Makanan Seimbang untuk Diabetesi

Penyakit diabetes atau kencing manis hingga kini belum dapat disembuhkan, tapi dapat dikendalikan. Cara yang antara lain harus ditempuh adalah mengatur menu seimbang.

Gaya hidup tidak sehat serta pola makan yang sembarangan kerap menimbulkan berbagai penyakit. Selain obesitas atau masalah kegemukan, berbagai penyakit juga bisa timbul, salah satunya adalah penyakit diabetes mellitus (DM).

DM, seperti dinyatakan Dr. Aris Wibudi, Sp.PD., spesialis penyakit dalam dari RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, merupakan sindrom yang ditandai dengan adanya hiperglikemi kronis atau meningkatnya kadar gula dalam darah secara terus menerus. Selain itu, terjadinya DM juga ditandai dengan adanya gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang berkaitan dengan kurangnya jumlah atau kerja insulin secara relatif maupun absolut.

Normalnya, kadar gula dalam darah adalah 110 mg/dl (gula darah puasa) dan 140 mg/dl (gula darah sewaktu). Namun, pada penderita DM, kadar gula darah puasanya lebih dari 126 mg/dl dan gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dl.

Tinggi Karbohidrat

Terjadinya DM umumnya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Menjamurnya restoran cepat saji dan kurangnya aktivitas fisik merupakan beberapa faktor yang memicu terjadinya DM.

Makanan yang terdapat pada restoran cepat saji biasanya tinggi karbohidrat dan lemak. Bila kebiasaan ini berlanjut terus tanpa diantisipasi sejak dini, lemak akan banyak tertimbun dalam tubuh.
Belum lagi saat ini banyak orang jarang melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Contoh mudahnya, kebanyakan orang lebih senang menunggu lift untuk naik ke lantai 2 dari lantai dasar, daripada harus naik tangga. Padahal, hal ini membuat tubuh jadi manja. Akibatnya, timbul kegemukan atau obesitas yang menjadi salah satu pemicu DM.

Biasanya jenis DM pada orang dengan kondisi tersebut adalah Tipe 2, ketika tubuh mengalami resistensi insulin. Hal ini diakibatkan tubuh terlalu banyak dibebani karbohidrat, sehingga harus mengeluarkan insulin lebih tinggi supaya bisa mengambilnya. Akibatnya, gula darah akan tinggi.
Umumnya DM Tipe 2 tidak membutuhkan suntikan insulin dari luar. Berbeda dengan DM Tipe 1, yang mutlak menggunakan insulin akibat terjadi gangguan autoimun pada pankreas, sehingga tubuh tidak dapat membuat insulin sendiri.

Meski tidak bisa disembuhkan, DM bisa dikendalikan. Menurut Kartini Sukarji, MCH, dari Pusat Diabetes dan Lipid Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penderita DM tidak perlu bersedih karena sebenarnya mereka sama dengan orang sehat.

Makanan yang diperlukan mereka dan orang sehat adalah yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori. Yang perlu diperhatikan adalah keteraturan waktu dan keanekaragaman makanan.

Makanan Seimbang

Komposisi makanan yang dianjurkan untuk diabetesi adalah 10-15 persen protein, 20-25 persen lemak, dan 60-70 persen karbohidrat. “Hindari karbohidrat sederhana seperti sirup, kue, dan makanan manis lainnya. Makanlah karbohidrat kompleks seperti nasi,” kata Kartini.

Penderita DM tetap dianjurkan menghindari gula. Menurut American Diabetes Association, gula mengandung kalori dan zat-zat yang tidak bermanfaat, sehingga menyebabkan kegemukan dan karies pada gigi. Sedikit mengonsumsi gula dan bumbu tidak dilarang.

