus dini dan iritasi gaster/muntah.

Menghilangkan nyeri, mempermudah kerjasamna dengan intervensi terapi lain.

Kebisingan yang minimal merupakan stimulus yang efektif untuk menurunkan ambang seseorang untuk terjaga.

Meminimalkan stimulus

Aktivitas yang adequat sesuai kemampuan akan meningkatkan keinginan untk tidur o/k sel-2 perlu istirahat.

Merangsang otot mata untuk beraktivitas dan pada periode tertentu akan mengalami kelelahan sehingga ada keinginan untuk tidur.

Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravaskuler.

Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.

Indikator kembalinya peristaltik, kesiapan untuk pemasukan oral

Penurunan pengeluaran urine pekat dengan peningkatan berat jenis diduga dehydrasi/kebutuhan cairan meningkat.

Menurunkan iritasi gaster/muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan.

Dehydrasi menyebabkan bibir dan mulut kering dan pecah-2.

Peritonium bereaksi terhadap iritasi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah mengakibatkan hipovolemia.

Supanik

Supanik

Supanik

Tindakan Keperawatan

Tanggal / Jam Tindakan Keperawatan Nama Perawat
1 – 4 – 2002

09.30

10.00

10.30

11.00

12.00

13.00

2 – 4 – 2002

07.00

07.30

09.00

10.00

12.00

12.30

13.00

13.30

3        – 4 – 2002

08.00

10.00

Mengobservasi : Tensi 100/80 mmHg, Nadi 88/mnt, RR 18x/mnt, Suhu 36˚ C, Luka bersih.

Mengobati luka dengan Larutan Savlon, BWC dan Betadin oles. Luka tampak bersih tidak ada oedema.

Memberikan injeksi pada pasien : Kedacillin 1 gram dan Antrain 1 amp Iv. Tidak ada reaksi allergie.

Memasukkan Flagyl Suposutoria

Memberi penjelasan pada klien tentang :

-          Penyebab nyeri dan sulit tidur nyenyak

-          Upaya untuk mengatasi nyeri dan gangguan tidur

-          Upaya untuk mencegah kekurangan cairan

Mengajari klien cara mengatasi nyeri dan kesulitan tidur dengan cara mobilisasi dan menarik nafas panjang saat bergerak

Mengobservasi : Tensi 100/80 mmHg, Nadi 92x/mnt, Suhu 36² ° C, RR 16x/mnt. Bising usus +  2x/mnt, klien belum flatus.

Mengganti cairan infus D 5 35 tetes/mnt, menetes lancar.

Observasi bising usus 5x/mnt, Klien flatus, Abdomen soepel.

Memesan pada klien agak minum secara bertahap dan makan cair.

Membantu klien makan bubur halus, habis 1 porsi, minum air putih 250 cc.

Membersihkan lingkungan klien

Mengobservasi : Tensi 110/80 mmHg, Nadi 88/mnt, RR 18x/mnt, Suhu 36˚ C, Luka bersih. Klien mengatakan BAK lancar.

Mengobati luka dengan Larutan Savlon, BWC dan Betadin oles. Luka tampak bersih tidak ada oedema.

Memberikan injeksi pada pasien : Kedacillin 1 gram dan Antrain 1 amp Iv. Tidak ada reaksi allergie.

Mengganti cairan infus RL 35 tetes/mnt, menetes lancar, tidak ada tanda ekstravasase.

Membantu klien makan bubur halus habis 1 porsi, minum air putih 250 cc.

Observasi Tensi 110/80 mmHg, Nadi 84x/mnt, RR 16x/mnt, Suhu 36° C.

Melepas infus dan memesan pada klien agar banyak minum.

Memberi penjelasan pada klien cara mium obat peroral.

Memindahkan klien ke ruang Bedah G

Mengobservasi : Tensi 110/80 mmHg. RR 16x/mnt, Nadi 80x/mnt, Suhu 36° C, Luka jahitan mulai kering.

Memesan pada klien agar tetap minum obat secara teratur, mempertahankan daerah luka tetap steril, banyak minum  terutama air putih.

Mengantarkan klien pulang sampai pintu ruangan.

Supanik

Evaluasi

Tanggal Diagnosa Catatan perkembangan Nama Perawat
2-4-2002

3-4-2002

Nyeri…

Pola tidur….

Cairan

Nyeri…

S. Klien menyatakan nyeri perut sudah berkurang

O. Memegang perut saat bergerak, Tensi 110/80 mmhg, Nadi 84x/mnt, RR 18x/mnt, Luka mulai kering, tanda infeksi –

A.Masalah teratasi sebagian

P. Lanjutkan rencana

Terapi ganti peroral Metafera acid 3×500 mg.

S. Klien mengatakan sudah dapat tidur seperti biasa, tidak mual dan pusing

O. Tensi 110/80 mmHg

A.Masalah teratasi

P. Rencana dihentikan, lanjutkan observasi

S. Klien mengatakan sudah minum air putih ± 1500 cc/hari, makan bubur halus habis, BAK lancar warna kuning jernih.

O. Membrane mukosa bibir dan lidah lembab, Tensi 110/80 mmHg, Nadi 84x/mnt.

A.Masalah tidak menjadi aktual

P. Pertahankan masukan peroral.

S. Klien mengatakan nyeri banyak berkurang dan bila nyeri menarik nafas panjang.

O. Klien nampak rileks saat bergerak, luka bersih dan mulai mengering.

A.Masalah teratasi sebagian

P. Pesan pada klien agar tetap mempertahankan kesterilan luka bila sudah pulang.

Supanik

II.       DEFENISI

Rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

III.

IV.                 FISIOLOGI / ANATOMI

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian t[R1] erjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.

V.

VI.    KLASIFIKASI

Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :

  1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan kapsula.
  • Melalui kepala femur (capital fraktur)
  • Hanya di bawah kepala femur
  • Melalui leher dari femur

[R2]

  1. Fraktur Ekstrakapsuler;
  • Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.
  • Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

[R3]

VII. PATOFISIOLOGI

A. Penyebab fraktur adalah trauma

Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma berupa

yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu :

  • Osteoporosis Imperfekta
  • Osteoporosis
  • Penyakit metabolik

1. TRAUMA

Dibagi menjadi dua, yaitu :

Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah   trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).

Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.

TANDA DAN GEJALA

  • Nyeri hebat di tempat fraktur
  • Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah
  • Rotasi luar dari kaki lebih pendek
  • Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.

PENATALAKSANAAN MEDIK

  • X.Ray
  • Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
  • Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
  • CCT kalau banyak kerusakan otot.

TRAKSI

Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin

Metode Pemasangan traksi:

Traksi Manual

Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency.

Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.

Traksi Mekanik

Ada dua macam, yaitu :

Traksi Kulit

Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas

untuk 4 minggu dan beban < 5 kg.

Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips.

Traksi Skeletal

Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.

KEGUNAAN PEMASANGAN TRAKSI

Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya :

  • Mengurangi nyeri akibat spasme otot
  • Memperbaiki dan mencegah deformitas
  • Immobilisasi
  • Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk  nyeri tulang sendi).
  • Mengencangkan pada perlekatannya.

MACAM – MACAM TRAKSI

Traksi Panggul

Disempurnakan dengan pemasangan sebuah ikat pinggang di atas untuk mengikat puncak iliaka.

Traksi Ekstension (Buck’s Extention)

Lebih sederhana dari traksi kulit dengan menekan lurus satu kaki ke dua kaki. Digunakan untuk immibilisasi tungkai lengan untuk waktu yang singkat atau untuk mengurangi spasme otot.

Traksi Cervikal

Digunakan untuk menahan kepala extensi pada keseleo, kejang dan spasme. Traksi ini biasa dipasang dengan halter kepala.

Traksi Russell’s

Traksi ini digunakan untuk frakstur batang femur. Kadang-kadang juga digunakan untuk terapi nyeri punggung bagian bawah. Traksi kulit untuk skeletal yang biasa digunakan.

Traksi ini dibuat sebuah bagian depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia atau fibula.

Traksi khusus untuk anak-anak

Penderita tidur terlentang 1-2 jam,  di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pen, dipasang staples pada steiman pen. Paha ditopang dengan thomas splint, sedang tungkai bawah ditopang  atau Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 2 minggu atau lebih, sampai tulangnya membentuk callus yang cukup. Sementara itu otot-otot paha dapat dilatih secara aktif.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company.

Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.

KASUS

Saudara adalah seorang perawat di ruang bedah yang diberi tanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan kepada Tn. Muria, usia 40 tahun dengan fraktur femur kanan 1/3 distal comunited. Saat ini pasien masih menggunakan Back slab sambil menunggu jadwal operasi untuk tandur (cangkok) tulang dan pemasangan eksterna traksi.

Dari balutan yang ada pada Back slab merembes darah cukup banyak, pasien mengeluh nyeri berat. Pasien semenjak kecelakaan 24 jam yang lalu tidak bisa tidur karena menahan nyeri. Ibu jari dan jari-jari kaki kanan terasa baal.

SOAL : Buatlah rencana asuhan keperawatan disertai rasionalisasinya !

JAWAB:

RENCANA KEPERAWATAN

Prioritas Masalah

  • Mengatasi perdarahan
  • Mengatasi nyeri
  • Mencegah komplikasi
  • Memberi informasi tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONALISASI

1.

Potensial terjadinya syok s/d perdarahan yg banyak

INDENPENDEN:

a) Observasi tanda-tanda vital.

b)Mengkaji sumber, lokasi, dan banyak- nya per darahan

c) Memberikan posisi supinasi

d)Memberikan banyak cairan (minum)

KOLABORASI:

e) Pemberian cairan per infus

f) Pemberian obat koa-gulan sia (vit.K, Adona) dan peng- hentian perdarahan dgn fiksasi.

g) Pemeriksaan laborato- rium (Hb, Ht)

a) Untuk mengetahui tanda-tanda syok se- dini mungkin

b)Untuk menentukan tindak an

c) Untuk mengurangi per darahan dan men- cegah kekurangan darah ke otak.

d)Untuk mencegah ke- kurangan cairan

(mengganti cairan yang hilang)

e) Pemberian cairan per-infus.

f) Membantu proses pem-bekuan darah dan untuk menghentikan perda-rahan.

g) Untuk mengetahui ka-dar Hb, Ht apakah perlu transfusi atau tidak.

2.

Gangguan rasa nyaman:

Nyeri  s/d perubahan fragmen tulang, luka pada jaringan lunak, pemasangan back slab, stress, dan cemas

INDEPENDEN:

a)        Mengkaji karakteris- tik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan meng- gunakan skala nyeri (0-10)

b)       Mempertahankan im- mobilisasi (back slab)

c)        Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka.

d)       Menjelaskan seluruh prosedur di atas

KOLABORASI:

e)        Pemberian obat-obatan analgesik

a)        Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat me- nentukan jenis tindak annya.

b)       Mencegah pergeser- an tulang dan pe- nekanan pada jaring- an yang luka.

c)        Peningkatan vena return, menurunkan edem, dan me- ngurangi nyeri.

d)       Untuk mempersiap- kan mental serta agar pasien berpartisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan.

e)        Mengurangi rasa nyeri

3.

Potensial infeksi se- hubungan dengan luka terbuka.

INDEPENDEN:

a)        Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap ada- nya: edema, rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.

b)       Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka.

c)        Merawat luka dengan menggunakan tehnik aseptik

d)       Mewaspadai adanya keluhan nyeri men- dadak, keterbatasan gerak, edema lokal, eritema pada daerah luka.

KOLABORASI:

e)        Pemeriksaan darah : leokosit

f)        Pemberian obat-obatan :

antibiotika dan TT (Toksoid Tetanus)

g)        Persiapan untuk operasi sesuai indikasi

a)        Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi.

b)       Meminimalkan terjadinya kontaminasi.

c)        Mencegah kontami- nasi dan kemungkin- an infeksi silang.

d)       Merupakan indikasi adanya osteomilitis.

e)        Lekosit yang me- ningkat artinya sudah terjadi proses infeksi

f)        Untuk mencegah ke- lanjutan terjadinya infeksi. dan pencegah an tetanus.

g)        Mempercepat proses penyembuhan luka dan dan penyegahan peningkatan infeksi.

4.

Gangguan aktivitas sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal, nyeri, immobilisasi.

INDEPENDEN:

a)        Kaji tingkat im- mobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi ter- sebut.

b)       Mendorong parti- sipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV, membaca kora, dll ).

c)        Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak.

d)       Membantu pasien dalam perawatan diri

e)        Auskultasi bising usus, monitor kebiasa an eliminasi dan menganjurkan agar b.a.b. teratur.

f)        Memberikan diit tinggi protein , vitamin ,  dan mi-  neral.

KOLABORASI :

g)        Konsul dengan bagi- an fisioterapi

a)        Pasien akan mem- batasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak pro- posional)

b)       Memberikan ke- sempatan untuk me- ngeluarkan energi, memusatkan per- hatian, meningkatkan perasaan mengontrol diri pasien dan membantu dalam mengurangi isolasi sosial.

c)        Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk me- ningkatkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, men- cegah kontraktur / atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan.

d)       Meningkatkan ke- kuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien dalam me- ngontrol situasi, me- ningkatkan kemauan pasien untuk sembuh.

e)        Bedrest, penggunaan analgetika dan pe- rubahan diit dapat menyebabkan penurunan peristaltik usus dan konstipasi.

f)        Mempercepat proses penyembuhan, mencegah penurunan BB, karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan BB (20 – 30 lb).

Catatan : Untuk sudah dilakukan traksi.

g)        Untuk menentukan program latihan.

5.

Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosa, dan pengo- batan sehubungan dengan kesalahan dalam pe- nafsiran, tidak familier dengan sumber in-  formasi.

INDEPENDEN:

a)        Menjelaskan tentang kelainan yang muncul  prognosa, dan harap- an yang akan datang.

b)       Memberikan dukung an cara-cara mobili- sasi dan ambulasi sebagaimana yang dianjurkan oleh bagi- an fisioterapi.

c)        Memilah-milah aktif- itas yang bisa mandiri dan yang harus dibantu.

d)       Mengidentifikasi pe- layanan umum yang tersedia seperti team rehabilitasi, perawat keluarga (home care)

e)        Mendiskusikan tentang perawatan lanjutan.

a)        Pasien mengetahui kondisi saat ini dan hari depan sehingga pasien dapat menentu kan pilihan.

b)       Sebagian besar fraktur memerlukan penopang dan fiksasi selama proses pe- nyembuhan sehingga keterlambatan pe- nyembuhan disebab- kan oleh penggunaan alat bantu yang kurang tepat.

c)        Mengorganisasikan kegiatan yang diperlu kan dan siapa yang perlu menolongnya. (apakah fisioterapi, perawat atau ke- luarga).

d)       Membantu meng- fasilitaskan perawa- tan mandiri memberi support untuk man- diri.

e)        Penyembuhan fraktur tulang kemungkinan lama (kurang lebih 1 tahun) sehingga perlu disiapkan untuk perencanaan perawatan lanjutan dan pasien koopratif.

VIII.  FRAKTUR FEMUR

IX.    DEFINISI

Rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis.

X.

XI.                 FISIOLOGI / ANATOMI

Persendian panggul merupakan bola dan mangkok sendi dengan acetabulum bagian dari femur, terdiri dari : kepala, leher, bagian terbesar dan kecil, trokhanter dan batang, bagian t[R4] erjauh dari femur berakhir pada kedua kondilas. Kepala femur masuk acetabulum. Sendi panggul dikelilingi oleh kapsula fibrosa, ligamen dan otot. Suplai darah ke kepala femoral merupakan hal yang penting pada faktur hip. Suplai darah ke femur bervariasi menurut usia. Sumber utamanya arteri retikuler posterior, nutrisi dari pembuluh darah dari batang femur meluas menuju daerah tronkhanter dan bagian bawah dari leher femur.

XII.

XIII.       KLASIFIKASI

Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :

  1. Fraktur Intrakapsuler; femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan kapsula.
  • Melalui kepala femur (capital fraktur)
  • Hanya di bawah kepala femur
  • Melalui leher dari femur

[R5]

  1. Fraktur Ekstrakapsuler;
  • Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil/pada daerah intertrokhanter.
  • Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

[R6]

XIV.       PATOFISIOLOGI

B. Penyebab fraktur adalah trauma

Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh trauma minimal atau tanpa trauma yang disebabkan oleh suatu proses, yaitu :

  • Osteoporosis Imperfekta
  • Osteoporosis
  • Penyakit metabolik

2. TRAUMA

Dibagi menjadi dua, yaitu :

Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah   trokhanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).

Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.

TANDA DAN GEJALA

  • Nyeri hebat di tempat fraktur
  • Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah
  • Rotasi luar dari kaki lebih pendek
  • Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.

PENATALAKSANAAN MEDIK

  • X.Ray
  • Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
  • Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
  • CCT kalau banyak kerusakan otot.

TRAKSI

Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin

Metode Pemasangan traksi:

Traksi Manual

Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency.

Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.

Traksi Mekanik

Ada dua macam, yaitu :

Traksi Kulit

Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas

untuk 4 minggu dan beban < 5 kg.

Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips.

Traksi Skeletal

Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.

KEGUNAAN PEMASANGAN TRAKSI

Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya :

  • Mengurangi nyeri akibat spasme otot
  • Memperbaiki dan mencegah deformitas
  • Immobilisasi
  • Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk  nyeri tulang sendi).
  • Mengencangkan pada perlekatannya.

MACAM – MACAM TRAKSI

Traksi Panggul

Disempurnakan dengan pemasangan sebuah ikat pinggang di atas untuk mengikat puncak iliaka.

Traksi Ekstension (Buck’s Extention)

Lebih sederhana dari traksi kulit dengan menekan lurus satu kaki ke dua kaki. Digunakan untuk immibilisasi tungkai lengan untuk waktu yang singkat atau untuk mengurangi spasme otot.

Traksi Cervikal

Digunakan untuk menahan kepala extensi pada keseleo, kejang dan spasme. Traksi ini biasa dipasang dengan halter kepala.

Traksi Russell’s

Traksi ini digunakan untuk frakstur batang femur. Kadang-kadang juga digunakan untuk terapi nyeri punggung bagian bawah. Traksi kulit untuk skeletal yang biasa digunakan.

Traksi ini dibuat sebuah bagian depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia atau fibula.

Traksi khusus untuk anak-anak

Penderita tidur terlentang 1-2 jam,  di bawah tuberositas tibia dibor dengan steinman pen, dipasang staples pada steiman pen. Paha ditopang dengan thomas splint, sedang tungkai bawah ditopang  atau Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 2 minggu atau lebih, sampai tulangnya membentuk callus yang cukup. Sementara itu otot-otot paha dapat dilatih secara aktif.

PENGKAJIAN

  1. Riwayat keperawatan
    1. Riwayat Perjalanan penyakit

-          Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan

-          Apa penyebabnya, kapan terjadinya kecelakaan atau trauma

-          Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak dll

-          Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan

-          Kehilangan fungsi

-          Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis

  1. Riwayat pengobatan sebelumnya

-          Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan jenis kortikosteroid dalam jangka waktu lama

-          Apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal, terutama pada wanita

-          Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut

-          Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir

  1. Proses pertolongan pertama yang dilakukan

-          Pemasangan bidai sebelum memindahkan dan pertahankan gerakan diatas/di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindahkan

-          Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Mengidentifikasi tipe fraktur
    2. Inspeksi daerah mana yang terkena

-          Deformitas yang nampak jelas

-          Edema, ekimosis sekitar lokasi cedera

-          Laserasi

-          Perubahan warna kulit

-          Kehilangan fungsi daerah yang cidera

  1. Palpasi

-          Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran

-          Krepitasi

-          Nadi, dingin

-          Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur

KASUS

Saudara adalah seorang perawat di ruang bedah yang diberi tanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan kepada Tn. Muria, usia 40 tahun dengan fraktur femur kanan 1/3 distal comunited. Saat ini pasien masih menggunakan Back slab sambil menunggu jadwal operasi untuk tandur (cangkok) tulang dan pemasangan eksterna traksi.

Dari balutan yang ada pada Back slab merembes darah cukup banyak, pasien mengeluh nyeri berat. Pasien semenjak kecelakaan 24 jam yang lalu tidak bisa tidur karena menahan nyeri. Ibu jari dan jari-jari kaki kanan terasa baal.

SOAL : Buatlah rencana asuhan keperawatan disertai rasionalisasinya !

JAWAB:

RENCANA KEPERAWATAN

Prioritas Masalah

  • Mengatasi perdarahan
  • Mengatasi nyeri
  • Mencegah komplikasi
  • Memberi informasi tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONALISASI

1.

Potensial terjadinya syok s/d perdarahan yg banyak

INDENPENDEN:

a)Observasi tanda-tanda vital.

b)Mengkaji sumber, lokasi, dan banyak- nya per darahan

c)Memberikan posisi supinasi

d)Memberikan banyak cairan (minum)

KOLABORASI:

e)Pemberian cairan per infus

f)Pemberian obat koa-gulan sia (vit.K, Adona) dan peng- hentian perdarahan dgn fiksasi.

g)Pemeriksaan laborato- rium (Hb, Ht)

a)Untuk mengetahui tanda-tanda syok se- dini mungkin

b)Untuk menentukan tindak an

c)Untuk mengurangi per darahan dan men- cegah kekurangan darah ke otak.

d)Untuk mencegah ke- kurangan cairan

(mengganti cairan yang hilang)

e)Pemberian cairan per-infus.

f)Membantu proses pem-bekuan darah dan untuk menghentikan perda-rahan.

g)Untuk mengetahui ka-dar Hb, Ht apakah perlu transfusi atau tidak.

2.

Gangguan rasa nyaman:

Nyeri  s/d perubahan fragmen tulang, luka pada jaringan lunak, pemasangan back slab, stress, dan cemas

INDEPENDEN:

a)      Mengkaji karakteris- tik nyeri : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan meng- gunakan skala nyeri (0-10)

b)      Mempertahankan im- mobilisasi (back slab)

c)      Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka.

d)     Menjelaskan seluruh prosedur di atas

KOLABORASI:

e)      Pemberian obat-obatan analgesik

a)      Untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat me- nentukan jenis tindak annya.

b)      Mencegah pergeser- an tulang dan pe- nekanan pada jaring- an yang luka.

c)      Peningkatan vena return, menurunkan edem, dan me- ngurangi nyeri.

d)     Untuk mempersiap- kan mental serta agar pasien berpartisipasi pada setiap tindakan yang akan dilakukan.

e)      Mengurangi rasa nyeri

3.

Potensial infeksi se- hubungan dengan luka terbuka.

INDEPENDEN:

a)      Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap ada- nya: edema, rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.

b)      Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka.

c)      Merawat luka dengan menggunakan tehnik aseptik

d)     Mewaspadai adanya keluhan nyeri men- dadak, keterbatasan gerak, edema lokal, eritema pada daerah luka.

KOLABORASI:

e)      Pemeriksaan darah : leokosit

f)       Pemberian obat-obatan :

antibiotika dan TT (Toksoid Tetanus)

g)      Persiapan untuk operasi sesuai indikasi

a)      Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi.

b)      Meminimalkan terjadinya kontaminasi.

c)      Mencegah kontami- nasi dan kemungkin- an infeksi silang.

d)     Merupakan indikasi adanya osteomilitis.

e)      Lekosit yang me- ningkat artinya sudah terjadi proses infeksi

f)       Untuk mencegah ke- lanjutan terjadinya infeksi. dan pencegah an tetanus.

g)      Mempercepat proses penyembuhan luka dan dan penyegahan peningkatan infeksi.

4.

Gangguan aktivitas sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler skeletal, nyeri, immobilisasi.

INDEPENDEN:

a)      Kaji tingkat im- mobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi ter- sebut.

b)      Mendorong parti- sipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV, membaca kora, dll ).

c)      Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak.

d)     Membantu pasien dalam perawatan diri

e)      Auskultasi bising usus, monitor kebiasa an eliminasi dan menganjurkan agar b.a.b. teratur.

f)       Memberikan diit tinggi protein , vitamin ,  dan mi-  neral.

KOLABORASI :

g)      Konsul dengan bagi- an fisioterapi

a)      Pasien akan mem- batasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak pro- posional)

b)      Memberikan ke- sempatan untuk me- ngeluarkan energi, memusatkan per- hatian, meningkatkan perasaan mengontrol diri pasien dan membantu dalam mengurangi isolasi sosial.

c)      Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk me- ningkatkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, men- cegah kontraktur / atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan.

d)     Meningkatkan ke- kuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien dalam me- ngontrol situasi, me- ningkatkan kemauan pasien untuk sembuh.

e)      Bedrest, penggunaan analgetika dan pe- rubahan diit dapat menyebabkan penurunan peristaltik usus dan konstipasi.

f)       Mempercepat proses penyembuhan, mencegah penurunan BB, karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan BB (20 – 30 lb).

Catatan : Untuk sudah dilakukan traksi.

g)      Untuk menentukan program latihan.

5.

Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosa, dan pengo- batan sehubungan dengan kesalahan dalam pe- nafsiran, tidak familier dengan sumber in-  formasi.

