Archives for posts with tag: Makalah

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubungan dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat. Keadaan gawat ini dapat terjadi apabila kehamilan ektipok terganggu.

Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa yang dapat di hadapi oleh setiap dokter , karena sangat beragamnya gambaran klinik kehamilan ektopik terganggu itu. Tidak jarang yang menghadapi penderita untuk pertama kali adalah dokter umum atau dokter ahli lainnya, maka dari itu, perlu di ketahui oleh setiap dokter klinik kehamilan ektopik tergangguserta diagnosis difernsialnya. Hal yang perlu diingat ialah, bahwa setiap pada setiap wanita dalam masa reproduksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu di fikirkan kehamilan ektopik terganggu

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi sipenderita. (Sarwono Prawiroharjho, Ilmu Kebidanan, 2005)

B. Batasan Masalah

Batasan makalah yang kami pakai dalam makalah ini adalah tentang

” Kehamilan Ektopik Terganggu ”

C. Tujuan

  1. Agar mahasiswi dapat mengetahui dan memahami tanda dan gejala kehamilan ektopik
  2. Dapat mengetahui cara-cara penanganan kehamilan ektopik.
  3. Untuk mengatahui sebab dan faktor pencetusnya.

D. Manfaat

Sebagai bacaan bagi mahasiswi agar dapat menambah pengetahuan mengenai kehamilan ektopik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.   KONSEP DASAR PENYAKIT

1.    Pengertian

Kehamilan Ektopik Terganggu adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium (Mansjoer A, 2000 ; 267).

Kehamiian Ektopik Terganggu adalah kehamilan yang terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri (Prawiroharjo S, 2002 ; 323).

Kehamiian Ektopik Terganggu adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi di luar endometrium kavum uteri (Prawiroharjo S, 1999, ; 1J2).

Kehamilan Ektopik Terganggu adalah kehamilan yang terjadi di luar rongga rahim (kavum uteri) (www.indosiar.com/idh)

2.    Etiologi

Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki,tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. faktor-faktor yang memegang peranan dalam hal ini ialah sebagai berikut :

  1. Faktor tuba, yaitu salpingitis,perlekatan tuba,kelainan konginetal tuba,pembedahan sebelumnya,endometriosis,tumor yang mengubah bentuk tuba dan kehamilan ektopik sebelumnya.
  2. Kelainan zigot,yaitu kelainan kromosomdan malformasi.
  3. Faktor ovarium,yaitu migrasi luar ovum dan pembasaran ovarium.
  4. Penggunaan hormone eksogen.
  5. Faktor lain,antara lain aborsi tuba dan pemakaian IUD
    ( Dr.Rustam Mochtar, sinopsis Obstetri, 2000).

3.    Gejala Minis

a. Amenore

b. Gejala kehamilan muda

c.  Nyeri perut bagian bawah, pada ruptur tuba nyeri terjadi tiba-tiba dan hebat, menyebabkan penderita pingsan sampai shock. Pada Abortus tuba nyeri mula-mula pada satu sisi, menjalar ke tempat lain. Bila darah sampai diafragma bisa menyebabkan nyeri bahu dan bila terjadi hematokel retrouterina terdapat nyeri defekasi,

d.  Perdarahan pervapina berwarna cokelat tua.

e.  Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digerakkan, nyeri pada perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada bekuan darah (Mansjoer A, 2000 ; 267).

4.    Patofisiologi

Proses Implantsi ovum yang dibuahi

Pembuahan telur diampula tuba

Kurangnya volume

cairan

Perjalanan ke uterus telur

mengalami hambatan

Nyeri                        Bernidasi di tuba                       Perdarahan pervagina

Kehamilan Ektopik

Resiko terjadi infeksi

Post Operasi

Nyeri                                       Gangguan Mobilisasi Fisik

5.    Pemeriksaan Penunjang

a.  Pemeriksaan laboratorium

1)    Pemeriksaan darah lengkap

2)    Pemeriksaan kadar hormon progesteron

3)    Pemeriksaan kadar HCG serum

4)    Pemeriksaan golongan darah

b.  Kuldosentesis (Pengambilan cairan peritoneal dari ekstra vasio rektou terina (ruang Douglas), melalui tindakan pungsi melalui dinding vagina).

c.  Ultrasonografi (USG)

6.    Diagnosa Banding

a.  Usus buntu ( Apendisitis akut )

b.  Peradangan daerah panggul (www.klinikku.com/idh)

7.    Prognosis

Penderita kehamilan ektopik mempunyai kemungkinan yang lebih besar, untuk mengalami kehamilan ektopik kembali. Selain itu kemungkinan untuk mengalami kehamilan akan menurun.

8.    Komplikasi

Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya mudigah. Misalnya bila terjadi kehamilan tuba, komplikasi yang sering adalah pecahnya tuba falopii (www.klinikku.com/idh)

B.   TINJAUAN KEPERAWATAN

1.    Pengkajian

a.    Biodata

1)    Nama Sebagai identitas bagi pelayanan kesehatan/Rumah Sakit/ Klinik atau catat apakah klien pernah dirawat disini atau tidak.

2)    Umur

Digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan terapi dan tindakan, juga sebagai acuan pada umur berapa penyakit/kelainan tersebut terjadi. Pada keterangan sering terjadi pada usia produktif 25 – 45 tahun (Prawiroharjo S, 1999 ; 251).

3)    Alamat

Sebagai gambaran tentang lingkungan tempat tinggal klien apakah dekat atau jauh dari pelayanan kesehatan khususnya dalam pemeriksaan kehamilan.

4)    Pendidikan.

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga akan memudahkan dalam pemberian penjelasan dan pengetahuan tentang gejala / keluhan selama di rumah atau Rumah Sakit.

5)    Status Perkawinan

Dengan status perkawinan mengetahui berapa kali klien mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan

6)    Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual klien sehingga memudahkan dalam memberikan bimbingan keagamaan.

7)    Nama Suami

Agar diketaui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan pemberian persetujuan dalam perawatan.

8)    Pekerjaan

Untuk mengetahui keadaan aktivitas sehari-hari dari klien, sehingga memungkinkan menjadi faktor resiko terjadinya KET.

b.    Keluhan Utama

Nyeri hebat pada perut bagian bawah dan disertai dengan perdarahan selain itu klien ammeorrhoe.

c.    Riwayat Penyakit Sekarang

Awalnya wanita mengalami ammenorrhoe beberapa minggu kemudian disusul dengan adanya nyeri hebat seperti disayat-sayat pada mulanya nyeri hanya satu sisi ke sisi berikutnya disertai adanya perdarahan pervagina :

1)    Kadang disertai muntah

2)    Keadaan umum klien lemah dan adanya shock

3)    Terkumpulnya darah di rongga perut:

a)    Menegakkan dinding perut                 Nyeri

b)    Dapat juga menyebabkan nyeri hebat sehingga klien pingsan

4)    Perdarahan           terus menerus             kemungkinan terjadi shock hipovolemik.

d.    Riwayat Penyakit Masa lalu

1)    Mencari faktor pencetus misalnya adanya riwayat endomatritis, addresitis                 menyebabkan perlengkapan endosalping.

Tuba menyempit / membantu.

2)    Endometritis             endometritis tidak baik bagian nidasi.

e.    Status Obstetri Genekologi

1)    Usia perkawinan

Sering terjadi pada usia produktif 25 – 45 tahun, berdampak bagi psikososial, terutama keluarga yang masih mengharapkan anak.

2)    Riwayat persalinan yang lalu.

Apakah klien melakukan proses persalinan di petugas kesehatan atau di dukun

3)    Grade multi.

4)    Abortus yang sering                  curettage yang sering.

5)    Riwayat penggunaan alat kontrasepsi.

Seperti penggunaan IUD

6)    Adanya keluhan haid, keluarnya darah haid dan bau yang menyengat. Kemungkinan adanya infeksi.

f.     Riwayat kesehatan keluarga

1)    Hal yang perlu dikaji            kondisi kesehatan suami

2)    Suami mengalami infeksi system urogenetalia, dapat menular pada istri dan dapat mengakibatkan infeksi pada celvix.

g.    Riwayat psikososial

Tindakan salpingektomi menyebabkan infertile. Mengalami gangguan konsep diri, selain itu menyebabkan kekhawatiran atau ketakutan.

h.    Pada kebiasaan sehari-hari

Pola aktivitas sehari-hari yang perlu dikaji pada kehamilan ektopik adalah :

1)    Pola Nutrisi

Pada rupture tube keluhan yang paling menonjol selain nyeri adalah Nausea dan vomiting karena banyaknya darah yang terkumpul di rongga abdomen

2)    Eliminasi

Pada BAB klien ini dapat menimbulkan resiko terhadap konstipasi itu diakibatkan karena penurunan peristaltik usus, imobilisasi, obat nyeri, adanya intake makanan dan cairan yang kurang. Sehingga tidak ada rangsangan dalam pengeluaran faeces.

Pada BAK klien mengalami output urine yang menurun < 1500 ml/hr, karena intake makanan dan cairan yang kurang.

3)    Personal Hygiene

Luka operasi dapat mengakibatkan pembatasan gerak, takut untuk melakukan aktivitas karena adanya kemungkinan timbul nyeri, sehingga dalam personal hygiene tergantung pada orang lain.

4)    Pola Aktivitas (istirahat tidur)

Terjadi gangguan istirahat, nyeri pada saat infeksi/defekasi akibat hematikei retropertonial          menumpuk pada cavum Douglas

i.     Pemeriksaan Fisik

1)    Keadaan Umum

Tergantung banyaknya darah yang keluar dan tuba, keadaan umum ialah kurang lebih normal sampai gawat dengan shock berat dan anemi (Prawiroharjo, 1999 ; 255).

2)    Pemeriksaan kepala dan leher

Muka dan mata pucat, conjungtiva anemis (Prawiroharjo, 1999 ; 155)

3)    Pemeriksaan leher dan thorax

a)    Tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu tidak dapat diidentifikasikan melalui leher dan thorax

b)    Payudara pada KET, biasanya mengalami perubahan.

4)    Pemeriksaan Abdomen

Pada abortus tuba terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah disisi uterus, dan pada pemeriksaan luar atau pemeriksaan bimanual ditemukan tumor yang tidak begitu padat, nyeri tekan dan dengan batas-batas yang tidak rata disamping uterus.

Hematokel retrouterina dapat ditemukan. Pada repture tuba perut menegang dan nyeri tekan, dan dapat ditemukan cairan bebas dalam rongga peritoneum. Kavum Douglas menonjol karena darah yang berkumpul ditempat tersebut baik pada abortus tuba maupun pada rupture tuba gerakan pada serviks nyeri sekali (Prawiroharjo S, 1999, hal 257).

5)    Pemeriksaan Genetalia

a)    Sebelum dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaan genetalia eksterna dapat ditemukan adanya perdarahan pervagina. Perdarahan dari uterus biasanya sedikit- sedikit, berwarna merah kehitaman.

b) Setelah dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaan genetalia dapat ditemukan adanya darah yang keluar sedikit.

6)    Pemeriksaan Ekstrimitas

Pada ekstrimitas atas dan bawah biasanya ditemukan adanya akral dingin akibat syok serta tanda-tanda cyanosis perifer pada tangan dan kaki

j.     Pemeriksaan Penunjang

1)    Pemeriksaan umum Penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan pada jenis tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan.

2)    Pemeriksaan Genekologi

Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebakan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nnyeri raba merunjukkan adanya hematokel retrouterina, suhu kadang-kadang naik, sehingga menyukarkan perbedaaan dengan infeksi serviks.

3)    Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakkan diagnosisi kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus jenis tidak mendadak biasanya ditemukan anemia, tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam (Prawiroharjo S, 2002 ; 330).

2.    Analisa Data

Analisa data adalah kemampuan menggabungkan data dan mengkaitkan data tersebut dengan konsep yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan.

Dalam analisa data ini pengelompokan data dilakukan berdasarkan reaksi baik subyektif maupun obyektif yang digunakan untuk menentukan masalah dan kemungkinan penyebab.

3.    Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).

Diagnosa yang mungklin timbul pada kehamilan ektopik terganggu adalah sebagai berikut :

a.    Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan.

Rasional :      Adanya darah yang keluar dari vagina dan perdarahan intra abdominal dapat mengakibatkan kurangnya cairan tubuh.

b.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupture tuba atau robekan lapisan pelvis.

Rasinal :        Adanya pemutusan jaringan dalam tubuh akan menimbulkan rangsangan saraf meningkat sehingga timbul rasa nyeri yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman pada klien.

c.    Porensial shock berhubungan dengan perdarahan yang hebat

Rasional :      Rupture tuba mengakibatkan terjadinya perdarahan yang banyak sehingga volume darah dalam tubuh berkurang. Adanya darah kurang dapat terjadi penurunan cardiac output sehingga menimbulkan.

d.    Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.

Rasional:    Setiap orang berbeda pandangan dalam menghadapi tindakan pembedahan yang akan dilaksanakan sehingga responnya berbeda pula, cemas merupakan respon emosi klien adalah kejadian normal ketika klien dihadapkan pada hal yang asing baginya.

4.    Perencanaan

Perencanaan merupakan bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan penetapan pencegahan masalah dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah klien (Hidayat A. Azis Alimul, 2001 ; 30).

Rencana keperawatan pada klien kehamilan ektopik terganggu adalah sebagai berikut :

a.    Gangguan pemebuhan kebutuhan cairan tubuh sehubungan dengan perdarahan.

Tujuan                    :    Perdarahan terhenti

Kriteria evaluasi     :    Tidak ada tanda-tanda shock

Intervensi               :

1)    Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)

Rasional   :    Untuk mengetahui adanya gejala shock.

2)    Cek Hemoglobin

Rasional   :    Mengetahui adanya enemi atau tidak

3)    Anjurkan klien untuk banyak minum

Rasional :      Dengan banyak minum maka dapat membantu mengganti cairan tubuh yang hilang.

4)    Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian tranfusi darah

Rasional   :    Untuk mengganti perdarahan yang banyak keluar.

b.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya tuba atau robekan lapisan pelvis.

Tujuan                    :    Nyeri berkurang sampai hilang

Kriteria evaluasi     :    Ekspresi wajah klien tidak menyeringai menahan nyeri

Intervensi

1)    Kaji tingkat nyeri klien

Rasional   :    Untuk mengetahui tingkat nyeri klien dar mengetahui tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

2)    Kaji durasi, lokasi, frekuensi, jenis nyeri (akut, kronik, mendadak, terus – menerus)

Rasional :      Dengan mengetahui hal tersebut diatas dapat mengetahui tingkat dan jenis nyeri sehingga mempermudah intervensi selanjutnya.

3)    Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien.

Rasional   :    Dengan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien akan dapat mengurangi rasa nyeri klien, karena lingkungan yang tidak menambah persepsi nyeri klien.

4)    Anjurkan tehnik relaksasi, distraksi

Rasional :      Dengan mengajarkan tehnik relaksasi, distraksi dapat meringankan nyeri.

5)    Kompres Dingin

Rasional : Dengan memberikan kompres dingin akan memberikan rasa nyaman pada klien sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.

6)    Berikan support system

Rasional   :    Dengan memberikan support system agar ibu dapat mengerti tentang perubahan bentuk tubuhnya yang cepat karena ada kelainan pada tubuhnya sehingga ibu dapat tenang pada saat dilakukan tindakan.

7)    Lakukan massage pada klien

Rasional   :    Dengan melakukan massage akan memberikan rasa nyaman pada ibu.

8)    Atur posisi yang nyaman bagi klien

Rasional :      Dengan mengatur posisi yang nyaman bagi klien akan mengurangi rasa nyeri

9)    Kolaborasi dengan tim medis

Rasional   :    Berkolaborasi akan membantu di dalam memberikan terapi analgesic.

c.    Potensial Shock sehubungan dengan perdarahan yang hebat

Tujuan                    :    Perdarahan berhenti

Kriteria evaluasi     :    Hb klien normal ( 11 – 13 ) gr %

Intervensi

1)    Monitor tanda – tanda vital

Rasional : Monitor tanda-tanda vital akan mengetahui keadaan dan perkembangan klien.

2)    Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)

Rasional   :    Mengkaji perdarahan, jumlah, warna, gumpalan akan mengetahui gejala-gejala shock.

3)    Cek Hemoglobin

Rasional   :    Cek Hb akan mengetahui keadaan Hb klien.

4)    Pasang infus

Rasional   :    Memberikan infus akan menggantikan cairan yang keluar.

5)    Lakukan pemeriksaan rhesus golongan darah

Rasional   :    Pemeriksaan tersebut memudahkan melakukan transfusi

6)    Berikan transfusi darah

Rasional   :    Memberikan transfusi darah akan menggantikan banyaknya darah yang keluar

7)    Observasi tanda-tanda shock

Rasional   :    Mengobservasi tanda-tanda shock akan dapat segera mengetahui adanya kemungkinan shock.

d.    Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam

Tujuan                    :    Rasa cemas klien hilang

Kriteria evaluasi     .    Klien       dapat   mengungkapkan          perasaannya secara terbuka

Intervensi :

1)    Kaji tingkat kecemasan

Rasional :      Mengetahui tingkat kecemasan akan mengetahui tingkat cemas klien.

2)    Kaji tingkat pengetahuan klien

Rasional :      Mengkaji tingkat pengetahuan klien akan dapat mengetahui latar belakang kehidupan klien.

3)    Ajak klien untuk lebih terbuka

Rasional   :    Sikap terbuka akan mudah mengungkap masalah yang dihadapi klien yang dapat membantu penyembuhan.

4)    Berikan penjelasan tentang proses penyakit yang sedang diderita.

Rasional   :    Memberikan penjelasan pada klien akan membantu menenangkan jiwa klien.

5)    Anjurkan pada keluarga untuk memberikan support system.

Rasional : Memberikan support sistem akan membantu memberikan semangat bagi klien.

5.    Pelaksanaan

Pelaksanaan merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Iyar et. al., 1996).

Dari pernyataan diatas dapat diungkapkan bahwa pelaksanaan realisasi dari rencana asuhan keperawatan yang telah disusun. Dalam pelaksanaan ini harus disesuaikan dengan sumber data, sarana dan prasarana yang ada. Partisipasi dari klien dan keluarganya sangat diperlukan dalam pelaksanaan ini serta peran dan fungsi perawatan harus dapat dijalankan dengan komprehensif, selain itu perawat juga berkolaborasi dengan anggota tim kesehatan yang lain.

6.    Evaluasi

Evaluasi adalah sebagai sesuatu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematik pada status kesehatan klien (Nursalam, 2001 ; 71).

Yang dimaksud tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai kriteria yang ditetapkan. Tujuan tercapai sebagian bila klien hanya menunjukkan perubahan sebagian dari kriteria yang ditetapkan. Sedang tujuan tidak tercapai jika klien tidak menunjukkan perubahan / kemajuan sama sekali. Adapun untuk mengetahui itu berhasil / tidak dapat menggunakan metode dengan catatan perkembangan (Subyektif data, obyektif data, Analisa data, plan / SOAP).