Konsumsi gula yang dianjurkan adalah lima persen dari total kalori atau sekitar tiga sendok makan sehari. “Pada penderita diabetes, satu sendok makan gula dapat menggantikan misalnya sebuah pisang,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan untuk memasukkan serat dalam menu harian. Serat berguna untuk mengendalikan nafsu makan karena membuat perut terisi, sehingga merasa kenyang. Serat berkhasiat untuk diabetesi karena jenis serat larut seperti oat bran, apel, jeruk, serta kacang-kacangan bisa menurunkan glukosa darah.

Penderita DM juga disarankan juga untuk membatasi lemak, minyak, dan santan. Sebab, mereka berisiko tinggi untuk terkena penyakit jantung dan pembuluh darah.

Pemeriksaan ABBA

Melakukan deteksi dini, pengobatan, maupun pengendalian secara ketat memang dapat mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Fakta menunjukkan bahwa komplikasi bagi penderita dibandingkan dengan non-DM lebih tinggi. Misalnya untuk penyakit jantung koroner 2-4 kali, stroke 2-5 kali, gangren 5 kali, gagal ginjal 7 kali, dan kebutaan 25 kali lebih tinggi.

Pemeriksaan gula darah serta tensi secara berkala rasanya sudah sering dilakukan. Untuk gula darah saja, setidaknya mulai tes gula darah puasa, gula darah sewaktu, serta gula darah dua jam setelah makan, pasti dilakukan. Hanya saja, pemeriksaan pada diabetesi rupanya tidak terlalu mencerminkan hasil yang akurat.

“Sebab, beberapa hari sebelum pemeriksaan ia akan minum obat teratur dan olahraga dengan giat. Nah, waktu kontrol gula darah, hasilnya bagus. Tapi, sebenarnya hal ini tidak sesuai dengan kenyataan,” ungkap Dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KE, DTM&H, konsulen Diabetes dan Endokrinologi dari RSCM Jakarta.

Itu sebabnya kemudian Dr. Sidartawan, yang juga menjabat sebagai ketua Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB Perkeni), lantas menyarankan para diabetesi untuk melakukan pemeriksaan HbA1C atau biasa disebut A1C. Pemeriksaan tersebut, yang merupakan tes glikohemoglobin, lebih mencerminkan kadar glukosa rata-rata selama 2-3 bulan, hingga kemudian ada sebutan ABBA, yaitu A1C, blood glucose (gula darah), blood pressure (tekanan darah), dan albuminuria.

Metode pemeriksaan menggunakan A1C ini sebenarnya sudah lama ada, tapi belum populer dan tersosialisasi dengan baik di kalangan diabetesi. Pemeriksaan yang populer adalah gula darah, baik gula darah puasa, gula darah dua jam setelah makan, dan gula darah sewaktu.
“Tapi, harganya masih cukup mahal,” ucap Dr. James Hajadi, Head of Medical & Regulatory Aventis Pharma.

Namun, nilai yang keluar dari hasil tes A1C ini jauh lebih akurat daripada pemeriksaan gula darah biasa. Hal ini setidaknya bisa dibandingkan antara kadar gula darah lewat pemeriksaan biasa dengan A1C. Dalam pemeriksaan gula darah biasa nilainya bisa bagus, meskipun beberapa minggu sebelumnya diabetesi tidak melakukan diet ataupun minum obat secara teratur.

Hal itu bisa terjadi karena biasanya begitu akan dilakukan pemeriksaan, katakanlah seminggu sebelumnya, mereka giat melakukan diet, minum obat, dan berolahraga. Tidak heran, begitu pemeriksaan dilakukan, hasilnya bagus.

Sayangnya, ini bukan nilai sebenarnya melainkan hanya mencerminkan nilai saat itu saja. Sebab, begitu diperiksa A1C-nya, hasilnya akan tetap jelek.
“Karena itu, bagi orang yang gulanya tidak terkontrol, sebaiknya periksa A1C setiap dua bulan sekali. Jadi ketahuan kalau A1C-nya jelek artinya memang jelek,” kata Dr. Sidartawan.

Baca juga yang lainnya :