INDEPENDEN:

a)      Menjelaskan tentang kelainan yang muncul  prognosa, dan harap- an yang akan datang.

b)      Memberikan dukung an cara-cara mobili- sasi dan ambulasi sebagaimana yang dianjurkan oleh bagi- an fisioterapi.

c)      Memilah-milah aktif- itas yang bisa mandiri dan yang harus dibantu.

d)     Mengidentifikasi pe- layanan umum yang tersedia seperti team rehabilitasi, perawat keluarga (home care)

e)      Mendiskusikan tentang perawatan lanjutan.

a)      Pasien mengetahui kondisi saat ini dan hari depan sehingga pasien dapat menentu kan pilihan.

b)      Sebagian besar fraktur memerlukan penopang dan fiksasi selama proses pe- nyembuhan sehingga keterlambatan pe- nyembuhan disebab- kan oleh penggunaan alat bantu yang kurang tepat.

c)      Mengorganisasikan kegiatan yang diperlu kan dan siapa yang perlu menolongnya. (apakah fisioterapi, perawat atau ke- luarga).

d)     Membantu meng- fasilitaskan perawa- tan mandiri memberi support untuk man- diri.

e)      Penyembuhan fraktur tulang kemungkinan lama (kurang lebih 1 tahun) sehingga perlu disiapkan untuk perencanaan perawatan lanjutan dan pasien koopratif.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company.

Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.


  1. Pengertian.

Adalah terputuisnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berubah trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berubah trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

Akibat trauma pada tulang tergantuing pada jenis trauma,kekuatan, dan arahnya.Taruma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan  luka terbuka  sampai ketulang  yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang yang didekat sendi atau yang mengenai sendi dapat menyebabkan  patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.

III.       Patofisiologi.

Patah Tulang

Beban lama / Trauma ringan yang kontinyu

Terbuka                                                                                      Tertutup

Infeksi                                                      Potensial infeksi,adanya emboli lemak dari  fraktur tulang panjang & sindroma kompatemen .

Trauma Penetrasi

Perdarahan              Cidera Vaskuler                         Trombosis Pembuluh

Komplikasi

Penyebab kematian dini                                      Penyebab lambat kematian(Stl 3 hr)

Hemoragi & Cidera Kepala           Gangguan Organ Multipel       Sepsis

Terjadi ARDS &  DIC                                                              Pelepasan Toksin

Syok Hipovolemik                                                                    Dilatasi pemb. Darah

Penurunan Perfusi  organ                                                       Terkumpulnya Venosa

Peningkatan Curah jantung        Penurunan tahanan

Vaskular sistemik

Penurunan Curah Jantung,Tensi, Perfusi

Syok Sepsis

( Tirah baring, Ulkus, Emboli pulmunal, penyusutan Otot )

  1. Klasifikasi patah tulang.

Patah tulang dapat dibagi menurut  ada tidanya hubungan antara patahan tulang  denga dunia luar, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk kedalam luka  sampai ke tulang yang patah.

Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya  luka dan berat ringannya patah tulang.

Patang tulang juga  dapat dibagi menurut garis fraktrunya misanya fisura, patah tulang sederhana, patah tulang kominutif ( pengecilan, patah tulang segmental,patah tulang impaksi ),  patah tulang kompresi,   impresi dan patah tulang patologis.

Derajat patah tulang  terbuka  terbagi atas 3 macam yaitu :

  1. laserasi < 2 cm bentuknya sederhana, dislokasi,fragmen, minimal.
  2. Laserasi > 2 cm  kontusi otot diserkitarnya bentuknya dislokasi, fragmen jelas
  3. Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan disekitarnya bentuknya kominutif, segmental,fragmen tulang ada yang hilang

Jenis patah tulang dapat digolongkan  menjadi :

  1. Visura ( Diafisis metatarsal
  2. Serong sederhana ( Diaphisis metacarpal )
  3. Lintang sederhana ( diafisis tibia )
  4. Kominutif ( Diafisis femur )
  5. Segmental ( Diafisis tibia )
  6. Dahan hijau ( diafisis radius pada anak )
  7. Kompresi ( Korpus vertebral  th. XII )
  8. Impaksi ( epifisis radius distal,kolum femur lateral )
  9. Impresi ( tulang tengkorak )

10.  Patologis ( Tomur diafisi humerus,kurpus  vertebral)

  1. Komplikasi patah tulang .

Komplikasi patah tulang meliputi :

  1. Komplikasi segera

Lokal :

  • Kulit( abrasi l;acerasi, penetrasi)
  • Pembuluh darah ( robek )
  • Sistem saraf ( Sumssum tulang belakang, saraf tepi motorik dan   sensorik)
  • Otot
  • Organ dalam ( jantung,paru,hepar, limpha(pada Fr.kosta),kandung kemih (Fr.Pelvics)

Umum :

  • Ruda paksa multiple
  • Syok ( hemoragik, neurogenik )
  1. Komplikas Dini :

Lokal  :

  • Nekrosis kulit, gangren, sindroma kopartemen,trombosis vena, infeksi sendi,osteomelisis )

Umum :

  • ARDS,emboli paru, tetanus.
  1. Kompliasi lama

Lokal :

  • Sendi (ankilosis fibrosa, ankilosis osal )
  • Tulang ( gagal taut/lama dan salah taut,distropi reflek,osteoporosisi paskah    trauma,ggn pertumbuhan,osteomelisis,patah tulang ulang)
    • Otot atau tendon ( penulangan otot, ruptur tendon )
    • Saraf ( kelumpuhan saraf lambat

Umum :

  • Batu ginjal ( akibat mobilisasi lama ditempat tidur)
  1. Penatalaksanaan patah tulang.

Penatalaksanaan patah tulang mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya yang meliputi :

  1. Jangan ciderai pasien( Primum  Non Nocere).
  2. Pengobatan yang tepat berdasarkanb diagnosis dan prognosisnya
  3. Sesuai denga hokum alam
  4. Sesuai dengan kepribadian individu

Khusus untuk patah tulang meliputi :

  1. Reposisi
  2. Imobilisasi
  3. Mobilisasi berupa latihan seluruh system tubuh.
  1. Asuhan keperawatan.

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Riwayat perjalanan penyakit.
  2. Riwayat pengobatan sebelumnya.
  3. Pertolongan pertama yang dilakukan
  1. Pemeriksaan fisik :
  • Identifikasi fraktur
  • Inspeksi
  • Palpasi (bengkak, krepitasi, nadi, dingin)
  • Observasi spasme otot.
  1. Pemeriksaan diagnostik :
  • Laboratorium (HCt, Hb, Leukosit, LED)
  • CT-Scan
  1. Obat-obatan : golongan antibiotika gram (+) dan gram (-)
  • Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya fraktur :
  1. Osteomyelitis acut
  2. Osteomyelitis kronik
  3. Osteomalacia
  4. Osteoporosis
  5. Gout
  6. Rhematoid arthritis

PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL

DATA SUBYEKTIF

  • Data biografi
  • Adanya nyeri, kekakuan, kram, sakit pinggang, kemerahan, pembengkakan, deformitas, ROM, gangguan sensasi.
  • Cara PQRST :
    • Provikatif (penyebab)
    • Quality (bagaimana rasanya, kelihatannya)
    • Region/radiation (dimana dan apakah menyebar)
    • Severity (apakah mengganggu aktivitas sehari-hari)
    • Timing (kapan mulainya)
  • Pengkajian pada sistem lain
    • Riwayat sistem muskuloskeletal, tanyakan juga tentang riwayat kesehatan masa lalu.
    • Riwayat dirawat di RS
    • Riwayat keluarga, diet.
    • Aktivitas sehari-hari, jenis pekerjaan, jenis alas kaki yang digunakan
    • Permasalahan dapat saja baru diketahui setelah klien ganti baju, membuka kran dll.

DATA OBYEKTIF

  • Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot
  • Bandingakan dengan sisi lainnya.
  • Pengukuran kekuatan otot (0-5)
  • Duduk, berdiri dan berjalan kecuali ada kontra indikasi.
  • Kyposis, scoliosis, lordosis.

PROSEDUR DIAGNOSTIK

  1. X-ray dan radiography
  2. Arthrogram (mendiagnosa trauma pada kapsul di persendian atau ligamen). Anestesi lokal sebelum dimasukkan cairan kontras/udara ke daerah yang akan diperiksa.
  3. Lamnograph (untuk mengetahui lokasi yang mengalami destruksi atau mengevaluasi bone graf).
  4. Scanograph (mengetahui panjang dari tulang panjang, sering dilakukan pada anak-anak sebelum operasi epifisis).
  5. Bone scanning (cairan radioisotop dimasukkan melalui vena, sering dilakukan pada tumor ganas, osteomyelitis dan fraktur).
  6. MRI
  7. Arthroscopy (tindakan peneropongan di daerah sendi)
  8. Arthrocentesis (metode pengambilan cairan sinovial)

MASALAH-MASALAH YANG UMUM TERJADI

  1. Gangguan dalam melakukan ambulasi.
  • Berdampak luas pada aspek psikososial klien.
  • Klien membutuhkan imobilisasi → menyebabkan spasme otot dan kekakuan sendi
  • Perlu dilakukan ROM untuk menguragi komplikasi :

-  Kaki (fleksi, inverse, eversi, rotasi)

-  Pinggul (abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, rotasi)

-  Lutut (ekstensi)

-  Jari-jari kaki (ektensi, fleksi)

  1. Nyeri; tindakan keperawatan :
  • Merubah posisi pasien
  • Kompres hangat, dingin
  • Pemijatan
  • Menguragi penekanan dan support social
  • Apabila nyeri di sendi, perlu dikaji :

-          Kejadian sebelum terjadinya nyeri

-          Derajat nyeri pada saat nyeri pertama timbul

-          Penyebaran nyeri

-          Lamanya nyeri

-          Intensitas nyeri, apakah menyertai pergerakan

-          Sumber nyeri

-          Hal-hal yang dapat mengurangi nyeri.

  1. Spasme otot
  • Spasme otot (kram/kontraksi otot involunter)
  • Spasme otot dapat disebabkan iskemi jaringan dan hipoksia.
  • Tindakan keperawatan :
  1. Rubah posisi
  2. Letakkan guling kecil di bawah pergelangan kaki dan lutut
  3. Berikan ruangan yang cukup hangat
  4. Hindari pemberian obat sedasi berat → dapat menurunkan aktivitas pergerakan selama tidur
  5. Beri latihan aktif dan pasif sesuai program

INTERVENSI

  1. Istirahat
  • Istirahat adalah intervensi utama
  • Membantu proses penyembuhan dan meminimalkan inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
  • Pemasangan bidai/gips.
  1. Kompres hangat
  • Rendam air hangat/kantung karet hangat
  • Diikuti dengan latihan pergerakan/pemijatan
  • Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah :
    • Perlunakan jaringan fibrosa
    • Membuat relaks otot dan tubuh
    • Menurunkan atau menghilangkan nyeri
    • Meningkatkan suplai darah/melancarkan aliran darah.
  1. Kompres dingin
  • Metoda tidak langsung seperti cold pack
  • Dampak fisiologis adalah vasokonstriksi dan penerunan metabolic
  • Membantu mengontrol perdarahan dan pembengkakan karena trauma
  • Nyeri dapat berkurang, dapat menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot
  • Harus hati-hati, dapat menyebabkan jaringan kulit nekrosis
  • Tidak sampai > 30 menit.

KONSEP DASAR Benigne Prostat Hyperplasia

Pengertian Benigne Prostat Hyperplasia

Benigne Prostat Hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr Soetomo, 1994 : 193).

Etiologi/Penyebabnya

Penyebab yang pasti dari terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia yaitu testis dan usia lanjut.

Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain :

  1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)

Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia.

  1. Ketidak seimbangan estrogen – testoteron

Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap. yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma.

  1. Interaksi stroma – epitel

Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel.

  1. Penurunan sel yang mati

Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.

  1. Teori stem cell

Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.

(Roger Kirby, 1994 : 38).

Anatomi Dan Fisiologi Prostat

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi / mengitari uretra posterior dan disebelah proximalnya berhubungan dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri atau jeruk nipis. Ukuran, panjangnya sekitar 4 – 6 cm, lebar 3 – 4 cm, dan tebalnya kurang lebih 2 – 3 cm. Beratnya sekitar 20 gram.

Prostat terdiri dari :

  • Jaringan Kelenjar ®        50  -  70   %
  • 30  -  50  %

    Jaringan Stroma (penyangga)

  • Kapsul/Musculer

Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang banyak mengandung enzym yang berfungsi untuk pengenceran sperma setelah mengalami koagulasi (penggumpalan) di dalam testis yang membawa sel-sel sperma. Pada waktu orgasme otot-otot di sekitar prostat akan bekerja memeras cairan prostat keluar melalui uretra. Sel – sel sperma yang dibuat di dalam testis akan ikut keluar melalui uretra. Jumlah cairan yang dihasilkan meliputi 10 – 30 % dari ejakulasi. Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan (prostatitis). Kelainan yang lain sepeti pertumbuhan yang abnormal (tumor) baik jinak maupun ganas, tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperanan pada terjadinya gangguan aliran kencing. Kelainanyang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki-laki usia lanjut.

Patofisiologi

Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas ke atas (bladder), di dalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dan buli-buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urine keluar. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa : Hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula dan difertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kencing bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom/LUTS (Basuki, 2000 : 76).

Pada fase-fase awal dari Prostat Hyperplasia, kompensasi oleh muskulus destrusor berhasil dengan sempurna. Artinya pola dan kualitas dari miksi tidak banyak berubah. Pada fase ini disebut Sebagai Prostat Hyperplasia Kompensata. Lama kelamaan kemampuan kompensasi menjadi berkurang dan pola serta kualitas miksi berubah, kekuatan serta lamanya kontraksi dari muskulus destrusor menjadi tidak adekuat sehingga tersisalah urine di dalam buli-buli saat proses miksi berakhir seringkali Prostat Hyperplasia menambah kompensasi ini dengan jalan meningkatkan tekanan intra abdominal (mengejan) sehingga tidak jarang disertai timbulnya hernia dan haemorhoid puncak dari kegagalan kompensasi adalah tidak berhasilnya melakukan ekspulsi urine dan terjadinya retensi urine, keadaan ini disebut sebagai Prostat Hyperplasia Dekompensata. Fase Dekompensasi yang masih akut menimbulkan rasa nyeri dan dalam beberapa hari menjadi kronis dan terjadilah inkontinensia urine secara berkala akan mengalir sendiri tanpa dapat dikendalikan, sedangkan buli-buli tetap penuh. Ini terjadi oleh karena buli-buli tidak sanggup menampung atau dilatasi lagi. Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidak mampuan otot detrusor memompa urine dan menjadi retensi urine.Retensi urine yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal (Sunaryo, H. 1999 : 11)

TESTIS USIA LANJUT

PADA FASE AWAL PROSTAT HYPERPLASIA

POLA DAN KUALITAS MIKSI BERUBAH

KONTRAKSI MUSKULUS DESTRUSSOR

TIDAK ADEKUAT (LEMAH)

RETENSIO URINE TOTAL                         RESIDUAL URINE

(FASE DEKOMPENSASI)

NYERI

OLEH TEKANAN TEKANAN INTRA VESIKA URINARIA

INKONTINENSIA PARADOKSA OVERFLOW INCONTINENSIA (TEKANAN INTRA VASKULER URINARIA DARI PADA TEKANAN SPINKTER BERSIFAT KRONIS)

Proses Miksi

Fase pengisian

Pves   :        <  20 cm H2O

Pup    :   60 – 100 cm H2O

Fase ekspulsi :

Isi blader 200 – 300 ml

Mulai terangsang ingin kencing

Reseptor Strecth

Syaraf Otonom PS S2 – 4

Tonus Bladder 60 – 120 cm H2O (ingin kencing)

Up membuka, sp. Eks masih menutup

BPH                    P up meningkat

Kontraksi Detrusor meningkat

Hipertropi

P Ves > P up                                                                 P Ves < P up

Fase Kompensata                                                                    Fase Decompensata

Kualitas miksi masih baik                                                       Retensio Urine

Gejala Benigne Prostat Hyperplasia

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Gejala Obstruktif yaitu :
    1. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
    2. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
    3. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
    4. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.
    5. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.
  1. Gejala Iritasi yaitu :
    1. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
    2. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
    3. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

Derajat Benigne Prostat Hyperplasia

Benigne Prostat Hyperplasia terbagi dalam 4 derajat sesuai dengan gangguan klinisnya :

  1. Derajat satu, keluhan prostatisme ditemukan penonjolan prostat 1 – 2 cm, sisa urine kurang 50 cc, pancaran lemah, necturia, berat + 20 gram.
  2. Derajat dua, keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nucturia bertambah berat, panas badan tinggi (menggigil), nyeri daerah pinggang, prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, sisa urine 50 – 100 cc dan beratnya + 20 – 40 gram.
  3. Derajat tiga, gangguan lebih berat dari derajat dua, batas sudah tak teraba, sisa urine lebih 100 cc, penonjolan prostat 3 – 4 cm, dan beratnya 40 gram.
  4. Derajat empat, inkontinensia, prostat lebih menonjol dari 4 cm, ada penyulit keginjal seperti gagal ginjal, hydroneprosis.

Pengkajian

Riwayat Keperawatan

  • Suspect BPH ® umur > 60 tahun
  • Pola urinari : frekuensi, nocturia, disuria.
  • Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.
  • BPH ® hematuri
  1. 1. Pemeriksaan Fisik
  • Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
  • Distensi kandung kemih
  • Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik ® retensi urine
  • Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil ® retensi urine
  • Perkusi : Redup ® residual urine
  • Pemeriksaan penis : uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
  • Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur) ® posisi knee chest

Syarat          :           buli-buli kosong/dikosongkan

Tujuan         :           Menentukan konsistensi prostat

Menentukan besar prostat

  1. 2. Pemeriksaan Radiologi

Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk

  1. Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
  2. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine
  3. Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat Hyperplasia atau tidak

Beberapa Pemeriksaan Radiologi

  1. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli.

Indikasi         : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis

Tanda BPH   : Impresi prostat, hockey stick ureter

  1. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
  2. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra.
  3. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas
  1. 3. Pemeriksaan Endoskopi.

  1. 4. Pemeriksaan Uroflowmetri

Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli

Q max     : > 15 ml/detik ® non obstruksi

10 – 15 ml/detik ® border line

< 10 ml/detik ® obstruktif

  1. 5. Pemeriksaan Laborat
  • Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K, Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur)

Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah atau PUS.

  • RFT ® evaluasi fungsi renal
  • Serum Acid Phosphatase ® Prostat Malignancy

Diagnosa Keperawatan Pre Operasi

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi (retensio urine) baik akut maupun kronis berhubungan dengan obstruksi akibat pembesaran prostat/dekompresi otot detrussor ditandai dengan urine menetes, sering buang air kecil, buang air kecil sedikit-sedikit tidak bisa mengosongkan kandung kencing secara total, distensi kandung kencing.
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iritasi mukosa/distensi kandung kencing/kolik renal/infeksi saluran kencing ditandai dengan keluhan nyeri spasme kandung kemih, perubahan tonus otot, merintih kesakitan.
  3. Cemas berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status kesehatan serta penurunan kemampuan sexual ditandai dengan peningkatan tensi, ungkapan rasa takut
  4. Dysfungsi sexual berhubungan dengan obstrusi perkemihan.
  5. Kurang pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya informasi /terbatasnya informasi/informasi yang keliru ditandai dengan pasien sering bertanya, perintah yang tidak dituruti dan perkembangan infeksi tidak dapat dicegah.
  6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering miksi pada malam hari
  7. Resiko injury dan resiko infeksi berhubungan dengan obstruksi perkemihan
  8. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemasangan Dower Cateter yang lama

Diagnosa Keperawatan Post Operasi

  1. Terjadinya perdarahan berhubungan dengan tindakan bedah (reseksi).
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat reseksi
  3. Cemas berhubungan dengan proses penyakitnya yang masih dapat kambuh lagi.
  4. Resiko terjadinya retensi urine berhubungan dengan obstruksi saluran kateter oleh bekuan darah/klot.
  5. Resiko terjadinya kelebihan cairan dalam tubuh (Syndroma TUR) berhubungan dengan adanya penyerapan cairan irigasi yang berlebihan.

Perencanaan/Penatalaksanaan

Tujuan: klien tidak akan mengalami berbagai komplikasi dari pengobatan retensi Urine.

Intervensi:

A     Non Pembedahan

  1. Memperkecil gejala obstruksi ® hal-hal yang menyebabkan pelepasan cairan prostat.
1)        Prostatic massage
2)        Frekuensi coitus meningkat
3)        Masturbasi
  1. Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari alkohol dan diuretic mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun.
  1. Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti : anticholinergic, anti histamin, decongestan.
  1. Observasi Watchfull Waiting

Yaitu pengawasan berkala/follow – up tiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien

Indikasi       : BPH dengan IPPS Ringan

Baseline data normal

Flowmetri non obstruksi

  1. Terapi medikamentosa pada Benigne Prostat Hyperplasia

Terapi ini diindikasikan pada Benigne Prostat Hyperplasia dengan keluhan ringan, sedang dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi pembedahan, tetapi masih terdapat kontra indikasi atau belum “well motivated”. Obat yang digunakan berasal dari Fitoterapi, Golongan Supressor Androgen dan Golongan Alfa Bloker.

  1. Fito Terapi

a)         Hypoxis rosperi (rumput)

b)        Serenoa repens (palem)

c)         Curcubita pepo (waluh )

  1. Pemberian obat Golongan Supressor Androgen/anti androgen :

a)         Inhibitor 5 alfa reduktase

b)        Anti androgen

c)         Analog LHRH

  1. Pemberian obat Golongan Alfa Bloker/obat penurun tekanan diuretra-prostatika : Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin
  1. Bila terjadi retensi urine
    1. Kateterisasi ® Intermiten

Indwelling

  1. Dilakukan pungsi blass
  2. Dilakukan cystostomy
  1. Prostetron (Trans Uretral Microwave Thermoterapy/TUMT)

B.    Pembedahan

  1. Trans Uretral Reseksi Prostat           : 90    -   95   %
  2. Open Prostatectomy                         :   5    -   10   %

BPH yang besar (50 – 100 gram) ® Tidak habis direseksi dalam 1 jam.

Disertai Batu Buli Buli Besar (>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada.

Mortalitas Pembedahan BPH

0  -  1  % KAUSA  :  Infark Miokatd

Septikemia dengan Syok

Perdarahan Massive

Kepuasan Klien  :  66 – 95  %

Indikasi Pembedahan BPH

ü        Retensi urine akut

ü        Retensi urine kronis

ü        Residual urine lebih dari 100 ml

ü        BPH dengan penyulit

v        Hydroneprosis

v        Terbentuknya Batu Buli

v        Infeksi Saluran Kencing Berulang

v        Hematuri berat/berulang

v        Hernia/hemoroid

v        Menurunnya Kualitas Hidup

v        Retensio Urine

v        Gangguan Fungsi Ginjal

ü        Terapi medikamentosa tak berhasil

ü        Sindroma prostatisme yang progresif

ü        Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif

v        Flow. Max kurang dari 10 ml

v        Kurve berbentuk datar

v        Waktu miksi memanjang

Kontra Indikasi

  • IMA
  • CVA akut

Tujuan  :

  • Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli
  • Memperbaiki kualitas hidup

1) Trans Uretral Reseksi Prostat ® 90 – 95  %

Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial.

Keuntungan :

  • Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan
  • Tak perlu insisi pembedahan
  • Hospitalisasi dan penyebuhan pendek

Kerugian :

  • Jaringan prostat dapat tumbuh kembali
  • Kemungkinan trauma urethra ® strictura urethra.

2) Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy

® Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih

3) Perianal Prostatectomy

ü        Pembesaran prostat disertai batu buli-buli

ü        Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif

ü        Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat

4) Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

PRE OPERATIF CARE

Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien

  • Type pembedahan
  • Jenis anesthesi ® TUR – P, general / spina anesthesi
  • Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).

Persiapan orerasi lainnya yaitu :

  • Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Elektrolit
  • Pemeriksaan EKG
  • Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG.
  • Pemeriksaan Uroflowmetri ® Bagi penderita yang tidak memakai kateter.
  • Pemasangan infus dan puasa
  • Pencukuran rambut pubis dan lavemen.
  • Pemberian Anti Biotik
  • Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern).

POST OPERATIF CARE

Post operatif care pada dasarnya sama seperti pasien lainnya yaitu monitoring terhadap respirasi, sirkulasi dan kesadaran pasien :

  1. Airway     :   Bebaskan jalan fafas

Posisi kepala ekstensi

Breathing            :   Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan

Observasi pernafasan

Cirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan produksi urine pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus dicatat.

Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali

Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada terjadinya perdarahan ® segera cek Hb dan lapor dokter.

Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau delir harus waspada terjadinya syndroma TUR ® segera lapor dokter.

Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu oleh bekuan darah ® terjadi retensi urine dalam buli-buli ® lapor dokter, spoling dengan PZ tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine sudah jernih tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila produksi urine masih merah spoling diteruskan sampai urine jernih.

Bila perlu Analisa Gas Darah

Apakah terjadi kepucatan, kebiruan.

Cek lab : Hb, RFT, Na/K dan kultur urine.

  1. Pemberian Anti Biotika

ü        Antibiotika profilaksis, diberikan bila hasil kultur urine sebelum operasi steril. Antibiotik hanya diberikan 1 X pre operasi + 3 – 4 jam sebelum operasi.