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavun uteri.hamil ini ditandai dengan amenore,gejala kehamilan muda dan perdarahan yang berwarna cokelat dan pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digoyangkan,nyeri pada perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada pembekuan darah.pada kasus seperti ini perlu segera ditangani dan di ambil tindakan.

B. SARAN

1. Diharapkan kepada kita semua tenega kesehatan apabila merasakan dan mengetahui gejala seperti yang telah di jelaskan / dituliskan oleh pembuat makalah ini agar segera menanganinya dengan cepat jangan di tunda karena dapat menimbulkan resiko tinggi.
2. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Iklan

1.1  Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopyctus. Faktor – faktor  yang mempengaruhi kejadian Demam Berdarah Dengue sangat kompleks, antara lain iklim dan pergantian musim, kepadatan penduduk, mobilitas penduduk dan transportasi. Sebaran nyamuk penular demam berdarah dengue, kebersihan lingkungan yang tidak memadai serta factor keganasan virusnya. Berdasarkan kejadian dilapangan dapat diidentifikasikan factor utama adalah kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal. Sehingga terjadi genangan air yang menyebabkan berkembangnya nyamuk (Dinkom,2007). Insiden dan prevalensi penyakit Demam Berdarah Dengue menimbulkan kerugian pada individu, keluarga dan masyarakat. Kerugian ini berbentuk kematian, penderitaan, kesakitan, dan hilangnya waktu produktif (Indra,2003).

Penyakit demam berdarah dengue menjadi momok tiap tahun. Insiden di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989-1995) dan pernah meningkat tajam saat Kejasian Luar Biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998(IPD,2007), hingga medio 2005 masih ada daerah berstatus Kejadian Luar Biasa, sampai mei tahun 2005 di seluruh Indonesia tercatat 28.224 kasus dengan jumlah kematian 348 orang, hingga awal oktober 2005 kasus demam berdarah dengue di 33 propinsi tercatat 50.196 kasus dengan 701 diantaranya meninggal. Dari data di atas menunjukkan peningkatan hampir 2 kali lipat dari mei hingga awal oktober 2005(Sisilia,2005). Beerdasarkan data dari Dinkes Jawa Timur hingga 20 oktober 2005 sebanyak 8.619 kasus dari jumlah tersebut meninggal 131 orang dan pada tahun 2006 ada 20.420 penderita dan menyebabkan kematian 233 jiwa, pada tahun 2007 sampai juli yakni 102.175 penderita dengan kematian 1.098 jiwa (Dinkom,2007). Dari hasil studi pendahuluan data yang diperoleh dari dinas kesehatan banyuwangi dari tahun 2005 sampai 2007 mangalami peningkatan yaitu 596 kasus pada tahun 2005, 677 kasus pasda tahun 2006 dan 788 kasus pada tahun 2007, sedangkan pada tahun 2008 mengalami penurunan kasus Demam Berdrah Dengue yaitu 581 kasus (Dinkes Kab. BWI,2008). Dan dari data yang diperoleh dari puskesmas Gitik  tahun 2005 sampai 2007 juga mengalami peningkatan yaitu 35 kasus pada tahun 2005, 55 kasus pada tahun 2006 dan 66 kasus pada tahun 2007 sedangkan pada tahun 2008 jumlah penderita Demam Berdarah Dengue mencapai 43 kasus (Dinkes Kab. BWI,2008).

Demam berdarah merupakan penyakit yang bisa mewabah. Usaha untuk mengatasi masalah penyakit tersebut di Indonesia telah puluhan tahun dilakukan, berbagai upaya pemberantasan vector, tetapi hasilnya belum optimal. Secara teoritis ada 4 cara untuk memutuskan rantai penularan demam berdarah dengue, yaitu: melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk dan pengendalian vector. Untuk pengendalian vector dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara kimia dan pengelolaan lingkungan , salah satunya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk. Pengendalian vector dengan cara kimia hanya membebankan perlindungan terhadap pindahnya penyakit yang bersifat sementara dan dilakukan hanya apabila terjadi letusan wabah. Cara ini memerlukan dana yang tidak sedikit serta mempunyai dampak negative terhadap lingkungan. Untuk itu diperlukan cara lain yang tidak menggunakan bahan kimia diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat untuk pengendalian vector dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (Indra, 2003). Keberhasilan pemberantas nyamuk aedes aegypti tidak lepas dari peran petugas kesehatan atau perawat yaitu memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang demam berdarah dengue secara intensif.

Upaya pemberantasan dan pencegahan yang dilakukan Puskesmas Gitik yaitu yang pertama dengan penyuluhan , penyuluhan yang dilakukan melalui rapat koordinasi desa dan kecamatan, selain itu penyuluhan dilakukan dari rumah kerumah oleh petugas kesehatan. Kedua dengan abatesasi yaitu pemberian abate kepada seluruh masyarakat. Ketiga denggan fogging atau pengasapan sebagai alternative terakhir untuk pemberantasan nyamuk dewasa yang telah mengandung virus dengue. Dengan latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitian guna mengetahui “ Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Angka Bebas Jentik Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008”.

1.2  Rumusan Masalah

Adakah Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Bedarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008?

1.3  Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Diketahuinya Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Bedarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008.

1.3.2 Tujuan Khusus

a)      Mengidentifikasi Pemberantasan Sarang Nyamuk(3M Plus)

b)      Mengidentifikasi Keadaan Bebas Jentik Demam Berdarah Dengue.

c)      Mengidentifikasi Adakah Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Bedarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Gitik Tahun 2008.

1.4  Manfaat Penelitian

a)      Teoritis

Menberikan wacana ilmiah bagi masyarakat tentang Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus) dengan Keadaan Bebas Jentik Demam Berdarah Dengue.

b)      Praktis

Dengan dilaksanakannya penelitian ini di harapkan masyarakat dapat meningkatkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) secara rutin seminggu sekali secara optimal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemberantasan Sarang Nyamuk

2.1.1 Pengertian

Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue adalah kegiatan mamberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular Demam Berdarah Dengue (Aedes Aegypti) di tempat – tempat perkembengbiakannya.(Depkes,RI,2005)

2.1.2 Tujuan PSN DBD

Mengendalikan populsi nyamuk aedes aegypti, sehingga penularan DBD  dapat dicegah atau dikurangi.(Depkes,RI,2005)

2.1.3 Sasaran PSN DBD

Sasaran pemberantasan sarang nyamuk DBD yaitu semua tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, antara lain:

  • Tempat penampunga air (TPA) untuk keperluan sehari – hari.
  • Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari – hari.
  • Tempat penampung air alamiah. (Depkes,RI,2005)

2.14 Ukuran keberhasilan PSN DBD

Keberhasailan kegiatan PSN DBD antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan 95 % di harapkan penularan DBD dapat di cegah atau di kurangi.(Depkes RI, 2005).

2.1.5 Cara PSN DBD

PSN DBD dilakukan dengan cara ‘3M’ , yaitu :

  • Menguras dan menyikat tempat – tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc, drum, dll seminggu sekali (M1).
  • Menutup rapat – rapat tempat penampungan air, seperti gentong air/tempayan, dll (M2).
  • Mengubur dan menyingkirkan barang – barang bekas yang dapat menampung air hujan (M3).

Selain itu ditambah dengan cara lainnya, seperti:

  • Mengganti air vas bunga, tempat minim burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancer/rusak.
  • Menutup lubang – lubang pada potongan bambu /pohon, dll.
  • Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat – tempat yang sulit di kuras atau di daerah yang sulit air.
  • Memelihara ikan pemakan jentik di kolam / bak – bak penampung air.
  • Memasang kawat kasa.
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar.
  • Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai.
  • Menggunakan kelambu.
  • Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

Keseluruhan cara tersebut di atas di kenal dengan istilah  “3M Plus”.(Depkes RI, 2005).

2.1.6        Pelaksanaan PSN DBD

Pelaksanaan PSN DBD menurut Depkes RI (2005), yaitu:

  • Di rumah

Dilaksanakan oleh anggota keluarga

  • Tempat – tempat umum

Dilaksanakan oleh petugas yang di tunjuk oleh pimpinan atau pengelola tempat – tempat umum, seperti:

  1. kantor oleh petugas kebersihan kantor
  2. sekolah oleh petugas sekolah
  3. pasar oleh petugas kebersihan pasar, dll.(Depkes RI,2005).

2.1.8 Jenis Kegiatan PSN DBD

a)      Bulan Bakti Gerakan 3M atau juga dengan istilah bulan kewaspadaan 3M sebelum musim penularan atau gerakan 3M sebelum mas penularan (G 3M SMP) adalah suatu kegiatan yang di laksanakan pada saat sebelum terjadi penularan DBD, yaitu bulan dimana jumlah kasus DBD paling rendah, berdasarkan jumlah kasus rata – rata perbulan selama 5 tahun terakhir. Kegiatan ini dilakukan selama sebulan penu dengan mengajak warga melakukan PSN DBD dipimpin oleh Kepala wilayah setempat serta melibatkan lintas sector. Kegiatan ini di prioritaskan di desa/kelurahan rawan 1 (endemis) agar sebelum terjadi puncak penularan virus dengue, populasi nyamuk penular dapat ditekan serendah – rendahnya sehingga Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat dicegah.

b)      Penyeluhan kepada keluarga

Selain penyuluhan secara individu yang dilakukan penyuluhan kepada masyarakat luas juga dilakukan secara kelompok (seperti pada pertemuan kader, arisan, dan selapanan) dan secara missal (seperti pada saat pertunjukan layer tancap, ceramah agama dan pertemuan musyawarah desa)

c)      Pergerakan masyarakat dalam PSN DBD secara terus menerus dan berkesinambungan sesuai dengan situasi dan kondisi masing – masing daerah, apabila terjadi KLB atau wabah, dilakukan penyemprotan insektisida/pemberantasan vector dengan pengasapan (fogging) yang dilaksanakan 2 siklus dengan interval satu minggu yang melibatkan petugas dinas kesehatan kabupaten/kota,puskesmas dan tenaga lain yang terlatih (Depkes,RI,2005)

2.1.9 Perlunya 3M

Sudah tidak diragukan lagi bahwa penyebaran wabah dengue disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegipty terutama nyamuk betina. Nyamuk ini sangat pintar menyembunyikan suaranya dengan membuat gerakan sayap yang halus sehingga nyaris tak trdengar. Nyamuk betina ini menghisap darah menusia sebagai bahan untuk mematangkan telurnya (http://www.mediaindo.com)

Bila nyamuk jenis lain bertelur dan menetaskan pada sarangnya. Aedes aegipty betina melakukannya diatas permukaan air karena dengan demikianlah telur – telurnya itu berpotensi menetas dan hidup, telur menjadi larva yang kemudian mencari makan dengan memangsa bakteri yang ada di air tersebut, nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembang biak pada genangan air terutama yang kotor.

Penyebaran wabah dengue dipengaruhi oleh ada tidaknya nyamuk aedes aegipty yang dipengaruhi lagi oleh ada tidaknya genangan air yang kotor, oleh karena itu pengontrolan dengue bias dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut :

a)      Pertama adalah membunuh nyamuk baik dengan peptisida maupun dengan ovitrap, yakni dengan bak perangkap yang di utup kasa, penggunaan peptisida selain memerlukan biaya dan berbahaya pada manusia, juga akan memicu munculnya nyamuk yang resisten, sehingga cara ini bukanlah cara yang efektif untuk jangka panjang, untuk jangka pendek cara ini masih digunakan

b)      Kedua adalh membuat nyamuk trasgenik supaya tidak terinfeksi oleh virus dengue, jika nyamuk tidak bisa terinfeksi oleh virus dengue otomatis manusia tidak akan pernah terinfeksi oleh virus dengue. Cara ini digunakan oleh beberapa peneliti unutk mengatsi masalah malaria, nmaun pengembangan cara ini masih memerlukan puluhan tahun untuk bias di aplikasikan(http://www.mediaindo.com)

c)      Cara yang ketiga adalah PSN yang efektif dan efisien melalui kegiatan 3M yaitu dengan menguras tempat penyimpanan air, menutup tempat penampungan air, mengubur barang – barang bekas yang memungkinkan dijadikan tempat perindukan dan perkembangbiakan jentik nyamuk aedes aegipty, menutup lubang – lubang pada bamboo dengan tanah atau adukan semen, melipat pakain/kain yang bergantungan pada kamr agar nyamuk tidak hinggap disitu, untuk tempat – tempat air yang tidak memungkinkan atau sulit di kuras taburkan bubuk abate kedalam genangan air tersebut untuk membunuh jenti – jentik nyamuk, ulangi hal ini setiap 2-3 bulan sekali (Depkes,RI,2005)

2.2 Keadaan Bebas Jentik DBD

2.2.1 Pengertian Keadaan Bebas Jentik

Dari pengertian ABJ (Angka Bebas Jentik) di atas maka dapat disimpulkan bahwasanya Keadaan Bebas Jentik merupakan suatu keadaan dimana ABJ lebih atau sama dengan 95 %

2.2.2 Pengertian DBD

Penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue dan terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi pendarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian.(Faziah,2004)

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis , demam,nyeri otot, dan atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfa demopati, trombositopenia dan datesis hemoregic (IPD,2007)

Suatu infeksi arboirus (arthropod – borne virus)akut, ditularkan oleh nyamuk spesies aedes. (IKA,2005)

2.2.3 Penyebab Demam Berdarah Dengue

Penyebab penyakit adalah virus dengue. Virus ini termasuk kelompok arthropoda. Borne viruses (arbovirosis). Sampai saat ini dikenal ada 4 serotype virus yaitu :

  1. dengue 1 diisolasi oleh sabin pada tahun 1944
  2. dengue 2 diisolasi oleh sabin pada tahun 1944
  3. dengue 3 diisolasi oleh sather
  4. dengue 4 diisolasi oleh sather

keempat type virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di indonesia dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3. penelitian di indonesia menunjukkan dengue type 3 merupakan serotype vius yang dominan menyebabkan kasus yang berat.(Faziah,2004)

2.2.4 Patofisiologi dan Patogenesis

Fenomena patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan demam berdarah dengue dengan dengue klasik ialah tingginya permabilitas dinidng pembulu darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diabetes hemoragik. Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak dengan mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meninginya nilai hematokrit. Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam berdarah dengue hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian besar menganut “the secondary heterologous infection hypothesis” yang mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi dengue pertama mendapat infeksi berulang dengan type virus dengue yang berlainan dalam jangka waktu tertentu yang diperkirakan antara 6 bulan sampai 5 tahun. Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan hipotese infeksi sekunder dicoba dirumuskan oleh suvvate

Akibat infeksi kedua oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seseorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, respon antibodi ananmestik yang akan terjadi dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan menghasilkan antibodi IgG anti dengue titer tinggi. Disampaing itu replikasi virus dengue terjadi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah yang banyak. Hal-hal ini semuanya akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan c3a dan c5a akibat antivasi c3 dan c5 menyebabkan meningginya permeabilitas dinding pembulu darah dan merembesnya plasma melalui endotel dinding pembulu darah. Pada penderita ranjatan berat, volume plasma dapat berkurang samapai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24-48 jam. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekwat akan menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.

Sebab lain penyebab kematian pada DBD adalah perdarahan saluran pencernaan hebat yang biasa timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi. Trombositopenia merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar penderita DB. Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam.

Dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan. Jumlah tromosit secara cepat meningkatkan pada masa konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai sampai hari ke 10 sejak permulaan penyakit.

Kelainan sistem koagulasi mempunyai juga peranan sebagai sebab perdarahan pada penderita DBD. Berapa faktor koagulasi menurun termasuk faktor II, V, VII, IX, X dan fibrinogen. Faktor XII juga dilaporkan menurun. Perubahan faktor koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hepar yang fungsinya memang terbukti terganggu, juga oleh aktifitas sistem koagulasi.

Pembekuan intravaskuler menyeluruh (PIM/DIC) secara potensial dapat terjadi juga saling mempengaruhi sehingga penyakit akan memasuki renjatan irrevesible disertai perdarahan hebat, terlihatnya organ-organ vital dan berakhir dengan kematian.(Faziah,2004)

2.2.5 Penularan DBD

DBD dapat dengan mudah menular melalui vektor penularnya, yakni nyamuk Aedes aegypti melalui gigitannya. Meskipun nyamuk Aedes albopictus dapat menularkan DBD tetapi peranannya dalam penyebaran penyakit sangat kecil, karena biasanya hidup di kebun-kebun. Seminggu setelah digigit oleh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue, maka orang tersebut akan jatuh sakit demam berdarah, atau dapat juga tetap sehat tetapi menjadi carrier (sumber penular dengan menyimpan virus dengue).

Karena nyamuk yang menggigit orang yang darahnya mengandung virus dengue, sepanjang nyamuk tersebut hidup akan tetap mengandung virus dengue dan setiap saat dapat ditularkan kepada orang lain melalui gigitannya pula (menggigit pada siang hari).

Apabila terdapat tetangga Anda yang menderita DBD dan lokasi rumahnya berada tidak jauh dari rumah Anda, maka perlu diwaspadai akan keberadaan nyamuk Aedes aegypti, hal ini karena kemampuan terbang nyamuk tersebut +40 m, dan jangkauan terbang maksimal sejauh 100 m. Sehingga secepatnya melakukan pembersihan terhadap tempat-tempat penampungan air di sekitar Anda atau menghubungi Puskesmas terdekat.

Sehingga setiap orang dapat terserang demam berdarah setelah digigit oleh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue. Hanya saja ketahanan tubuh setiap orang yang memungkinkan tingkat kasus DBD berbeda satu sama lain. Sehingga selain memberantas vektor penular dan menghindarinya, ada baiknya setiap orang menjaga imunitasnya sehingga dapat terhindar dari kasus DBD.(DepKes,RI,2005)

2.2.6 Tempat Penularan DBD

Penularan DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Tempat potensial untuk terjadi penularan DBD adalah :

  1. Wilayah yang banyak kasus DBD (endemis)
  2. Tempat-tempat umum yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah. Tempat-tempat tersebut antara lain :
  • Sekolah, karena anak/murid sekolah berasal dari berbagai wilayah selain itu merupakan kelompok umur yang paling susceptible terserang DBD
  • Rumah sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Karena dalam hal ini orang yang datang dari berbagai wilayan dan kemungkinan diantaranya adalah penderita DBD atau carier virus dengue
  • Tempat umum lainnya seperti : hotel, pertokoan, pasar, restoran, dan tempat ibadah
  1. Pemukiman baru di pinggir kota

Karena di lokasi ini penduduknya berasal dari berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier yang membawa virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

2.2.7 Tanda dan gejala DBD

Pada umumnya penderita DBD dikenal dengan gejala bintik-bintik atau ruam merah pada kulit yang apabila diregangkan malah terlihat jelas bintik-bintiknya. Hal itu memang menjadi salah satu tanda bahwa telah tergigit nyamuk Aedes agypti. Untuk lebih waspada dan menindaklanjuti kasus DBD, berikut beberapa gejala DBD :

  1. Demam

Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung 2-7 hari. Panas dapat turun pada hari ke-3 yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 mendadak turun. Jika digambarkan, maka grafiknya menyerupai pelana kuda.

