ASUHAN KEPERAWATAN PERILAKU KEKERASAN

OLEH : Winarno,SPd,S Kep,Ns

  1. Pengertian

Marah merupakan perasaan jengkel yang ditimbulkan sebagai respon terhadap kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman.

Perasaan marah normal bagi setiap individu, namun perilaku jengkel dimanifestasikan dalam perasaan marah. Banyak situasi kehidupan menimbulkan kemarahan, misalnya tidak terpenuhinya keinginan yang diharapkan, pelayanan perawatan terlambat, peran yang tidak dapat dilakukan, control diri yang diambil alih orang lain, fungsi tubuh terganggu dan lain sebagainya.

Pengungkapan kemarahan secara langsung dan konstruktif pada saat terjadi kemarahan akan melegakan individu, sebaliknya kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal.  Perilaku marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang respon adaptif dan maladapatif.

Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan melarikan diri atau respon melawan dan menantang. Respon melawan dan menantang merupakan repons yang maladaptif yaitu agresif – kekerasan.

Perilaku yang ditampakkan dimulai dari yang rendah sampai tinggi, yaitu :

Frustasi :   respons yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena tujuan yang tidak realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan. Dalam keadaan ini tidak ditemukan alternative lain. Selanjutnya individu merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan dan terlihat pasif

Agresif :   memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut, mendekati orang lain dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien masih dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain.

Kekerasan : sering juga disebut dengan gaduh gelisah atau amuk. Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi kata-kata ancaman melukai disertai melukai pada tingkat ringan, yang paling berat adalah melukai/merusak secara serius. Klien tidak mampu mengendalikan diri.

B. Proses Kemarahan

Stress, cemas dan marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stres dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan menimbulkan kemarahan.

C. Pengkajian

1. Predisposisi

a.  Psikologis

Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa anak-anak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sangsi penganiayaan.

b.  Perilaku

Kondisi lingkungan yang penuh kekerasan menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.

c.   Sosial budaya

Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif-agresif) dan kontrolsosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasaan diterima ( permisive)

d.   Bioneurologis

Ketidakseimbangan neurotransmiter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan

  1. 3. Presipitasi
    1. Klien sendiri : seperti kelemahan fisik, ketidakberdayaan, putus asa.

b.   Lingkungan   : padat, ribut  dan kritikan yang mengarah kepada penghinaan.

c.   Interaksi orang lain : Provokatif dan konflik

  1. 4. Tanda-gejala

–    muka merah

–        pandangan tajam

–        otot tegang

–        nada suara tinggi

–        berdebat

–        Memukul bila tidak senang

–        Memaksakan kehendak.

5.      Diagnosa/masalah keperawatan

  1. Perilaku kekerasan
  2. Resiko mencederai
  3. Gangguan harga diri : harga diri rendah

6.      Perencanaan

1. Tujuan Umum

Klien dapat mengendalikan diri dari perilaku kekerasan dan mencederai diri

2. Tujuan Khusus

  1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
  2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku marah
  3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
  4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
  5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasaan
  6. Klien dapat mendefinisikan cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

3. Rencana tindakan

  1. Rencana tidakan kepada klien
    1. Manajemen perilaku kekerasan ( lihat pada lampiran )
    2. Menajemen Krisis saat terjadi perilaku kekerasan (lihat pada lampiran)
    3. Rencana tindakan kepada keluarga
      1. Kontrak dengan keluarga
      2. Identifikasi masalah keluarga
      3. Informasi tentang perilaku kekerasan klien
      4. Informasi tentang cara merawat klien perilaku kekerasan
      5. Penerapan cara merawat klien selama di RS
      6. Penerapan perawatan di Rumah
      7. Monitor perilaku kekerasan
      8. Evaluasi jadwal kegiatan dirumah.

7.      Pelaksanaan

Disesuaikan dengan rencana tindakan

B.     Evaluasi

Klien dapat mengendalikan perilaku kekerasan dan tidak mencederai diri

Referensi

Budi Ana keliat, Marah akibat penyakit yang diderita, penerbit EGC, Jakarta, 1996

Budi Ana keliat, Asuhan keperawatan perilaku kekerasan, penerbit RS dr. Rajiman Widiodiningrat Lawang ( Makalah pelatihan nasional askep jiwa dan komunikasi terapeutik)