ü        Antibiotik terapeutik, diberikanpada pasien memakai dower kateter dari hasil kultur urine positif. Lama pemberian + 2 minggu, mula-mula diberikan parenteral diteruskan peroral. Setiap melepas kateter harus diberikan antibiotik profilaksis untuk mencegah septicemia.

  1. Perawatan Kateter

Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat yaitu folley kateter 3 lubang (treeway catheter) ukuran 24 Fr.

Ketiga lubang tersebut gunanya :

  1. untuk mengisibalon, antara 30 – 40 ml cairan
  2. untuk melakukan irigasi/spoling
  3. untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).

Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi biasanya ditraksi dengan merekatkan ke salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 – 5 kg. Paha ini tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.

Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke paha bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra bagian penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat yang diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter.

Bila terlambat melepas kateter traksi, dikemudian hari terjadi stenosis leher buli-buli karena mengalami ischemia.

Tujuan pemberian spoling/irigasi :

  1. Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar.
  2. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah menyumbat kateter
  3. Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ

Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila urine merah spoling dipercepat dan warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih, maka spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas.

Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan miksi penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat atau dilakukan uroflowmetri.

Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas :

  1. Terbentuknya bekuan darah
  2. Pengerokan prostat kurang bersih (pada TUR) sehingga masih terdapat obstruksi.
  1. TUR – P

Setelah TUR – P klien dipasang tree way folley cateter dengan retensi balon 30 – 40 ml. Kateter di tarik untuk membantu hemostasis

Intruksikan klien untuk tidak mencoba mengosongkan bladder Otot bladder kontraksi ® nyeri spasme

CBI (Continuous Bladder Irigation) dengan normal salin ® mencegah obstruksi atau komplikasi lain CBI – P. Folley cateter diangkat 2 – 3 hari berikutnya

Ketika kateter diangkat timbul keluhan : frekuensi, dribbling, kebocoran ® normal

Post TUR – P : urine bercampur bekuan darah, tissue debris ® meningkat ® intake cairan minimal 3000 ml/hari ® membantu menurunkan disuria dan menjaga urine tetap jernih.

  1. OPEN PROSTATECTOMY

Resiko post operative bleeding pada 24 jam pertama oleh karena bladder spsme atau pergerakan

Monitor out put urine tiap 2 jam dan tanda vital tiap 4 jam

Arterial bleeding ® urine kemerahan (saos) + clotting

Venous bleeding ® urine seperti anggur ® traction kateter

Vetropubic prostatectomy

Observasi : drainage purulent, demam, nyeri meningkat ® deep wound infection, pelvic abcess

Suprapubic prostatectomy

ü        Perlu Continuous Bladder Irigation via suprapubic ® klien diinstruksikan tetap tidur sampai Continuous Bladder Irigation dihentikan

ü        Kateter uretra diangkat hari 3 – 4 post op

ü        Setelah kateter diangkat, kateter supra pubic di clamp dan klien disuruh miksi dan dicek residual urine, jika residual urine ± 75 ml, kateter diangkat

EVALUASI

Kreteria yang diharapkan terhadap diagnosis yang berhubungan dengan obstruksi urinari adalah  :

  1. Mengatasi obstruksi urine tanpa infeksi atau komplikasi yang permanen
  2. Tidak mengalami tekanan atau nyeri berkepanjangan
  3. Mengungkapkan penurunan atau tak adanya kecemasan tentang retensio urine.
  4. Menunjukan tingkat fungsi sexual kembali sebagaimana sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

TINJAUAN KASUS

  1. I. PENGKAJIAN

Waktu                     : 2 April 2002

Tempat                    : Ruang Bedah D Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo.

1.         IDENTITAS PASIEN

Nama                                         : Tn. Ramlan Siswandi

Umur                                         : 66 Tahun

Jenis Kelamin                            : Laki-laki

Suku/Bangsa                             : Jawa/Indonesia

Agama                                       : Islam

Pekerjaan                                   : Wiraswasta

Pendidikan                                : SR

Alamat                                      : Tambak Segaran Wetan Gang Buntu No. 32 Surabaya.

Tanggal MRS                            : 1 April 2002 jam 10.30 WIB.

Cara Masuk                               : Lewat Poliklinik RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Diagnosa Medis                        : Benigne Prostat Hyperplasia Grade II

Alasan Dirawat                         : Akan dioperasi/tidak dapat buang air kecil

Keluhan Utama                         : Sulit buang air kecil

Upaya yang telah dilakukan     : Tanggal 18 Maret Dibawa ke IRD Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya

Terapi/operasi yang pernah dilakukan : Dipasang Dower Kateter

  1. 2. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)

1) Riwayat Penyakit Sekarang

Karena tidak dapat buang air kecil kemudian dipasang Dower Catheter Tanggal 18 Maret 2002 (dua minggu sebelum MRS) sampai sekarang menunggu rencana operasi tanggal 8 April 2002.

2) Riwayat Penyakit Dahulu

Dahulu pernah menderita asthma bronchiale, serangan terakhir + 1 tahun yang lalu. Sejak + 1 tahun yang lalu keluar benjolan di lipatan paha kanan dan kiri. Sebelah kanan lebih besar, terutama bila mengejan, tetapi masih bisa keluar-masuk. Tanggal 18 Maret 2002 (dua minggu sebelum MRS) Klien datang ke IRD dengan keluhan tidak bisa buang air kecil, kemudian di sana dipasang Dower Catheter sampai sekarang.

3) Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarganya yang mengalami penyakit seperti yang dideritanya sekarang ini

4) Keadaan Kesehatan Lingkungan

Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih

5) Riwayat Kesehatan Lainnya

Alat bantu yang dipakai ® Lensa kontak

  1. 3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

1) Keadaan Umum baik

2) Tanda-tanda vital

Suhu                  : 36,8 0C

Nadi                  : 120 X/menit. Kuat dan teratur

Tekanan darah   : 140/80 mmHg.

Respirasi            : 20 x/menit

3) Body Systems

(1) Pernafasan (B 1 : Breathing)

Frekuensi 20 x/menit, Irama teratur, tidak terlihat gerakan cuping hidung, tidak terlihat Cyanosis, tidak terlihat keringat pada dahi, hasil thorax foto KP dengan curiga multipel bulla paru kanan serta efusi pleura kanan/minimal

(2) Cardiovascular (B 2 : Bleeding)

Nadi 120 X/menit kuat dan teratur, tekanan darah 140/80 mmHg, Suhu 36,8 0C, perfusi hangat. Cor S1 S2 tunggal reguler, ekstra sistole/murmur tidak ada

Hasil ECG : RBBB ® tapi tidak perlu terapi

(3) Persyarafan (B 3 : Brain)

Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan (4)

Verbal : Orientasi baik (5)

Motorik : Menurut perintah (6)

Compos Mentis : Pasien sadar baik

(4) Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder)

Terpasang polly kateter, Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning pekat, kateter tidak terawat, Kateter belum diganti sejak 14 hari yang lalu,

Genital Hygiene cukup bersih.

Hasil BOF :Tak tampak batu radiopague sepanjang tractus urinarius

(5) Perkemihan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel)

Peristaltik normal, tidak kembung, tidak terdapat obstipasi maupun diare, klien buang air besar 1 X/hari

(6) Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone)

Tidak terdapat kontraktur maupun dikubitus

Hasil BOF : Spondilitis lumbalis dan skoliosis ringan vertebra lumbalis.

Pola aktivitas sehari-hari

(1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan

Klien jarang menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan, kecuali bila sangat terpaksa Klien terbiasa meminum jamu-jamuan dan obat-obat tradisional.

(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

Klien dirumah biasa makan 3 X/hari dengan lauk yang cukup.Klien tidak alergi makanan tertentu. Saat ini klien selalu menghabiskan porsi makanan yang diberikan dan minum air putih sekitar 2 – 3 liter perhari.

(3) Pola Eliminasi

Klien buang air besar 1 X/hari.

Klien buang air kecil saat ini dengan menggunakan polly kateter, Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning pekat.

(4) Pola Aktivitas dan latihan

Klien biasanya bekerja diluar rumah, tapi saat ini klien hanya beristirahat di Rumah Sakit sambil menunggu rencana operasi.

(5) Pola tidur.dan Istirahat

Klien kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari. Klien tampak terganggu dengan kondisi ruang perawatan yang ramai.

(6) Pola Kognitif dan Persepual

Klien mampu melihat dan mendengar dengan baik, klien tidak mengalami disorientasi.

(7) Pola Persepsi Dan Konsep Diri

Klien mengalami cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

(8) Pola Hubungan dan Peran

Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab.

(9) Pola Reproduksi Seksual

Selama terpasang Dower Cateter Klien tidak dapat melakukan hubungan seksual seperti biasanya.

(10) Pola Penanggulangan Stress

Klien merasa sedikit stress menghadapi tindakan operasi. karena kurangnya pengetahuan tentang Type pembedahan dan Jenis anesthesi.

(11) Pola Tata Nilai dan Kepercayaan

Terpasangnya kateter memerlukan adaptasi klien dalam menjalankan ibadahnya.

(12) Personal Higiene

Kebiasaan di rumah klien mandi 2 X/hari, gosok gigi 2 X/hari, dan cuci rambut 1 X/minggu.

(13) Ketergantungan

Klien tidak perokok, tidak minum-minuman yang mengandung alkohol.

Aspek Psikologis

Klien terkesan takut akan penyakitnya, merasa terasing dan sedikit stress menghadapi tindakan operasi.

Aspek Sosial/Interaksi

Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab. Saat ini klien terputus dengan dunia luar, kehilangan pencari nafkah (bagi keluarganya), biaya mahal.

Aspek Spiritual

Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama islam, ajaran agama dijalankan setiap saat. Klien sangat aktif menjalankan ibadah sholat 5 waktu sehari dan aktif mengikuti kegiatan agama yang diselenggarakan oleh masjid di sekitar rumah tempat tinggalnya maupun oleh masyarakat setempat.

Saat ini klien merasa tergangguan pemenuhan kebutuhan spiritualnya

4.         DIAGNOSTIC TEST

Laboratoriun

Hb                               : 15,3 mg/dl             (>13,4 mg/dl)

Leukosit                      : 12.000

BSN                            : 98 mg/dl                (< 140 mg/dl)

2 jam pp                      : 200

BUN                           : 21 mg/dl                (10 – 20)

Serum Creatinin          : 0,7 mg/dl               (0,6 – 1,3)

Kalium                        : 4 mmol/l                (3,5 – 5,2 mmol/l)

Natrium                       : 140 mmol/l            (135 – 146 mmol/l)

Albumin                      : 3,4 gr/dl                 (3,2 – 3,5 gr/dl)

SGOT                          : 21 U/L

SGPT                          : 12 U/L

Bilirubin Direk            : 0,14

Bilirubin Total             : 0,32

  1. 5. ANALISA DAN SINTESA DATA

dATA ETIOLOGI MASALAH
S : Klien mengatakan sedikit stress menghadapi tindakan operasi

Klien mengatakan kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari.

Klien tampak terganggu tegang dan gelisah dengan kondisi ruang perawatan yang ramai

O : Tensi 140/80 mmHg

Nadi = 120 X/mt.

rencana pembedahan dan kehilangan status kesehatan. Kecemasan
S : Pasien menyatakan belum memahami tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

O : Pasien bertanya-tanya tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

kurangnya informasi yang akurat pada klien Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.
S : Klien mengatakan sudah dua minggu dipasang Dower Kateter

O : Terdapat Kateter yang tersambung dengan urinebag.

pemasangan Dower Cateter yang lama. Resiko tinggi terhadap Infeksi Saluran Kencing.

II.                DIAGNOSA KEPERAWATAN (Berdasarkan Prioritas

  1. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status kesehatan ditandai dengan

S : Klien mengatakan sedikit stress menghadapi tindakan operasi

Klien mengatakan kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari.

Klien tampak terganggu tegang dan gelisah dengan kondisi ruang perawatan yang ramai

O : Tensi 140/80 mmHg

Nadi = 120 X/mt.

  1. Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan berhubungan dengan kurangnya informasi yang akurat pada klien ditandai dengan

S : Pasien menyatakan belum memahami tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

O : Pasien bertanya-tanya tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

  1. Resiko tinggi terhadap Infeksi Saluran Kencing.berhubungan dengan pemasangan Dower Cateter yang lama ditandai dengan :

S : Klien mengatakan sudah dua minggu dipasang Dower Kateter.

O : Terdapat Kateter yang tersambung dengan urinebag.

III.     PERENCANAAN TINDAKAN PERAWATAN

Tgl. Diagnosa Keperawatan/Data Penunjang TUJUAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN RENCANA TINDAKAN rasional NAMA PERAWAT / MAHASISWA
2 April 2002 Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status kesehatan.

Data Penunjang :

-            Klien mengatakan sedikit stress menghadapi tindakan operasi. Klien mengatakan kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari. Klien tampak terganggu tegang dan gelisah dengan kondisi ruang perawatan yang ramai

-            Tensi 140/80 mmHg

-            Nadi = 120 X/mt

Tujuan :

Rasa cemas dapat diatasi/berkurang.

Kriteria :

-            Pasien dapat menyatakan kecemasan yang dirasakan.

-            Pasien dapat beristirahat dengan tenang.

-            Tensi dan Nadi dalam batas normal.

-            Ekspresi wajah ceria/rileks.

-            Berikan dorongan terhadap tiap-tiap proses kehilangan status kesehatan yang timbul.

-            Berikan privacy dan lingkungan yang nyaman.

-            Batasi staf perawat/petugas kesehatan yang menangani pasien.

-            Observasi bahasa non verbal dan bahasa verbal dari gejala-gejala kecemasan.

-            Temani pasien bila gejala-gejala kecemasan timbul.

-            Berikan kesempatan bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya .

-            Hindari konfrontasi dengan pasien.

-            Berikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang mencemaskan pasien.

-            Lakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan komunikasi terapeutik.

-            Anjurkan pasien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.

-            Berikan dorongan pada pasien bila sudah dapat merawat diri sendiri untuk meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.

-            Hargai setiap pendapat dan keputusan pasien.

-            Untuk mengurangi rasa cemas

-            privacy dan lingkungan yang nyaman dapat mengurangi rasa cemas.

-            Untuk dapat lebih memberikan ketenangan.

-            Untuk mendeteksi dini terhadap masalah

-            Untuk mengurangi rasa cemas

-            Kemampuan pemecahan masalah pasien meningkat bila lingkungan nyaman dan mendukung diberikan.

-            Untuk mengurangi ketegangan pasien

-            Informasi yang diberikan dapat membantu mengurangi kecemasan/ansietas

-            Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan

-            Untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan pasien

-            Untuk mengurangi ketergantungan pasien

-            Untuk meningkatkan harga diri pasien.

S  u  b  h  a  n

3 April 2002 Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan berhubungan dengan kurangnya informasi yang akurat pada klien.

Data Penunjang :

-            Pasien menyatakan belum memahami tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

-            Pasien bertanya-tanya tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

Tujuan :

Pengetahuan pasien tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan meningkat

Kriteria

-            Pasien dapat menjelaskan kembali tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik.

-            Pasien tidak bertanya lagi tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

-            Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

-            Berikan penjelasan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

-            Berikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengekspresikan perasaannya dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum dipahami.

-            Diskusikan pentingnya banyak minum air putih 3 – 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi.

-            Batasi aktifitas fisik yang berat.

-            Pengetahuan membantu mengembangkan kepatuhan pasien dan keluarga terhadap rencana terapeutik

-            Untuk menambah pengetahuan pasien

-            Meningkatkan kemampuan pasien untuk memecahkan masalah

-            Untuk menambah pengetahuan pasien bahwa cairan dapat membantu pembersihan ginjal

-            Untuk mencegah kekambuhan Hernia yang juga dideritanya

S  u  b  h  a  n

4 April 2002 Resiko tinggi terhadap Infeksi Saluran Kencing berhubungan dengan pemasangan Dower Cateter yang lama Tujuan :

Infeksi dapat dicecah

Kriteria hasil :

-          Mencapai waktu operasi tidak mengalami tanda infeksi.

-            Pertahankan sistem kateter steril, Berikan betadine pada kateter dan ujung uretra kemudian tutup dengan kasa

-            Observasi tanda dan gejala Infeksi Saluran Kencing

-            Kolaborasi dengan dokter untuk penggantian Dower Kateter atau pemberian obat Antibiotika

-            Mencegah masuknya bakteri dan infeksi/sepsis lanjutan

-            Mendeteksi infeksi sejak dini

-            Untuk mengurangi kemungkinan reseko Infeksi Saluran Kencing.

S  u  b  h  a  n

IV.     IMPLEMENTASI/TINDAKAN KEPERAWATAN

Tgl. Jam TINDAKAN KEPERAWATAN NAMA PERAWAT / MAHASISWA
2 April 2002 18.00 WIB -            Memberikan dorongan terhadap tiap-tiap proses kehilangan status kesehatan yang timbul.

-            Memberikan privacy dan lingkungan yang nyaman.

-            Membatasi staf perawat/petugas kesehatan yang menangani pasien.

-            Mengobservasi bahasa non verbal dan bahasa verbal dari gejala-gejala kecemasan.

-            Menemani pasien bila gejala-gejala kecemasan timbul.

-            Memberikan kesempatan bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya .

-            Menghindari konfrontasi dengan pasien.

-            Memberikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang mencemaskan pasien.

-            Melakukan intervensi keperawatan dengan hati-hati dan lakukan komunikasi terapeutik.

-            Menganjurkan pasien istirahat sesuai dengan yang diprogramkan.

-            Memberikan dorongan pada pasien bila sudah dapat merawat diri sendiri untuk meningkatkan harga dirinya sesuai dengan kondisi penyakit.

-            Menghargai setiap pendapat dan keputusan pasien.

S  u  b  h  a  n

3 April 2002 10.00 WIB -            Mengkaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

-            Memberikan penjelasan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

-            Memberikan kesempatan pasien dan keluarga untuk mengekspresikan perasaannya dan mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang belum dipahami.

-            Mendiskusikan pentingnya banyak minum air putih 3 – 4 liter perhari selama tidak ada kontra indikasi.

-            Membatasi aktifitas fisik yang berat.

S  u  b  h  a  n

4 April 2002 10.00 WIB -            Mempertahankan sistem kateter steril, memberikan betadine pada kateter dan ujung uretra kemudian tutup dengan kasa

-            Mengobservasi tanda dan gejala Infeksi Saluran Kencing

-            Mengkolaborasi dengan dokter untuk penggantian Dower Kateter atau pemberian obat Antibiotika

S  u  b  h  a  n


V.        EVALUASI

Tgl. Diagnosa Keperawatan Evaluasi NAMA PERAWAT / MAHASISWA
2 April 2002 Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status kesehatan. Rasa cemas dapat diatasi/berkurang.

Kriteria :

-            Pasien dapat menyatakan kecemasan yang dirasakan.

-            Pasien dapat beristirahat dengan tenang.

-            Tensi dan Nadi dalam batas normal.

-            Ekspresi wajah ceria/rileks.

S  u  b  h  a  n

3 April 2002 Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan berhubungan dengan kurangnya informasi yang akurat pada klien. Pengetahuan pasien tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.meningkat

Kriteria

-            Pasien dapat menjelaskan kembali tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

-            Pasien tidak bertanya lagi tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

S  u  b  h  a  n

4 April 2002 Resiko tinggi terhadap Infeksi Saluran Kencing berhubungan dengan pemasangan Dower Cateter yang lama Infeksi dapat dicecah

Kriteria hasil :

-            Mencapai waktu operasi tidak mengalami tanda infeksi.

S  u  b  h  a  n

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian

HIV adalah virus yang mengakibatkan AIDS. AIDS atau Sindrom Kehilangan Kekebalan Tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Akibat kehilangan kekebalan tubuh, penderita AIDS mudah terkena berbagai jenis infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderiat aids sering kali menderita keganasan, khususnya sarkoma kaposi dan limfoma yang hanya menyerang otak.

2. Etiologi

HIV, yang dahulu disebut virus limfotrofik sel-T manusia tipe III (HTLV-III) atau virus limfadenopati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk ke dalam sel pejamu. HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di seluruh dunia.

Genom HIV mengode sembilan protein yang esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus (Gbr. 15-1). Dari segi struktur genomik, virus-virus memiliki perbedaan yaitu bahwa protein HIV-1,Vpu, yang membantu pelepasan virus, tampaknya diganti oleh protein Vpx pada HIV-2. Vpx meningkatkan infeksi-vitas (daya tular) dan mungkin merupakan duplikasi dari protein lain, Vpr. Vpr diperkirakan meningkatkan transkripsi virus. HIV-2, yang pertama kali diketahui dalam serum dari para perempuan Afrika Barat (warga Senegal) pada tahun 1985, menyebabkan penyakit klinis tampaknya kurang patogenik dibandingkan dengan HIV-1 (Marlink, 1994).

3. Cara Penularan

1.Cara penularan HIV  ada tiga :

Hubungan seksual, baik secara vaginal, oral, ataupun anal dengan seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi,. Lebih mudah terjadi penularan bila terdapat lesi penyakit kelamin dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis, sifilis, gonorea, klamidia, kankroid, dan trikomoniasis. Resiko pada seks anal lebih besar disbanding seks vaginal dan resiko juga lebih besar pada yang reseptive dari pada yang insertive.

2.Kontak langsung dengan darah / produk darah / jarum suntik.

a. Transfusi darah yang tercemar HIV

b.Pemakaian jarum tidak steril/pemakaian bersama jarum suntik dan sempritnya pada para pencandu narkotik suntik.

c. Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan.

3.Secara vertical dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya, baik selam hamil, saat melahirkan ataupun setelah melahirkan.

4. Gejala klinis dan kriteria diagnosis

Gejala penderita AIDS dapat ringan sampai berat. Pembagian tingkat klinis penyakit infeksi HIV. Dibagi sebagai berikut:

I Tingkat klinis 1 (asimptomatik / Limfadenopati Generalisata Persisten (LGP)).

1. Tanpa gejala sama sekali.

2. LGP

Pada tingkat ini penderita belum mengalami kelainan dan dapat melakukan aktivitas normal.

II Tingkat klinis 2 (dini)

  1. Penurunan berat badan kurang dari 10%.
    1. Kelainan mulut dan kulit yang ringan, misalnya delmatitis seboroid, prurigo, onikomikosis, ulkus pada mulut yang berulang dan keilitis angularis.
  2. Helpes zoster yang timbul pada 5 tahun terakhir.
  3. Infeksi saluran bagian atas berulang, misalnya sinositi

Pada tingkat ini penderita sudah menunjukkan gejala, tetapi aktivitas tetap normal.

III. Tingkat klinis 3 (menengah)

1. Penurunan berat badan lebih dari 10 %.

2. Diare kronik lebih dari 1 bulan, tanpa diketahui sebabnya.

3. Demam yang tidak diketahui sebabnya selama lebih dari 1 bulan, hilang timbul maupun terus menerus.

4. Kandidosis mulut.

5. Bercak putih berambut di mulut (Hairy Leukoplakia).

6. Tuberkulosis paru setahun terakhir.

7. Infeksi bakterial berat, misalnya Pneumonia.

IV Tingkat klinis 4 (lanjut)

  1. Badan menjadi kurus.
    1. Pnemonia Pneumocystis carinii.
    2. Toksoplasmosis.
    3. Kriptokokosis dengan diare lebih dari 1 bulan.
    4. Kriptokokosis di luar paru.
    5. Infeksi sitomegalo virus pada organ tubuh kecuali di limfa, hati atau kelenjar getah bening.
    6. Infeksi virus herpes simpleks di mukokutans lebih dari 1 bulan atau di alat dalam (viseral) lamanya tidak dibatasi.
    7. Mikosis apa saja (misalnya histoplasmosis, koksidiomikosis) yang endemik, yang menyerang banyak organ tubuh (diseminata).
  2. Kandidosis esofagus, trakea, bronkus / paru.

10.  Mikobakteriosis atipik diseminata.

11.  Septikemia salmonella non tifoid.

12.  Tuberkulosis di luar paru.

13.  Limfoma.

14.  Sarkoma kaposi.

15.  Ensefalopati HIV, sesuai dengan kriteria CDC, yaitu gangguan kognitif atau motorik yang mengganggu aktivitas sehari-hari, progresif sesudah beberapa minggu atau bulan, tanpa dapat ditemukan penyebab lain kecuali HIV.

5. Perlekatan Virus

Virion HIV matang memiliki bentuk hampir bulat (Gbr. 15-3). Selubung luarnya, atau kapsul viral, terdiri dari lemak lapis-ganda yang mengandung banyak tonjolan protein. Duri-duri ini terdiri dari dua glikoprotein : gp120 dan gp41. Gp mengacu kepada glikoprotein, dan angka mengacu kepada masa protein dalam ribuan dalton. Gp120 adalah selubung permukaan eksternal duri, dan gp41 adalah bagian transmembran.

Terdapat suatu protein matriks yang disebut p17 yang mengelilingi segmen bagian dalam membran virus. Sedangkan inti dikelilingi oleh suatu protein kapsid yang disebut p24. Di dalam kapsid, p24, terdapat dua untai RNA identik dan molekul preformed reverse transckiptase, integrase, dan protease yang sudah terbentuk. HIV adalah suatu retrovirus, sehingga materi genetik berada dalam bentuk RNA bukan DNA, Reverse transcriptase adalah enzim yang mentranskripsikan RNA virus menjadi DNA setelah virus masuk de sel sasaran. Enzim-enzim lain yang menyertai RNA adalah integrase dan protease.

HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang memiliki molekul reseptor membran CD4 (Gbr. 15-4). Sejauh ini, sasaran yang disukai oleh HIV adalah limfosit T penolong positif-CD4, atau sel T4 (limfosit CD4+). Gp120 HIV berikatan dengan kuat dengan limfosit CD4+ sehingga gp41 dapat memerantarai fusi membran virus ke membran sel. Baru-baru, ini ditemukan bahwa dua koreseptor permukaan sel, CCR5 atau CXCR4 diperlukan, agar glikoprotein gp120 dan gp41 dapat berikatan dengan reseptor CD4+ (Doms, Peiper, 1997). Koreseptor ini menyebabkan perubahan-perubahan konformasi  sehingga gp41 dapat masuk ke membran sel sasaran. Individu yang mewarisi dua salinan defektif gen reseptor CCR5 (homozigot) resisten terhadap timbulnya AIDS, walaupun berulang kali terpajan HIV (sekitar 1% orang Amerika keturunan Caucasian). Individu yang heterozigot untuk gen defektif ini (18 sampai 20%) tidak terlindungi dari AIDS, tetapi awitan penyakit agak melambat.  Belum pernah ditemukan homozigot pada populasi Asia atau Afrika, yang mungkin dapat membantu menerangkan mengapa mereka lebih rentan terhadap infeksi HIV (O’Brien, Dean, 1997).

Sel-sel lain yang mungkin rentan terhadap infeksi HIV mencakup monosit dan makrofag. Monosit dan makrofag yang terinfeksi dapat berfungsi sebagai reservaor untuk HIV tetapi tidak dihancurkan oleh virus. HIV bersifat politrofik dan dapat menginfeksi beragam sel manusia (Levy, 1994), seperti sel natural killer (NK), limfosit B, sel endotel, sel epitel, sel Langerhans, sel dendritik (yang  terdapat di permukaan mukosa tubuh), sel mikroglia, dan berbagai jaringan   tubuh.

Setelah virus berfungsi dengan limfosit CD4+, maka berlangsung serangkaian proses klompleks yang, apabila berjalan lancar, menyebabkan terbentuknya partikel-partikel virus baru dari sel yang terinfeksi. Limfosit CD4+ yang terinfeksi mungkin tetap laten dalam keadaan provirus atau mungkin mengalami siklus-siklus replikasi sehingga menghasilkan banyak virus. Infeksi limfosit CD4+ juga dapat menimbulkan sipatogenisitas melalui beragam mekanisme, termasuk apoptosis (kematian sel terprogram), anergi (pencegahan fusi sel lebih lanjut), atau pembentukan sinsitium (fusi sel).

6. Replikasi Virus

Setelah terjadi fusi sel-virus (Gbr. 15-5), RNA virus masuk ke bagian tengah sitoplasma limfosit CD4+. Setelah mukleokapsid dilepas, maka terjadi transkripsi terbalik (reverse transcription) dari satu untai-tunggal RNA menjadi DNA salinan (cDNA) untai-ganda virus. Integrase HIV membantu insersi cDNA virus ke dalam inti sel pejamu, maka dua untai DNA sekarang menjadi provirus (Greene, 1993). Provirus menghasilkan RNA massenger (mRNA), yang meninggalkan inti sel dan masuk ke dalam sitoplasma. Protein-protein virus dihasilkan dari mRNA yang lengkap dan yang telah mengalami splicing (penggabungan) setelah RNA genom dibebaskan ke dalam sitoplasma. Tahap akhir produksi virus membutuhkan suatu enzim virus yang disebut HIV protease, yang memotong dan menata protein virus menjadi segmen-segmen kecil yang mengelilingi RNA virus, membentuk partikel virus menular yang menonjol dari sel yang terinfeksi. Sewaktu menonjol dari sel pejamu, partikel-partikel virus tersebut akan terbungkus oleh sebagian dari membran sel yang terinfeksi. HIV yang baru terbentuk sekarang dapat menyerang sel-sel rentan lainnya di seluruh tubuh.

Replikasi HIV berlanjut sepanjang periode latensi klinis, bahkan saat hanya terjadi aktivitas virus yang minimal di dalam darah (Embretson et al., 1993; Pantaleo et al., 1993). HIV ditemukan dalam jumlah besar di dalam limfosit CD4+ dan makrofag di seluruh sistem limfoid pada semua tahap infeksi. Partikel-partikel virus juga telah dihubungkan dengan sel-sel dendritik folikular, yang mungkin memindahkan infeksi ke sel-sel selama migrasi melalui folikel-folikel limfoid.

Walaupun selama masa latensi klinis tingkat viremia dan replikasi virus di sel-sel mononukleus darah parifer rendah, namun pada infeksi ini tidak ada latensi yang sejati. HIV secara terus menerus terakumulasi dan bereplikasi di organ-organ limfoid. Sebagian data menunjukan bahwa terjadi replikasi dalam jumlah sangat besar dan pertukaran sel yang sangat cepat, dengan waktu paruh virus dan sel penghasil virus di dalam plasma sekitar 2 hari (Wei et. al., 1995; Ho et al., 1995). Aktivitas ini menunjukkan bahwa terjadi pertempuran terus menerus antara virus dan sistem imun pasien.

7. Respon Imun Terhadap Infeksi HIV

Untuk mengetahui ringkasan respon tubuh terhadap tantangan imunologik, lihat Bab 5. Pada infeksi HIV, baik respons imun humoral maupun selular ikut berperan.

Segera setelah terpajan HIV, individu akan melakukan perlawanan imun yang intensif. Sel-sel B menghasilkan antibodi-antibodi spesifik terhadap berbagai protein virus. Ditemukan antibodi netralisasi terhadap regio-regio di gp120 selubung virus dan bagian eksternal gp41. Deteksi anti bodi adalah dasar bagi berbagai uji HIV (misalnya, enzime-linked immunosorbent assay [ELISA]). Di dalam darah dijumpai kelas antibodi imunoglobulin G (IgG) maupun imunoglobulin M (IgM), tetapi seiring dengan menurunnya titer IgM, titer IgG (pada sebagian besar kasus) tetap tinggi sepanjang infeksi. Antibodi IgG adalah antibodi  utama yang digunakan dalam uji HIV. Antibodi terhadap HIV dapat muncul dalam 1 bulan setelah infeksi awal dan pada sebagian besar orang yang terinfeksi HIV dalam 6 bulan setelah pajanan. Namun, antibodi HIV tidak menetralisasikan HIV atau menimbulkan perlindungan terhadap infeksi lebih lanjut.

Produksi imunoglobulin diatur oleh limfosit T CD4+. Seperti dibahas dalam Bab 5, limposit T CD+ diaktifkan oleh sel penyaji antigen (APC) untuk menghasilkan berbagai sitokin seperti interleukin-2 (IL-2), yang membantu merangsang sel B untuk membelah dan berdiferensiasi  menjadi sel plasma. Sel-sel plasma ini kemudian menghasilkan imunoglobuin yang spesifik untuk antigen yang merangsangnya. Sitokin IL-2 hanyalah salah satu dari banyak sitokin yang memengaruhi respons imun baik humoral maupun selular. Walaupun tingkat kontrol, ekspresi, dan potensi fungsi sitokin dalam infeksi HIV masih terus diteliti, namun sitokin jelas penting dalam aktivitas intrasel. Sebagai contoh, penambahan sitokin IL-12 (faktor stimulasi sel NK) tampaknya melawan penurunan aktivitas dan fungsi sel NK seperti yang terjadi pada infeksi HIV. Sel-sel NK adalah sel yang penting karena dalam keadaan normal sel-sel inilah yang mengenali dan menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus dengan mengeluarkan perforin yang serupa dengan yang dihasilkan oleh sel CD8.

Riset-riset terakhir menunjang peran sitotoksik dan supresor sel CD8 dalam infeksi HIV. Peran sitotoksik sel CD8 adalah mengikat sel yang terinfeksi oleh virus dan mengeluarkan perforin, yang menyebabkan kematian sel. Aktivitas sitotosik sel CD8 sangat hebat pada awal infeksi HIV. Sel CD8 juga dapat menekan replikasi HIV di dalam limfosit CD4+. Penekanan ini terbukti bervariasi tidak saja di antara orang yang berbeda tetapi juga pada orang yang sama seiring dengan perkembangan penyakit. Aktivitas antivirus sel CD8 menurun seiring dengan perkembangannya penyakit. Dengan semakin beratnya penyakit, jumlah limfosit CD4+ juga berkurang. Berbagai hipotesis tentang penyebab penurunan bertahap tersebut akan dibahas berikut ini :

Fungsi regulator esensial limfosit CD4+ dalam imunitas selular tidak terbantahkan. Seperti dibahas sebelumnya dan di Bab 5, limfosit CD4+ mengeluarkan berbagai sitokin yang memperlancar proses-proses misalnya produksi imunoglobulin dan pengaktivan sel T tambahan dan makrofag. Dua sitokin spesifik yang dihasilkan oleh limfosit CD4+-IL-2 dan interferon gama berperan penting dalam imunitas selular. Pada kondisi normal, limfosit CD4+ mengeluarkan interferon gama yang menarik makrofag dan mengintensifkan reaksi imun terhadap antigen. Namun, apabila limfosit CD4+ tidak berfungsi dengan benar maka produksi interferon gama akan menurun. IL-2 penting untuk memfasilitasi tidak saja produksi sel plasma tetapi juga pertumbuhan dan aktivitas antivirus sel CD8 dan replikasi-diri populasi limfosit CD4+.

Walaupun mekanisme pasti sitopatogenisitas limfosit CD4+ belum diketahui, namun dapat diajukan argumen-argumen untuk berbagai hipotesis seperti apoptosis, anergi, pembentukan sinsitium, dan lisis sel. Antibodi-dependent, complement-mediated cytotoxicity (ADCC, sitotoksisitas yang dependen antibodi dan diperantarai oleh komplemen) mungkin salah satu efek imun humoral yang membantu menyingkirkan limfosit CD4+ yang terinfeksi oleh HIV. Antibodi terhadap dua glikoprotein, gp120 dan gp41, menginduksi ADCC. Sel-sel seperti sel NK kemudian bertindak untuk  mematikan sel yang terinfeksi.

Apoptosis adalah salah satu dari beberapa teori yang diajukan untuk menjelaskan berkurangnya secara mencolok limfosit CD4+ dalam darah sepanjang perjalanan penyakit HIV. Banyak limfosit CD4+ tampaknya melakukan ‘bunuh diri’ saat dirangsang oleh suatu bahan pengaktif atau oleh gangguan pada sinyal pengaktif (Gougeon, Montagnier, 1993).  Limfosit CD4+ juga mungkin tidak mampu membelah diri sehingga timbul fenomena yang disebut  anergi. Teori lain menyatakan adanya peran pembentukan sinsitium. Pada  pembentukan sinsitium terinfeksi berfusi dengan sel-sel yang terinfeksi “the bystander effect” (“efek peluru nyasar”; Weiss,  1993) sehingga mengeliminasi banyak sel yang tidak terinfeksi. Akhirnya, menurunnya jumlah limfosit CD4+ mungkin disebabkan oleh terbentuknya virus-virus baru melalui proses pembentukan tunas; virus-virus tersebut menyebabkan rupturnya membran limfosit CD4+, yang secara efektif mematikan sel tersebut.

Apapun teori yang menjelaskan berkurangnya  limfosit CD4+, gambaran utama pada infeksi tetaplah deplesi sel-sel tersebut. Deplesi limfosit CD4+ tersebut bervariasi di antara para pengidap infeksi HIV. Sebagian dari faktor yang memengaruhi variasi ini adalah fungsi sistem imun penjamu, adanya faktor lain di pejamu (misal, penyakit kongenital atau metabolik, defisiensi gizi, patogen lain), atau perbedaan strain virus (Schattner, Laurence, 1994).

8. PERKEMBANGAN KLINIS

Fase Infeksi

AIDS adalah stadium akhir dalam suatu kelainan imunologik dan klinis kontinum yang dikenal sebagai “spektrum infeksi HIV” (Gbr. 15-6, Tabel 15-2, Kotak 15-2). Perjalanan penyakit dimulai saat terjadi penularan dan pasien terinfeksi. Tidak semua orang yang terpajan akan terinfeksi (misalnya, homozigot dengan gen CCR5 mutan). Mungkin terdapat kofaktor lain dalam akuisisi yang perlu diidentifikasi lebih lanjut. Setelah infeksi awal oleh HUV, pasien mungkin tetap seronegatif selama beberapa bulan. Namun, pasien ini bersifat menular selama periode ini dan dapat memindahkan virus ke orang lain. Fase ini disebut “window period” (“masa jendela”). Manifestasi klinis pada orang yang terinfeksi dapat timbul sedini 1 sampai 4 minggu setelah pajanan.

Infeksi akut tejadi pada tahap serokonversi dari status antibodi negatif menjadi positif. Sebagian orang mengalami sakit mirip penyakit virus atau mirip mononukleosis infeksiosa yang berlangsung beberapa hari. Gejala mungkin berupa malaise, demam, diare, limfadenopati, dan ruam makulopapular. Beberapa orang mengalami gejala yang lebih akut, seperti meningitis dan pneumonitis. Selama periode ini, dapat terdeteksi HIV dengan kadar tinggi di darah perifer (Levy, 1994). Kadar limfosit CD4+ turun dan kemudian kembali ke kadar sedikit di bawah kadar semula untuk pasien yang bersangkutan.

Dalam beberapa minggu setelah fase infeksi akut, pasien masuk ke fase asimtomatik. Pada awal fase ini, kadar limfosit CD4+ umumnya sudah kembali mendekati normal. Namun, kadar limfosit CD4+ menurun secar bertahap seiring dengan waktu. Selama fase infeksi ini, baik virus maupun antibodi virus ditemukan di dalam darah. Seperti dibahas sebelumnya, replikasi virus berlangsung di jaringan limfoid. Virus itu sendiri tidak pernah masuk ke dalam periode laten walaupun fase infeksi klinisnya mungkin laten.

Pada fase simtomatik dari perjalanan penyakit, hitung sel CD4+ pasien biasanya telah turun di bawah 300 sel /µl (Levy, 1994). Dijumpai gejala-gejala yang menunjukkan imunosupresi dan gejala ini berlanjut sampai pasien memperlihatkan penyakit-penyakit terkait AIDS . CDC telah mendefinisikan penyakit-penyakit simtoatik untuk kategori klinis ini (lihat Tabel 15-2 dan Kotak 15-2)

CDC telah menambahkan hitung limfosit CD4+ yang kurang dari 200/µl sebagai kriteria tunggal untuk diagnosis AIDS, apapun kategori klinisnya, asimtomatik atau simtomatik. Adanya salah satu dari penyakit-penyakit indikator-AIDS, sesuai definisi CDC, menunjukkan kasus AIDS yang harus dilaporkan. Saat CDC memperluas definisi ini pada tahun 1993, tiga penyakit klinis ditambahkan : tuberkulosis paru, pneumonia rekuren, dan kanker seviks invasif. Penyakit-penyakit ini menyertai 23 penyakit lain yang termasuk dalam definisi kasus yang dipublikasikan tahun 1987.

9. Manifestasi Klinis

AIDS memiliki beragam manifestasi klinis dalam bentuk keganasan dan infeksi oportunistik yang khas.

10. Keganasan

Sarkoma Kaposi (SK) adalah jenis keganasan yang tersering dijumpai pada laki-laki homoseks atau biseks yang terinfeksi oleh HIV (26%), tetapi jarang pada orang dewasa lain (kurang dari 2%) dan sangat jarang pada anak. SK adalah manifestasi proliferasi berlebihan sel gelondong yang diperkirakan berasal dari sistem vaskular dan memiliki kesamaan gambaran dengan sel endotel dan sel otot polos. SK umumnya timbul secara multisentrik berupa nodus-nodus asimtomatik (yaitu, suatu angiosarkoma). Bukti kuat mengisyaratkan bahwa SK disebabkan oleh suatu nikroorganisme menular seksual, virus herpes manusia tipe 8 (HHV8) atau virus herpes terkait-sarkoma Kaposi, dan bukan HIV. HHV8 menyebabkan orang yang terinfeksi rentan mengalami SK (serupa dengan virus papiloma manusia yang mempermudah timbulnya kanker seviks pada orang yang terinfeksi). Lesi berupa bercak-bercak merah keunguan di kulit, tetapi warna juga mungkin bervariasi dari ungu tua, merah muda, merah, sampai merah-coklat (lihat Gambar Berwarnha 1 sampai 3). Selain di kulit, SK juga ditemukan di tempat lain misalnya saluran cerna (GI), kelenjar getah bening, dan paru. SK dapat menyebabkan kerusakan struktural dan fungsional, misalnya limfedema dan malabsorpsi. Apabila SK terlokalisir terutama di kulit, maka bedah beku, bedah laser, dan eksisi bedah mungkin bermanfaat, tetapi radioterapi adalah terapi pilihan untuk penyakit lokal. Obat kemoterapi seperti vinblastin, vinkrestin, bleomisin, dan doksorubisin memberikan angka keberhasilan yang bervariasi. Dari berbagai zat stimulan imun yang bersedia, interferon adalah yang paling efektif karena memiliki efek antivirus, antiproliferasi, dan imunostimulasi.

Sebagian besar limfoma maligna adalah tumor sel B dengan stadium patologik tinggi, termasuk small noncleaved lymphoma dan limfoma Burkitt atau limfoma mirip Burkitt (lihat Gambar Berwana 4). Temuan umum adalah timbulnya gejala-gejala berupa demam, penurunan berat, dan keringat malam, yang mungkin disebabkan oleh keganasan. Pasien yang mengidap limfadenopati genelirasata persisten (PGL) berisiko besar mengalami limfoma maligna.

Gejala dan tanda awal limfoma sistem saraf pusat (SPP) primer mencakup nyeri kepala, berkurangnya ingatan jangka-pendek, kelumpuhan saraf kranialis, hemiparesis, dan perubahan kepribadian. Gangguan-gangguan ini dapat disebabkan oleh letak tumor, edema, atau adanya penyakit penyerta. Lesi desak- ruang harus dibedakan dari lesi lain, terutama toksoplasmosis.

Kanker servis invasif adalah suatu keganasan ginekologik yang berkaitan dengan penyakit HIV kronik yang dimasukkan dalam definisi kasus sejak tahun 1993. Displasia serviks mengenai 40% perempuan yang terinfeksi oleh HIV (Fauci, Lane, 1998). Displasia serviks disebabkan oleh virus papiloma manusia yang berkorelasi dengan timbulnya kanker invasif di kemudian hari. Dengan demikian, pada perempuan yang terinfeksi oleh HIV harus dilakukan apusan Papa nicolaou atau pemeriksaan kolposkopik setiap 6 bulan untuk mendeteksi kanker seviks pada stadium dini. Pada perempuan dengan AIDS, kanker serviks menjadi sangat agresif.

Keganasan-keganasan lain yang pernah dilaporkan terjadi pada pasien yang terinfeksi HIV adalah mieloma multipel, leukemia limfositik akut sel B, limfoma limfoblastik T, penyakit Hodgkin, karsinoma anus, karsinoma sel skuamosa di lidah, karsinoma adenoskuamosa paru, adenokarsinoma kolon dan pankreas, dan kanker testis. Harus dilakukan lebih banyak riset untuk mengetahui secara umum dampak infeksi HIV pada perjalanan penyakit keganasan atau penyakit kronik lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.

11. Infeksi

AIDS menyebabkan destruksi progresif fungsi imun. Namun, morbiditas dan mortalitas terutama disebabkan oleh infeksi oportunistik yang timbul karena gagalnya surveilans dan kerja sistem imun. Pasien dengan AIDS rentan terhadap beragam infeksi protozoa, bakteri, fungus, dan virus, dan sebagian dari mikroorganisme ini relatif jarang dijumpai, misalnya Cryptosporidium dan Mycobacterium avium-intracellulare (MAI). Infeksi-infeksi ini bersifat menetap, parah, dan sering kambuh. Pasien biasanya mengidap lebih dari satu infeksi pada suatu saat.

Pneumonia Pncumocystis carinii (PPC) adalah infeksi serius yang paling sering didiagnosis pada pasien dengan AIDS. Gambaran penyakit ini sering atipikal dibandingkan dengan PPC pada pasien kanker. Pada AIDS, gejalanya mungkin hanya demam; gejala lain misalnya intoleransi olah raga, batuk kering nonproduktif, rasa lemah, dan sesak napas bersifat indolen atau berkembang bertahap. Dalam mengevaluasi secara klinis setiap pasien yang terbukti atau dicurigai positif HIV, tingkat kecurigaan akan PPC harus tinggi. Terapi profilaktik atau supresif sangat penting karena keparahan dan kekerapan PPC pada pasien AIDS. Trimetoprim-sulfamatoksazol (Bactrim, Septrim) merupakan obat pilihan. Pentamidin adalah obat alternatif yang dapat diberikan secara parenteral atau dalam bentuk aerosol pada kasus yang ringan.

Pada orang sehat, infeksi oleh Toxoplasma gondii umumnya asimtomatik, walaupun sebagian mengalami limfadenopati. Belum ada profilaksis untuk infeksi ini. Pasien dengan AIDS memiliki risiko 30% terjangkit toksoplasmosis dalam masa 2 tahun, biasanya sebagai reaktivasi infeksi sebelumnya. Agen spesifik yang menentukan reaktivasi tidak diketahui. Pada pasien AIDS, terjadi penyakit SSP yang ditandai dengan lesi tunggal atau jamak yang dapat diamati dengan CT scan.(Gbr. 15-7).

Cryptosporidium, Microsporidium,dan Isospora belli merupakan protozoa yang tersering menginfeksi saluran cerna dan menimbulkan diare pada pasien HIV. Infeksi menular melalui rute feses-oral; kontak seksual, makanan, minuman, atau hewan. Infeksi dapat menimbulkan gejala beragam, dari diare swasirna atau intermiten pada tahap-tahap awal infeksi HIV sampai diare berat yang mengancam nyawa pada pasien dengan gangguan kekebalan yang parah. Berbeda dengan kriptosporidiosis atau mikrosporidiosis, isosporiasis berespons baik terhadap terapi trimetoprim-sulfametoksazol (Bactrim).

Infeksi oleh MAI terjadi secara merata pada semua kelompok risiko dan merupakan penyulit tahap lanjut pada AIDS. Walaupun infeksi ini jelas memberi kontribusi pada morbiditas,namun hubungannya dengan mortalitas masih belum jelas. Gejala mencakup demam, rigor, diare, dan kejang perut. Profilaksis yang dianjurkan untuk MAI masih diperdebatkan, tetapi obat yang paling sering disarankan adalah rifabutin.

Mycobacterium tuberculosis, penyebab tuberculosis (TB), bersifat endemik di lokasi-lokasi geografik tertentu, dan sebagian besar kasus TB-AIDS merupakan reaktivasi infeksi sebelumnya. TB-AIDS biasanya merupakan tanda awal AIDS, terjadi saat sel T relatif masih tinggi (lebih dari 200/µl). Manifestasi TB-AIDS serupa dengan TB normal, dengan 60 sampai 80% pasien mengidap penyakit di paru. Namun, penyakit ekstraparu dijumpai pada 40 sampai 75% pasien dengan infeksi HIV, yaitu terutama dalam bentuk TB limfatik dan TB milier. Pasien berespons baik terhadap regimen obat tradisional yaitu isoniazid (INH), rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Pasien yang berisiko tinggi terjangkit TB mungkin dapat memperoleh manfaat dari pemberian INH profilaksis. Seiring dengan timbulnya AIDS yang disertai menurunnya imunokompetensi, banyak pasien menjadi anergik; dengan demikian uji kulit PPD memiliki masalah tersendiri. Uji PPD yang positif pada orang yang terinfeksi HIV didefinisikan sebagai daerah indurasi dengan garis tengah sama atau lebih besar daripada 5mm, dan uji negatif tidak menyingkirkan infeksi TB. Selain itu, pasien yang terinfeksi HIV dengan biakan sputum positif dan BTA sputum positif mungkin memperlihatkan gambaran radiografi toraks yang normal.

Infeksi fungus mencakup kandidiasis, kriptokokosis, dan histoplasmosis. Kandidiasis oral sering terjadi pada pasien AIDS dan menyebabkan kekeringan dan iritasi mulut (lihat Gambar Berwarna 5 sampai 7). Kandidiasis bronkus, paru, trakea, atau esofagus patognomonik untuk diagnosis AIDS. Pasien jarang mengalami penyakit sistemik. Infeksi Cryptococcus neoformans terjadi pada 7% pasien AIDS, dengan gambaran utama berupa meningitis. Terapi dengan flukonazol hanya menghasilkan profilaksis terbatas baik untuk infeksi Cryptococcus neoformans maupun kandidiasis oral. Pada pasien AIDS, gejala-gejala infeksi Histoplasma capsulatum bervariasi dengan nonspesifik, termasuk demam, menggigil, berkeringat, penurunan berat, mual, muntah, diare, lesi kulit, pneumonitis, dan depresi sumsum tulang. Amfoterisin B digunakan sebagai terapi induksi, dengan dosis yang lebih rendah sebagai pemeliharaan.