Jangan tunggu hingga 7 hari, lepas hari ketiga panas tetap tinggi, dianjurkan untuk memeriksakan diri dengan tes darah. Karena apabila dalam waktu kurang dari 7 hari penderita tidak ditangani dengan cepat dan tepat, penderita dapat meninggal dunia.

  1. Tanda-tanda pendarahan

Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa uji Torniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih manifestasi perdarahan sebagai berikut : Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan konjungtiva, Epistaksis, Perdarahan gusi, Hematemesis, Melena, dan Hematuri.

Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya, regangkan kulit, jika bintik merah pada kulit tersebut hilang maka bukan Petekie. Petekie merupakan tanda pendarahan yang tersering ditemukan. Tanda ini dapat muncul pada hari-hari pertama demam.

Uji Torniquet dinyatakan positif, jika terdapat 10 atau lebih Petekie pada kulit seluas 1 inci persegi (2,5 x 2,5 cm) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fossa cubiti).

  1. Pembesaran Hati (Hepatomegali)

Sifat pembesaran hati :

      1. Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit
      2. Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
      3. Nyeri tekan sering ditemukan tanpa disertai ikterus
  1. Renjatan (Syok)

Tanda-tanda renjatan:

      1. Kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki
      2. Penderita menjadi gelisah
      3. Sianosis di sekitar mulut
      4. Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba
      5. Tekanan nadi menurun, sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang

Penyebab renjatan: karena perdarahan, atau karena kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang terganggu.

  1. Trombositopeni
  2. Hemokonsentrasi (Peningkatan Hematokrit)
      1. Jumlah trombosit < 100.000/μl biasanya ditemukan diantara hari ke 3-7 sakit
      2. Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal atau menurun.
      3. Pemeriksaan dilakukan pada saat pasien diduga menderita DBD, bila normal maka diulang tiap hari sampai suhu turun.

Meningkatnya nilai hematokrit (Ht) menggambarkan hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka terjadinya perembesan plasma, sehingga dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala. Pada umumnya penurunan trombosit mendahului peningkatan hematokrit.

  1. Gejala Klinik lain
  2. Pada beberapa kasus terjadi hiperpireksia disertai kejang dan penurunan kesadaran sehingga sering di diagnosis sebagai ensefalitis
      1. Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita DBD ialah nyeri otot, anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi, dan kejang
      1. Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan gastrointestinal dan renjatan.(Depkes,RI,2005)

2.2.8 Siklus Nyamuk Aedes Aegipty

Aktif Pagi jam 07.00 – 12.00 WIB
Sore jam 15.00 – 17.00 WIB
Hinggap pada benda benda yang menggantung.
Larva Berkembang biak pada air jernih yang dasarnya bukan tanah.
Telur Diletakkan pada dinding kontainer tepat diatas permukaan air.
Jumlah telur selama hidupnya berjumlah 600 – 800 butir.
Lama hidupnya 3-4 Minggu.
Pupa Dibawah permukaan air.
Terbang Kemampuan terbang 50 – 200 m
Siklus hidup Telur  –  larva  –  pupa  –  dewasa
1-2 hr                    4-5 hr                   1-2 hr.

2.2.9 Ciri-Ciri Nyamuk DBD

`Adapun cirri-ciri nyamuk aedes Agypti adalah :

1.   Mempunyai ciri-ciri khusus dan paling mudah dikenal adalah warna hitam dan belang-belang ( Loreng-loreng ) putih pada seluruh tubuhnya dan benmtuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan nyamuk biasa.Tubuh nyamuk jika menghisap darah posisinya mendatar. Nymuk yang menggigit manusia hanya nyamuk aedes betina  (untuk mematangkan telur ), karena nyamuk jantan lebih tertarik pada cairan yang mengandung gula seperti bunga dan tumbuhan.

2.   Nyamuk ades agypti tidak dapat berkembang biak deselokan atau Got. Nyamuk ini        bertelur serta pembiakannya di air yang jernih, dimana permukaan air pada dinding tegak lurus dan terlindung pengaruh mata hari langsung.

3.  Biasanya mengigit ( menghisap darah ) pada pagi sampai sore hari.Ada 2 puncak aktivitas menggigit yaitu antara pukul 08.00 sampai 10.00 pagi dan pukul 16.00 samai 18.00 sore. Malam hari nyamuk lebih suka bersembunyi disela-sela pakaian yang tergantung atau korden, terutama diruang gelap atau lembab.

4.   Nyamuk aedes agypti tergolong antropilik yaitu doyan ( suka ) darah manusia.berbeda dengan  species nyamuk lain yang biasanya sudah puas menggigit/menghisap darah satu orang saja, maka nyamuk aedes agypti mempunyai kebiasaan menggigit berulang, yaitu menggigit beberapa orang secra bergantian dalam waktu singkat, sehingga semakin cepat proses penuralaran yang terjadi. Nyamuk ini setiap 2 hari sekali menggigit / menghisap darah manusia. Bagi nyamuk , darah manusia ini untuk kebutuhan repruduksi ( memetangkan terlur agar dapat dibuahi pada saat perkawinan.) , biasanya 3 hari setelah menghisap darah, nyamuk akan bertelur di tempat yang disukai yaitu digenangan air bersih.

5.  Mampu terbang sampai radius 100-200 meter saja sehingga selalu mencari mangsa  dekat . Mobilisasi penduduk dari tempa yang satu ketempat yang lain berpengaruh besar pada penyebaran nyamk ini, biasanya nyamuk bersembunyi didalam mobil, perahu, kapal kereta api, dll.

6.  Pada fase jentik berukuran 0,5-1 cm, selalu bergerak di dalam air ( gerakan berulang – ulang dari bawah keatas permukaan air untuk bernafas, kemudian kembali ke bawah ). Pada saat istirahat, posisinya hamper tegak lurus dangan permukaan air.

7.  Ukuran telur Aedes Agypti sangat kecil ( 0,7 mm ), berwarna hitam dan tahan sampai 6 bulan ditempat kering dan masih menyimpan larva yang siap menetas ketika turun hujan dan air.(Administrator.2008)

2.2.10 Diagnosa DBD

Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan:

a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7

b.  Manitestasi Perdarahan

c.  Tombositoperiia yaitu jumlah trombosit dibawah 150.000/mm3, biasanya Ditemukan antara hari ke 3-7 sakit.

d. Mokonsentrasi yaitu meningkatnya hematokrit, merupakan indikator yang peka Terhadap jadinya renjatan sehingga perlu dilaksanakan penekanan berulang secara periodik. Kenaikan Ht 20% menunjang diagnosa klinis Demam Berdarah Dengue.

Meningkatkan derajat berat ringan penyakit berbeda-beda, maka diagnosa secara klinis dapat dibagi atas (WHO 75).

1.  derajat demam I (ringan)

Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klien  lain, dengan manifestasi perdarahan dengan uji truniques positif

2.  derajat II (sedang)

Penderita dengan gejala sama, sedikit lebih berat karena ditemukan perdarahan spontan kulit dan perdarahan lain.

3.  derajat III (berat)

Penderita dengan gejala shoch/kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (<20 mmhg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab, dan penderita menjadi gelisah.

4.  derajat IV (berat)

Penderita shoch berat dengan tensi yang tak dapat diukur dan nadi yang tak dapat diraba.(Faizah,2004)

2.2.11 Pencegahan Penyakit DBD

Berdasarkan data pemantauan, sebagian besar jenis container (tempat penampungan air) yang positif adalah : bak mandi (50%), vas bunga (11%) dan ember (11%), sedangkan sisanya adalah ban bekas, botol minuman, tempat sampah dan lain-lain. (blog.360.yahoo.com).

Pencegahan paling efektif yang dapat dilakukan adalah :

    1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN DBD) yaitu dengan cara :
  1. Fisik

cara ini dikenal dengan kegiatan 3 m yaitu : menguras, (dan menyikat) baik bak mandi, bak wc, dan lain-lain, menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan, drum, dan lain-lain), serta mengubur, menyingkirkan atau memusnakan barang-barang bekas (seperti kaleng, ban dan lain-lain), pengurasan tempat-tempat penampungan air (TPA) perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak ditempat itu. Pada saat ini telah dikenal dengan istilah 3 M yang perluas. Bila PSN DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya, sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi. Untuk itu upaya penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan karena keberadaan jentik nyamuk berkaitan erat dengan perilaku masyarakat.

  1. Kimia

Cara memberantas jentik aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida) ini antara lain dikenal istilah larvasidasi. Larvasida yang biasa digunakan antara lain adalah Temephos. Formulasi temephos yang digunakan adalah granules (sand granules), dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gram (± 1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air, larvasida dengan temephos ini mempunyai efek resdu 3 bulan.

  1. Biologi

Dengan memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang/tempalo, dan lain-lain). Dapat juga digunakan bacillus thuringlen sisvar, isrealiensis (Bti).

(Depkes,RI.2005)

    1. Fogging/ Pengasapan

Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa dilakukan dengan cara pemyemprotan (pengasapan/pengabutan=fogging) dengan insektisida, mengingat kebiasaan nyamuk senang hinggap pada benda-banda bergantung, maka penyemprotan tidak dilakukan di dinding rumah seperti pemberantasan nyamuk penular malaria.

Inseksida yang padat digunakan antara lain inseksida golongan:

  1. organophospat, misalnya malathion
  2. pyretroid sintetic, misalnya lamda sihalotri, cypermetrin dan alfa methin
  3. carbamat

Alat yang digunakan  untuk penyemprotan adalah mesin fog atau mesin ULV dan penyemprotan dengan cara pengasapan tidak mempunyai efek residu. Untuk membasmi penularan virus dengue penyemprotan dilakukan dua siklus dengan interval 1 minggu, pada penyemprotan siklus pertama semua nyamuk yang mengandung virus dengue (nyamuk infektif) dan nyamuk-nyamuk yang lainnya akan mati, tetapi akan segera muncul nyamuk-nyamuk baru yang diantaranya akan menghisap darah penderita vevimia yang masih ada yang dapat menimbulkan terjadinya penularan kembali. Oleh karena itu perlu dilakukan penyemprotan siklus kedua, penyemprotan yang kedua dilakukan 1 minggu sesudah penyemprotan yang pertama agar nyamuk baru yang infektif tersebut akan terbasmi sebelum sempat menularkan pada orang lain.(DepkesRI.2005).

    1. Abatiasi (Penggunaan Abate)

Takaran penggunaan bubuk ABATE adalah sebagai berikut :

untuk 10 liter air cukup dengan 1 gram bubuk ABATE

contoh :

untuk 10 liter air ABATE yang diperlukan = (100/10)x 1 gram = 10 gram ABATE, untuk menakar ABATE digunakan sendok makan, satu sendok peres berisi 10 gram ABATE.

Bila memerlukan ABATE kurang dari 10 gram, maka dapat dilakukan sebagai berikut :

  1. ambil 1 sendok makan peres ABATE dan tuangkan pada selembar kertas.
  2. Lalu bagilah ABATE menjadi 2,3 atau 4 bagian sesuai dengan takaran yang dibutuhkan.

Setelah dibubuhkan ABATE maka :

  1. selama 3 bulan bubuk ABATE dalam air tersebut mampu membunuh jentik aedes aegypti.
  2. selama 3 bulan bila tempat penampungan tersebut akan dibersihkan / diganti airnya, hendaknya jangan menyikat bagian dalam dinding tempat penampungan air tersebut.
  3. air yang telah dibubuhi ABATE dengan takaran yang benar tidak membahayakan dan tetap aman bila air tersebut diminum.(Depkes,RI,2005)

2.2.12 Pengobatan

Pengobatan terhadap penyakit ini terutama untuk mengatasi perdarahan, mencegah/mengatasi keadaan syok/presyok dengan mengusahakan agar penderita banyak minum, bila perlu dilakukan pemberian cairan melalui infuse, demam diusahakan diturunkan dengan kompres dingin atau antipivetika. (http://www.tabloid_nakita.com)

2.3 Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus) dengan Keadaan Bebas Jentik DBD

Demam berdarah merupakan penyakit yang bisa mewabah. Usaha untuk mengatasi masalah penyakit tersebut di Indonesia telah puluhan tahun dilakukan, berbagai upaya pemberantasan vector, tetapi hasilnya belum optimal. Secara teoritis ada 4 cara untuk memutuskan rantai penularan demam berdarah dengue, yaitu: melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk dan pengendalian vector. Untuk pengendalian vector dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara kimia dan pengelolaan lingkungan , salah satunya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk. Pengendalian vector dengan cara kimia hanya membebankan perlindungan terhadap pindahnya penyakit yang bersifat sementara dan dilakukan hanya apabila terjadi letusan wabah. Cara ini memerlukan dana yang tidak sedikit serta mempunyai dampak negative terhadap lingkungan. Untuk itu diperlukan cara lain yang tidak menggunakan bahan kimia diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat untuk pengendalian vector dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (Indra, 2003).

Demikian juga WHO (2000) telah menyatakan bahwa pemberantasan jentik nyamuk aedes aegipty dengan 3M Plus dapat efektif menanggulangi penyakit DBD. 3M Plus walaupun pengerjaannya menggunakan waktu yang agak lama ternyata efektif menurukan kepadatan populasi nyamuk aedes aegipty atau meningkatkan angka bebas jentik, sehingga menurunkan resiko terjadinya penyakit DBD. Pelaksanaan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) memang memerlukan waktu yang agak lama, karena memerlukan peran aktif keluarga, akan tetapi keberhasilan dalam upaya ini cukup besar dalam rangka penurunan angka penyakit DBD (Indra,2003).

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HEPOTESIS

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Metode Penelitian

Metode penelitian keperawatan merupakan urutan langkah dalam melakukan penelitian keperawatan. Hal-hal yang termasuk dalam metode penelitian adalah desain penelitian yang digunakan kerangka kerja penelitian. Populasi sampel yang akan diteliti. Jumlah sampel yang diperlukan, teknik sampling yang digunakan, cara mengidentifikasi variabel dengan definisi operasionalnya, cara pengumpulan data, metode analisis data yang digunakan, keterbatasan penelitian dan nilai etika penelitian. (Hidayat, 2007).

Pada penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah case control. Penelitian ini merupakan rancangan penelitian yang membandingkan antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol untuk mengetahui proporsi kejadian berdasarkan riwayat ada tidaknya paparan. Rancangan penelitian ini dikenal dengan sifat retrospektif, yaitu rancangan bangun dengan melihat kebelakang dari suatu kejadian yang berhubungan dengan kejadian kesakitan yang diteliti (Hidayat,2007)

4.2 Kerangka Kerja


4. 3 Populasi, Sampel, Sampling , dan besar sampel

4.3.1 Populasi

Populasi merupakan seluruh subyek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti. Bukan hanya objek atau subjek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subjek atau objek tersebut. (Hidayat,2007)

Pada penelitian ini yang akan menjadi populasi adalah semua masyarakat yang pernah menderita DHF diwilayah kerja Puskesmas Gitik Kabupaten Banyuwangi Pada tahun 2008 sebanyak 43 kasus.

4.3.2 Sampel

Sampel merupakan bagian poplasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karateristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat,2007)

Dengan kriteria sampel pada penelitian ini yaitu :

  1. Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel.(Nursalam,2003)

a)      Masayarakat yang bersedia menjadi responden

b)      Masyarakat yang kooperatif

c)       Masyarakat yang pernah terkena DBD sejak tahun 2008.

  1. Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian yang menyebabkan antara lain adalah adanya hambatan etis, menolak menjadi responden atau berada pada suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian.(Hidayat,2007)

a)      Masyarakat yang tidak menetap tempat tinggalnya

b)      Masyarakat yang tidak bersedia menjadi responden

c)      Masyarakat yang tidak kooperatif

4.3.3  Tekhnik Sampling

Tehnik sampling adalah proses menyeleksi porsi populasi untuk dapat mewakili poplasi. Tehnik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan objek penelitian. (Nursalam,2003)

4.3.4 Besar sampel

Besar sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagian ibu pasca persalinan di puskesmas klatak Banyuwangi . Dan besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus :

n =     N

1 + N ( d )2

Keterangan : n     = jumlah sampel

N    = jumlah populasi

d     = tingkat signifikan (a ) = 0,05

n =       43           = 39

1 + 43 ( 0,05 )2

4.4 Identifikasi Variabel Penelitian.

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu atau variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh yang lain. (Noto Adminodjo,2005)

4.4.1 Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel Independen ini merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam mempengaruhi variabel lain. Variabel ini punya nama lain seperti variabel predictor, resiko atau kuasa.(Hidayat,2007)

Variabel Independen adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain. Variabel independen ini biasanya dimanipulasi, diukur dan diamati untuk diketahui hubungannya terhadap variabel lain.(Nursalam,2003)

Pada penelitian ini variabel independen adalah : Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus).

4.4.2 Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Variabel dependen ini merupakan variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain. Variabel dependen ini merupakan faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan dari variabel independen.(Nursalam,2003)

Pada penelitian ini variabel dependen adalah: Keadaan Bebas Jentik DBD.

4.5  Definisi Operasional

Variabel Definisi Parameter Alat ukur Skala score
Variabel bebas : Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk memberantas jentik,telur dan kepompong nyamuk penular DBD di tempat – tempat perkembangbiakannya Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (3M plus) :

  1. Menguras dan menyikat bak mandi seminggu sekali
  2. Menutup rapat – rapat tempat penampungan air.
  3. Mengubur dan menyingkirkan barang – barang bekas
  4. Mengganti air vas bunga, tempat minum burung,dll seminggu sekali.
  5. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar.
  6. Menu tup lubang – lubang pada potongan bambu/pohon dengan tanah
  7. Memelihara ikan pemakan jentik dikolam
  8. Memasang kawat kasa
  9. Menghindari kebiasaan menggantung pakain dalam kamar

10.  Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai

11.  Menggunakan kelambu

12.  Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

observasi Ordinal 0-3 :

Kurang 4-6 :

Sedang

7-9 :

Baik

Variabel Definisi Parameter Alat ukur Skala score
Variabel terikat:

Keadaan Bebas Jentik DBD

Merupakan suatu keadaan dimana ABJ(Angka Bebas Jentik) lebih atau sama dengan 95% Keadaan dimana telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes Aegipty) berkurang atau tidak ada. Studi dokumentasi Ordinal > 95 %: Baik.(3-5)

< 95 %: Cukup.

(0-2)

4.6  Pangumpulan Data dan Analisa Data

4.6.1  Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan observasi dan studi dokumentasi. Observasi merupakan cara pengumpulan data dengan mengadakan, melakukan pengamatan secara langsung kepada responden penellitian untuk mencari perubahan atau hal-hal yang akan diteliti.(Hidayat,2007)

4.6.2  Analisa Data

Analisa data yang digunakan yaitu analisa data bervariabel yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi.(Notoatmodjo,2003)

  1. a. Coding

memberi kode-kode pada lembar observasi dan lembar studi dokumentasi.

  1. b. Scoring

1)      Variabel Independen        :Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus)

Score Baik             : 7-9

Score Sedang        : 4-6

Score Kurang        : 0-3

2)      Variabel dependen            :Keadaan Bebas Jentik DBD

Score Baik             : 3-5

Score Cukup         : 0-2

  1. c. Analisa Statistic dengan Uji Rank Spearmen.

Rumus : ρ = 1 –

Dimana :

ρ          = Rho = Koefisien korelasi, tata jenjang

b          = Beda = (Diferent)

i           = Interval

n          = Sampel

Jika ρ hasil > ρ tabel maka ada hubungan antara variabel independent dan variabel dependent Ho ditolak, Ha diterima.

4.7 Masalah Etika

Dalam melakukan penelitian ini peneliti mengajukan permohonan ijin pada Puskesmas Gitik untuk mendapatkan persetujuan peneliti di wilayah kerja Puskesmas Gitik. Setelah dilakukan pengumpulan data dengan menekan masalah etika pada subjek yang diteliti, meliputi :

4.7.1 Informed Consent

Informed consent diberikan sebelum penelitian dilaksanakan pada subjek yang diteliti. Subjek diberi tahu tentang maksud dan tujuan dari penelitian jika subjek bersedia, harus ada bukti persetujuan yaitu dengan tanda tangan.

4.7.2 Anonimity

Subjek tidak perlu mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data, cukup kode nomor saja untuk menjamin kerahasiaan identitas.

4.7.3 Confidentiality

Kerahasiaan informasi yang diperoleh dari subjek akan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti. Penyajian data atau hasil penelitian ditampilkan dalam forum akademik.

Lembar Observasi Untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (3M Plus)

Nama Responden (inisial)     :

Umur Responden                  :

Alamat Responden                :

Kode Responden                   :

Tanggal                                  :

No Parameter

Dilakukan Tidak dilakukan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Mengubur kaleng bekas

Menutup tempat penampungan air

Menguras bak mandi seminggu sekali

Mengganti air vas bunga/tempat air minum burung

Memberikan saluran dan talang air yang tidak lancar

Menutup lubang – lubang pada potongan bamboo/pohon

Menaburkan bubuk larvasida

Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak – bak penampung air

Memasang kawat kasa

Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar

Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai

Menggunakan kelambu

Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

……………..

……………..

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

…………….

……………..

Jumlah skor

LEMBAR REKAPITULASI STUDI DOKUMENTASI UNTUK KEADAAN BEBAS JENTIK

Nama Responden (inisial)     :

Umur Responden                  :

Alamat Responden                :

Kode Responden                   :

Tanggal                                  :

No Parameter

Ada Tidak
1. Keadaan dimana telur, jentik, dan larva nyamuk penular DBD (Aedes Aegipty) berkurang atau tidak ada, minimal > 95%

DAFTAR PUSTAKA

Dinkom.2007.Jadikan PSN Sebagai Budaya.http://www.infokom.jatim.go.id

Indra Cahaya.2003.Pemberantasan vector demam berdarah di Indonesia.

http://www.library.usu.co.id

Tim Editor.2007. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:Departemen IPD FKUI.

Sisila,Pujiastuti.2005 DBD dalam Data. www.Pdat.co.id

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008

Depkes RI.2005.Pencegahan Dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengu Di Indonesia.Jakarta:Dirjen PP&PL

________,2004.Dengue dengan Permasalahannya.http://www.mediando.co.id

Dr.Faziah A. Siregar.2004.Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah       Dengue di Indonesia.http://www.library.usu.co.id

Staff  Pengajar Fkui 2005. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Bagian IKA FKUI

Hidayat. Aziz.2007. Riset Keperawatan dan Tekhnik Penulisan Ilmiah. Surabaya: Salemba Medika

Nursalam.2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Medika Salemba.

Noto Adminodjo, S.2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta

1.1 Latar Belakang

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermaian akan membuat menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikolog mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak (noname, 2006).

Ketika masa anak sudah memasuki masa todler anak selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya dan anak membutuhkan suatu permainan. Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak. Sekarang banyak dijual macam-macam alat permainan, jika orang tua tidak selektif dan kurang memahami fungsinya maka alat permainan yang dibelinya tidak akan berfungsi efektif. Alat permaianan hendaknya disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia anak, sehingga dapat merangsang perkembangan anak dengan optimal. Dalam kondisi sakitpun aktivitas bermaian tetap perlu dilaksanakan namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.

Ruangan yang digunakan adalah di ruangan terapi bermaian Rumah Sakit Blambangan Banyuwangi. Dimana di ruang tersebut terdapat alat-alat bermain yang disesuaikan dengan usia anak. Terapi bermaian ini bertujun untuk mempraktekkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif dan merupakan suatu aktifitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan kognitif dan afektif.

1.2 Tujuan

1.2.1  Tujuan Umum

Untuk melanjutkan tumbuh kembang anak dan meminimalkan hospitalisasi pada anak.

1.2.2 Tujuan Khusus

Untuk melatih keterampilan kognitif dan afektif, anak bebas mengekpresikan perasaannya, orang tua dapat mengetahui stuasi hati anak, memahami kemampuan diri, kelemahan dan tingkah laku terhadap orang lain, merupakan alat komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat mengatakan secara verbal.

1.3 Sasaran

Anak usia todler yang sedang menjalani terapi rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan dengna jumlah anak 8 anak.

1.4 Waktu dan tempat

Terapi bermain dilaksanakan pada saat anak setelah mendapatkan terapi, bukan pada jam istirahat dan bukan pada saat kunjungan dokter. Tempat terapi bermain dilaksanakan di ruang terapi bermain ruangan Rawat Inap Anak Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan.

BAB 2

ISI

2.1    Konsep Dasar Bermain

2.1.1 Pengertian

Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari. (Wholey and wong, 1991).

Bermaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan (Foster, 1989).

Bermaian adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock).

Jadi kesimpulannya bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

2.1.2 Kategori Bermain

2.1.2.1  Bermain aktif

Yaitu anak banyak menggunakan energi inisiatif dari anak sendiri, contohnya : bermain sepak bola.

2.1.2.2 Bermain Pasif

Yaitu energi yang dikeluarkan sedikit, anak tidak perlu melakukan aktivitas (hanya melihat) contoh : memberi support.

2.1.3 Ciri-ciri Bermain

1)      Selalu bermaian dengan suatu benda.

2)      Selalu ada timbal balik interaksi

3)      Selalu dinamis

4)      Ada aturan tertentu

5)      Menuntut ruangan tertentu

2.2. Konsep Dasar Todler

2.2.1 Usia todler (2 – 3 tahun)

1)      Mulai berjalan, memanjat, lari

2)      Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya

3)      Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu

4)      Perhatiannya singkat

5)      Mulai mengerti memiliki “ini milikku”

6)      Karakteristik bermain paralel play

7)      Todler selalu bertengkar memeperebutkan mainan

8)      Senang musik atau irama

2.2.2. Mainan untuk todler

1)      Mainan yang dapat ditarik dan didorong

2)      Alat masak

3)      Malam, lilin

4)      Boneka, telephone, gambar dalam buku, bola, drum yang dapat dipukul, krayon, kertas

2.3 Bermain di Rumah Sakit

2.3.1 Prinsip kegiatan

1)          Tidak banyak energi, singkat dan sederhana

2)          Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang

3)          Kelompok umur sama

4)          Melibatkan keluarga atau orang tua

2.3.2 Rancangan bermain

Permainan yang kita lakukan adalah menggambar. Setiap anak diberikan kertas kosong dan krayon atau spidol masing-masing satu. Kemudian leader memimpin jalannya permaianan dengan mengintruksikan kepada anak-anak untuk menggambar sesuai dengan apa yang diinginkan. Co leader, fasilitator, observer melakukan tugas masing-masing.

2.3.3 Hambatan bermain

1)          Anak kurang kooperatif

2)          Orang tua tidak mendukung

3)          Jam-jam tertentu seperti : kunjungan dokter, terapi dan waktu istirahat

4)          Tidak semua rumah sakit mempunyai fasilitas bermain.

2.3.4 Antisipasi hambatan bermain

1)          Pendekatan kepada anak lebih ditingkatkan

2)          Memberikan penjelasan yang mudah dimengerti orang tua, sehingga timbul rasa percaya

3)          Membatasi waktu bermain

4)          Bermain dilakukan dirawat inap tanpa menggangu proses terapi pengobatan

2.3.5 Media

1)          Kertas

2)          Spedol

3)          Krayon

2.3.6 Pembagian Tugas

1)          Leader                 : 1 Orang

2)          Co Leader           : 3 orang

3)          Fasilitator            : 5 orang

4)          Observer              : 5 orang

5)          Anak                   : 8 orang

2.3.7 Setting tempat

KETERANGAN :

: 8 Orang anak

: 1 Orang leader

: 3 Orang Co leader

: 5 Orang fasilitator

: 5 Orang observer

2.3.8 Evaluasi

Setelah dilakukan terapi bermain dapat disimpulkan bahwa : keseluruhan anak menikmati dan mau melakukan kegiatan menggambar . anak – anak cukup kooperatif dengan fasilitator .

Hambatan yang terjadi dalam proses terapi bermain yaitu : komunikasi antara yang satu dengan yang lainnya kurang . Anak – anak asik dengan kegiatannya sendiri atau aktivitasnya sendiri . Kurang memahami terapi bermain atau kegiatan menggambarkan , mayoritas dari mereka hanya mencoret – coret kertas tanpa mengerti apa maksudnya .

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

Tujuan bermain untuk melatih keterampilan kognitif dan afektif, anak bebas mengekpresikan perasaannya, orang tua dapat mengetahui stuasi hati anak, memahami kemampuan diri, kelemahan dan tingkah laku terhadap orang lain, merupakan alat komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat mengatakan secara verbal.

3.2 Saran

Saran kepada orang tua dan pelayanan kesehatan diharapkan orang tua lebih selektif dan memahami fungsi dari alat permainan yang akan diberikan kepada anak . dapat menyesuaikan kepada umur anak sehingga dapat merangsang tumbuh kembang secara optimal .

DAFTAR PUSTAKA

Foster and humsberger . 1998 . Family Centered Nursing Care of Children .  WB sauders Company . Philadelpia USA

Hurlock E B . 1991 . Perkembangan Anak Jilid 1 . Erlangga . Jakarta

Whaley and Wong . 1991 . Nursing Care Infants and Children . Fourth Edition . Mosby Year Book . Toronto . Canada

Noname . 2006 . Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak .

Terapi Bermain (Usia Toddler)

ASUHAN KEPERAWATAN PERILAKU KEKERASAN

OLEH : Winarno,SPd,S Kep,Ns

  1. Pengertian

Marah merupakan perasaan jengkel yang ditimbulkan sebagai respon terhadap kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman.

Perasaan marah normal bagi setiap individu, namun perilaku jengkel dimanifestasikan dalam perasaan marah. Banyak situasi kehidupan menimbulkan kemarahan, misalnya tidak terpenuhinya keinginan yang diharapkan, pelayanan perawatan terlambat, peran yang tidak dapat dilakukan, control diri yang diambil alih orang lain, fungsi tubuh terganggu dan lain sebagainya.

Pengungkapan kemarahan secara langsung dan konstruktif pada saat terjadi kemarahan akan melegakan individu, sebaliknya kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal.  Perilaku marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang respon adaptif dan maladapatif.

Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan melarikan diri atau respon melawan dan menantang. Respon melawan dan menantang merupakan repons yang maladaptif yaitu agresif – kekerasan.

Perilaku yang ditampakkan dimulai dari yang rendah sampai tinggi, yaitu :

Frustasi :   respons yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena tujuan yang tidak realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan. Dalam keadaan ini tidak ditemukan alternative lain. Selanjutnya individu merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan dan terlihat pasif

Agresif :   memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut, mendekati orang lain dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien masih dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain.

Kekerasan : sering juga disebut dengan gaduh gelisah atau amuk. Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi kata-kata ancaman melukai disertai melukai pada tingkat ringan, yang paling berat adalah melukai/merusak secara serius. Klien tidak mampu mengendalikan diri.

B. Proses Kemarahan

Stress, cemas dan marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stres dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan menimbulkan kemarahan.

C. Pengkajian

1. Predisposisi

a.  Psikologis

Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa anak-anak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sangsi penganiayaan.

b.  Perilaku

Kondisi lingkungan yang penuh kekerasan menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.

c.   Sosial budaya

Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif-agresif) dan kontrolsosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasaan diterima ( permisive)

d.   Bioneurologis

Ketidakseimbangan neurotransmiter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan

  1. 3. Presipitasi
    1. Klien sendiri : seperti kelemahan fisik, ketidakberdayaan, putus asa.

b.   Lingkungan   : padat, ribut  dan kritikan yang mengarah kepada penghinaan.

c.   Interaksi orang lain : Provokatif dan konflik

  1. 4. Tanda-gejala

–    muka merah

–        pandangan tajam

–        otot tegang

–        nada suara tinggi

–        berdebat

–        Memukul bila tidak senang

–        Memaksakan kehendak.

5.      Diagnosa/masalah keperawatan

  1. Perilaku kekerasan
  2. Resiko mencederai
  3. Gangguan harga diri : harga diri rendah

6.      Perencanaan

1. Tujuan Umum

Klien dapat mengendalikan diri dari perilaku kekerasan dan mencederai diri

2. Tujuan Khusus

  1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
  2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku marah
  3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
  4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
  5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasaan
  6. Klien dapat mendefinisikan cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

3. Rencana tindakan

  1. Rencana tidakan kepada klien
    1. Manajemen perilaku kekerasan ( lihat pada lampiran )
    2. Menajemen Krisis saat terjadi perilaku kekerasan (lihat pada lampiran)
    3. Rencana tindakan kepada keluarga
      1. Kontrak dengan keluarga
      2. Identifikasi masalah keluarga
      3. Informasi tentang perilaku kekerasan klien
      4. Informasi tentang cara merawat klien perilaku kekerasan
      5. Penerapan cara merawat klien selama di RS
      6. Penerapan perawatan di Rumah
      7. Monitor perilaku kekerasan
      8. Evaluasi jadwal kegiatan dirumah.

7.      Pelaksanaan

Disesuaikan dengan rencana tindakan

B.     Evaluasi

Klien dapat mengendalikan perilaku kekerasan dan tidak mencederai diri

Referensi

Budi Ana keliat, Marah akibat penyakit yang diderita, penerbit EGC, Jakarta, 1996

Budi Ana keliat, Asuhan keperawatan perilaku kekerasan, penerbit RS dr. Rajiman Widiodiningrat Lawang ( Makalah pelatihan nasional askep jiwa dan komunikasi terapeutik)

  1. A. Latar belakang.

Pada saat bayi tumbuh dan menjadi lebih aktif, akan mencapai usia tertentu ASI saja tidak cukupuntuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Dengan demikian, makanan tambahan diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi total pada anak dengan jumlah yang didapatkan dari ASI      ( Air Susu Ibu ) ( WHO, 2000 )

Pada usia empat bulan pencernaan bayi mulai kuat. Pemberian makanan pendamping ASI harus setelah usia empat bulan. Karena jika diberikan terlalu dini akan menurunkan konsumsi ASI dan bayi mengalami gangguan pencernaan atau bisa diare ( Soenardi, Tuti, 1999 ).

Satu yang paling baru adalah dari WHO, yakni Global Strategy on Infant Young Child Feeding yang secara khusus menyebutkan kebijakan pemberian ASI bagi bayi sampai usia enam bulan dan mulai pemberian makanan pendamping ASI yang memadai pada usia enam bulan. Dan pemberian ASI yang diteruskan hingaa anak berusia dua tahun atau lebih. Meski demikian perkembangan pelaksanaan dilapangan menunjukkan banyaknya pelanggaran yang merenggut hak bayi atas ASI eksklusif enam bulan tersebut yaitu dengan menjejali bayi yang baru lahir dengan produk makanan pendamping ASI, sehingga ketika akan disusui oleh ibunya si bayi menolak ( http://www/health.com, 20 Agustus 2004 ).

Survei Demografi kesehatan Indonesia (SDKI ) menunjukkan pada tahun 1997 dan tahun 2002 perilaku pemberian ASI di Indonesia bayinya sebesar 96,3% tetapi pada tahun 2002 turun menjadi 95,9%. Pemberia ASI sampai enam bulan pada tahun 1997 yang hanya 42,4% terus menurun hingga 39,5% pada tahun 2002. Selain itu masalah yang sangat memprihatinkan adalah meningkatkan makanan pendamping ASI (susu formula) pada tahun 2002, 32% dibanding tahun 1997 yang hanya 10% (http://www.health.com, 20 Agustus 2004 ).

Didaerah Jawa Timur saat ini menunjukkan bahwa pemberian ASI sampai umur enam bulan pada tahun 2002 mencapai 43% di Kabupaten Banyuwangi pemberian ASI eksklusif tahun 2003 mencapai 37,7% meningkat tipis dari tahun 2002 yang mencapai 32,1% dari jumlah bayi berumur 0-4 bulan. Alokasi pemberian MP-ASI program pengamanan sosial bidang kesehatan di Kabupaten Banyuwangi sejumlah 3859 bayi dari jumlah bayi GAKIN 3539 bayi ( Dinas Kesehatan,2004 ).

Cakupan pemberian ASI eksklusif di puskesmas Mojopanggung tahun 2003 sebesar 65,84% dari jumlah bayi umur 0-6 bulan, menurun pada September 2004 sebesar 52,6%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2004 hampir 50% bayi umur 0-6 bulan telah diberikan MP-ASI     ( Puskesmas Mojopanggung 2004).

Harus diperhatikan bahwa apabila makanan pendamping ASI sudah diberikan kepada bayi sejak dini ( di bawah usia 4 bulan ) maka asupan gizi yang dibutuhkan oleh bayi tidak sesuai dengan kebutuhannya selain itu sistem pencernaan bayi akan mengalami gangguan seperti sakit perut, sembelit           ( susah buang air ), alergi ( Brinch, 1986 ).

Pengetahuan dan perilaku ibu yang memiliki bayi bawah dua tahun tentang pemberian MP-ASI memegang peranan penting untuk mencegah pemberian MP-ASI yang tidak tepat. Karena itu perlu penelitian mengenai hal ini ( http://www.tempointeraktif.com, 2004 ).

Perilaku individu ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor antara lain adalah faktor-faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, pendidikan, nilai-nilai, dan lain-lain), faktor-faktor pendukung (lingkungan fisik fasilitas-fasilitas kesehatan), faktor-faktor pendorong terbentuk dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan ( Green, Lowrence, 1984 ).

Dari uraian diatas penulis ingin meneliti tentang pengaruh sikap ibu terhadap pemberian pendamping ASI umur 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mojopanggung.

  1. B. Rumusan Masalah

Adakah pengaruh sikap ibu terhadap pemberian makanan pendamping ASI pada bayi umur 06 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mojopanggung?

  1. C. Tujuan Penelitian
    1. 1. Tujuan Umum.

Diketahui pengaruh sikap ibu terhadap pemberian makanan pendamping ASI pada bayi umur 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mojopanggung.