Infeksi oportunistik yang disebabkan oleh invasi virus sangat beragam dan merupakan penyebab semakin parahnya patologi yang terjadi. Infeksi oleh virus herpes simpleks (HSV) pada pasien AIDS biasanya menyebabkan ulkus genital atau perianus yang mudah didiagnosis dengan biakan virus. HSV dapat menyebar melalui kontak kulit langsung. HSV juga menyebabkan esofagitis serta dapat menimbulkan pneumonia dan ensefalitis. Asiklovir adalah obat pilihan untuk HSV dan herpes zoster.

Pada seseorang yang terinfeksi oleh HIV, timbulnya herpes zoster (shingles) dapat menandakan perkembangan penyakit. Infeksi di kulit dan mata mungkin mendahului infeksi-infeksi oportunistik. Setomegalo virus (CMV) sering ditemukan pada pasien AIDS; virus ini menyebabkan penyakit diseminata dengan empat penyakit yang batasannya jelas: korioretinistis (Gmb. 15-8 dan 15-9), enterokolitis, pneunomia, dan adrenalitis. Individu asimtomatik dapat mengeluarkan CMV. Pneumonia CMV sulit dibedakan dari pneumonia lain dan dapat timbul secar simultan dengan patogen lain seperti Pneumocystis carinii. Mungkin terdeteksi gejala-gejala insufisiensi adrenal. Untuk penyakit-penyakit terkait CVM, diindikasikan terapi dengan gansiklovir atau foskarnet (Goldschmidt, Dong, 1995).

Leukoensefalopati miltifokus progresif adalah suatu penyakit yang berkembang secara cepat yang disebabkan oleh suatu papovavirus. Secara klinis, pasien mengalami perubahan kepribadian serta defisit motorik dan sensorik. Gejala-gejala mungkin mencakup nyeri kepala, tumor, gangguan koordinasi dan keseimbangan, kelemahan, dan tanda-tanda lain disfungsi serebelum. Virus Epstein-Barr (EBV) diperkirakan berperan menyebabkan timbulnya leukoplakia oral berambut (lihat Gambar Berwarna 8), pneumonitis pada anak, dan limfoma serta sering ditemukan dari bilasan tenggorok pasien AIDS.

12. Pemeriksaan Laboratorium

Terdapat dua uji yang khas digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV. Yang pertama, enzymelinked immunosorbent assay (ELISA), bereaksi terhadap adanya antibodi dalam serum dengan memperlihatkan warna yang lebih jelas apabila terdeteksi antibodi virus dalam jumlah besar. Karena hasil positif-palsu dapat menimbulkan dampak psikologis yang besar, maka hasil uji ELISA yang positif diulang, dan apabila keduanya positif, maka dilakukan uji yang lebih spesifik, Western blot. Uji Western blot juga dikonfirmasi dua kali. Uji ini lebih kecil kemungkinannya memberi hasil positif-palsu atau  negatif-palsu. Juga dapat terjadi hasil uji yang tidak konklusif, misalnya saat ELISA atau Western blot bereaksi lemah dan agak mencurigakan. Hal ini dapat terjadi pada awal infeksi HIV, pada infeksi yang sedang berkembang (sampai semua pita penting pada uji Western blot tersedia lengkap), atau pada reaktivitas-silang dengan titer retrovirus tinggi lain, misalnya HIV-2 atau HTLV-1. Setelah konfirmasi, pasien dikatakan seropositif HIV. Pada tahap ini, dilakukan pemeriksaan klinis dan imunologik lain untuk mengevaluasi derajat penyakit dan dimulai usaha-usaha untuk mengendalikan infeksi.

HIV juga dapat dideteksi dengan uji lain, yang memeriksa ada tidaknya virus atau komponen virus sebelum ELISA atau Western blot dapat mendeteksi antibodi. Prosedur-prosedur ini mencakup biakan virus, pengukuran antigen p24, dan pengukuran DNA dan RNA HIV yang menggunakan reaksi berantai polimerase (PCR) dan RNA HIV-1 plasma. Uji-uji semacam ini bermanfaat dalam studi mengenai imunopatogenesis, sebagai penanda penyakit, pada deteksi dini infeksi, dan pada penularan neonatus. Bayi yang lahir dari ibu positif-HIV dapat memiliki antibodi anti-HIV ibu dalam darah mereka sampai usia 18 bulan, tanpa bergantung apakah mereka terinfeksi atau tidak.

13. INTERVENSI TERAPETIK

ANTIRETROVIRUS

Uji-uji yang lebih baru dan sensitif memperlihatkan bahwa replikasi virus HIV berlangsung sepanjang perjalanan infeksi dan dengan tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya (CDC, 1998d). Banyak peneliti percaya bahwa intervensi terapik dan terapi antiretrovirus (TAR) harus dimulai sedini mungkin. Namun, waktu optimal untuk memulai TAR masih belum diketahui. Terapi yang sekarang berlaku menghadapi masalah membidik berbagai tahapan dalam proses masuknya virus ke dalam sel dan replikasi virus, memanipulasi gen virus untuk mengendalikan produksi protein virus, membangun kembali sistem imun, mengkombinasikan terapi, dan mencegah resistensi obat. Dua pemeriksaan laboratorium, hitung sel T CD4+ dan kadar RNA HIV serum, digunakan sebagai alat untuk memantau risiko perkembangan penyakit dan menentukan waktu yang tepat untuk memulai atau memodifikasi regimen obat (Gbr. 15-10). Hitung sel T CD4+ memberikan informasi mengenai status imunologik pasien yang sekarang, sedangkan kadar RNA HIV serum (viral load) memperkirakan prognosis klinis (status hitung sel T CD4+ dalam waktu dekat). Hitung RNA HIV sebesar 20.000 salinan /ml (2 x 104) dianggap oleh banyak pakar sebagai indikasi untuk memberikan terapi antiretrovirus berapa pun hasil hitung sel T CD4+. Pengukuran serial kadar RNA HIV dan sel T CD4+ serum sangat bermanfaat untuk mengetahui laju perkembangan penyakit, angka pergantian virus, hubungan antara pengaktivan sistem imun dan replikasi virus, dan saat terjadinya resistensi obat antiretrovirus. Semua bentuk efektif terapi antiretrovirus disebabkan oleh penurunan kadar RNA HIV (Fauci, Lane, 1998).

Di Amerika Serikat (2001), US Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui tiga golongan obat untuk infeksi HIV : (1) inhibitor reverse transcriptase nukleosida (NRTI); (2) inhibitor reverse transcriptase nonnukleosida (NNRTI); dan (3) inhibitor protease (PI) (Tabel 15-3). NRTI menghambat enzim DNA polimerase dependen RNA HIV (reverse transcriptase) dan menghentikan pertumbuhan unti DNA. Contoh-contoh NRTI adalah zidovudin, didanosin, zalsitabin, stavudin, lamivudin, dan abakavir. NNRT menghambat transkripsi RNA HIV-1 menjadi DNA, suatu langkah penting dalam proses replikasi virus. Obat tipe ini menurunkan jumlah HIV dalam darah (viral load) dan meningkatkan limfosit CD4+. Nevirapin, delaviridin, dan efavirenz adalah contoh-contoh NNRTI. PI menghambat aktivitas protease HIV dan mencegah pemutusan poliprotein HIV yang esensial untuk pematangan HIV. Yang akan terbentuk bukan HIV matang tetapi partikel virus imatur yang tidak menular. Indinavir, ritonavir, nelfinavir, sakuinavir, amprenavir, dan lopinavir adalah contoh-contoh PI. Kelima belas obat antitrovirus ini diberikan dalam dua sampai tiga kombinasi berbeda sesuai temuan riset dan petunjuk spesifik yang dikembangkan oleh the Panel on Clinical Practice and Treatment of HIV Infection yang dibuat oleh US Department of Health and Human Services (DHHS) dan Kaiser Family Foundation (CDC, 1998b) tercantum di Kotak 15-3. Prinsip-prinsip HAART yang sama juga berlaku bagi anak, remaja, atau orang dewasa yang terinfeksi HIV faktor tumbuh kembang dan perubahan dalam parameter-parameter farmakokinetik perlu dipertimbangkan. Pertimbangan lain adalah: (1) akuisisi infeksi melalui pajanan perinatal dan perbedaan dalam evaluasi diagnostik, (2) pajanan ke zidovudin dan obat antiretrovirus lain inutero, dan (3) perbedaan dalam penanda imunologik (yaitu, hitung sel T CD4+ pada anak.

Pengembangan vaksin HIV yang efektif merupakan tantangan yang besar karena HIV memiliki karakteristik yang kompleks dan adanya mutasi genetik. Vaksin ideal seyogyanya dapat memicu imunitas humoral dan selular. Saat ini sudah dimulai (Bolognesi, 1994) dan sedang (CDC, 2001e) dilakukan uji-uji klinis terhadap efektivitas vaksin seiring dengan semakin banyaknya informasi mengenai HIV yang diketahui. Namun, program pencegahan HIV yang terpadu mencakup tidak saja pengembangan vaksin tetapi juga riset dan pendidikan yang ditujukan untuk mencegah penularan virus.

KONSEP ASKEP

  1. PENGKAJIAN
    1. Biodata:
      1. Nama :untuk membedakan pasien satu dengan yang lain kaqrena banyak orang yang namanya sama.
      2. Umur : pada glomerulo nefritis terjadi pada usia

Pada wanita usia 40-60 tahun glomerulonefritis progresif

Anak-anak :nefrosis lipoid

Remaja & dewasa :fokal glomerulo sclerosis

  1. Jenis kelamin :pada glomerulonefritis tidak ada perbedaan jenis bkelamin, biasanya wanita membranosa idiopatik
  2. Alamat
  3. Pekerjaan
  4. Pendidikan :sebagai acuan dalam memberikan pendidikan kesehatan yang berkenaa dengan glomerulonefritis
  5. Suku/bangsa
  1. Keluhan Utama

Pada glomerulonefritis biasanya pasien mengeluh sakit kepala, malaise, nyeri panggul, edema wajah

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

Yang perlu di dikaji diasanya pasien mengeluh adanya yang berkembang dalam beberapa minggu. Kadang-kadang dengan riwayat edema sementara beberapa bulan sebelumnya kadang-kadang episode edema awal & tak jarang pula episode tetap tampaknya dicetuskan oleh infeksi virus yang sering akibat stertokokus B hemolitikus grup A timbul letargi, anorexia, penambaha BB 15-20% akibat akumulasi cairan edema pasien biasanya tidak tanpak sakit berat . gejala yang paling nyata adalah edema umum, sering dengan asites.

  1. Riwayat Penyakit Dahulu

Pada glomerulonefritis dahulu mungkin menujukkan episode faringitis atau tonsillitis sebelumnya.

  1. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat glomeruloneritis dalam keluarga, penggunaan obat anti inflamasi non-steroid, preparat emas organic, heroin, immunosupresif seperti siklosporin atau takrolimun & riwayat infeksi streptokokus, endokarditis atau virus.

  1. Pola Kebiasaan Sehari-Hari
    1. Pola nutrisi

Pada kasus dengan glomerulonefritis :

Diet protein dibatasi jika terjadi insufisiensi renal & retensi nitrogen (Peningkatan BUN).

  1. Pola eliminasi

Klien dengan glomerulonefritis terdapat darah dalam urin, urin tampak berwarna kola akibat sel darah merah & butiran atau sediment protein & terjadi penurunan haluaran urin.

  1. Pola aktifitas

Klien dengan glomerulonefritis dianjurkan untuk tirah baring karena aktifita yang berlebihan dapat meningkatkan proteinuria & hematuria.

  1. Riwayat Psikososial

Klien mengeluh cemas karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit.

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum

Pada kasus glomerulonefritis klien tampak pucat

  1. Pemeriksaan cepalo kaudal

1. Kepala & rambut    :tidak di temukan kelainan

2. Hidung                     :tidak di temukan kelainan

3. Telinga                     :tidak di temukan kelainan

4. Mata                        :conjungtiva anemis

5. Mulur, gigi, lidah,& faring  :tidak di temukan kelainan

6. Leher & renggoroan :tidak ditemukan kelainan

7. Thorak

8. Jantung

9. Abdomen

10. Ttv : tekanan darah meningkat

  1. Penatalaksanaan

jika diduga terdapat infeksi streptococcus sisa, penisilin dapat diresepkan, tirah baring dianjurkan selama fase akut sampai urin berwarna jernih dan kadar BUN, kreatinin, dan tekanan darah kembali normal.

10. pemeriksaan penunjang

-          pemeriksaan urin

-          pemeriksaan gula darah

-          pemeriksaan serum albumin

-          pemeriksaan profil lemak

-          pemeriksaan ungsi ginjal

-          pemeriksaan srologi

-          biopsi ginjal

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    1. kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan fungsi ginjal
    2. ketidak efektifan perffusi jaringan ginjal berhubungan dengan cedera pada fungsi glomerulus
    3. nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual. Muntah
    4. penurunan aktivitas berhubungan dengan produksi energi metabolik/pembatasan diet.
    5. infeksi berhubungan dengan depresi pertahanan imunologi
    6. gangguan psikologis cemas berhunungan dengan kukrangnya pengetahuan tentang penyakit.

RENCANA  ASKEP

  1. kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan fungsi ginjal

-          Tujuan: Volume cairan dalam tubuh dapat seimbang dan memperbaiki keseimbangan cairan

-          Kreteria hasil :

a. Terjadi keseimbanganantara pemasukan dan pengeluaran

b. TTV dalam batas normal

c. Tidak ada edema

-          Inervensi dan rasional:

1)     Monitor keseimbangan cairan secara seksama, ganti cairan sesuai cairan yang hilang (urine, respirasi, dan feces)

Rasional :mengetahui jumlah cairan yang hilang

2)     Awasi denyut jantung, tekanan darah dan CVP

Rasional :agar dapat segera mengetahui kemungkinan yang terjadi

3)     Catat pemasukan dan pengeluaran urine

Rasional :dapat mengetahui kelainan yang terjadi pada fungsi ginjal

4)     Awasi berat jenis urine

Rasional :mengetahui kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan urine

5)     Timbang BB setiap hari

Rasional :pengawasan status cairan yang adekuat

6)     Kaji kulit, wajah dan area-area yang memungkinkan terjadinya edema

Rasional :mengetahui tanda perpindahan cairan atara jaringan lain

7)     Auskultasi paru dan bunyi jantung

Rasional :kelebihan cairan dapat mengakibatkan edema paru dan gagal jantung kongesti.

  1. Ketidak efektifan perfusi jaringan ginjal berhubungan dengan cedera pada fungsi glomerulus.

-          Tujuan :meningkatkan fungsi ginjal

-          Kreteria hasil :

~ Tidak terdapat darah dalam urine

~ BUN-kreatinin, albumin dalam batas normal

~ Tidak terdapat sumbatan pada kapiler glomerulus dari proliferasi sel endotel

-          Intervensi dan Rasional :

1)     Monitor tanda-tanda vital serta atur asupan dan pengeluaran diet selama fase akut.

2)

Rasional :mengetahui dengan segera seberapa jauh perjalanan penyakit serta mengetahui kelainan yang terjadi.

2.Istirahat ditempat tidur (betrest) selama fase akut hingga BUN, kreatinin dan tekanan darah normal

Rasional :istirahat dapat ,membantu diuresi

3. Berikan obat sesuai dengan advis dokter

Rasional :membantu mempercepat penyembuhan klien

  1. Nutrisi kurang dan kebutuhan berhubungan dengan anorexia/mual muntah

Tujuan :kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi

Kreteria hasil :~BB mengalami peningkatan

~Bebas edema

Intervesi dan rasional :

  1. Kaji / catat pemasukan diet

Rasional :membantu dalam meidentifikasikan definisi dan kebutuhan diet

  1. Berikan makan sedikit tapi sering

Rasional :

  1. Berikan diet sesuai indikasi dan libatkan orang terdekat dalam pemberian diet

Rasional :memberikan pasien tindakan control dalam pembatasan diet

  1. Sajikan makanan dalam keadaan hangat

Rasional :merangsang nafsu makan klien

  1. Timbang berat badan

Rasional :mengetahui penambahan berat badan yang abnormal (edema)

  1. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolic atau pembatasan diet

Tujuan :kelelahan dapat ter atasi

Kreteria hasil :~klien tidak mudah lelah

~energi klien tetap stabil

Intervensi dan rasional :

  1. Evaluasi kelelahan, kesulitan menyelesaikan tugas dan gangguan istirahat tidur

Rasional :menentukan derajat dari efek ketidakmampuan

  1. Kaji kemampuan untuk ber partisipasi pada aktifitas yang diinginkan sesuai indikasi

Rasional :mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemulihan intervensi

  1. Rencanakan periode yang adekuat

Rasional :mecegah kelelahan berlebihan dan menyimpan energi untuk penyembuhan regenerasi jaringan

  1. Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi

Rasional :mengubah energi memungkinkan berlanjutnya aktifitas yang dabutuhkan, membarikan keamanan pada pasien

  1. Infeksi berhubungan defresi pertahanan imunologi

Tujuan :infeksi tidak terjadi

Kreteria hasil :tidak mengalami tanda dan gejala infeksi

Intervensi dan Rasional :

1. Biasanya untuk cuci tangan yang baik

Rasional :menurunkan resiko kontaminasi silang

2. Hindari prosedur invasive, instrument dan manipulasi yang menetap gunakan      teknik aseptif

Rasional :membatasi introduksi bakteri kedalam tubuh deteksi dalam terjadinya infeksi untuk mencegah sepsis

3. Awsi TTV

Rasional :suhu tubuh meningkat, nadi dan pernafasan merupakan tanda-tanda peningkatan laju meta bolik dari proses inflamasi

  1. Gangguan psikologi (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit

Tujuan :kecemasan dan ketakutan tidak terjadi

Kreteria hasil :~klien tanpak tenang

~klien kooperatif dengan tindakan keperawatan

Interfensi dn Rasional :

1. Ciptakan hubungan yang terapeutik

Rasional :untuk menanamkan rasa percaya pasien dan keluarga pada perawat

2. Ciptakan suasana ruangan yang aman dan nyaman

Rasional :klien akan merasa nyaman dan tenang

3. Anjurkan keluarga untuk memotifasi klien

Rasional :mencegah stress pada klien

4.Jelaskan tentang prosedur keperawatan dengan bahasa yang mudah di mengerti

Rasional :klien lebih kooperatif terhadap tindakan keperwatan

  1. Observasi tingkat kecemasan klien

Rasional :untuk menentukan intervensi selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA

  1. S.pd, S.Kep, Ners. FRANSISCA .B.B dan M. Nurs. Dr. Nursalam. 2006

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan gangguan system perkemihan.

Jakarta Salemba Medika.

  1. Mansjoer, Arif dkk. 1991. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga jilid I. Jakarta: FKUI
  2. Price, Sylvia, A dan Wilson, Lorraine M.1995.Patofisiologi Edisi 4 Jakarta: EGCS
  3. http://www.DirectRelief.org

Glomerulonephritis akut

Nefritis atau peradangan ginjal, adalah salah satu penyakit ginjal yang sering ditemui. Gejala utamanya adalah tampaknya elemen seperti albumin di dalam air seni. Kondisi ini disebut albuminuria. Sel-sel darah merah dan darah putih dan serpihan granular yang kesemuanya tampak dalam pemeriksaan mikroskopik pada air seni.

Gejala ini lebih sering nampak terjadi pada masa kanak-kanak dan dewasa dibanding pada orang-orang setengah baya. Bentuk yang paling umum dijumpai dari nefritis adalah glomerulonefritis. Seringkali terjadi dalam periode 3 sampai 6 minggu setelah infeksi streptokokus.

Penderita biasanya mengeluh tentang rasa dingin, demam, sakit kepala, sakit punggung, dan udema (bengkak) pada bagian muka biasanya sekitar mata (kelopak), mual dan muntah-muntah. Sulit buang air kecil dan air seni menjadi keruh.

Prognosis biasanya dapat menyembuhkan dan penderita sembuh total. Namun pada beberapa orang gejala ini berkembang menjadi kronis. Pada keadaan ini proses kerusakan ginjal terjadi menahun dan selama itu gejalanya tidak tampak. Akan tetapi pada akhirnya orang-orang tersebut dapat menderita uremia (darah dalam air seni.Red) dan gagal ginjal.

Ginjal merupakan salah satu organ paling vital dimana fungsi ginjal sebagai tempat membersihkan darah dari berbagai zat hasil metabolisme tubuh dan berbagai racun yang tidak diperlukan tubuh serta dikeluarkan sebagai urine dengan jumlah setiap hari berkisar antara 1-2 liter. Selain fungsi tersebut, ginjal berfungsi antara lain mempertahankan kadar cairan tubuh dan elektrolit (ion-ion), mengatur produksi sel-darah merah. Begitu banyak fungsi ginjal sehingga bila ada kelainan yang mengganggu ginjal, berbagai penyakit dapat ditimbulkan.

Glomerulonefritis merupakan berbagai kelainan yang menyerang sel-sel penyerang ginjal (sel glomerulus). Glomerulonefritis menahun adalah penyakit paling sering menimbulkan gagal ginjal dikemudian hari. Kelainan ini terjadi akibat gangguan utama pada ginjal (primer) atau sebagai komplikasi penyakit lain (sekunder), misalnya komplikasi penyakit diabetes mellitus, keracunan obat, penyakit infeksi dan lain-lain. Pada penyakit ini terjadi kebocoran protein atau kebocoran eritrosit

Glomerulonefritis merupakan penyebab utama terjadinya gagal ginjal tahap akhir dan tingginya angka morbiditas baik pada anak maupun pada dewasa. Sebagian besar glomerulonefritis bersifat kronik dengan penyebab yang tidak jelas dan sebagian besar tampak bersifat imunologis.Glomerulonefritis menunjukkan kelainan yang terjadi pada glomerulus,bukan pada struktur jaringan ginjal yang lain seperti misalnya tubulus, jaringan interstitial maupun sistem vaskulernya.

Glomerulonefritis sering ditemukan pada anak berumur antara 3-7 tahun dan lebih sering mengenai anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan adalah 2 : 1 dan jarang menyerang anak dibawah usia 3 tahun. Hasil penelitian multisenter di Indonesia pada tahun 1988, melaporkan adanya 170 pasien yang dirawat di rumah sakit pendidikan dalam 12 bulan. Pasien terbanyak dirawat di Surabaya (26,5%), kemudian disusul berturut-turut di Jakarta (24,7%), Bandung (17,6%), dan Palembang (8,2%). Pasien laki-laki dan perempuan berbanding 2 : 1 dan terbanyak pada anak usia antara 6-8 tahun (40,6%).
Gejala glomerulonefritis bisa berlangsung secara mendadak (akut) atau secara menahun (kronis) seringkali tidak diketahui karena tidak menimbulkan gejala. Gejalanya dapat berupa mual-mual, kurang darah (anemia), atau hipertensi. Gejala umum berupa sembab kelopak mata, kencing sedikit, dan berwarna merah, biasanya disertai hipertensi. Penyakit ini umumnya (sekitar 80%) sembuh spontan, 10% menjadi kronis, dan 10% berakibat fatal.

A. Definisi

Glomerulonefritis akut (GNA) adalah suatu reaksi imunologis pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu.Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman streptococcus.
Glomerulonefritis merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menjelaskan berbagai ragam penyakit ginjal yang mengalami proliferasi dan inflamasi glomerulus yang disebabkan oleh suatu mekanisme imunologis. Sedangkan istilah akut (glomerulonefritis akut) mencerminkan adanya korelasi klinik selain menunjukkan adanya gambaran etiologi, patogenesis, perjalanan penyakit dan prognosis.

B. Etiologi

Glomerulonefritis akut didahului oleh infeksi ekstra renal terutama di traktus respiratorius bagian atas dan kulit oleh kuman streptococcus beta hemoliticus golongan A tipe 12,4,16,25,dan 29. Hubungan antara glomerulonefritis akut dan infeksi streptococcus dikemukakan pertama kali oleh Lohlein pada tahun 1907 dengan alas an timbulnya glomerulonefritis akut setelah infeksi skarlatina,diisolasinya kuman streptococcus beta hemoliticus golongan A, dan meningkatnya titer anti- streptolisin pada serum penderita.
Antara infeksi bakteri dan timbulnya glomerulonefritis akut terdapat masa laten selama kurang 10 hari. Kuman streptococcus beta hemoliticus tipe 12 dan 25 lebih bersifat nefritogen daripada yang lain, tapi hal ini tidak diketahui sebabnya. Kemungkinan factor iklim, keadaan gizi, keadaan umum dan factor alergi mempengaruhi terjadinya glomerulonefritis akut setelah infeksi kuman streptococcus.
Glomerulonefritis akut pasca streptococcus adalah suatu sindrom nefrotik akut yang ditandai dengan timbulnya hematuria, edema, hipertensi, dan penurunan fungsi ginjal. Gejala-gejala ini timbul setelah infeksi kuman streptococcus beta hemoliticus golongan A disaluran pernafasan bagian atas atau pada kulit. Glomerulonefritis akut pasca streptococcus terutama menyerang pada anak laki-laki dengan usia kurang dari 3 tahun. Sebagian besar pasien (95%) akan sembuh, tetapi 5 % diantaranya dapat mengalami perjalanan penyakit yang memburuk dengan cepat.
Penyakit ini timbul setelah adanya infeksi oleh kuman streptococcus beta hemoliticus golongan A disaluran pernafasan bagian atas atau pada kulit, sehingga pencegahan dan pengobatan infeksi saluran pernafasan atas dan kulit dapat menurunkan kejadian penyakit ini. Dengan perbaikan kesehatan masyarakat, maka kejadian penyakit ini dapat dikurangi.
Glomerulonefritis akut dapat juga disebabkan oleh sifilis, keracunan seperti keracunan timah hitam tridion, penyakitb amiloid, trombosis vena renalis, purpura anafilaktoid dan lupus eritematosus.