  1. 2. Tujuan Khusus.
  2. Mengidentifikasi sikap ibu di wilayah kerja Puskesmas Mojopanggung.
  3. Mengidentifikasi pemberian makanan pendamping ASI pada bayi umur 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mojopanggung.
  4. Manganalisa pengaruh sikap ibu terhadap pemberian makanan pendamping ASI pada bayi umur 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mojopanggung.
  1. D. Manfaat Penelitian.
    1. 1. Bagi Ibu.

Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pemberian makanan pendamping ASI yang benar.

  1. 2. Bagi Petugas Kesehatan.

Sebagai acuan atau referensi bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan pemberian informasi atau penyuluhan tentang MP-ASI yang benar ( jenis makanan dan waktu pemberian yang tepat ).

  1. 3. Bagi peneliti.

Untuk mengetahui tentang pengaruh sikap ibu terhadap pemberian makanan pendamping ASI.

  1. E. Relevansi

Pemberian makanan pendamping ASI harus tepat waktu karena jika diberikan terlalu dini ( kurang dari 6 bulan) akan menurunkan konsumsi ASI dan bayi mengalami gangguan pencernaan atau bisa diare. Dalam hal ini perilaku ibu memegang peranan penting untuk mencegahnya oleh karena itu perlu penelitian tentang hal ini, diharapkan hasil penelitian dapat dipakai untuk pengambilan keputusan yang tepat dalam rangka mencapai proses tumbuh kembang anak yang optimal.

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

  1. Telaah Pustaka.
    1. Sikap.
      1. Pengertian.

Sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak (G.W. Alport, 1935). Sikap merupakan reksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek ( Notoatmodjo S.2003).

Sikap merupakan organisasi pendapat keyakinan seseorang mengenai obyek atau situasi yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya ( Bimo Walgito, 2001).

Menurut Azwar Saifuddin (1995) bahwa sikap memiliki tiga komponen yang membentuk struktur sikap yang ketiganya saling menunjang yaitu :

1). Komponen kognitif (Cognitif)

Dapat disebut juga komponen persptual, yang berisi kepercayaan individu.

2). Komponen Afektif ( Komponen emosional )

Komponen ini menunjukkan pada dimensi emosional subyektif individu terhadap obyek sikap, baik yang positif (rasa senang) maupun negatif (rasa tidak senang ).

3). Komponen Konatif

Disebut juga komponen perilaku, yaitu komponen sikap yang berkaitan dengan predisposisi oleh kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap yang dihadapinya.

  1. Tingkatan Sikap.

Menurut Notoatmodjo S. (197), sikap memiliki 4 tingkat dari yang terendah hingga yang tertinggi yaitu :

1). Menerima (Receiving)

Pada tingkat ini, individu ingin  dan memperhatikan rangsangan (stimulus) yang diberikan.

2). Merespon ( Responding)

Pada tingkat ini, sikap individu dapa memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.

3). Menghargai (Valuing)

Pada tingkat ini, sikap individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.

4). Bertanggung jawabh ( Responsibility)

Pada tingkat ini, sikap individu akan bertanggung jawab dan siap mananggung segala resiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya.

  1. Fungsi sikap

1). Sebagai instrumental.

2). Pertahanan diri.

3). Penerimaan obyek, ilmu, serta memberi arti.

4). Nilai ekspresif.

5). Sosial adjustment.

6). Externalisasi.

7). Aktifitas adaptasi dalam memperoleh informasi.

8). Reflek kehidupan.

( Widayatun, 1999)

Faktor instrinsik ekstrinsik yang mempengaruhi sikap diantaranya kepribadian, intelegensi, bakat, minat, perasaan serta kebutuhan dan motivasi seseorang. Yang bersifat ekstrinsik adalah faktor lingkungan, pendidikan, ideologi, ekonomi, politik, dan pertahanan dan keamanan. Didalam bersikap warna karakter seseorang akan nampak ( Widayatun, 1999 ).

  1. Pemberian makanan pendamping ASI
    1. Pengertian.

Makanan pendamping ASI adalah makanan tambahan yang diberikan kepada bayi setelah bayi berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Jadi selain makanan pendamping ASI, ASI-pun harus tetap diberikan kepada bayi, paling tidak sampai usia 24 bulan, peranan makanan pendamping ASI sama sekali bukan untuk menggantikan ASI  melainkan hanya untuk melengkapi ASI jadi dalam hal ini makanan pendamping ASI berbeda dengan makanan sapihan diberikan ketika bayi tidak lagi mengkonsumsi  ASI                  ( Krisnatuti, dan Yenrina. 2003 ).

satu yang paling baru adalah dari WHO yakni Global Strategy on Infant Young Chil Feeding yang secara khusus menyebutkan kebijakan pemeberian ASI bagi bayi sampai usia enam bulan dan mulai pemberian makanan pendanping ASI yang memadai pada usia enam bulan dan pemberian ASI yang diteruskan hingga anak berusia dua tahun lebih (http://www.health.com,20 Agustus 2004 ).

Makanan pendamping ASI merupakan makanan tambahan bagi bayi makanan ini harus menjadi pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi. Hal ini menunjukkan bahwa makanan pendamping ASI berguna untuk menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di dalam ASI. Dengan demikian, cukup jelas bahwa peranan makanan tambahan bukan sebagai pengganti ASI tetapi melengkapi atau mendampingi ASI ( Husaini dan Anwar, 1984 ).

Harus diperhatikan bahwa apabila makanan pendamping ASI sudah diberikan kepada bayi sejak dini ( dibawah usia 4 bulan) maka asupan gizi yang dibutuhkan oleh bayi tidak sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu sistem pencernaan bayi akan mengalami gangguan seperti sakit perut, sembelit ( susah buang air besar ), Alergi ( Brinch. 1986 ). Pemberian makanan pendamping ASI yang tepat adalah setelah bayi berumur 4+6 bulan.

Memberikan makanan tambahan terlalu cepat berbahaya karena :

  1. Seseorang anak belum memerlukan makanan tambahan saat makanan diberikan, anak akan minum ASI lebih sedikit dan ibupun memproduksinya lebih sedikit, sehingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
  2. Anak mendapat faktor pelindung dari ASI lebih sedikit sehingga resiko infeksi meningkat.
  3. Resiko diare juga meningkat karena makanan tambahan tidak sebersih ASI.
  4. Makanan yang diberikan sebagai pengganti sering encer, buburnya berkuah atau berupa sup karena mudah dimakan oleh bayi. Makanan ini memang membuat lambung penuh, tetapi memberi nutrien lebih sedikit dari pada ASI, sehingga kebutuhan anak tidak terpenuhi.
  5. Ibu mempunyai resiko lebih tinggi untuk hamil kembali jika jarang menyusui ( WHO, 2000).
  6. Manfaat Makanan pemdamping ASI

ASI hanya mampu memcukupi kebutuhan bayi sampai usia 4- 6 bulan. Setelah itu produksi ASI semakin berkurang. Sedangkan kebutuhan gizi bayi semakin meningkat dengan bertambahnya umur dan berat badan

Tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah untuk menambah energi dan zat-zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus-menerus. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat diketahui dengan cara melihat kondisi pertambahan berat badan anak ( Krisnatuti dan Yenrina. 2003 ).

Selain sebagai pelengkap ASI, pemberian makanan tambahan sangat membantu bayi dalam proses belajar makan dan kesempatan untuk menanamkan kebiasaan makan yang baik. Dalam hal ini para orang tua dianjurkan untuk memperkenalkan bermacam-macam bahan makanan yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis bayi serta aneka ragam makanan dari daerah setempat. Pemberian makanan dari daerah setempat sejak dini akan memungkinkan anak bersangkutan menyukai makanan tersebut sampai anak beranjak dewasa. (Husaini dan Anwar, 1984 ).

  1. Syarat makanan pendamping ASI.

Makanan tambahan untuk bayi harus mempunyai sifat fisik yang baik yaitu rupa dan aroma yang layak. Selain itu, dilihat dari segi kepraktisan, makanan bayi sebaiknya mudah disiapkan dengan waktu pengelohan yang singkat. Makanan pendamping ASI harus memenuhi persyaratan khusus tentang jumlah zat-zat gizi yang diperlukan bayi seperti protein, energi,lemak, vitamin, mineral dan zat-zat tambahan lainnya ( Krisnatuti dan Yenrina, 2003 ).

Menurut Muchtadi ( 1994 ) hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan tambahan untuk bayi berikut:

  1. Makanan bayi ( termasuk ASI) harus mengandung semua zat gizi diperlukan bayi.
  2. Makanan tambahan harus diberikan kepada bayi yang telah berumur 4-6 bulan sebanyak 4 – 6 kali / hari.
  3. Sebelum berumur dua tahun bayi belum dapat mengkonsumsi makana orang dewasa.
  4. Makanan campuran ganda ( multi mix ) yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, dan sumber vitamin lebih cocok bagi bayi, baik ditinjau dari nilai gizinya maupun sifat fisik makanan tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, makanan tambahan bayi sebaiknya memiliki beberapa kriteria berikut :

  1. Memiliki nilai energi dan kandungan protein yang tinggi.
  2. Memiliki nilai suplementasi yang baik serta mengandung vitamin dan mineral yang cocok.
  3. Dapat diterima oleh alat pencernaan yang baik.
  4. Harga relatif murah.
  5. Sebaiknya dapat diproduksi dari bahan-bahan yang tersedia secara lokal.
  6. Bersifat pada gizi.
  7. Kandungan serat kasar atau bahan lain yang sukar dicerna dalam jumlah yang sedikit kandungan serat kasar yang terlalu banyak justru akan mengganggu pencernaan bayi ( Krisnatuti dan Yenrina, 2003 ).
  1. Jenis makanan pendamping ASI dan waktu pemberiannya.

Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya yang disesuaikan denga kemampuan pencernaan bayi atau anak.

Tahapan tersebut adalah:

1        Makanan bayi berumur 0-4 bulan

  1. Hanya ASI saja ( ASI ekslusif ).
  2. Hisapan bayi akan merangsang produksi ASI terutama pada 30 menit pertama setelah melahirkan.
  3. Dengan menyusui akan terbina hubungan kasih sayang antara ibu dan anak.
  4. Berikan kolustrum, karena mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan yang dibuthkan bayi.
  5. Berikan ASI sesering mungkin sesuai keinginan bayi.

2        Makanan bayi berumur 4-6 bulan.

  1. Pemberian ASI tetap diteruskan sesuai keinginan anak.
  2. Bentuk makanan lumat, halus, aktivitas bayi sudah memiliki reflek mengunyah.
  3. Contoh makanan lumat antara lain pisang yang dilumatkan, pepaya yang dilumatkan, biskuit yang ditambah air susu, bubur susu.
  4. Diberikan 2 kali sehari, setiap kali pemberian 2 sendok makan sedikit demi sedikit.
  5. Diberikan sambil mengajak bicara kepada bayi untuk menimbulkan sentuhan kasih sayang.
  6. Jangan sekali-kali MP-ASI diberikan dengan dot sambil tiduran karena dapat menyebabkan infeksi telinga.

3        Makana bayi umur 6-9 bulan.

  1. Pemberian ASI tetap diteruskan.
  2. Bentuk makanan lumat karena alat cerna bayi sudah lebih berfungsi, contoh : nasi tim, bubur susu.
  3. Berikan 2 kali sehari setelah diberikan ASI.
  4. Porsi tiap pemberian sebagai berikut :
    1. Pada umur 6 bulan :6 sendok makan
    2. Pada umur 7 bulan : 7 sendok makan
    3. Pada umur 8 bulan : 8sendok makan
    4. Pada umur 9 bulan :9 sendok makan
    5. Untuk menambah nilai gizi, nasi tim dapat ditambah sumber zat lemak sedikit demi sedikit, seperti : santan, margarene, minyak kelapa.
    6. Bila bayi masih lapar, ibu dapat menambahnya.

4        Makanan bayi umur 9-12 bulan

  1. Pemberian ASI tetap diberikan.
  2. Pada umur ini  bayi mulai diperkenalkan dengan makanan keluarga secara bertahap dengan takaran yang cukup.
  3. Bentuk makanan lunak
  4. Berikan makanan selingan satu kali sehari.
  5. Makanan selingan usahakan bernilai tinggi seperti, bubur, kacang hijau, bubur sumsum.
  6. Biasakan mecampurkan berbagai lauk pauk dan sayuran ke dalam makanan lunak secara berganti-ganti.
  7. Pengenalan berbagai bahan makanan sejak dini berpengaruh baik terhadap kebiasaan makan.

5        Makanan bayi umur 12-24 bulan.

  1. Frekuensi pemebrian ASI dikurangi sedikit demi sedikit.
  2. Susunana makanan terdiri dari makanan pokok lauk-pauk sayuran dan buah.
  3. Besar porsi adalah separuh dari makanan orang dewasa.
  4. Gunakan angka ragam bahan makanan setiap harinya.
  5. Diberikan sekurang-kurangnya 3 ( tiga ) kali sehari.
  6. Berikan makanan selingan dua kali sehari.
  7. Anak dilatih untuk makan dengan tangannya sendiri.
  8. Biasakan anak mencuci tanganya sebelum dan sesudah makan.
  9. Biasakan anak makan bersama-sama keluarga ( Departemen Kesehatan RI, 2002 ).
  10. Pengaruh sikap ibu terhadap pemberian makanan pendamping ASI pada bayi 0-6 bulan.

Para ahli kesehatan masyarakat telah sepakat bahwa status kesehatan baik individu maupun masyarakat dipengaruhi oleh lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Perilaku merupakan pengaruh yang besar kedua setelah lingkungan kemudian menyusul pelayanan kesehatan yang menduduki tempat ketiga dan akhirnya faktor keturunan ( Notoatmodjo dan Sarwono, 1985 ).

Pengetahuan dan perilaku ibu memiliki bayi dibawah dua tahun tentang pemberian makanan pendamping ASI ( MP-ASI) memegang peranan penting untuk mencegah pemberian MP-ASI yang tidak tepat ( http://www.tempointeraktif.com, 2004 ).

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ( WHO ) pemikiran dan perasaan meliputi :
    1. Pengetahuan.

Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

  1. Kepercayaan.

Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua. kakek atau nenek seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan kenyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

  1. Sikap

Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap obyek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau obyek lain. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak terlalu terwujud dalam suatu tindakan nyata.

  1. Orang penting sebagai referensi

Perilaku orang lebih-lebih perilaku anak kecil lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap penting.

  1. Sumber-sumber daya.
  2. Kebudayaan.
  3. Teori perilaku menurut Lawrence Green.

Perilaku ditentukan atau dibentuk oleh 3 faktor :

  1. Faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan sikap, kepercayaan, kenyakinan, nilai-nilai.
  2. Faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana-sarana kesehatan.
  3. Faktro pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku.
  1. B. Kerangka konsep
Perilaku ibu dalam

Pemberian makanan

Pendamping ASI

dini

Gambar 2.1. : Kerangka konsep

Keterangan :

: Tidak teliti

: Yang teliti

  1. C. Hipotesa penelitian

Ada pengaruh sikap ibu terhadap pemberian makanan pendamping ASI pada bayi umur 0-6 bulan.

NYERI

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:

Mahasiswa akan dapat:

Menjelaskan definisi nyeri

Menjelaskan sifat-sifat nyeri

Menjelaskan fisiologi nyeri

Menjelaskan respon terhadap nyeri

Menjelaskan klasifikasi nyeri

Menjelaskan faktor yg mempengaruhi nyeri

Menjelaskan manajemen nyeri

Menjelaskan perawatan klien dengan nyeri

  1. PENDAHULUAN

Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan, kenyamanan adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang mengatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia.

  1. DEFINISI

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan

Teori Specificity “suggest” menyatakan bahwa nyeri adalah sensori spesifik yang muncul karena adanya injury dan informasi ini didapat melalui sistem saraf perifer dan sentral melalui reseptor nyeri di saraf nyeri perifer dan spesifik di spinal cord

Secara umum keperawatan mendefinisikan nyeri sebagai apapun yg menyakitkan tubuh yg dikatakan individu yg mengalaminya, yg ada kapanpun individu mengatakannya

  1. ISTILAH DALAM NYERI
  • Nosiseptor             : serabut syaraf yang mentransmisikan nyeri
  • Non-nosiseptor      : serabut syaraf yang biasanya tidak mentransmisikan nyeri
  • Toleransi nyeri      : intensitas maksimum/durasi nyeri yg individu ingin untuk dpt ditahan
  • System nosiseptif   : system yang teribat dalam transmisi dan persepsi terhadap nyeri
  • Ambang nyeri        : stimulus yg paling kecil yg akan menimbulkan nyeri
  1. SIFAT-SIFAT NYERI
  • Nyeri melelahkan dan membutuhkan banyak energi
  • Nyeri bersifat subyektif dan individual
  • Nyeri tak dapat dinilai secara objektif seperti sinar X atau lab darah
  • Perawat hanya dapat mengkaji nyeri pasien dengan melihat perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klien
  • Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti apa rasanya
  • Nyeri merupakan mekanisme pertahanan fisiologis
  • Nyeri merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringan
  • Nyeri mengawali ketidakmampuan
  • Persepsi yang salah tentang nyeri menyebabkan manajemen nyeri jadi tidak optimal

Secara ringkas, Mahon  mengemukakan atribut nyeri sebagai berikut:

  • Nyeri bersifat individu
  • Nyeri tidak menyenangkan
  • Merupakan suatu kekuatan yg mendominasi
  • Bersifat tidak berkesudahan
  1. FISIOLOGI NYERI

Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap. Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini:

  • Resepsi        : proses perjalanan nyeri
  • Persepsi       : kesadaran seseorang terhadap nyeri
  • Reaksi    :  respon fisiologis & perilaku setelah mempersepsikan nyeri

RESEPSI

Stimulus (mekanik, termal, kimia)

Pengeluaran histamin bradikinin, kalium

Nosiseptor

Impuls syaraf

Serabut syaraf perifer         Kornu dorsalis medula spinalis        Neurotransmiter (substansi P)          Pusat syaraf di otak           Respon reflek protektif

Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal, kimia) akan menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin, bradikinin, kalium. Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai ambang nyeri, maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut saraf perifer. Serabut syaraf  perifer yang akan membawa impuls syaraf ada dua jenis, yaitu serabut A-delta dan serabut C. impuls syaraf akan di bawa sepanjang serabut syaraf sampai ke kornu dorsalis medulla spinalis. Impuls syaraf tersebut akan menyebabkan kornu dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi P). Substansi P  ini menyebabkan transmisi  sinapis dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus. Hal ini memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam system saraf pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak mengolah impuls syaraf kemudian akan timbul respon reflek protektif.

Contoh:

Apabila tangan terkena setrika, maka akan merasakan sensasi terbakar, tangan juga melakukan reflek dengan menarik tangan dari permukaan setrika.

Proses ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla spinalis utuh atau berfungsi normal. Ada beberapa factor yang menggangu proses resepsi nyeri, diantaranya sebagai berikut:

  • Trauma
  • Obat-obatan
  • Pertumbuhan tumor
  • Gangguan metabolic (penyakit diabetes mellitus)

Tipe serabut saraf perifer

Serabut saraf A-delta :

  • Merupakan serabut bermyelin
  • Mengirimkan pesan secara cepat
  • Menghantarkan sensasi yang tajam, jelas sumber dan lokasi nyerinya
  • Reseptor berupa ujung-ujung saraf bebas di kulit dan struktur dalam seperti , otot tendon dll
  • Biasanya sering ada pada injury akut
  • Diameternya besar
  • Tidak bermyelin
  • Diameternya sangat kecil
  • Lambat dalam menghantarkan impuls
  • Lokasinya jarang, biasanya dipermukaan dan impulsnya bersifat persisten
  • Menghantarkan sensasi berupa sentuhan, getaran, suhu hangat, dan tekanan halus
  • Reseptor terletak distruktur permukaan.
Serabut saraf C

NEUROREGULATOR

  • Substansi yang memberikan efek pada transmisi stimulus saraf, berperan penting pada pengalaman nyeri
  • Substansi ini titemukan pada nocicepåtor yaitu pada akhir saraf dalam kornu dorsalis medula spinalis dan pada tempat reseptor dalam saluran spinotalamik
  • Neuroregulator ada dua macam yaitu neurotransmitter dan neuromodulator

  • Neurotransmitter mengirimkan impuls elektrik melewati celah synaptik antara dua serabut saraf

contoh: substansi P, serotonin, prostaglandin

  • Neuromodulator memodifikasi aktivitas saraf dan mengatur transmisi stimulus saraf tanpa mentrasfer secara langsung sinyal saraf yang melalui synaps.

Contoh: endorphin, bradikinin

  • Neuromodulator diyakini aktifitasnya secara tidak langsung bisa meningkatkan atau menurunkan efek sebagian neurotransmitter

Teori gate control

n       Dikemukanan oleh Melzack dan wall pada tahun 1965

n       Teori ini mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat.

n       Dalam teori ini dijelaskan bahwa Substansi gelatinosa (SG) yg ada pada bagian ujung dorsal serabut saraf spinal cord mempunyai peran sebagai pintu gerbang (gating Mechanism), mekanisme gate control ini dapat memodifikasi dan merubah sensasi nyeri yang datang sebelum mereka sampai di korteks serebri dan menimbulkan nyeri.

n       Impuls nyeri bisa lewat jika pintu gerbang terbuka dan impuls akan di blok ketika pintu gerbang tertutup

n       Menutupnya pintu gerbang merupakan dasar terapi mengatasi nyeri

n       Berdasarkan teori ini perawat bisa menggunakannya untuk memanage nyeri pasien

n       Neuromodulator bisa menutup pintu gerbang dengan cara menghambat pembentukan substansi P.

n       Menurut teori ini, tindakan massase diyakini  bisa menutup gerbang nyeri.

PERSEPSI

  • Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, pada saat individu menjadi sadar akan nyeri, maka akan terjadi reaksi yang komplek.
  • Persepsi menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga kemudian individu dapat bereaksi
  • Proses persepsi secara ringkas adalah sebagai berikut:

Stimulus nyeri         Medula spinalis         Talamus          Otak (area limbik)  Reaksi emosi         Pusat otak          Persepsi

Stimulus nyeri ditransmisikan ke medula spinalis, naik ke talamus, selanjutnya serabut mentrasmisikan nyeri ke seluruh bagian otak, termasuk area limbik. Area ini mengandung sel-sel yang  yang bisa mengontrol emosi (khususnya ansietas). Area limbik yang akan berperan dalam memproses reaksi emosi terhadap nyeri. Setelah transmisi syaraf berakhir di pusat otak, maka individu akan mempersepsikan nyeri.

REAKSI

  • Reaksi terhadap nyeri merupakan respon fisioligis dan perilaku yang terjadi setelah mempersepsikan nyeri.
  • Nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang dan nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi ”flight atau fight”, yang merupakan sindrom adaptasi umum
  • Stimulasi pada cabang simpatis pada saraf otonom menghasilkan respon fisiologis,  apabila nyeri berlangsung terus menerus, maka sistem parasimpatis akan bereaksi
  • Secara ringkas proses reaksi adalah sebagai berikut:

Impuls nyeri         medula spinalis               batang otak & talamus      Sistem syaraf otonom          Respon fisiologis & perilaku

Impuls nyeri ditransmisikan ke medula spinalis menutju ke batang otak dan talamus. Sistem saraf otonom menjadi terstimulasi, saraf simpatis dan parasimpatis bereaksi, maka akan timbul respon fisiologis dan akan muncul perilaku.

  1. F. RESPON FISIOLOGIS TERHADAP NYERI

A. Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)

ü      Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate

ü      Peningkatan heart rate

ü      Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP

ü      Peningkatan nilai gula darah

ü      Diaphoresis

ü      Peningkatan kekuatan otot

ü      Dilatasi pupil

ü      Penurunan motilitas GI

B. Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)

ü      Muka pucat

ü      Otot mengeras

ü      Penurunan HR dan BP

ü      Nafas cepat dan irreguler

ü      Nausea dan vomitus

ü      Kelelahan dan keletihan

RESPON TINGKAH LAKU TERHADAP NYERI

Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:

  • Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
  • Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
    • Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
    • Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri)

Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:

n       Fase antisipasi—–terjadi sebelum nyeri diterima.

Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena  fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinnkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.

Contoh: sebelum dilakukan tindakan bedah, perawat menjelaskan tentang nyeri yang nantinya akan dialami oleh klien pasca pembedahan, dengan begitu klien akan menjadi lebih siap dengan nyeri yang nanti akan dihadapi.

n        Fase sensasi—–terjadi saat nyeri terasa.

Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upay pencegah nyeri, sebelum nyeri datang.

Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan  gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.

n       Fase akibat (aftermath)——terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti

Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat ((aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

  1. G. KLASIFIKASI  NYERI

A. Berdasarkan sumbernya

  • Cutaneus/ superfisial, yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan subkutan. Biasanya bersifat burning (seperti terbakar)

ex: terkena ujung pisau atau gunting

  • Deep somatic/ nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari ligament, pemb. Darah, tendon dan syaraf, nyeri menyebar & lbh lama daripada cutaneus

ex: sprain sendi

  • Visceral (pada organ dalam), stimulasi reseptor nyeri dlm rongga abdomen, cranium dan thorak. Biasanya terjadi karena spasme otot, iskemia, regangan jaringan

B. Berdasarkan penyebab:

n Fisik

Bisa terjadi karena stimulus fisik (Ex: fraktur femur)

Psycogenic

Terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah diidentifikasi, bersumber dari emosi/psikis dan biasanya tidak disadari. (Ex: orang yang marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya)

Biasanya nyeri terjadi karena perpaduan 2 sebab tersebut

C. Berdasarkan lama/durasinya

  • Nyeri akut

Nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera,  atau intervensi bedah dan memiliki awitan yan cepat, dengan intensitas bervariasi dari berat sampai ringan . Fungsi nyeri ini adalah sebagai pemberi peringatan akan adanya cidera atau penyakit yang akan datang.  Nyeri ini terkadang bisa hilang sendiri tanpa adanya intervensi medis, setelah keadaan pulih pada area yang rusak.  Apabila nyeri akut ini muncul, biasanya tenaga kesehatan sangat agresif untuk segera menghilangkan nyeri. Nyeri akut secara serius mengancam proses penyembuhan klien, untuk itu harus menjadi prioritas perawatan. Rehabilitasi bisa tertunda dan hospitalisasi bisa memanjang dengan adanya nyeri akut yang tidak terkontrol.

  • Nyeri kronik

Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode tertentu, berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari enam bulan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol, karena pengobatan kanker tersebut atau karena gangguan progresif lain. Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian. Pada nyeri kronik, tenaga kesehatan tidak seagresif pada nyeri akut. Klien yang mengalami nyeri kronik akan mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat).  Nyeri ini biasanya tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang  diarahkan pada penyebabnya. Nyeri ini merupakan penyebab utama ketidakmampunan fisik dan psikologis. Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi membuat klien menjadi frustasi dan seringkali mengarah pada depresi psikologis. Individu yang mengalami nyeri kronik akan timbul perasaan yan gtidak aman, karena ia tidak pernah tahu apa yang akan dirasakannya dari hari ke hari.

Perbedaan karakteristik nyeri akut dan kronik

Nyeri akut Nyeri kronik
nLamanya dalam hitungan menit

nDitandai  peningkatan BP, nadi, dan respirasi

nRespon pasien:Fokus pada nyeri, menyetakan nyeri menangis dan mengerang

nTingkah laku menggosok bagian yang nyeri

nLamanyna sampai hitungan bulan, > 6bln

nFungsi fisiologi bersifat normal

nTidak ada keluhan nyeri

nTidak ada aktifitas fisik sebagai respon terhadap nyeri

D. Berdasarkan lokasi/letak

  • Radiating pain

Nyeri menyebar dr sumber nyeri ke jaringan di dekatnya (ex: cardiac pain)

  • Referred pain

Nyeri dirasakan pada bagian tubuh tertentu yg diperkirakan berasal dari  jaringan penyebab

  • Intractable pain

Nyeri yg sangat susah dihilangkan (ex: nyeri kanker maligna)

  • Phantom pain

Sensasi nyeri dirasakan pada bagian.Tubuh yg hilang (ex: bagian tubuh yang diamputasi) atau bagian tubuh yang lumpuh karena injuri medulla spinalis

  1. H. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPON NYERI
  • Usia

Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal  jika nyeri diperiksakan.

  • Jenis kelamin

Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri)

  • Kultur

Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri. (ex: suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri)

  • Makna nyeri

Berhubungan dengan  bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.

  • Perhatian

Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.

  • Ansietas

Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.

  • Pengalaman masa lalu

Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

  • Pola koping

Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.

  • Support keluarga dan social

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan.

  1. I. PROSES KEPERAWATAN
  • Pengkajian

Pengkajian nyeri yang factual dan akurat dibutuhkan untuk:

v      Menetapkan data dasar

v      Menegakkan diagnosa keperawatan yang tepat

v      Menyeleksi terapi yang cocok

v      Mengevaluasi respon klien terhadap terapi yang diberikan

Perawat harus menggali pengalaman nyeri dari sudut pandang klien. Keuntungan pengkajian nyeri bagi klien adalah bahwa nyeri diidentifikasi, dikenali sebagai sesuatu yang nyata, dapat diukur, dapat djelaskan, serta digunakan untuk mengevaluasi perawatan.

Hal-hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:

1.Ekspresi klien terhadap nyeri

Banyak klien tidak melaporkan/mendiskusikan kondisi  ketidaknyamanan. Untuk itulah perawat harus mempelajari cara verbal dan nonverbal klien dalam mengkomunikasikan rasa ketidaknyamanan. Klien yang tidak mampu berkomunikasi efektif seringkali membutuhkan perhatian khusus ketika pengkajian.

2.Klasifikasi pengalaman nyeri

Perawat mengkaji apakah nyeri  yang dirasakan klien akut atau kronik. Apabila akut, maka dibutuhkan pengkajian yang rinci tentang karakteristik nyeri dan apabila nyeri bersifat kronik, maka perawat menentukan apakah nyeri berlangsung intermiten, persisten atau terbatas.

3.Karakteristik nyeri

Onset dan durasi

Perawat mengkaji sudah berapa lama nyeri dirasakan, seberapa sering nyeri kambuh, dan apakah munculnya nyeri itu pada waktu yang sama.

Lokasi

Perawat meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri terasa, menetap atau terasa pada menyebar

Keparahan

Perawat meminta klien menggambarkan seberapa parah nyeri yang dirasakan. Untuk memperoleh data ini perawt bias menggunakan alat Bantu, skala ukur. Klien ditunjukkan skala ukur, kemudian disuruh memilih yang sesuai dengan kondisinya saat ini yang mana.  Skala ukur bis berupa skala numeric, deskriptif, analog visual. Untuk anak-anak skala yan digunakan adalah skala oucher yang dikembangkan oleh Beyer dan skala wajah yang diembangkan oleh Wong & Baker. Pada skala oucher terdiri dari skala dengan nilai 0-100 pada sisi sebelah kiri untuk anak-anak yang lebih besar dan skala fotografik enam gambar pada sisi kanan untuk anak yang lebih kecil. Foto wajah seorang anak dengan peningkatan rasa ketidaknyamanan dirancang sebagai petunjuk untuk memberi anak-anak pengertian sehingga dapat memahami makna dan keparahan nyeri. Anak bisa  diminta untuk mendiskripsikan nyeri yang dirasakan dengan memilih gambar  yang ada. Skala wajah terdiri dari enam wajah dengan profil kartun yang menggambarkan wajah dari wajah yang sedang tersenyum (tidak merasa nyeri), kemudian secara bertahap meningkat sampai wajah yang sangat ketakutan (nyeri yang sangat).

Contoh gambar skala nyeri:

Skala wajah wong

Skala nyeri                                                                                                               skala ocher

Kualitas

Minta  klien menggambarkan nyeri yang dirasakan, biarkan klien mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya sendiri. Perawat boleh memberikan deskripsi pada klien, bila klien tidak mampu menggambarkan nyeri yang dirasakan.

Pola nyeri

Perawat meminta klien untuk mendiskripsikan ativitas yang menyebabkan nyeri dan meminta lien untuk mendemontrasikan aktivitas yang bisa menimbulkan nyeri.

Cara mengatasi

Tanyakan pada klien tindakan yang dilakukan apabila nyerinya muncul dan kaji juga apakah tindakan yang dilakukan klien itu bisa efektif untuk mengurangi nyeri.

Tanda lain yang menyertai

Kaji adanya penyerta nyeri, seperti mual, muntah, konstipasi, gelisah, keinginan untuk miksi dll.

Gejala penyerta memerlukan prioritas penanganan yang sama dengan nyeri itu sendiri.

  1. 4. Efek nyeri pada klien

Nyeri merupakan kejadian yang menekan atau stress dan dapat mengubah gaya hidup dan kesejahteraan psikologis individu. Perawat harus mengkaji hal-hal berikut ini untuk mengetahui efek  nyeri pada klien:

a. Tanda dan gejala fisik

Perawat mengkaji tanda-tanda fisiologis, karena adanya nyeri yang dirasakan klien bisa berpengaruh pada fungsi normal tubuh.

b. Efek tingkah laku

Perawat mengkaji respon verbal, gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan interaksi sosial. Laporan verbal tentang nyeri merupakan bagian vital dari pengkajian, perawat harus bersedia mendengarkan dan berusaha memahami klien. Tidak semua klien mampu mengungkapkan nyeri yang dirasakan,  untuk hal yang seperti itu perawat harus mewaspadai perilaku klien yang mengindikasikan nyeri.

c. Efek pada ADL

Klien yang mengalami nyeri kurang mampu berpartisipasi secara rutin dalam aktivitas sehari-hari. Pengkajian ini menunjukkan sejauh mana kemampuan dan proses penyesuaian klien berpartisipasi dalam perawatan diri. Penting juga untuk mengkaji efek nyeri pada aktivitas sosial klien.

  1. 5. Status neurologis

Fungsi neurologis lebih mudah mempengaruhi pengalaman nyeri. Setiap faktor yang mengganggu atau mempengaruhi resepsi dan persepsi nyeri yang normal akan mempengaruhi respon dan kesadaran klien tentang nyeri.  Penting bagi perawat untuk mengkaji status neurologis klien, karena klien yang mengalami gangguan neurologis tidak sensitif terhadap nyeri. Tindakan preventif perlu dilakukan pada klien dengan kelainan neurologis yang mudah mengalami cidera.

  • Diagnosa
    • Nyeri akut b.d injuri fisik, pengurangan suplai darah, proses melahirkan
    • Nyeri kronik b.d proses keganasan
    • Cemas b.d nyeri yang dirasakan
    • Koping individu tidak efektif b.d nyeri kronik
    • Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri muskuloskeletal
    • Resiko injuri b.d kekurangan persepsi terhadap nyeri
    • Perubahan pola tidur b.d low back pain
  • Perencanaan

Perawat mengembangkan perencanaan keperawatan dario diagnosa yang telah dibuat. Perawat dan klien secara bersama-sama mendiskusikan harapan yang realistis dari tindakan mengatasi nyeri, derajat pemulihan nyeri yang diharapkan, dan efek-efek yang harus diantisipasi pada gaya hidup dan fungsi klien. Hasil akhir yang diharapkan dan tujuan keperawatan diseleksi berdasarkan diagnosa keperawatan dan kondisi klien. Secara umum tujuan asuhan keperawatan klien dengan nyeri adalah sebagai berikut:

  • Klien merasakan sehat dan nyaman
  • Klien mempertahankan kemampuan untuk melakukan perawatan diri
  • Klien mempertahankan fungsi fisik dan psikologis yang dimiliki saat ini
  • Klien menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan nyeri
  • Klien menggunakan terapi yang diberikan dengan aman di rumah

Contoh rencana perawatan (Renpra):

No Diagnosa Kriteria hasil Rencana tindakan
1 Nyeri akut b.d injuri fisik (pembedahan) Pain level, pain control dan comfort level dengan kriteria hasil:

  • Menggunakan skala nyeri untuk mengidentifikasi nyeri yang dirasakan
  • Mendiskripsikan cara memanajemen nyeri
  • Mengungkapkan kemampuan tidur dan istirahat
  • Mendiskripsikan terapi nonfarmakologi untuk mengontrol nyeri
  • TTV dalam batas normal
Manajemen nyeri:

  • Kaji nyeri yang dialami klien (meliputi PQRST)
  • Observasi ketidaknyamanan nonverbal terhadap nyeri
  • Kaji pengalaman masa lalu klien terhadap nyeri
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk klien
  • Kolaborasi pemberian analgetik
  • Ajarkan tehnik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri
  • Dst (lihat lebih lengkap di NIC)
  • Intervensi

Manajemen nyeri terdiri dari:

a.Farmakologis (kolaborasi)——-penggunaan analgetik

Mengganggu penerimaan/stimuli nyeri dan interpretasinya dengan menekan fungsi talamus & kortek serebri.

  1. Non farmakologi (mandiri)
  • Sentuhan terapeutik

Teori ini mengatakan bahwa individu yang sehat mempunyai keseimbangan energi antara tubuh dengan lingku;ngan luar. Orang sakit berarti ada ketidakseimbangan energi, dengan memberikan sentuhan pada klien, diharapkan ada transfer energi dari perawat ke klien.

  • Akupresur

Pemberian penekanan pada pusat-pusat nyeri

  • Guided imagery

Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari klien. Apabila klien mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut.

  • Distraksi

Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio (mendengar musik), distraksi sentuhan (massase, memegang mainan), distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur)

  • Anticipatory guidence

Memodifikasi  secara langsung cemas yang berhubungan dengan nyeri. Contoh tindakan: sebelum klien menjalani prosedur pembedahan, perawat memberikan penjelasan/informasi pada klien tentang pembedahan, dengan begitu klien sudah punya gambaran dan akan lebih siap menghadapi nyeri.

  • Hipnotis

Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.

  • Biofeedback

Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren, dengan cara memasang elektroda pada pelipis.