C. Patogenesis

Dari hasil penyelidikan klinis imunologis dan percobaan pada binatang menunjukkan adanya kemungkinan proses imunologis sebagai penyebab glomerulonefritis akut. Beberapa ahli mengajukan hipotesis sebagai berikut :

1.  Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang melekat pada membrane basalis glomerulus dan kemudian merusaknya.

2.  Proses auto imun kuman streptococcus yang nefritogen dalam tubuh menimbulkan badan auto-imun yang merusak glomerulus.

3.  Streptococcus nefritogen dengan membrane basalis glomerulus mempunyai komponen antigen yang sama sehingga dibentuk zat anti yang langsung merusak membrane basalis ginjal.

D. Klasifikasi

a.  Congenital (herediter)

1.  Sindrom Alport

Suatu penyakit herediter yang ditandai oleh adanya glomerulonefritis progresif familial yang seing disertai tuli syaraf dankelainan mata seperti lentikonus anterior. Diperkirakan sindrom alport merupakan penyebab dari 3% anak dengan gagal ginjal kronik dan 2,3% dari semua pasien yang mendapatkan cangkok ginjal. Dalam suatu penelitian terhadap anak dengan hematuria yang dilakukan pemeriksaan biopsi ginjal, 11% diantaranya ternyata penderita sindrom alport. Gejala klinis yang utama adalah hematuria, umumnya berupa hematuria mikroskopik dengan eksasarbasi hematuria nyata timbul pada saat menderita infeksi saluran nafas atas. Hilangnya pendengaran secara bilateral dari sensorineural, dan biasanya tidak terdeteksi pada saat lahir, umumnya baru tampak pada awal umur sepuluh tahunan.

2.  Sindrom Nefrotik Kongenital
Sinroma nefrotik yang telah terlihat sejak atau bahkan sebelum lahir. Gejala proteinuria massif, sembab dan hipoalbuminemia kadang kala baru terdeteksi beberapa minggu sampai beberapa bulan kemudian. Proteinuria terdapat pada hamper semua bayi pada saat lahir, juga sering dijumpai hematuria mikroskopis. Beberapa kelainan laboratories sindrom nefrotik (hipoproteinemia, hiperlipidemia) tampak sesuai dengan sembab dan tidak berbeda dengan sindrom nefrotik jenis lainnya.

b.  Glomerulonefritis Primer

1.  Glomerulonefritis membranoproliferasif

Suatu glomerulonefritis kronik yang tidak diketahui etiologinya dengan gejala yang tidak spesifik, bervariasi dari hematuria asimtomatik sampai glomerulonefitis progresif. 20-30% pasien menunjukkan hematuria mikroskopik dan proteinuria, 30 % berikutnya menunjukkan gejala glomerulonefritis akut dengan hematuria nyata dan sembab, sedangkan sisanya 40-45% menunjukkan gejala-gejala sindrom nefrotik. Tidak jarang ditemukan 25-45% mempunyai riwayat infeksi saluran pernafasan bagian atas, sehingga penyakit tersebut dikira glomerulonefritis akut pasca streptococcus atau nefropati IgA.

2.  Glomerulonefritis membranosa

Glomerulonefritis membranosa sering terjadi pada keadaan tertentu atau setelah pengobatan dengan obat tertentu. Glomerulopati membranosa paling sering dijumpai pada hepatitis B dan lupus eritematosus sistemik. Glomerulopati membranosa jarang dijumpai pada anak, didapatkan insiden 2-6% pada anak dengan sindrom nefrotik. Umur rata-rata pasien pada berbagai penelitian berkisar antara 10-12 tahun, meskipun pernah dilaporkan awitan pada anak dengan umur kurang dari 1 tahun. Tidak ada perbedaan jenis kelamin. Proteinuria didapatkan pada semua pasien dan sindrom nefrotik merupakan 80% sampai lebih 95% anak pada saat awitan, sedangkan hematuria terdapat pada 50-60%, dan hipertensi 30%.

3.  Nefropati IgA (penyakit berger)
Nefropati IgA biasanya dijumpai pada pasien dengan glomerulonefritis akut, sindroma nefrotik, hipertensi dan gagal ginjal kronik. Nefropati IgA juga sering dijumpai pada kasus dengan gangguan hepar, saluran cerna atau kelainan sendi. Gejala nefropati IgA asimtomatis dan terdiagnosis karena kebetulan ditemukan hematuria mikroskopik. Adanya episode hematuria makroskopik biasanya didahului infeksi saluran nafas atas atau infeksi lain atau non infeksi misalnya olahraga dan imunisasi.

c.  Glomerulonefritis sekunder
Golerulonefritis sekunder yang banyak ditemukan dalam klinik yaitu glomerulonefritis pasca streptococcus, dimana kuman penyebab tersering adalah streptococcus beta hemolitikus grup A yang nefritogenik terutama menyerang anak pada masa awal usia sekolah. Glomerulonefritis pasca streptococcus datang dengan keluhan hematuria nyata, kadang-kadang disertai sembab mata atau sembab anasarka dan hipertensi.

E. Manifestasi Klinis

Penyakit ginjal biasanya dibagi menjadi kelainan glomerulus dan non glomerulus berdasarkan etiologi, histology, atau perubahan faal yang utama. Dari segi klinis suatu kelainan glomerulus yang sering dijumpai adalah hipertensi, sembab, dan penurunan fungsi ginjal. Meskipun gambaran klinis biasanya telah dapat membedakan berbagai kelainan glomerulus dan non glomerulus, biopsi ginjal masih sering dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis pasti.
Tanda utama kelainan glomerulus adalah proteinuria, hematuria, sembab, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal, yang dapat terlihat secara tersendiri atau secara bersama seperti misalnya pada sindrom nefrotik, gejala klinisnya terutama terdiri dari proteinuria massif dan hipoalbuminemia, dengan atau tanpa sembab.

Riwayat Penyakit
Sebagian besar anak dengan kelainan glomrulus menunjukkan proteinuria atau hematuria yang ditemukan pada saat pemeriksaan urine atau hipertensi yang ditemukan pada saat pemeriksaan fisik. Sebagian kecil pasien menunjukkan tanda sembab sebagai gejala awal, sehingga diperlukan perhatian riwayat penyakit pasien dan keluarganya.
Gejala yang sering ditemukan adalah hematuria atau kencing seperti merah daging, kadang-kadang disertai sembab ringan disekitar mata atau seluruh tubuh. Umumnya sembab berat terdapat pada oliguria dan bila ada gagal jantung. Hipertensi terdapat pada 60-70% anak dengan glomerulonefritis akut pada hari pertama, kemudian pada akhir minggu pertama menjadi normal kembali. Hipertensi timbul karena vasospasme atau iskemia ginjal, suhu badan tidak tinggi, tetapi dapat tinggi sekali pada hari pertama.
Riwayat yang spesifik pada anak dengan proteinuria, misalnya sembab periorbital, pratibial, skrotum atau anasarka pada sindroma nefrotik yang pada awalnya berupa sembab muka pada waktu bangun tidur dan menghilang pada siang hari, tetapi kemudian sembab akan menetap bila bertambah hebat atau menjadi anasarka. Hal ini sering dikira sebagai reaksi alergi, bertambahnya berat badan dengan cepat akibat ekspansi cairan ekstraseluler (dengan keluhan pakaian menjadi sempit atau perut buncit) jumlah urine berkurang. Pada kasus yang lebih berat terdapat anoreksia, sakit kepala, muntah dan bahkan kejang kadang disertai tanda penurunan fungsi ginjal seperti anoreksia, apatis, mudah lelah, lambat tumbuh, dan anemia.

Pemeriksaan Fisik
Pada pasien glomerulonefritis akut sangat dianjurkan untuk melakukan pengukuran berat dan tinggi badan, tekanan darah, adanya sembab atau asites. Melakukan pemeriksaan kemungkinan adanya penyakit sistemik yang berhubungan dengan kelainan ginjal seperti atritis, ruam kulit, gangguan kardiovaskular, paru dan system syaraf pusat.
Selama fase akut terdapat vasokonstriksi arteriola glomerulus yang mengakibatkan tekanan filtrasi menjadi kurang dan karena hal ini kecepatan filtrasi glomerulus juga berkurang. Filtrasi air, garam, ureum dan zat-zat lainnya berkurang dan sebagai akibatnya kadar ureum dan kreatinin dalam darah meningkat. Fungsi tubulus relative kurang terganggu, ion natrium dan air diresorbsi kembali sehingga diuresis berkurang (timbul oliguria dan anuria) dan ekskresi natrium juga berkurang. Ureum diresorbsi kembali lebih dari pada biasanya, sehingga terjadi insufiensi ginjal akut dengan uremia, hiperfosfatemia, hidrema dan asidosis metabolik.

Pemeriksaan Laboratorium
Bila ditemukan proteinuria tersendiri (isolated proteinuria), hematuria mikroskopik atau ipertensi ringan pada anak yang tampak sehat, harus dilakukan evaluasi lebih lanjut. Hematuria mikroskopik dan hipertensi ringan biasanya hanya bersifat sementara. Hematuria nyata tanpa gejala lain biasanya berasal dari glomerulus dan bila telah diketahui adanya kelainan yang bermakna, harus segera dilakukan pemeriksaan selanjutnya.
Laju enap darah meninggi, kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi garam dan air). Pada pemeriksaan urine didapatkan jumlah urine berkurang dan berat jenis urine meninggi. Hematuria makroskopik ditemukan pada 50% penderita, ditemukan juga adanya albumin, eritrosit leukosit, silinder leokosit dan hialin.
Albumin serum sedikit menurun demikian juga komplemen serum (globulin beta-1C) serta ureum dan kreatinin darah meningkat. Anemia sering dijumpai pada gagal ginjal akut atau gagal ginjal kronik. Hematuria harus diukur pada semua anak. Sebanyak 90% anak dengan glomerulonefritis akut menunjukkan peningkatan streptozim dan penurunan komplemen C3. Kadar C3 biasanya normal kembali dalam waktu 4-8 minggu dan steptozim dalam waktu 4-6bulan. Uji fungsi ginjal normal pada 50% penderita.
Biopsi ginjal diperlukan untuk menegakkan diagnosis penyakit glomerulus, sebelum biopsy dilakukan pengukuran besar ginjal dan strukturnya untuk memastikan adanya dua buah ginjal dan menyingkirkan kemungkinan tumor dan kelainan lain yang merupakan indikasi kontra biopsy ginjal.

F. Pengobatan

Pengobatan terpenting adalah suportif, hipertensi dapat diatasi secara efektif dengan vasodilator perifer (hidralasin, nifedipin). Diuretik diperlukan untuk mengatasi retensi cairan dan hipertensi. Sebagian pasien hanya memerlukan terapi anti hipertensi jangka pendek (beberapa hari sampai beberapa minggu). Pemberian cairan dikurangi, pemberian sedative untuk menenangkan pasien sehingga dapat cukup beristirahat. Pasien dengan gejala encelopati hipertensif memerlukan terapi anti hipertensi yang agresif, diberikan reserpin sebanyak 0,07 mg/kgBB secara intramuskuler. Bila terjadi diuresis 5-10 jam kemudian maka selanjutnya reserpin diberikan per oral dengan dosis 0,03 mg/kgBB/hari.
Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari), maka ureum harus dikeluarkan dari dalam darah dengan beberapa cara misalnya dialysis peritoneum atau hemodialisis. Diuretikum dulu tidak diberikan pada glomeruloefritis akut tetapi akhir-akhir ini pemberian furosemid (lasix) 1mg/kgBB/kali secara intra vena dalam 5-10 menit berakibat buruk pada hemodinamika ginjal dan filtrasi glomerulus.
Pemberian penicillin pada fase akut akan mengurangi menyebarnya infeksi streptococcus yang mungkin masih ada. Pemberian antibiotika ini dianjurkan hanya untuk 10 hari. Pasien glomerulonefritis akut dengan gagal ginjal akut memerlukan terapi yang tepat, pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit. Kortikosteroid dan imunosupresan tidak diberikan oleh karena tidak terbukti berguna untuk pengobatan.
Pada Fase akut diberikan makanan rendah protein (1g/kgBB/hari) dan rendah garam (1g/hari). Makanan lunak diberikan pada penderita dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu telah normal. Pada penderita tanpa komplikasi pemberian cairan disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan bila ada komplikasi seperti gagal jantung, edema, hipertensi, dan oliguria maka jumlah cairan yang diberikan harus dibatasi.

G. Komplikasi

  1. Glomerulonefritis kronik sebagai kelanjutan dari glomerulonefritis akut yang tidak mendapat pengobatan secara tuntas.
  2. Gagal ginjal akut dengan manifestasi oliguria sampai anuria yang dapat berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti insufiiensi ginjal akut dengan uremia, hiperfosfatemia, hiperkalemia. Walaupun oliguria atau anuria yang lama jarang terdapat pada anak, jika hal ini terjadi diperlukan peritoneum dialysis (bila perlu).
  3. Enselopati hipertensi merupakan gejala serebrum karena hipertensi. Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah dan kejang-kejang. Hal ini disebabkan karena spasme pembuluh darah local dengan anoksia dan edema otak.
  4. Gangguan sirkulasi berupa dispnea, ortopnea, terdapatnya ronkhi basah, pembesaran jantung dan meningginya tekanan darah yang buka saja disebabkan spasme pembuluh darah, tetapi juga disebabkan oleh bertambahnya volume plasma. Jantung dapat membesar dan terjadi gagal jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan di miokardium.
  5. Anemia yang timbul karena adanya hipovolemia disamping sintesis eritropoetik yang menurun.

H. Prognosis

Sebagian besar pasien akan sembuh, tetapi 5% diantaranya mengalami perjalanan penyakit yang memburuk dengan cepat. Diuresis akan menjadi normal kembali pada hari ke 7-10 setelah awal penyakit dengan menghilangnya sembab dan secara bertahap tekanan darah menjadi normal kembali. Fungsi ginjal(ureum dan kreatinin) membaik dalam 1 minggu dan menjadi normal dalam waktu 3-4 minggu.
Potter dan kawan-kawan menemukan kelainan sediment urine yang menetap (proteinuria dan hematuria) pada 3,5% dari 534 pasien yang diikuti selama 12-17 tahun di Trinidad.Gejala fisis menghilang dalam minggu ke 2 atau ke 3, kimia darah menjadi normal pada minggu ke 2 dan hematuria mikroskopik atau makroskopik dapat menetap selama 4-6 minggu. LED meninggi terus sampai kira-kira 3 bulan, protein sedikit dalam urine dan dapat menetap untuk beberapa bulan.
Eksaserbasi kadang-kadang terjadi akibat infeksi akut selama fase penyembuhan, tetapi umumnya tidak mengubah proses penyakitnya. Penderita yang tetap menunjukkan kelainan urine selama 1 tahun dianggap menderita penyakit glomerulonefritis kronik, walaupun dapat terjadi penyembuhan sempurna. LED digunakan untuk mengukur progresivitas penyakit ini, karena umumnya tetap tinggi pada kasus-kasus yang menjadi kronis. Diperkirakan 95 % akan sembuh sempurna, 2% meninggal selama fase akut dari penyakit ini dan 2% menjadi glomerulonefritis kronis.

DAFTAR PUSTAKA

Staf Pengajar IKA UI., Ilmu Kesehatan Anak. Buku 2, Jakarta, Fak Kedokteran UI., 1985

1.  Staf Pengajar IKA UGM., Standar Pelayanan Medis RSUP DR. SARDJITO., Yogyaskarta , Fak Kedokteran UGM, 1999

2.  Dr.Merdias Alinatsir, Buku Saku Segi-Segi Praktis IKA, Jakarta, 1984

3.  Ikatan Dokter Anak Indonesia, Buku Ajar Nefrologi Anak Edisi 2, Jakarta, 2002

4.  Staf Pengajar IKA UI, Standar Pelayanan Medis IDAI, Jakarta, 2004

5.  Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Jakarta, 2000

6.  Nini Soemyarso dan kawan kawan, lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/ RSU Dr.Soetomo, Surabaya. http://www.yahoo.com

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  LATAR BELAKANG

Sectio cesarea merupakan pembedahan obstetik untuk melahirkan janin yang viabel melalui abdomen. Tindakan yang dilakukan tersebut bertujuan untuk melahirkan bayi dengan membuka dinding rahim ( Hellen Farrer, 2001 ). Ada beberapa indikasi dilakukan sectio cesarea diantaranya distress janin posisi sungsang, distosia dan persalinan sebelumnya. Sectio cesarea memiliki dua sampai empat kali angka kematian ibu dibanding dengan persalinan pervagina, sehingga sectio cesarea menjadi hal yang menakutkan dikalangan masyarakat dahulu (Persis Mary Hamilton, 1995 ).

Seiring berjalannya waktu serta perkembangan ilmu kedokteran khususnya kebidanan, pandangan tersebut kemudian bergeser. Kini, sectio cesarea sering dilakukan tanpa ada indikasi medis sehingga mereka memilih persalinan dengan cara sectio cesarea daripada alami. Hal diatas menyebabkan angka persalinan dengan cara cesarea mengalami peningkatan hingga 25% dari semua angka kelahiran yang tercatat pada tahun 1999-2000   ( Dini Kasdu, 2003 ).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh ahli terhadap 64 rumah sakit di Jakarta terdapat 17.665 kelahiran yang diantaranya sebanyak 35.7-55.5% melahirkan dengan operasi cesarea. Sebanyak 19.5%-21% diantaranya karena ada Cephalopelvis disproportion ( CPD), 11.9%-21% karena perdarahan yang hebat, 4.3-8.7% karena kelainan letak janin. Sedangkan di Banyuwangi khususnya di RSUD Blambangan, pada tahun 2005 terdapat 404 kelahiran yang diantaranya sebanyak 28.5% melahirkan dengan sectio cesarea dan di RSI Fatimah pada bulan Agustus  sampai dengan Nopember 2005 terdapat 154 kelahiran yang diantaranya sebanyak 9.6% melahirkan dengan sectio cesarea. Miskipun data tersebut tidak bisa mencerminkan seluruh kondisi yang ada di Indonesia, tetapi dapat menggambarkan bahwa angka persalinan operasi cesarea cukup tinggi terjadi di Indonesia. Apabila sebagian diantaranya dilakukan tanpa ada pertimbangan medis. Apa yang menyebabkan kecenderungan ini? ( Dini Kasdu, 2003 ).

Beberapa alasan yang mendasari kecenderungan melahirkan dengan operasi cesarea semakin meningkat ( terutama di kota-kota besar ), karena para ibu banyak yang bekerja, mereka sangat terikat dengan waktu. Alasan lainnya, masih terkait dengan masalah kepercayaan yang masih berkembang di masyarakat Indonesia. Masih banyak diantara penduduk kota-kota besar yang mengaitkan waktu melahirkan dengan peruntungan nasib anak dilihat dari faktor ekonomi. Tentunya tindakan ini dilakukan dengan harapan apabila anak dilahirkan pada tanggal dan jam tertentu maka akan memperoleh rezeki dan kehidupan yang lebih baik. Alasan yang paling banyak adalah anggapan yang salah bahwa dengan operasi, ibu tidak akan mengalami rasa sakit seperti halnya persalinan alami pada kala I,II. Masalah keperawatan yang sering pada klien pre operasi cesarea adalah kecemasan ( Dini Kasdu, 2003 ).

Beberapa faktor penyebab kecemasan diantaranya kurangnya pengetahuan klien tentang prosedur pre operasi, faktor ekonomi klien dan kecemasan atas keberhasilan operasi. Mereka cemas apakah operasi cesarea tersebut berhasil atau tidak dan apakah bayi mereka akan lahir dengan sempurna atau tidak sehingga seringkali kecemasan yang berlebihan akan menghambat proses persalinan alami atau cesarea. Masalah kecemasan apabila tidak dilakukan intervensi keperawatan untuk mengurangi kecemasan diantaranya tehnik relaksasi, diskrasi, informed consent. Tehnik relaksasi terutama latihan nafas dalam selama 15-30 menit sering dilakukan di rumah sakit dan dapat dilakukan dimana saja baik dengan posisi duduk atau berbaring dalam posisi yang menyenangkan sehingga dapat mengurangi kecemasan saat ibu menjalani operasi.

Dari uraian diatas, menarik minat peneliti untuk menganalisa pengaruh latihan nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea di BPKM RSUD Blambangan dan RSI Fatimah Banyuwangi.

1.2.  RUMUSAN MASALAH.

Adakah pengaruh latihan nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea di BPKM RSUD Blambangan dan RSI Fatimah Banyuwangi.

1.3.  TUJUAN PENELITIAN

1.3.1.      Tujuan umum.

Mengetahui pengaruh antara latihan nafas dalam dengan penurunan tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea di BPKM Blambangan dan RSI Fatimah Banyuwangi tahun 2006.

1.3.2.      Tujuan khusus

  1. Mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan umur dengan tingkat kecemasan klien pre operasi cesarea di BPKM Blambangan dan RSI Fatimah Banyuwangi.
  2. Mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dengan tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea di BPKM Blambangan dan RSI Fatimah Banyuwangi.
  3. Mengidentifikasi penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan latihan nafas dalam pada klien pre operasi cesarea di BPKM Blambangan dan RSI Fatimah Banyuwangi.
  4. Menganalisa adanya pengaruh latihan nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea di BPKM Blambangan dan RSI Fatimah Banyuwangi.

1.4.  Manfaat penelitian

1.4.1.      Secara teoritis.

Dengan diadakannya penelitian tentang pengaruh latihan nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea dapat diketahui pengaruh sehingga dapat menentukan langkah penanganan selanjutnya.

1.4.2.      Secara praktis

  1. Meningkatkan pelayanan mutu pada klien mengenai manfaat nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan..
  2. Memberi gambaran mengenai pengaruh dan manfaat latihan nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan.

1.5.  Relevansi.

Latihan nafas dalam merupakan sala satu tehnik relaksasi dalam penurunan kecemasan yang terjadi pada klien pre operasi cesarea, dilakukan 15-30 menit dalam posisi duduk atau berbaring. Untuk itu peneliti mencoba meneliti apakah pengaruh latihan nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Konsep dasar.

2.1.1.      Sectio cesarea.

Istilah cesarea telah dirumuskan oleh beberapa ahli kedokteran dalam berbagai pengertian, tergantung pada sudut pandang masing-masing. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut.

Thomas Rabe (2003) mengatakan bahwa sectio cesarea merupakan persalinan dengan laparatomi dan histerotomi. Persis Mary Hamilton (1995 : 196 ) mengatakan bahwa sectio cesarea adalah suatu persalinan kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus sedangkan Arif Mansjoer (2001 : 344 ) juga mengatakan bahwa sectio cesarea merupakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim.

Ada beberapa indikasi untuk dilakukan sectio cesarea diantaranya placenta pravia, preeklampsi, solutio placenta. Dari ketiga indikasi diatas, memungkinkan untuk dilakukan sectio cesarea setelah dipertimbangkan dengan seksama ( Arif Mansjoer, 2001 ).

Arif Mansjoer ( 2001 : 276 ) mengemukakan bahwa placenta pravia merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir dan preeklampsi merupakan timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan sedangkan solutio placenta merupakan lepasnya placenta dari insersi sebelum waktunya.

Dari ketiga indikasi, dilakukan pembedahan pada ibu yang usia kehamilan berkisar antara 20 minggu atau sesudahnya memungkinkan seorang ibu tersebut mengalami suatu permasalahan keperawatan diantaranya gangguan psikologis cemas dengan adanya pembedahan, resiko infeksi dengan adanya pembedahan, gangguan personal hygiene dengan adanya kelemahan fisik. Dari ketiga permasalahan diatas, gangguan psikologis cemas sering terjadi pada ibu yang akan mengalami operasi cesarea.

2.1.2.      Kecemasan

  1. Pengertian.

Cemas adalah suatu keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan yang sulit (ketakuta) dan aktifasi saraf otonom dalam berespon terhadap ketidakjelasan, ancaman tidak spesifik ( Lynda Juall Carpenito, 2000 ).

  1. Faktor predisposisi.

Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal cemas ( Gail Wiscarz Stuart, 1995 ).