  • Stimulasi kutaneus

Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran adalah cara ini bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Bisa dilakukan dengan massase, mandi air hangat, kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical nerve stimulation). TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar.

Contoh implementasi:

Diagnosa Implementasi Evaluasi
Nyeri akut b.d injuri fisik Sabtu, 10 desemder 2006-12-2006

07.30

  • Mengkaji tingkat nyeri klien
  • Mengkaji pengalaman masa lalu dalam mengatasi nyeri
  • Mengukur tekanan darah, nadi, pernafasan

09.00

  • Memberikan injeksi kaltrofen 1 ampul
  • Mengobservasi respon nonverbal terhadap nyeri

12.00

  • Memonitor istirahat klien
S  : klien mengatakan nyeri saat ini pada skala 7

O  : TD 110/70, N 90 X/menit, R  18 x/menit, klien tampak meringis saat berubah posisi

A  : nyeri akut teratasi sebagian

P      : lanjutkan intervensi manajemen nyeri

  1. Peran perawat dalam mengatasi nyeri:
  • Mengidentifikasi penyebab nyeri
  • Kolaborasi dengan tim kes lain untuk pengobatan nyeri
  • Memberikan intervensi pereda nyeri
  • Mengevaluasi efektivitas pereda nyeri
  • Bertindak sebagai advokat jika pereda nyeri tidak efektif
  • Sebagai pendidik keluarga & pasien tentang manajemen nyeri

Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Vol : 1. Jakarta: EGC

Kozier.       . Fundamental Of Nursing.

Potter & Perry . 2006. Fundamental Keperawatan. Vol: 2. Jakarta : EGC

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Akumulasi darah dalam dada , atau hematothorax adalah masalah yang relatif umum , paling sering akibat cedera untuk intrathoracic struktur atau dinding dada . hematothorax tidak berhubungan dengan trauma adalah kurang umum dan dapat disebabkan oleh berbagai penyebab . Identifikasi dan pengobatan traumatik gematothorax adalah bagian penting dari perawatan pasien yang terluka . Dalam kasus hematothorax tidak berhubungan dengan trauma , penyelidikan yang hati – hati untuk sumber yang mendasari harus dilakukan ketika perawatan terjadi .

Hematothorax mengacu pada koleksi darah dalam rongga pleura . Walaupun beberapa penulis menyatakan bahwa nilai hematokrit setidaknya 50 % diperlukan untuk mendefinisikan hematothorax ( dibandingkan dengan berdarah efusi pleura ) . Sebagian besar tidak setuju pada perbedaan tertentu . Meskipun etiologi paling umum adalah hematothorax tumpul atau trauma tembus , itu juga dapat hasil dari sejumlah nontraumatic menyebabkan atau dapat terjadi secara spontan .

Pentingnya evakuasi awal darah melalui luka dada yang ada dan pada saat yang sama , menyatakan bahwa jika perdarahan dari dada tetap , luka harus ditutup dengan harapan bahwa ada tekanan intrathoracic akan menghentikan perdarahan jika efek yang diinginkan tercapai , menyarankan agar luka dibuka kembali beberapa hari kemudian untuk evakuasi tetap beku darah atau cairan serosa .

Mengukur frekuansi hematothorax dalam populasi umum sulit . Hematothorax yang sangat kecil dapat dikaitkan dengan satu patah tulang rusuk dan mungkin tak terdeteksi atau tidak memerlukan pengobatan . karena sebagian besar terkait dengan hematothorax trauma , perkiraan kasar terjadinya mereka dapat dikumpulkan dari trauma statistik .

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 A            pa yang dimaksud dengan hematothorax ?

1.2.2 Apa saja etiologi dari hematothorax ?

1.2.3 Bagaimana patofisiologi dari hematothorax ?

1.2.4 Bagaimana manifestasi klinis dari hematothorax ?

1.2.5 Apa saja pemeriksaan dari hematothorax ?

1.2.6 Bagaimana perawatan dari hematothorax ?

1.3 TUJUAN

1.3.1 Untuk mengetahui tentang istilah hematothorax .

1.3.2 Untuk mengetahu tentang etiologi hematothorax .

1.3.3 Untuk mengetahui tentang patofisiologi hematothorax .

1.3.4 Untuk mengetahui tentang manifestasi klinis dari hematothorax .

1.3.5 Untuk mengatahui tentang pemeriksaan dari hematothorax .

1.3.6 Untuk mengetahui tentang perawatan hematotohrax .

1.4 BATASAN MASALAH

Makalah yang kami buat terbatas pada pengertian hematothorax , etiologi hematothorax , patofisiologi hematothorax , manifestasi klinis hematotohrax , pemeriksaan penunjang dan perawatan dari hematothorax .

1.5 MANFAAT

Makalah yang kami buat dapat memberikan sedikit wacana kepada pembaca khususnya mahasiswa mengenai tentang apa saja hematotohrax .

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN

Hematothorax adalah adanya darah dalam rongga pleura . Sumber mungkin darah dinding dada , parenkim paru – paru , jantung atau pembuluh darah besar . kondisi diasanya merupakan konsekuensi dari trauma tumpul atau tajam . Ini juga mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit .( Puponegoro , 1995 ) .

.

2.2 ETIOLOGI

2.2.1 Traumatis

  • Trauma tumpul .
  • Penetrasi trauma .

2.2.2 Non traumatic atau spontan

  • Neoplasia ( primer atau metastasis ) .
  • Diskrasia darah , termasuk komplikasi antikoagulasi .
  • Emboli paru dengan infark .
  • Robek pleura adhesi berkaitan dengan pneumotorax spontan .
  • Emfisema .
  • Tuberkulosis .
  • Paru arteriovenosa fistula .

2.3 PATOFISIOLOGI

Perdarahan ke dalam rongga pleura dapat terjadi dengan hampir semua gangguan  dari jaringan dinding dada dan pleura atau struktur intratoracic yang fisiologis terhadap pengembangan hematothorax diwujudkan dalam 2 bidang utama hemodinamik dan pernapasan . Tingkat respons hemodinamik ditentukan oleh jumlah dan kecepatan kehilangan darah .

Gerakan pernapasan normal mungkin terhambat oleh ruang efek menduduki akumulasi besar darah dalam rongga pleura . Dalam kasus trauma , kelainan ventilasi dan oksigen dapat mengakibatkan , terutama jika dikaitkan dengan cedera pada dinding dada . Dalam beberapa kasus nontraumatic asal usul , terutama yang berkaitan dengan pneumotorax dan jumlah terbatas perdarahan , gejala pernapasan dapat mendominasi .

Pohon Masalah

Trauma pada thorax
Perdarahan pada rongga pleura . hingga tahanan perifer darah paru meningkat
Cedera jaringan lunak/hilangnya kontinuitas structur tulang
Reabsorbsi darah oleh pleura tidak memadai / tidak optimal
Nyeri , adanya luka pasca trauma , pergeseran fragmen paru
Nyeri kerusakan intregitas jaringan , resiko tinggi infeksi
Akumulasi darah dikantong pleura
G3 ventilasi , pengembangan paru tidak optimal , g3 difusi . distribusi dan transportasi oksigen
Edema trakea/faringeal peningkatan produksi secret dan penurunan kemampuan batuk efektif
Ketidak efektifan jalan napas Terpasang WSD
Ketidak efektifan jalan napas
  • nyeri
    • perubahan pemenuhan nutrisi < dr kebutuhan
    • g3 mobilitas fisik
    • g3 pemenuhan ADL
    • cemas
    • ketidaktahuan/penurunan
Keluhan sistemik,mual,intake nutrisi tidak adekuat,malaise,kelemahan dan keletihan fisik,kecemasan,serta ketidaktahuan akan prognosis

2.4 MANIFESTASI KLINIS

2.4.1 Blunt trauma – hematothorax dengan dinding dada cedera tumpul .

2.4.1.1 Jarang hematothorax sendirian menemukan dalam trauma tumpul . Associated dinding dada atau cedera paru hampir selalu hadir .

2.4.1.2 Cedera tulang sederhana terdiri dari satu atau beberapa patah tulang rusak adalah yang paling umum dada cedera tumpul . Hematothorax kecil dapat berhubungan dengan bahkan satu patah tulang rusuk tetapi sering tetap diperhatikan selama pemeriksaan fisik dan bahkan setelah dada radiography . Koleksi kecil seperti jarang membutuhkan pengobatan .

2.4.1.3 Kompleks dinding dada cedera adalah mereka yang baik 4 / lebih secara berurutan satu patah tulang rusuk hadir atau memukul dada ada . Jenis cedera ini terkait dengan tingkat signifikan kerusakan dinding dada dan sering menghasilkan koleksi besar darah dalam rongga pleura dan gangguan pernapasan substansial . Paru memar dan pneumotorax yang umumnya terkait cedera . Mengakibatkan luka – luka lecet dari internal interkostal / arteri mamae dapat menghasilkan ukuran hematothorax signifikan dan hemodinamik signifikan kompromi . Kapal ini adalah yang paling umum perdarahan terus menerus sumber dari dada setelah trauma .

2.4.1.4 Delayed hematothorax can accur at some interval after blunt chest trauma . Dalam kasus tersebut evaluasi awal , termasuk dada radiography  , mengngkapkan temuan dari patah tulang rusuk yang menyertainya tanpa intrathoracic patologi , Namun jam untuk hari kemudian , seorang hematothorax terlihat . Mekanisme diyakini baik pecah terkait trauma dinding dada hematom ke dalam rongga pleura / perpindahan dari tulang rusuk patah ujungnya dengan interkostalis akhirnya gangguan terhadap kapal – kapal selama gerakan pernapasan atau batuk .

2.4.2 Intrathoracic cedera tumpul

2.4.2.1 Hematothorax besar biasanya berhubungan struktur vaskular cedera . Gangguan atau robekan besar struktur arteri / vena di dalam dada dapat menyebebkan perdarahan masif / exsanguinating .

2.4.2.2 Hemodinamik menifestasi terkait dengan hematothorax besar adalah mereka dari hemorrhagic shock . Gejala – gejala dapat berkisar dari ringan sampai mendalam , tergantung pada jumlah dan laju perdarahan ke dalam rongga dada dari sifat dan tingkat keparahan cedera terkait .

2.4.2.3 Karena koleksi besar darah akan menekan paru – paru ipsilateral , pernapasan terkait termasuk manifestasi tachypnea dan dlam beberapa kasus hypoxemia .

2.4.2.4 Berbagai temuan fisik seperti memar , rasa sakit , ketidakstabilan / krepitus pada palpasi atas rusuk retak , cacat dinding dada / gerakan dinding dada paradoksal dapat mengakibatkan kemungkinan hematothorax bersamaan dalam kasus cedera tumpul dinding dada . Ketumpulan pada perkusi diatas bagian yang terkena sering hemotorax dicatat dan lebih sering ditemukan selama lebih tergantung daerah torax jika pasien tegak . Berkurang / tidak hadir pada auskultasi bunyi napas dicatat di atas wilayah hemotothorax .

2.4.3 Trauma tembus

2.4.3.1 Hematothorax dari cedera penetrasi paling sering disebabkan oleh lecet langsung dari pembuluh darah . Sementara arteri dinding dada paling sering , sumber menembus hematothorax cedera , intrathoracic struktur  , termasuk jantung , juga harus dipertimbangkan .

2.4.3.2 Parenkim paru cedera sangat umum dalam kasus – kasus cedera menembus dan biasanya menghasilkan kombinasi hematothorax dan pneumothorax .

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

2.5.1 Laboratorium studi

  • Hematokrit dari cairan pleura
    • Pengukuran hematokrit hampir tidak pernah diperlakukan pada pasien dengan hematothorax traumatis .
    • Studi ini mungkin diperlakukan untuk analisis berdarah nontraumatik efusi dari penyebabnya . Dalam khusus tersebut , sebuah efusi pleura dengan hematokrit lebih dari 50 % dari yang hematokrit beredar deanggap sebagai hematothorax .

2.5.2 Imaging studi

  • Chest radiography
  • Dada yang tegak sinar rongent adalah ideal studi diagnostik utama dalam evaluasi hematothorax .
  • Dalam unscarred normal rongga pleura yang hemothtorax dicatat sebagai meniskus cairan menumpulkan costophiremic diafragmatik sudut atau permukaan dan pelacakan atas margin pleura dinding dada ketika dilihat pada dada tegak film sinar – x . Hal ini pada dasarnya sama penampilan radiography dada yang ditemukan dengan efusi pleura .
  • Dalam kasus – kasus dimana jaringan atau sisfisis pleura hadir , koleksi tidak dapat bebas untuk menempati posisi yang paling tergantung didalam dada tapi menempati posisi yang paling tergantung didalam dada , tapi akan mengisi ruang pleura bebas apapun tersedia . Situasi ini mungkin membuat penampilan klasik lapisan pluida pada dada x – ray film .
  • Sebanyak 400 – 500 ml darah diperlukan untuk melenyapkan costapherenic sudut seperti terlihat pada dada tegak sinar rongent .
  • Dalam pengaturan trauma akut , telentang portabel dada sinar rongent mungkin menjadi yang pertama dan satu – satunya pandangan tersedia dari yang untuk membuat keputusan mengenai terapi definitif , kehadiran dn ukuran hematothorax jauh lebih sulit untuk mengevaluasi pada film terlentang . sebanyak 1000 ml darah mungkin akan terjawab saat melihat dada terlentang portabel x – ray film . Hanya kekaburan umum yang terkena bencana hematothorax dapat dicatat .
  • Dalam kasus trauma hematothorax sering dikaitkan dengan dada lainnya , luka – luka terlihat di dada sinar rongent , seperti patah tulang iga , pneumotorax , atau pelebaran mediatinum superior .
  • Studi – studi tambahan seperti USG atau CT scan mungkin kadang – kadang diperlukan untuk identitas dan kualifikasi dari hematothorax dicatat disebuah dataran sinar rongent .
  • Ultrasonography
  • Ultrasonography USG digunakan dibeberapa pusat trauma dalam evaluasi awal pasien untuk hematothorax .
  • Salah satu kekurangan dari USG untuk identifikasi traumatis terkait hematothorax adalah bahwa luka – luka segera terlihat pada radiography dada pada pasien trauma , seperti cedera tulang , melebar mediastinum dan pneumothorax , tidak mudah diidentifikasi di dada Ultrasonograp gambar .
  • Ultrasonography lebih mungkin memainkan peran yang saling melengkapi dalam kasus – kasus tertentu dimana x –ray dada temuan hematothorax yang samar – samar .
    • CT
    • CT scan sangat akurat studi diagnostik cairan pleura / darah .
    • Dalam pengaturan trauma tidak memegang peran utama dalam diagnostik hematothorax tetapi melengkapi dada radiography . Karena banyak korban trauma tumpul melakukan rongrnt dada dan / CT scan perut evaluasi, tidak dianggap hematothorax didasarkan pada radiography dada awal dapat diidentifikasi dan diobati .
    • Saat ini CT scan adalah nilai terbesar kemudian dalam perjalanan trauma dada pasien untuk lokalisasi dan klasifikasi dari setiap koleksi mempertahankan gumpalan dalam rongga pleura .

2.6 PERAWATAN

  • Prehospital care in patients with hemothorax Perawatan pra-rumah sakit pada pasien dengan hemothorax
  • Assess airway, breathing, and circulation. Menilai Airway, pernapasan, dan sirkulasi. Evaluate for the possibility of tension pneumothorax. Evaluasi untuk kemungkinan ketegangan pneumotoraks. Assess vital signs and pulse oximetry. Menilai tanda-tanda vital dan denyut nadi oksimetri. Administer oxygen and establish an intravenous line. Administer oksigen dan membentuk garis intravena.
  • Dekompresi jarum dari pneumotoraks ketegangan mungkin diperlukan.
  • Perawatan awal diarahkan untuk cardiopulmonary stabilisasi dan evakuasi dari koleksi darah pleura.
  • Jika pasien hypotensive, membangun besar-garis intravena membosankan. Commence appropriate fluid resuscitation with blood transfusion as necessary. Resusitasi cairan dimulai sesuai dengan transfusi darah diperlukan.
  • Untuk evakuasi, tempat-besar membosankan tabung torakotomi costophrenic diarahkan ke sudut.
  • Jika dada tabung konvensional tidak mengeluarkan koleksi darah, langkah-langkah lebih lanjut mungkin diperlukan. Conventional treatment involves placement of a second thoracostomy tube. Pengobatan konvensional melibatkan penempatan thoracostomy kedua tabung. However, in many patients, this therapy is ineffective, necessitating further intervention. Namun, pada banyak pasien, terapi ini tidak efektif, sehingga perlu intervensi lebih lanjut.
  • Video-dibantu thoracoscopy (tong) adalah pengobatan alternatif yang memungkinkan pemindahan langsung dan tepat gumpalan dada penempatan tabung. VATS is associated with fewer postoperative complications and shorter hospital stays compared with thoracostomy. Tong-tong dikaitkan dengan komplikasi pascabedah lebih sedikit dan lebih pendek dibandingkan dengan rumah sakit tetap thoracostomy .
  • Emergency department care Perawatan gawat darurat
    • The patient should be sitting upright unless other injuries contraindicate this position. Pasien harus duduk tegak kecuali luka lain contraindicate posisi ini. Administer oxygen and reassess airway, breathing, and circulation. Administer oksigen dan menilai kembali jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi.
    • Mendapatkan sinar rentgen dada tegak secepat mungkin.
    • Jika pasien hemodynamically tidak stabil, segera memulai resusitasi cairan (misalnya, 20 mL / kg Ringer lactated solusi).
    • The need for a chest tube in an asymptomatic patient is unclear, but if the patient has any respiratory distress, direct the large-bore chest tube toward the costophrenic angle as the chest radiograph indicates. Kebutuhan tabung di dada pasien yang asimtomatik tidak jelas, tetapi jika pasien mempunyai gangguan pernapasan, langsung besar-dada menanggung tabung menuju sudut costophrenic sebagai sinar rentgen menunjukkan dada.
    • Inovasi terbaru perawatan intrapleural fibrinolytic traumatis bergumpal hemothorax. Either 250,000 units of streptokinase or 100,000 units of urokinase was instilled daily into intrapleural space on 2-15 occasions. Entah streptokinase 250.000 unit atau 100.000 unit urokinase itu ditanamkan intrapleural harian ke ruang pada 2-15 kali. The overall success rate was 92%. 25 Tingkat keberhasilan secara keseluruhan adalah 92%.
    • Akhirnya, jika fibrothorax berkembang meskipun terapi modalitas yang telah disebutkan sebelumnya, suatu prosedur decortication mungkin diperlukan untuk memungkinkan ekspansi paru dan mengurangi risiko empiema.