  1. Dalam pandangan psiko analitik kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian dan super ego. Iq mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
  2. Menurut pandangan inter personal kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan inter personal. Cemas juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan yang menimbulkan kelemahan fisik orang dengan harga diri rendah terutama mudah mengalami cemas yang berat.
  3. Menurut pandangan perilaku cemas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar prilaku lain menganggap cemas sebagai suatu dorongan untuk belajar berdasarkan keinginan dari dalam menghindari kepedihan.
  4. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan kecemasan dan antara gangguan cemas dan depresi.
  5. Kajian biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodia zepines. Reseptor ini mungkin membantu mengatur cemas. Penghambat asam amino butirik gama neroregulator ( GABA ) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan cemas, sebagaimana halnya dengan endorfin. Selain itu, telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap cemas. Cemas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stresor. ( Gail Wiscarz Stuart, 1995 ).
  6. Tingkat kecemasan
    1. Cemas ringan

Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Cemas dapat memotivasi belajar dan menghabiskan pertumbuhan dan kreativitas.

  1. Cemas sedang

Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan seseuatu yang lebih terarah.

  1. Cemas berat.

Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal lain. Semua prilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.

  1. Panik

Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror. Rincian terpecah dario proporsinya karena mengalami kehilangan kendali orang yang mengalaminya ( Gail Wiscarz Stuart, 1995 ).

  1. Tanda dan gejala kecemasan
    1. Cemas ringan.
      1. Respon fisiologis

-          Sesekali nafas pendek.

-          Nadi dan tekanan darah naik.

-          Gejala ringan pada lambung.

-          Muka berkerut dan bibir bergetar

  1. Respon kognitif

-          Lapang persepsi meluas

-          Mampu menerima rangsangan yang komplex

-          Konsetrasi pada masalah.

-          Menyelesaikan masalah secara efektif.

  1. Respon prilaku dan emosi

-          Tidak dapat duduk tenang.

-          Tremor halus pada tangan.

-          Suara kadang-kadang meninggi

  1. Cemas sedang.
    1. Respon fisiologis

-          Suara nafas pendek.

-          Nadi dan tekanan darah naik.

-          Mulut kering

-          Anorexia

-          Diare atau konstipasi

-          Gelisah

  1. Respon kognitif

-          Lapangan persepsi yang menyempit.

-          Rangsangan luar tidak mampu diterima.

-          Berfokus pada apa yang menjadi perhatian.

  1. Respon perilaku dan emosi

-          Gerakan tersentak-sentak.

-          Bicara banyak dan lebih  cepat.

-          Susah tidur.

-          Perasaan tidak aman.

  1. Cemas berat
    1. Respon fisiologis

-          Nafas pendek.

-          Nadi dan tekanan darah naik.

-          Berkeringat dan sakit kepala

-          Penglihatan kabir

-          Ketegangan

2.   Respon kognitif

-          Lapangan persepsi sangat sempit.

-          Tidak mampu menyelesaikan masalah

3.    Respon perilaku dan emosi

-          Perasaan ancaman meningkat

-          Verbalisasi cepat

-          Blocking

  1. Panik
    1. Respon fisiologis

-          Nafas pendek.

-          Nadi dan tekanan darah naik.

-          Rasa tercekik dan palpitasi

-          Sakit dada

-          Pucat.

-          Hipotensi

2.   Respon kognitif

-          Lapangan persepsi sangat sempit.

-          Tidak berfikir logis

3.    Respon perilaku dan emosi

-          Mengamuk dan marah

-          Ketakutan dan marah

-          Kehilangan kendali

-          Persepsi kacau

  1. Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kecemasan pada klien pre operasi cesarea.
    1. Umur.

Usia ± 20-21 tahun mencapai keseimbangan psikis, kepribadian sudah terbentuk. Berfikir, merasa dan berbuat sudah teringrasi dan harmonis. Banyak tenggang rasa, teman hidup sudah mulai tetap dan sudah mampu menilai orang. Berani menetapkan diri dan bertanggung jawab atas segala keputusannya ( Suryanah, 1996 ).

Ibu yang melahirkan dengan operasi akan merasa bingung dan cemas terutama jika operasi tersebut dilakukan karena keadaan yang darurat. Ketidakstabilan emosi bisa meningkat atau berlangsung lebih lama, apabila muncul perasaan lain     ( Dini Kasdu, 2003 : 85 ). Kedewasaan seorang istri sebagai calon ibu biasanya berkembang seiring umur yang cukup matang. Semakin cukup umur tingkat kematangan seseorang lebih matang dalam berfikir. ( Nursalam, 2000 ).

  1. Pendidikan

Pndidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kamampuan, sikap dan bentuk-bentuk prilaku lainnya di masyarakat dimana ia hidup ( Ihsan, 2001 ).

Pendidikan berpenagruh secara tidak langsung melalui peningkatan status sosial dan kedudukan seseorang, peningkatan pilihan terhadap kehidupan sehingga juga mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang pendidikan menengah biasanya lebih mengerti dan lebih dapat menerima adanya perubahan dalam masalah kehidupan seseorang yang tidak berpendidikan akan rentan terhadap penjelasan yang tidak rasional ( Erica, 1998 ).

  1. Informasi pre operasi

Gangguan kecemasan akan meningkat apabila penjelasan tentang prosedur suatu tindakan tidak atau kurang jelas diterima oleh klien dan keluarga. Hal ini terjadi bila suatu keterangan atau penjelasan yang sederhana tidak diberikan oleh petugas kesehatan yang berkomentensi atau tidak menjelaskan maksud dan tujuan atau dijelaskan tapi menggunakan istilah yang tidak dimengerti oleh klien dan keluarga ( Eisemberg, 1996 ).

  1. Tempat tinggal

Suasana rumah yang dihuni oleh klien akan menpengaruhi tingkat kecemasan yang dialami klien. Tempat tinggal klien akan berpengaruhi terhadap tingkat stresorr yang dirasakan klien. ( Ramaiah, 2003).

  1. Herediter.

Sekalipun gangguan emosi ada yang ditemukan dalam keluarga-keluarga tertentu, ini bukan merupakan penyebab penting dari kecemasan ( Ramaiah, 2003 ).

  1. Emosi yang ditekan

Kecemasan bisa terjadi jika anda tidak mampu menemukan jalan keluar untuk perasaan dalam hubungan personal. Hal tersebut terjadi jika menekan rasa marah dan frustasi dalam jangka waktu yang lama sekali ( Ramaiah, 2003 ).

2.1.3.      Cara-cara latihan nafas dalam.

Dalam berbagai tehnik relaksasi yang ada, latihan nafas dalam menjadi metode relaksasi yang termudah. Metode ini mudah dilakukan karena pernafasan itu sendiri merupakan tindakan yang kita lakukan secara normal tanpa perlu berfikir atau merasa ragu        ( National Safety Council, 2004 : 70)

Ada beberapa cara latihan nafas dalam diantaranya :

  1. Pernafasan dalam.
    1. Walaupun latihan ini dapat dilakukan dalam berbagai sikap direkomedasikan sikap tersebut : rebahkan diri diatas permadani atau tikar dilantai. Tekuk kedua lutut dan renggangkan kaki anda lebih kurang 8 inchi dengan jari mengarah sedikit keluar. Pastikan bahwa tulang belakang anda lurus.
    2. Amati tubuh anda yang tegang.
    3. Letakkan satu tangan di atas perut dan satu tangan di atas dada.
    4. Tarik nafas pelan-pelan dan dalam melalui hidung masuk ke dalam perut mendorong tangan anda sekuat-kuatnya selama anda merasa nyaman. Dada anda harus sedikit bergerak dan bersamaan dengan pergerakan perut.
    5. Jika anda merasa mudah dengan langkah ke-4, tersenyum sedikit, tarik nafas melalui hidung dan hembuskan melalui mulut, ciptakan ketanangan, relaks, desingkan udara seperti angin, mulut, hidung, rahang anda akan relaks. Ambil nafas panjang, pelan, dalam yang membesarkan dan mengecilkan perut.
    6. Lanjukan nafas dalam selama 5 atau 10 menit setiap kali, satu atau dua kali sehari, selama dua minggu.
    7. Pada akhir setiap kali pernafasan dalam, gunakan waktu sejenak untuk sekali lagi mengamati tubuh anda yang tegang. Bandingkan tegangan yang anda rasakan pada akhir latihan dengan yang anda alami pada awal latihan.
    8. Bila anda telah terbiasa dengan pernafasan perut, lakukan setiap saat anda menginginkannya sepanjang hari saat anda duduk atau berdiri. Konsentrasikan pada gerakan perut ke atas dan ke bawah, udara keluar masuk paru-paru anda dan persaan relaks yang dihasilkan dengan nafas dalam.
    9. Bila anda telah belajar merilakskan diri dengan menggunakan nafas dalam, lakukanlah setiap kali anda tegang. ( Martha Davis, Ph D, 1995 : 30 ).
    10. Pernafasan diafragma

Langkah-langkah memulai pernafasan diafragma :

  1. Posisikan tubuh secara nyaman. Untuk mendapatkan manfaat penuh, pelajari tehnik ini dalam posisi nyaman, baik posisi duduk atau berbaring terlentang dengan mata tertutup.
  2. Konsentrasi, seperti halnya tehnik relaksasi lain, pernafasan diafragma memerlukan perhatian penuh dari anda. Apabila mungkin melakukan langkah-langkah untuk meminimalkan gangguan dengan mencari tempat yang tenang untuk berlatih.
  3. Visualisasi, penggunaan imajinasi dalam pernafasan diafragma dapat bermanfaat. Ada banyak imajinasi yang dapat digabunkan dengan tehnik pernafasan ini. ( Nasional Safety Coucil, 2004 : 70).

2.2.      Konsep variabel yang akan diteliti.

2.2.1.      Pengaruh latihan nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan.

Pernafasan penting untuk kehidupan. Pernafasan yang tepat merupakan penawar stres. Pada saat kita bernafas, udara dihirup ke dalam melalui hidung dan menyaring kotoran yang dikeluarkan pada saat menghembuskan nafas. Kedua paru dihubungkan bronkus yang membawa oksigen ke dalam pembuluh vena dan nadi, warnanya merah cerah karena mengandung oksigen yang tinggi ( ±25%). Darah dipompa keluar oleh jantung melalui pembuluh darah nadi ke kapiler, mencapai semua bagian tubuh.

Jika jumlah udara segar yang masuk paru-paru tidak mencukupi, darah tidak dioksigenasi sebagaimana mestinya. Hasil pembakaran yang seharusnya dibuang tetap ada dalam sirkulasi darah. Jika kekurangan oksigen, darah akan berwarna kebiruan serta dapat dilihat melalui warna kulit yang buruk. Kurangnya oksigen dalam darah memperbesar kemungkinan terjadinya kecemasan, depresi dan lelah yang sering membuat setiap situasi stres menjadi lebih sukar diatasi. Latihan nafas dalam penting untuk kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, latihan nafas dalam telah diketahui efektif menurunkan kecemasan, depresi, sifat cepat marah atau cepat tersinggung ( Martha Davis, Ph. D, 1995 ).

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Perawat sebagai tenaga professional bertanggung jawab dan berwenang memberikan pelayanan keperawanan secara mandiri dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan sesuai dengan kewenangannya, terutama terkait dengan lingkup praktik dan perawat.

Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat professional melalui kerjasma bersifat kolaborasi dengan klien dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya. Lingkup kewenangan perawat dalam praktik keperawatan professional meliputi sistem klien (individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat) dalam rentang sehat dan sakit, sepanjang daur kehidupan.

Untuk penerapan praktik keperawatan tersebut perlu ketetapan (legislasi) yang mngatur hak dan kewajiban perawat yang terkait, dengan pekerjaan profesi. Legislasi dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat, dan perawat. Dalam rangka perlindungan hukum tersebut, perawat perlu diregistrasi, disertifikasi dan memperoleh ijin praktik (lisensi).

Departemen Kesehatan RI telah mengeluarkan Kepmenkes No 1239/2001 tentang “Registrasi dan Praktik Perawat”, Ketetapan ini perlu dijabarkan lebih lanjut, maka Direktorat Pelayanan Keperawatan bekerjasama dengan Bagian HUKMAS Departemen Kesehatan dan organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyusun petunjuk pelaksanaan Kepmenkes No 1239/2001 yang meliputi hak, kewajiban dan wewenang, tindakan keperawatan, persyaratan praktik keperawatan, mekanisme pembinaan dan pengawasan.

Adapun tujuan dari pedoman ini adalah :

Sebagai panduan bagi pemerintah Kabupaten/kota, organisasi profesi (PPNI) dan pihak­-pihak terkait untuk mengatur pelaksanaan praktik keperawatan. Sebagai pedoman bagi perawat untuk melaksanakan praktik keperawatan.

B.  Batasan Masalah

Mengingat bahwa penerapan praktik keperawatan perlu legislasi yang mengatur hak dan kewajiban perawat yang terkait dengan profesi, maka kami akan menjelaskan tentang Petunjuk pelaksanaan Kepmenkes No. 1239/2001 tentang Registrasi dan Praktek keperawatan.

C.  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini :

1.  Mencetak perawat sebagai tenaga professional yang bertanggung jawab dan berwenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.

2.  Agar perawat bisa memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawab.

3.  Memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat dan perawat.

4.  Agar mahasiswa mengerti tentang Kepmenkes No. 129/2001 tentang “Registrasi dan Praktik Perawat” sehingga mahasiswa tahu mengenai hak, kewajiban, kewenangan dan tindakan keperawatan persyaratan praktek keperawatan, mekanisme pembinaan dan pengawasan.

5.  Sebagai panduan bagi pemerintah Kab/Kota. Organisasi Profesi (PPNI) dan pihak-pihak terkait untuk mengatur pelaksanaan praktik keperawatan.

6.  Sebagai pedoman bagi perawat untuk melaksanakan praktik keperawatan.

D.  Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan disusun sebagai berikut :

BAB I     :  PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

B.  Batasan Masalah

C.  Tujuan Penulisan

D.  Sistematika Penulisan

BAB II    :  PEMBAHASAN

-     Pendahuluan

-     Dasar Hukum

-     Pengertian

-     Tujuan Pembuatan Petunjuk Pelaksanaan Hak, Kewajiban, dan Kewenangan Perawat

-     Hak

-     Kewajiban

-     Kewenangan

1.   Pengertian

2.   Kewenangan perawat

3.   Sasaran

4.   Kewenangan dalam melaksanakan praktek keperawatan

-     Definisi Operasional

BAB III  :  PENUTUP

A.  Kesimpulan

B.  Saran

BAB II

HAK, KEWAJIBAN DAN KEWENANGAN PERAWAT

PENDAHULUAN

Dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan secara optimal sesuai tujuan Pembangunan Kesehatan perlu adanya keseimbangan hak dan kewajiban antara pemberi jasa pelayanan kesehatan dengan kepentingan masyarakat/individu atau perorangan sebagai penerima pelayanan kesehatan.

Dalam pelayanan kesehatan, tenaga perawat memberikan asuhan keperawatan sesuai kebutuhan klien/pasien disarana kesehatan, khusus di pelayanan rumah sakit perawat selalu berada di dekat pasien selama 24 jam, melakukan kegiatan keperawatan penugasannya dibagi atas 3 shif jaga yaitu pagi, sore, dan malam.

Dengan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat sebagai penerima jasa pelayanan keperawatan terhadap hukum, maka tata tertib hukum dalam pelayanan keperawatan memberikan kepastian hukum kepada perawat, pasien dan sarana kesehatan. Kepastian hukum berlaku untuk pasien, perawat sesuai dengan hak dan kewaiiban masing-masing. Hak dan kewajiban perawat harus dilaksanakan secara seimbang.

Berdasarkan hal tersebut perawat haruS dapat mengantisipasi keadaan yang diinginkan oleh pasien dengan meningkatkan profesionalisme sebagai seorang perawat serta memahami hak kewajibaa serta kewenangannya.

Untuk melindungi tenaga perawat akan adanya tuntutan dari klien/pasien perlu ditetapkan dengan jelas apa hak, kewajiban serta kewenangan perawat, agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan tugasnya serta memberikan suatu kepastian hukum, perlindungan hukum bagi tenaga perawat.

DASAR HUKUM

1.    UU. No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

2.    UU. No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

3.    UU. No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

4.    UU. No. 25 tahun 1999 tentang Pembagian keuangan antara pemerintah & daerah

5.    PP. No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

6.    KUHAP pasal 170 tentang Wajib Simpan Rahasia Jabatan.

7.    SK. Dirjen Yanmed No. YM.00.03.2.6.956 tentang Hak dan Kewajiban perawat dan Bidan di Rumah Sakit

S.    SK. Dirjen Yanmed No. YM.00.03.2.6.7637 tahun 1993 tentang berlakunya standar acuhan keperawatan di rumah sakit

9.    SK Menpan No. 94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang Jabatan Fungsional Perawat

10.  SK. MUNAS PPNI No. 09/MUNAS VI/PPNI/2000 tentang Kode Etik Keperawatan Indonesia

11.  SK. DPP. PPNI, No. 020/DPP/II/1991 tentang Lafal Sumpah Perawat

12.  Kepmenkes No. 647/Menkes /IV/2000 tentang Registrasi dan Praktik Perawat

13.  SE. No. 1107/Menkes/E/VII/2000 tentang kewenangan provinsi dibidang kesehatan


PENGERTIAN

1.  Hak adalah kekuasaan/kewenangan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu Badan Hukum untuk mendapatkan atau memutuskan untuk berbuat sesuatu

2.  Kewajiban adalah sesuatu yang harus diperbuat atau harus dilakukan seseorang atau suatu Badan Hukum

3.  Kewenangan adalah hak dan otonomi untuk melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan kemampuan, tingkat pendidikan dan posisi di sarana kesehatan.

4.  Perawat adalah seorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5.  Standar profesi adalah pedoman yang harus digunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik

6.  Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yaitu RS, Puskesmas, Poliklinik dan atau unit kesehatan lainnya.

TUJUAN PEMBUATAN PETUNJUK PELAKSANAAN HAK, KEWAJIBAN DAN KEWENANGAN PERAWAT

a.   Tujuan Umum

Tujuan sebagai acuan bagi seluruh tenaga perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam lingkungan kerja / sarana kesehatan (rumah sakit, Puskesmas. Balai Kesehatan, dan atau unit kesehatan lainnya).

b.   Tujuan Khusus

1.   Memahami kewenangan dan kompetensi tiap jenjang pendidikan.

2.   Mampu melaksanakan tugas sesuai kewenangan dan kompetensi tiap jenjang pendidikan

3.   Memahami hak dan kewajiban perawat.

4.   Pimpinan sarana kesehatan harus mendayagunakan tenaga perawat sesuai kewenangan dan kompetensi.

5.   Tersedianya acuan dalam penyusunan peraturan pelimpahan wewenang perawat (Pembuatan SOP).

A. HAK

Hak perawat dalam melaksanakan tugasnya adalah sebagai berikut ;

1.   Memperoleh perlindungan hukum yang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi

2.   Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan tugasnya

3.   Mendapat perlakuan adil dan jujur oleh Pimpinan sarana kesehatan, klien/pasien dan atau keluarganya

4.   Menerima imbalan jasa pelayanan keperawatan yang telah diberikan

5.   Mendapat hak cuti dan hak kepegawaian lainnya sesuai peraturan yang berlaku

6.   Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pendidikan formal sampai jenjang spesialisasi.

7. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pendidikan nonformal

8.   Menjaga hak privasi personal sebagai seorang perawat

9.   Mendapat pelayanan pemeriksaan kesehatan secara rutin

10.             Menuntut jika nama baiknya dicemarkan oleh klien/pasien atau tenaga kesehatan lainnya

11. Menolak pihak lain yang memberi anjuran atau permintaan tertulis untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan perundang-undangan, standar profesi dan kode etik profesi

12. Mendapat informasi yang jujur dan lengkap dari klien/pasien atas palayanan keperawatan yang diberikan

13.             Dilibatkan secara aktif dalam penyusunan/penetapan kebijakan sesuai pengembangan kesehatan di sarana kesehatan.

14. Memperoleh kesempatan mengembangkan karier sesuai bidang profesinya di sarana kesehatan.

B. KEWAJIBAN

1.   Perawat wajib memiliki :

a. Surai Ijin Perawat (SIP) sebagai bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan di seluruh wilayah Indonesia

b. Surat Ijin Kerja (SIK) sebagai bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk melakukan praktek keperawatan disarana kesehatan

c.  Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP) sebagai bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk menjalankan praktik perawat perorangan / kelompok

2.   Perawat wajib menghormati hak pasien

Hak pasien yang meliputi :,

a.   Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit

b.   Pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur

c.   Memperoleh pelayanan keperawatan dan asuhan yang bermutu sesuia dengan standar profesi keperawatan tanpa diskriminasi

d.  Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit

e.   Meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit tersebut (second opinion), terhadap penyakit yang dideritanya, sepengetahuan dokter yang menangani.

f. “Privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya

g.   Mendapat informasi yang meliputi:

-   penyakit yang dideritanya

-   tindakan medik apa yang hendak dilakukan

-   kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk mengatasinya.

-   alternatif terapi lainnya beserta resikonya

-   Prognosa penyakitnya

-   Perkiraan biaya pengobatan/rincian biaya atas penyakit yang dideritanya

h.   Menyetujui/memberikan izin atas tindakan yang akan dilakukan oleh perawat sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.

i.    Menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya.

j.    Hak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis

k.   Hak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.

1. Hak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit

m.  Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap dirinya

n.   Hak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual

o.   Hak didampingi perawat/keluarga pada saat diperiksa dokter

3.  Perawat wajib merujuk kasus yang tidak dapat ditangani yang meliputi :

a.   Dalam aspek pelayanan / asuhan keperawatan merujuk ke anggota perawat lain yang lebih tinggi kemampuan dan atau pendidikannya

b.   Dalam aspek masalah kesehatan lainnya merujuk ke tenaga kesehatan lain (dokter, ahli gizi, farmasi dan lain-lain)

4.  Perawat menyimpan rahasia pasien sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku meliputi :

a. Menyimpan dan memelihara rekam medis pasien sesuai SOP atau peraturan yang berlaku di sarana kesehatan

b. Merahasiakan :

-   Identitas pasien, catatan medik

-   Diagnosa penyakit

5. Perawat wajib memberikan informasi kepada pasien/keluarga yang sesuai batas kewenangan perawat yang meliputi:

a.  Tindakan keperawatan yang akan dilakukan

b.  Persiapan untuk pemeriksaan/ tindakan

c.  Tata tertib dan peraturan yang berlaku di sarana kesehatan

d.  Perkiraan biaya pelayanan

c.  Rencana tindak lanjut (discharge planning)

6.   Meminta persetujuan setiap tindakan yang akan dilakukan oleh perawat sesuai dengan kondisi pasien baik secara tertulis maupun secara lisan

7.   Mencatat semua tindakan keperawatan (dokumentasi asuhan keperawatan) secara akurat sesuai peraturan dan SOP yang berlaku

8.   Mematuhi standar profesi dan kode etik perawat Indonesia dalam melaksanakan praktik profesi keperawatan

9.   Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan IPTEK keperawatan dan kesehatan

10. Melakukan Pertolongan darurat yang mengancam jiwa pasien sesuai batas kewenangan dan SOP

11. Melaksanakan program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

12. Mentaati semua peraturan perundang-undangan

13. Mengumpulkan angka kredit profesi dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh SIK ulang dan SIPP

14. Menjaga hubungan kerja yang baik antara sesama perawat maupun dengan anggota tim kesehatan lainnya

C. KEWENANGAN

1.    Pengertian

Kewenangan perawat adalah hak dan otonomi untuk melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan kemampuan, tingkat pendidikan dan posisi di sarana kesehatan

2.    Kewenangan perawat

Kewenangan perawat adalah melakukan asuhan keperawatan meliputi pada kondisi sehat dan sakit mencakup :

2.1  Askep pada perinatal

2.2  Askep pada neonatal

2.3  Askep pada anak

2.4  Askep pada dewasa

2.5  Askep pada maternitas

3.    Sasaran

-      Individu

-      Keluarga

-      Kelompok

-      Masyarakat

4. Kewenangan dalam melaksanakan praktik keperawatan

4.1    Melaksanakan pengkajian dasar kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat di sarana kesehatan.

4.2    Pengkajian lanjutan pada individu, keluarga, kelompok, masyarakat di sarana kesehatan

4.3    Melaksanakan analisis data adalah untuk merumuskan diagnosa keperawatan lanjutan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat di sarana kesehatan

4.4    Merencanakan tindakan keperawatan sederhana dan kompleks pada individu, keluarga, masyarakat di sarana kesehatan

4.5    Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai tingkat kesulitan

a.  Tindakan keperawatan dasar pada kategeri I, II, III, IV

b.  Tindakan keperawatan kompleks pada kategori I, II, III, IV

4.6   Melakukan penyuluhan kesehatan meliputi :

a.  Menvusun program penyuluhan dengan metode sederhana kepada individu, keluarga, kelompok, masyarakat

b.  Melakukan penyuluhan kepada individu, keluarga, kelompok, masyarakat

4.7    Melakukan kegiatan konseling kesehatan kepada individu kelompok, keluarga dan masyarakat.

4.8    Melaksanakan tindakan medis sebagai pendelegasian wewenang/tugas limpah berdasarkan kemampuannya.

4.9    Melakukan tindakan di luar kewenangan dalam kondisi darurat yang mengancam nyawa sesuai ketentuan yang berlaku/ standing order disarana kesehatan.

4.10  Dalam kondisi tertentu, dimana tidak ada tenaga yang kompeten, perawat berwenang melaksanakan tindakan kesehatan di luar kewenangannya.

4.11  Melakukan evaluasi keperawatan

a.   Melaksanakan evaluasi keperawatan sederhana pada masyarakat

b.   Melaksanakan evaluasi keperawatan kompleks pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat di sarana kesehatan

Definisi Operasional

1.   Keadaan luar biasa untuk kepentingan nasional adalah :

2.   Keadaan darurat yang mengancam jiwa seorang pasien adalah :

Kondisi pasien berdasarkan kriteria kegawatan medis

3.   Standar profesi adalah :

Pedoman yang harus digunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik yang meliputi standar pelayanan, standar praktek, standar pendidikan dan standar kompetensi

4.   Angka kredit adalah :

Satuan angka kredit prefesi sebagai bukti telah mengikuti kegiatan pendidikan dan kegiatan ilmiah lain yang dipersyaratkan oleh organisasi profesi

5.   Daerah terpencil adalah :

Daerah yang sulit dijangkau baik dari segi transpontasi maupun geografi yang ditetapkan oleh Depdagri

Kompetensi berdasarkan kewenangan melakukan praktik keperawatan dibagi atas:

1.   Kompetensi mandiri yaitu kemampuan perawat professional melakukan praktik keperawatan professional sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki.

2. Kompetensi delegasi yaitu kemampuan yang didelegasikan dari perawat professional kepada perawat vokasional dan kemampuan yang didelegasikan dari tenaga medis kepada perawat-perawat.

3.   Kompetensi diperluas yaitu kemampuan perawat professional untuk melakukan tindakan tertentu setelah yang bersangkutan mendapatkan pelatihan dan pengalaman khusus.

Kewenangan perawat sesuai uraian Kepmenkes 647/2000 pasal 15 yaitu melaksanakan asuhan keperawatan, tindakan keperawatan, melaksanakan asuhan keperawatan, pelayanan tindakan medik berdasarkan permintaan tertulis.

Untuk dapat memberikan asuhan keperawatan di sarana kesehatan, tingkat kemampuan dan kewenangan perawat dapat berupa koordinasi maupun pemberi asuhan keperawatan.

1.  Koordinator

-   Mengkoordinir seluruh pelayanan keperawatan

-   Mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas mengembangkan sistem pelayanan keperawatan

-   Memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan.

2.  Pemberian Pelayanan Kesehatan (Provider)

Memberikan pelayann keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan terhadap individu, keluarga, kelompok dan masvarakat.

3.  Pendidik

Memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kader kesehatan dan lain-lain.

4. Pengelola

Mengelola (merencanakan, mengorganisasi, menggerakan dan mengevaluasi) pelayanan keperawatan baik langsung maupun tidak langsung dan menggunakan peran serta aktif masyarakat dalam kegiatan keperawatan komunitas.

5. Konselor

Memberikan konseling/bimbingan kepada klien, keluarga dan masyarakat tenkang masalah kesehatan sesuai prioritas.

6.  Pembela Klien (Advocat)

Melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.

7. Peneliti

Melakukan penelitian untuk mengembangkan mutu pelayanan keperawatan.

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Perawat sebagai tenaga professional bertanggung jawab dan berwenang memberikan pelayanan keperawatan secara mandiri dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kewenangannya, terutama terkait dengan lingkup praktik dan wewenang perawat.

Dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan secara optimal sesuai tujuan pembangunan kesehatan perlu adanya keseimbangan hak dan kewajiban antara pemberi jasa pelayanan kesehatan dengan kepentingan masyarakat/individu atau perorangan sebagai penerima pelayanan kesehatan.

Berdasarkan hal tersebut perawat harus dapat mengantisipasi keadaan yang diinginkan oleh pasien dengan meningkatkan profesionalisme sebagai seorang perawat serta memahami hak kewajiban serta kewenangannya.

B.  Saran

Berdasarkan isi yang telah tertulis dalam makalah ini diharapkan pada seorang perawat harus mempunyai kemampuan untuk meningkatkan profesionalisme keperawatan, diantaranya :

  • Perawat mampu memahami kewenangan dan menerapkan kompetensinya
  • Perawat mampu melaksanakan kewenangan dan kompetensinya tersebut
  • Memahami hak dan kewajiban perawat

Selain hal-hal di atas perawat dalam memberikan pelayanan keperawatannya dalam lingkungan kerja / sarana kesehatan juga harus mempunyai acuan yang jelas yang telah tercantum dalam undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Makalah Antepartum Blooding ( Pendarahan Antepartum )

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada trimester terakhir dari kehamilan yang sering terjadi pada ibu mengandung. Salah satu penyebabnya adalah akibat abortus.

Kejadian plasenta previa bervariasi antara 0,3 – 0,5% dari seluruh kelahiran dari kasus perdarahan antepartum, plasenta previa merupakan penyebab terbanyak. Oleh karena itu, pada kejadian perdarahan antepartum, kemungkinan plasenta previa harus dipikirkan terlebih dahulu sedangkan solusio plasenta kejadiannya sangat bervariasi dari 1 antara 75 sampai 830 persalinan dan merupakan penyebab dari 20-35% kematian perinatal walaupun angka kematiannya cenderung menurun pada akhir-akhir ini tapi morbilitas perinatal masih cukup tinggi, termasuk gangguan neurologis. Pada tahun pertama kehidupan, solusio plasenta sering berulang pada kehamilan berikutnya. Kejadian tercatat sebesar 1 diantara 8 kehamilan.

Dalam keadaan terpaksa, misalnya pasien tidak mungkin untuk diangkat ke rumah sakit besar, sedangkan tindakan darurat yang harus segera diambil oleh tim kesehatan dapat melakukan pemeriksaan dalam setelah melakukan persiapan yang secukupnya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pendarahan yang banyak.

B.  Batasan Makalah

Dalam makalah ini penulis membatasi permasalahan sesuai dengan pokok permasalahan yaitu ” Partum Bleiding”.

C.  Tujuan Penulisan

Untuk memenuhi tugas mata kuliah maternitas serta untuk mengetahui lebih jauh tentang partum bleiding.


D.  Metode Penulisan

Dalam penyusunan makalah penulis menggunakan berbagai literatur diantaranya adalah menggunakan media elektronik (browsing) dan literatur kepustakaan, agar pembahasan mengenai masalah dalam makalah dapat maksimal.

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian

Perdarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu (perdarahan pada tri wulan terakhir dari kehamilan.

Pada hamil muda sebab-sebab pendarahan :

1.   Abortus

2.   Kehamilan ektopik

3.   Mola hidatidosa

Pada tri wulan terakhir sebab-sebab utama adalah :

1.   Plasenta praevia

2.   Solutio plasentae

Selain sebab-sebab di atas juga dapat ditimbulkan oleh luka-luka pada jalan lahir karena terjatuh, coitus atau varices yang pecah dan oleh kehamilan servix seperti carcinoma erosio dan polyp.

A.  Plasenta Praevia

Ialah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (osteum uteri interal)

1.     Plasenta previa totalis

Seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta

2.     Plasenta previa lateralis

Hanya sebagian dari ostium internum tertutup oleh plasenta

3.     Plasenta previa marginalis

Hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta

Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor lain :

a.   Endometrium yang kurang baik

b.   Chorion leave yang presisten

c.   Korpus iuteum yang bereaksi lambat

Plasenta previa mungkin sekali terjadi perdarahan post partum karena :

  • Kadang-kadang plasenta lebih erat melekat pada dinding rahim
  • Darah perlekatan luas
  • Daya kontrasi segmen bawah rahim kurang

Bahaya untuk ibu pada plasenta previa :

  • Perdarahan hebat
  • Infeksi
  • Spesis
  • Emboli udara (jarang)

Bahaya untuk anak

  • Hypoxia
  • Perdarahan anak syok

1.   Etiologi

Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan yang endometriumnya yang kurang baik misalnya karena atrofi endometrium / kurang baiknya vaskularisasi desidua.

Keadaan ini bisa ditemukan pada :

a.   Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannnya pendek

b.   Mioma uteri

c.   Kuretasi yang berulang

d.   Umur lanjut

e.   Bekas seksio sesarea

f.    Perubahan inflamasi atau atrofi misalnya pada wanita merokok atau pemakai kokain.

2.   Patofisiologi

Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus, kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentan selama kehamilan lanjut dan persalinan dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan melahirkan anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindari sehingga terjadi pendarahan.

3.   Tanda dan Gejala

a.   Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III

b.   Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR

c.   Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala

d.   Perdarahan berwarna merah

e.   Letak janin abnormal.

Komplikasi

a.   Prolaps tali pusat

b.   Prolaps plasenta

c.   Prolaps melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu bersihkan dengan kerokan

d.   Robekan-robekan jalan lahir

e.   Perdarahan post partum

f.    Infeksi karena perdarahan yang banyak

g.   Bayi prematuris atau kelahiran mati.

4.   Penatalaksanaan

a.   Tiap perdarahan tri wulan ketiga yang lebih dari show perdarahan inisial harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik rektal apalagi vaginal

b.   Apabila ada penilaian yang baik, perdarahan sedikit janin masih hidup, belum inpartum.

c.   Sambil mengawasi periksa golonga darah dan siapkan donor transfusi darah kehamilan diperhatikan setua mungkin supaya janin terhindar dari prematur.

d.   Harus diingat bahwa djumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta previa, kirim segera ke rumah sakut dimana fasilitas operas dan tranfusi darah ada.

e.   Bila ada anemi berikan transfusi darah dan obat-obatan.

5.   Terapi

Pengobatan placenta praevia dapat dibagi dalam 2 golongan :

a.   Terapi aktif

Kehamilan segera diakhiri sebelum terhadi perdarahan yang membawa maut :

1.   Cara vaginal yang dimaksud untuk mengadakan tekanan pada plasenta dan dengan demikian menutup pembuluh-pembuluh darah yang terbuka (Tamponnade pada palsenta)

2.   Dengan sectio caesarea dengan maksud mengosongkan rahim hingga rahim dapat mengadakan retraksi dan menghentikan pendarahan.

b.   Pengobatan ekspektatif

Ialah kalau janin masih kecil hingga kemungkinan hidup di luar baginya kecil sekali. Sikap ekspektif atau hanya dapat dibenarkan kalau keadaan ibu baik dan pendarahan sudah berhenti atau sedikit sekali.

Syarat bagi terapi ekspektatif ialah bahwa keadsaan ibu masih baik (Hb-nya normal) dan perdarahan tidak banyak  selama terapi ekspektatip diusahakan menentukan lokalisasi plasenta dengan soft tissue technic, dengan radio isotop atau dengan ultrasound.

Tindakan apa yang kita pilih untuk pengobatan plasenta previa dan kapan melaksanakannya tergantung pada faktor-faktor :

a.   Perdarahan banyajk atau sedikit

b.   Keadaan ibu dan anak

c.   Besarnya pembukaan

d.   Tingkat plasenta previa

e.   Paritas

Pada pendarahan yang sedikit dan anak yang masih kecil dipertimbangkan terapi ekspektif.

Perlu dikemukakan cara manapun yang diikuti, persendian darah yang cukup sangat menentukan :

*    Cara-cara terdiri dari :

-     Pemecahan ketuban

Dapat dilakukan pada placenta letak rendah, plasenta previa marginalis dan plasenta previa lateralis yang menutup ostium kurang dari setengah bagian. Pada plasenta previa lateralis, plasenta terdapat disebelah belakang, maka lebih baik dilakukan SC karena dengan pemecahan ketuban kepala kurang menekan. Pada plasenta, karena kepala tertahan promotorium yang dalam hal ini dilapsisi lagi oleh jaringan plasenta.

Pemecahan ketuban dapat menghentikan perdarahan karena :

  • Setelah pemecahan ketuban icterus mengadakan retraksi hingga kepala anak menekan pada plasenta.
  • Plasenta tidak bertahan lagi oleh ketuban dan dapat mengikuti gerakan dinding rahim sehingga tidak terjadi pergeseran antara plasenta dan diding rahim.

-     Versi Broxton Hicks

Ialah tamponnade plasenta dengan bokong. Versi Broxton hicks biasanya dilakukan pada anak yang sudah mati. Mengingat bahanya, ialah robekan pada serviks dan pada segmen bawah rahim. Perasat ini sudah tidak mempunyai tempat di rumah sakit tapi dalam keadaan istimewa. Misalnya: kalau pasien berdarah banyak anak sudah meninggal dan kita kesulitan mendapatkan kesulitan memperoleh darah dan kamar operasi masih lama siapnya maka cara Broxton Hicks dapat dipertimbangkan. Syarat untuk melakukan versi Bvrioxtoin Hicks ialah pembukaan harus dapat dilalui oleh 2 jari (supaya dapat menurun kaki)

-     Dengan Cunam Willett :

Maksudnya tompannade plasenta dengan kepala. Kulit kepala anak dijepit dengan cunan willett dan dibagi dengan timbangan 500 gr

-     Seksio Sesarea

Tujuan melakukan sectio sesarea adalah untuk mempersingkat lamanya perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim.

Robekan pada serviks dan segmen bawah rahim mudah terjadi bila anak mengandung pemboluh darah.

Seksio sesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan previa lainnya jika perdarahan hebat.

Tindakan seksio sesarea pada plasent previa. Selain dapat mengurangi kematian bayi, terutama juga dilakukan untuk kepentungan ibu. Oleh karenma, seksio sesarea juga dilakukan pada plasenta previa walaupun anak sudah mati.

B. Solutio plasenta

Adalah lepasnya plasenta sebelum waktunya, plasenta itu secara normal terlepas setelah anak lahir, jadi plasenta terlepas sebelum waktunya apabila plasenta terlepas sebelum anak lahir.

Pelepasan plasenta sebelum munggu ke-22 disebut abortus dan jika terjadi pelepasan plasenta pada plasenta yang rendah implantasinya. Bukan disebut solusi plasenta, tetapi plasenta previa, jadi definisi lengkapnya adalah : solutio plasenta adalah lepasnya sebagian atau seluruh plasenta yang normal implantasinya di atas 22 minggu dan sebelum lahirnya anak.

Solusio plasenta dapat diklarifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik antara lain :

a.   Solusio plasenta ringan

  • Tanpa rasa sakit
  • Pendarahan kurang 100 cc
  • Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian
  • Figrinogen di atas 250 mg%

b.   Solusio plasenta sedang

  • Bagian janin masih teraba
  • Perdarahan antara 500 – 1000 cc
  • Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian

c.   Solusio plasenta berat

  • Abdomen nyeri palpasi janin sukar
  • Janin telah meninggal
  • Plasenta lepas di atas 2/3 bagian
  • Terjadi gangguan pembekuan

1.   Patofisiologi

Perdarahan terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada disesna, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. Peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Biasanya pendarahan akan berlangsung terus menerus karena otot interus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya, hematom retroplasenter akan bertambah besar sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus

2.   Tanda dan gejala

a.   Perdarahan disertai rasa sakit

b.   Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin

c.   Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat

d.   Abdomen menjadi tengang

e.   Perdarahan berwarna kehitaman

f.    Sakit perut terus menerus

Komplikasi

a.   Langsung :

-     Perdarahan

-     Infeksi

-     Emboli dan obstetrik syok.

b.   Komplikasi tidak langsung

-     Couvelaor uterus kontraksi tidak baik, menyebabkan pendarahan post partum

-     Adanya hipofibrinogemi dengan pendarahan post partum

-     Nekrosis korteks renalis, menyebabkan anarca dan uremia

-     Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofise dalan lain-lain

3.   Etiologi

Penyebab utama dari solusio plasenta, masih belum diketahui dengan jelas meskipun demikian, beberapa hal yang tersebut di bawah ini di duga merupakan faktor-faktor yang berpengaruh pada kejadiannya antara lain :

a.   Hipertensi esensialis atau preeklamsi

b.   Tali pusat yang pendek

c.   Trauma

d.   Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior

e. Uterus yang sangat mengecil (hidramnion pada waktu ketuban pecah, kegamilan ganda pad awaktu anak pertama lahir)

Disamping itu ada pengaruh dari :

a.   Umur lanjut

b.   Multiparitas

c.   Ketuban pecah sebelum waktunya

d.   Defisiensi asam folat

e.   Merokok, alkohol, kokain

f.    Mioma uteri

4.   Macam-macam perdarahan pada solutio placenta

1.   Perdarahan tersembunyi / perdarahan ke dalam

Adalah darah tidak keluar, tetapi berkumpul di belakang plasenta membentuk hematom retroplasenta dan kadang-kadang darah masuk ke dalam ruang amnion.

2.   Perdarahan keluar

3.   Perdarahan keluar dan tersembunyi

Dengan perdarahan tersembunyi Dengan perdarahan keluar
-   Pelepasan biasanya komplit

-   Sering disertai toxoemia

-   Hanya merupakan 20% dari solutio plasenta

-   Biasanya inkomplit

-   Jarang disertai toxaemia

-   Merupakan 80% dari solutio plasenta

5.  Penyulit Solutio Plasenta

A. Timbul dengan segera

*    Perdarahan dan syok

Diobati dengan pengosongan rahim secepat mungkin hingga dengan kontraksi dan retraksi rahim perdarahan dapat berhenti. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan ketuban dan pemberian infus dengan oksitosin. Jadi, pada solusio plasenta pemecahan ketuban tidak dimaksudkan untuk mengehntikan perdarahan dengan segera sepeti pada plasenta previa, tetapi untuk mempercepat persalinan. Dengan melakukan pemecahan ketuban, regangan dinding rahim berkurang dan kontraksi rahim menjadi lebih baik dan tindakan di atas, transfusi darah sangat penting untuk dilakukan.

B. Timbul agak lambat

*    Kelainan pembekuan darah karena hipfibrinogemi

Koagulopati ialah kelainan pembukuan darah, dalam ilmu kebidanan paling sering disebbabkan oleh solusio plasenta tetapi juga dijumpai pada emboli air tuban, kematian janin dalam rajim dan pendarahan pasca persalinan kadar febrinigen pada wanita hamil biasanya antara 300-700 mg dalam 100 cc, dibawah 150 mg/100 cc disebut hipfibriogenemi.

Jika kadar febrinogen dalam darah turun di bawha 100 mg per 100 cc (critical point) terjadilah pembekuan darah.

*    Golongan faal ginjal

Penderita solutio plasenta sering ada oliguri setelah partus. Gangguan faal ginjal ini adalah akibat


6.   Penatalaksanaan Solusio plasenta

A. Terapi konservatif

Prinsip:

Tunggu sampai perdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan. Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama, bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek. Sambil menunggu atau berikan.

1.   Morphin suntikan subkutan

2.   Stimulasi dengan kardiotonika seperti caramine cardizol pentosol;

3.   Transfusi darah

B. Terapi aktif

Prinsip

Melakukan tindakan dengan maksud anak segera dilahirkan dan perdarahan segera berhenti

Urut-urutan tindakan pada solusio plasenta

1.   Amniotomi (pemecahan ketuban) dan pemberian oksitosin dan diawasi serta dipimpin sampai partus spontan.

2.   Accouchement force : pelebaran dan peegangan serviks diikuti dengan pemasangan cunan cillet gauss atau broxton hicks

3.   Bila pembukaan lengkp atau hampir lengkap, kepala sudah turun sampai hodge III – IV

a.   Janin hidup : dilakukan ekstraksi vakum atau forceps

b.   Janin meninggal : dilakukan embriotomi

4.   Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan :

a.   Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil

b. Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak pembukaan masih kecil

c.   Solusio plasenta dengn panggul sempit

d.   Solutio plasenta dengan letak lintang

5.   Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan :

a.   Bila terjadi afibrinogenemia kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup

b.   Couve lair uterus dengan kontrksi uterus yang lebih baik

6.   Ligasi arteri hipgastrika bila pendarahan tidak terkontrol tetapi funsi reproduksi ingin diperhatikan

7.   Pada hipofibrinogenemia berikan dari vaskular clotting dan shock, dikatakan makin lama solutio plasenta berlangsung makin besar. Kemungkinan olguri dan hipofibrinogenaemi maka selain dari transfusi darah penyelesaian persalinan secepat mungkin adalah sangat penting.

C. Emboli Air ketuban

Syok yang berat sewaktu persalinan selain oleh plasenta previa dan solutio placenta dapat disebabkan pula oleh emboli air ketuban. Setelah ketuban pecah ada kemungkinan bahwa air ketuban masuk ke dalam vebna-vena tempat plasenta, endoserviks atau luka lainnya (seksio sesarea, luka rahim)

Air ketuban megandung lanugo, verniks kaseosa, dan mekanium yang dapat menimbulkan emboli, benda-benda halus ini menyumbat kapoler paru dan menimbulkan infark paru serta dilatasi jantung kanan.

Emboli air ketuban dapat menyebabkan kematian mendadak atau beberapa waktu sesudah persalian. Kemungkinan emboli ketuban terjadi jika ketuban :

1.   Ketuban sudah pecah

2.   His kuat

3.   Pembuluh darah yang terbuka (SC, ruptura uteri)

Gejala-gejala

Sesak nafas sekonyong-konyong, cyanosis, odema paru-paru shock dan relaksasi otot-otot rahim dengan perdarahan post partum. Shock terutama disebakan reaksi anaphylactis terhadap adanya bahan-bahan air ketuban dalam darah. Terutama emboli mekanium bersifat letak. Juga terjadi koagulopati karena disseminated intravascular clotting

Perbedaan antara solusio plasenta dan plasenta previa

Solusio Plasenta Plasenta previa
Perdarahan
  • Degan nyeri
  • Segera disusul partus
  • Keluar hanya sedikit
  • Tanpa nyeri
  • Berulang sebelum partus
  • Keluar banyak
Palpasi Bagian anak sukar ditentukan Bagian terendah masih tinggi
Bunyi jantung anak Biasanya tidak ada Biasanya jelas
Pemeriksaan dalam
  • Tidak teraba plasenta
  • Ketuban menonjol
Peraba jaringan plasenta
Cekungan plasenta Ada inpresi pada jaringan plasenta karena hematom Tidak ada
Selaput ketuban Robek normal Robek marginal

Asuhan Keperawatan

Pada pasien dengan perdarahan antepartum

1.   Data Subjektif

a.    Data umum

Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya

b.   Keluhan utama

Keluhan pasien pada saat masuk RS adala perdarahan pada kehamilan 20 minggu.

c.    Riwayat kesehatan masa lalu

d.   Riwayat kehamilan

-  haid terakhir

-  keluhan

-  imunisasi

e.    Riwayat keluarga

-  riwayat penyakit ringan

-  penaykit berat

Dukungan psikososial

-  dukungan keluarga

-  pandangan terhadap kehamilan

f.    riwayat persalinan

g.   riwayat menstruasi

-  haid pertama

-  sirkulasi haid

-  lamanya haid

-  banyaknya darah haid

-  nyeri

-  haid terakhir

h.   riwayat perkawinan

-  status perkawinan

-  kawin pertama

-  lama kawin


2.   Data objektif

Pemeriksaan fisik

1.   Umum

Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil

a.    Rambut dan kulit

-  Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra

-  Striae tau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha

-  Laju perumbuhan rambut berkurang

b.   Wajah

-  Mata : pucat, anemis

-  Hidung

-  Gigi mulut

c.    Letler

d.   Payudara

-  Peningkatan pigmentasi areola putting susu

-  Bertambahnya ukuran dan modular

e.    Jantung dan paru

-  Volume darah meningkat

-  Peningkatan frekuensi nadi

-  Terjadi hiperventilasi selama kehamilan

-  Peningkatan volme tidal, penurunan jalan nafas

-  Perubahan pernafasan abdomen menjadi perbafasan dada.

f.    Abdomen

Palpasi abdomen

-  Menentukan letak janin

-  Menentukan tinggi fundus uteri

g.   Vagina

-  Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan (tanda Chadwick)

h.   Sistem muskuluskeletal

-  Persediaan tulang pinggul yang mengendur

-  Gaya berjalan yang canggung

-  Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis- rectal

2.   Khusus

-  Tinggi fundus uteri

-  Posisi dan persentasi janin

-  Panggul dan janin lahir

-  Denyut jantung janin

3.   Pemeriksaan penunjang

-  Pemeriksaan inspekulo

-  Pemeriksaan radio isotopic

-  Ultra sonografi

-  Pemeriksaan dalam

Diagnosa Keperawatan

1.   Gangguan perfusi jaringan (plasenta) yang berhubungan dengan kehilangan darah

2.   Takut berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan diri dan bayinya.

Intervensi

1.   Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus, mencakup tanda-tanda vital, tanpa perdarahan, salura perkemihan, pelacakan pemantauan elektronik, tanda persalinan.

2.   Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarga.

3.   Pemberian cairan IV atau produk darah sesuai pesanan.

4.   Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan.

Evaluasi

1.   Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat, serta terapi mulai diberikan.

2.   Ibu dan bayi menjalani persalinan da kelahiran yang aman

BAB III

PENUTUP

3.1   Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu (perdarhan pada triwulan terakhir dari kehamilan).

3.2   Saran

Dunia tidakada masalah yang tidak bisa diselesaikan, jadi kita sebagai manusia tidak boleh menyerah dalam menyelesaikan masalahnya, karena dengan adanya masalah dan kita dapat menyelesaikannya. Itu merupakan awal dari keberhasilan dan kesuksesan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.