2.7 ASUHAN KEPERAWATAN

2.7.1 Pengkajian

Point yang penting dalam riwayat keperawatan :

1. Umur : Sering terjadi usia 18 – 30 tahun.

2. Alergi terhadap obat, makanan tertentu.

3. Pengobatan terakhir.

4. Pengalaman pembedahan.

5. Riwayat penyakit dahulu.

6. Riwayat penyakit sekarang.

7. Dan Keluhan.

2.7.2 pemeriksaan fisik

1. Sistem Pernapasan :

Sesak napas , Nyeri , batuk-batuk , Terdapat retraksi , klavikula / dada . Pengambangan paru tidak simetris. Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor / hipersonor / timpani , hematotraks ( redup ) Pada asukultasi suara nafas , menurun , bising napas yang berkurang / menghilang . Pekak dengan batas seperti , garis miring / tidak jelas.
Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.  Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

2. Sistem Kardiovaskuler :

Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.
Takhikardia , lemah , Pucat , Hbturun / normal .Hipotensi.

3. Sistem Persyarafan :

Tidak ada kelainan.

4. Sistem Perkemihan.

Tidak ada kelainan.

5. Sistem Pencernaan :

Tidak ada kelainan.

6. Sistem Muskuloskeletal – Integumen.

Kemampuan sendi terbatas . Ada luka bekas tusukan benda tajam.
Terdapat kelemahan.Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

7. Sistem Endokrine :

Terjadi peningkatan metabolisme. Kelemahan.

8. Sistem Sosial / Interaksi.

Tidak ada hambatan.

9. Spiritual :

Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

10. Pemeriksaan Diagnostik :

Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural. Pa Co2 kadang – kadang menurun. Pa O2 normal / menurun.
Saturasi O2 menurun (biasanya). Hb mungkin menurun (kehilangan darah).
Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,

2.7.3 Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.

4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.

5. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.

6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.

7. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.

2.7.4 Intevensi Keperawatan :

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.

Tujuan : Pola pernapasan efektive.

Kriteria hasil :Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Intervensi :

  1. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.

R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

b. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.

R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
c. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

d. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.

R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

e. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.

f. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam :
1) Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.

R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.
2) Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.

R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.

3) Observasi gelembung udara botol penempung.

R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.

4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.

R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.

5) Catat karakter/jumlah drainage selang dada.

R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.

g. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

1) Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.Pemberian antibiotika.Pemberian analgetika.Fisioterapi dada.Konsul photo toraks.

R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Tujuan : Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil :

Menunjukkan batuk yang efektif. Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal.pernapasan.Klien nyaman.

Intervensi :

  1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.

R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

b.  Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.

1)      Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin

R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.

2)      Lakukan pernapasan diafragma
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.

3)      Tahan napas selama 3 – 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.

4)      Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat

R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

  1. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.

  1. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi

R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.

  1. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.

R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.

  1. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada.Konsul photo toraks.

R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.

Kriteria hasil :Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.Pasien tidak gelisah.

Intervensi :

  1. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.

R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
1) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.

R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.

2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.

R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.

  1. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.

R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.

  1. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.

R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.

R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.

  1. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 – 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 – 2 hari.

R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

Obtain an upright chest radiograph as quickly as possible.The need for a chest tube in an asymptomatic patient is unclear, but if the patient has any respiratory distress, direct the large-bore chest tube toward the costophrenic angle as the chest radiograph indicates

BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Akumulasi darah dalam dada , atau hematothorax adalah masalah yang relatif umum , paling sering akibat cedera untuk intrathoracic struktur atau dinding dada . hematothorax tidak berhubungan dengan trauma adalah kurang umum dan dapat disebabkan oleh berbagai penyebab . Identifikasi dan pengobatan traumatik gematothorax adalah bagian penting dari perawatan pasien yang terluka . Dalam kasus hematothorax tidak berhubungan dengan trauma , penyelidikan yang hati – hati untuk sumber yang mendasari harus dilakukan ketika perawatan terjadi .

Hematothorax mengacu pada koleksi darah dalam rongga pleura . Walaupun beberapa penulis menyatakan bahwa nilai hematokrit setidaknya 50 % diperlukan untuk mendefinisikan hematothorax ( dibandingkan dengan berdarah efusi pleura ) . Sebagian besar tidak setuju pada perbedaan tertentu . Meskipun etiologi paling umum adalah hematothorax tumpul atau trauma tembus , itu juga dapat hasil dari sejumlah nontraumatic menyebabkan atau dapat terjadi secara spontan .

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta : EGC.

Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.

dokter-medis.blogspot.com

Pusponegoro , A . D (1995) . ilmu bedah . FK UI.Jakarta

MENOLONG PASIEN BAB DIATAS TEMPAT TIDUR, HUKNAH DAN KOLOSTOMI

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 6B & 9B

–          DWI WIDAYANTI               : 2007.02.063

–          FENDY AFRIADI Z.                        : 2007.02.066

–          ICUK MAULANA                : 2007.02.073

–          NURISMAN AZHAR           : 2007.02.085

–          RIF’ AMALIA                       : 2007.02.089

–          RUFAIDAH CONITA          : 2007.02.093

–          RYAN DWI P.                       : 2007.02.094

–          TUNIK ASNUVI                   : 2007.02.096

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI

2007 /  2008


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya makalah KDM dengan judul ”Menolong Pasien BAB diatas tempat tidur,Huknah Rendah dan Huknah Tinggi,Kolostomi”,dapat selesai tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini,penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan makalah ini, antara lain kepada:

  1. Drs. H. Soekardjo,Amd. Kep.MM,selaku direktur Stikes Banyuwangi
  2. Sugeng, S.Kep.,Ns, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan , revisi kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi kemajuan penulis untuk kedepannya. Karena seperti pepatah mengatakan ”Tiada gading yang tak retak”. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Banyuwangi,         Juni 2009

Penulis


DAFTAR   ISI

Halaman Judul ……………………………………………………………………………………………. i

Cover dalam………………………………………………………………………………………………… ii

Kata pengantar…………………………………………………………………………………………….. iii

Daftar isi…………………………………………………………………………………………………….. iv

BAB I  PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah………………………………………………………………. 1

1.2  Rumusan Masalah……………………………………………………………………….. 1

1.3  Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………. 1

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA

2.1.   Eliminasi Alvi………………………………………………………………………….. 2

2.1.1   Sistem yang berperan dalam eliminasi alvi………………………….. 2

2.1.2   Proses eliminasi alvi…………………………………………………………. 3

2.1.3   Masalah eliminasi alvi………………………………………………………. 3

2.1.4   Faktor-faktor yang mempengaruhi proses defikasi……………….. 5

2.1.5   Meningkatkan kebiasaan defikasi secara rutin……………………… 7

2.1.6   Tindakan mengatasi masalah eliminasi alvi………………………….. 8

2.2      Huknah…………………………………………………………………………………. 11

2.2.1   Konsep dasar Enema…………………………………………………….. 11

2.2.2   Indikasi……………………………………………………………………….. 11

2.2.3   Macam dan tujuan Enema atau Huknah…………………………… 12

2.2.4   Kontra indikasi…………………………………………………………….. 13

2.2.5   Dampak pemberian Huknah…………………………………………… 13

2.2.6   Prosedur pelaksanaan…………………………………………………….. 15

2.2.7   Hal-hal yang perlu diperhatikan………………………………………. 23

2.3      Kolostomi ………………………………………………………………………………

2.3.1   Diversi usus…………………………………………………………………..

2.3.2   Perawatan stoma rutin (kolostomi)…………………………………..

2.3.3   Perawatan pasien ileostomi……………………………………………..

BAB  III   PENUTUP

3.1        Kesimpulan……………………………………………………………………………….

3.2        Saran………………………………………………………………………………………..

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Eliminasi produk pencernaan yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya, karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan beberapa faktor pola dan kebiasaan eliminasi berfariasi diantara individu namun telah terbukti bahwa pengeluaran feses yang sering dalam jumlah besar dan karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya insiden kangker kolesterol (Robinson dan Weigley,1989.

Untuk menangani masalah eliminasi perawat harus memahami eliminasi normal dan faktor-faktor yang meningkatkan atau menghambat eliminasi. Asuhan kaperawatan yang mendukung akan menghormati privasi dan kebutuhan emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi normal juga harus meminimalkan rasa ketidak nyamanan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Dampak yang dapat terjadi akibat dari gangguan sistem gastrointestinal sangatlah beragam mulai dari konstipasi,diare,inkontinensia usus, dan hemoroid fecal infektion. Disini kita akan membahas cara penanganan dan penatalaksanaan gangguan sistem gasto intestinal. Serta penatalaksanaan pertolongan BAB diatas tempat tidur,Huknah dan perawatan Kolostomy

1.3 TUJUAN PENULISAN

  1. Tujuan umum

Memberikan gambaran tentang tindakan enema , BAB, dan kolostomy sesuai dengan tujuan dan tata prosedur pelaksanaan.

  1. Tujuan khusus

Mampu melaksanakan tindakan keperawatan BAB, enema, dan kolostomy sesuai dengan prosedur pelaksanaan.


BAB   II

PEMBAHASAN

2.1       Eliminasi Alvi ( BAB )

2.1.1 Sistem yang berperan dalam eliminasi Alvi (BAB)

Sistem tubuh yang memiliki peran dalam proses eliminasi alvi adalah sistem gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri atasduodenum,jejenum,dan ilem dengan panjang kurang lebih 6 m dengan diameter 2,5 cm. Serta berfungsi absorbsi elektrolit Na+,CL,K+,mg,HCO3 dan kalsium.usus besar di mulai dari rektum,kolon hingga anus yang memiliki panjang kurang lebih 1,5m atau 50-60 incidengan diameter 6 cm.

Pada batas di antara usus besar dan ujung usus halus terdapat katup ilcocaccal.katup ini biasanya mencegah zat yang masuk ke usus besar sebelum waktunya.dan mencegah produk buangan untuk kembali ke usus halus.produk buangan yang memasuki usus besar isinya berupa cairan.setip hari saluran anus menyerap sekitar 800-1000 ml cairan.penyerapan inilah yang menyebabkan feses mempunyai bentuk dan setengah padat,feses ini lunak dan cair.kalau feses terlalu lama dalam usus besar,maka terlalu banyak air yang di serap sehingga feses menjadi kering dan keras.

Kolon sigmoid mengandung feses yang yang sudah siap di buang dan di teruskan kedalam rektum.dalam rektum terdapat 3 lapisan jaringan tranversal segitiga lapisan tersebut merupakan rektum menahan feses untuk sementara dan setiap lipatan lapisan tersebut mempunyai arteri dan vena.

Makanan yang di terima oleh usus halus dan lambung dalam bentuk setengah padat atau dikenal dengan nama chyme,baik berupa air,nutien,maupun elektrolit kemudian akan diabsorsi.usus mensekresi mukus,kalium,bikarbonat dan enzim.secara umum,kolon sebagai tempat absorbsi,proteksi,sekresi,dan eliminasi.proses perjalanan makanan dari mulut hingga sampai rektum membutuhkan waktu selama 12 jam.proses perjalanan makanan khusus pada daerah kolon  memiki beberapa gerakan diantaranya haustral suffing atau dikenal sebagai garakan mencampur zat makanandalam bentuk padat untuk mengabsorpsi air kemudian diikutidengan kontraksi haustral atau gerakan mendorong zat makanan atau air pada daerah kolon dan terakhir terjadi gerakan peristaltik yaitu gerakan maju ke anus.

2.1.2 Proses Buang Air Besar (DEFEKASI)

Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi yang terletak dimedula dan sumsum tulang belakang. Apabila terjadi rangsangan parasimpatis , sfingter anus bagian dalam akan mengendor dan usus besar menguncup. Reflek defekesi dirangsang untuk buang air besar,kemudian sfingter anus bagian luar yang diawali oleh syaraf parasimpatis setiap waktu menguncup atau mengendor selama defekasi berbagai otot lain membantu proses itu seperti otot dinding perut,diafragma dan otot-otot dasar pelvis.

Secara umum,terdapat 2 macam reflek yang membantu proses defekasi yaitu,pertama,reflekdefekasi interinsik yang mulai dari zat sisa makanan (feses) dalam rektum sehingga terjadi distensi.kemudian flexus mesenterikus merangsang gerakan peristaltik,dan akhirnya feses sampai di anus.lalu pada saat sfingter interna relaksasi,maka terjadilah proses defekasi.kedua, reflek defekasi parasimpatis.adanya feses dalam rektum yang merangsang saraf rektum.ke spinal cord. Dan merangsang ke kolon desenden,kemudian ke sigmoid ,lalu ke rektum dengangerakan peristaltik dan akhirnya terjadi relaksasi sfingter interna,maka terjadilah proses defekasi saat sfingter interna berelaksasi.

2.1.3 Gangguan masalah Eliminasi Alvi

1.Konstipasi

Merupakan keadan individu yang mengalami atau resiko tinggi stasis untuk besar sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras;keluarnya tinja terlalu kering dan keras.

A.Tanda klinis

a. Adanya feses yang keras

b. Defekasi yang kurang dari 3 kali seminggu

c. Menurunnya bising usus

d. Adanya keluhan dari rektum

e.  Nyeri saat mengejan dan defikasi

f.  Adanya perasaan masih da sisa feses

B. kemungkinan penyebab

a.   Defekpersarafan: kelemahan pelvis, imobilitas karena cedera           serebrospinalis, CVA, dll.

b. Pola defekasi yang tidak teratur

c. Nyeri saat defekasi karena hemeroid

d. Menurunnya peristaltik karena stres psikologis

e. Mengguna obat seperti antasida

f. Proses menua

2. Diare

Merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dengan bentuk cair. Diare di sertai kejang usus,mungkin ada rasa mual dan muntah.

A.  Tanda klinis

a. adanya pengeluaran feses cair

b. frekuensi lebih dari 3 kali

c. nyeri/kram abdomen

d. bising usus meningkat

B.  Kemungkinan penyebab

a. mengabsorbsi atau inflamansi proses infeksi

b. peningkatan peristaltik karena peningkatan metabolisme

c. efek tindakan pembedahan usus

d. efek penggunaan obat

e. stres psikologis

3. Inkontinensia Usus

Merupakan keadaan individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal mengalami proses pengeluaran feses tidak di sadari;yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sfingter sehingga mengakibatkan kerusakan pada sfingter.

A. Tanda klinis

Penguaran feses yang tidak di kehendaki

B. Kemungkinan penyebab

a. gangguan sfingter rektal akibat cedera anus,pembedahan,dll

b. disfensi rektum berlebihan

c. kurangnya kontrol sfingter akibat cedera medula spinalis,dll

d. kerusakan kognitif

4. Kembung

Merupakan penuh udara dalam perut karena pengumpulan secara berlebihan dalam lambung atau usus.

5.Hemorroid

Merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan daerah anus yang dapat di sebabkan karena kontipasiperenggangan saat defekasi.

6.Fekal Impaction

Merupakan masa feses keras di lipatan rektum yang di akibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan.penyebab kontipasi asupan kurang,aktivitas kurang,diet rendah serat,kelemahan tonnus otot.

2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses DEFEKASI

1. Usia

Setiap tahap perkembangan atau usia memiliki kemampuan mengontrol proses defekasi yang berbeda.pada bayi belum memiliki kemampuan mengotrol secara penuh dalam buang air besar,sedangkan orang dewasa sudah memiliki kemampuan mengotrol secara penuh,kemudian pada usia lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami penurunan.

2. Diet

Diet atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi proses defekasi.makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang di konsumsi pun dapat mempengaruhinya.

3. Asupan Cairan

Pemasukan cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi menjadi keras oleh karenaproses absorbsi yang kurang sehingga dapat mempengaruhi kesulitan proses defekasi.

4. Aktivitas

Aktivitas dapat mempengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonus otot,abdomen,pelvis dan diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi,sehingga proses gerakan peristaltik pada daerah kolon dapat bertambah baik dan memudahkan untuk kelancaran proses defekasi.

5. Pengobatan

Pengobatan juga dapat mempengaruhi proses defekasi seperti penggunaan obat-obatan laksatif atau antasida yang terlalu kering.

6. Gaya hidup

Gaya hidup dapat mempengaruhi proses defekasi.halini dapat dilihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat/kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet.maka ketika seseorang tersebut buang air besardi tempat yang terbuka atau tempat yang kotor maka ia akan mengalami kesulilan dalam proses defekasi.

7. Penyakit

Beberapa penyakit dapat mempengaruhi proses defekasi.biasanya penyakit-penyakit tersebut berhubungan langsung dengan sistem pencernaan seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya.

8. Nyeri

Adanya nyeri dapat mempengarihi kemampuan/keinginan untuk berdefekasi seperti nyeri pada kasus hemoroid dan episiotomi.

9. Kerusakan motorik dan sensorik

Kerusakan pada sistem sensoris dan metoris dapat mempengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris dalam berdefekasi.hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada tulang belakang ataukerusakan saraf lainnya.

No Keadaan Normal Abnormal Penyebab
1. Warna Bayi : Kuning Putih, hitam / tar, atau merah Kurangnya kadar empedu, perdarahan saluran cerna bagian atas, atau perdarahan saluran cerna bagian bawah.
Dewasa : coklat Pucat berlemak Malabsorpsi lemak.
2. Bau Khas fases dan dipengaruhi oleh makanan Amis dan perubahan bau Darah dan ifeksi.
3. Konsistensi Lunak dan berbentuk. Cair Diare dan absorpsi kurang.
4. Bentuk Sesuai diameter rectum Kecil, bentuknya seperti pensil. Obstruksi dan peristaltik yang cepat.
5. Konstituen Makanan yang tidak dicerna, bakteri yang mati, lemak, pigmen empedu, mukosa usus, air. Darah, pus, benda asing, mukus, atau cacing. Internal bleeding, infeksi, tertelan benda, iritasi, atau inflamasi.

2.1.5 Meningkatkan kebiasaan defekasi secara rutin

Salah satu kebiasaan paling penting yang dapat perawat ajarkan tentang kebiasaan defekasi ialah menetapkan waktu untuk melakukan defekasi untuk memiliki kebiasaan defekasi yang teratur,seorang klien harus mengetahui kapan keinginan untuk defekasi muncul secara normal. Perawat menganjurkan klien untuk mulai menerapkan waktu defekasi yang paling memungkinkan dalam sehari yang akan dijadikan sebagai rutinitas, biasanya satu jam setelah makan, apabila klien harus menjalani tirah garing atau membutuhkan bantuan dalam berjalan perawat harus menawarkan sebuah pispot atau membantu klien mencapai kamar mandi.

Meningkatkan defekasi normal

Untuk membantu klien berdefekasi secara normal dan tanpa rasa tidak nyaman,sejumlah intervensi dapat menstimulasi refleks defekasi mempengaruhi karakter feses atau meningkatkan peristaltik.

Posisi jongkok, perawat mungkin perlu membantu klien yang memiliki kesulitan untuk mengambil posisi jongkok akibat kelemahan otot atau masalah-masalah mobilitas. Toilet umum biasanya terlalu rendah untuk mengambil posisi jongkok akibat menderita penyakit sendi atau penyakit yang menyebabkan kehilangan masa otot. Klien dapat membeli tempat duduk toilet yang dapat ditinggikan untuk digunakan di rumah. Dengan tempat duduk seperti ini,klien tidak perlu melakukan banyak upaya untuk berdiri atau duduk.

Mengatur posisi di atas pispot,klien yang menjalani tirah baring harus menggunakan pispot untuk defekasi. Wanita menggunakan pispot sebagai tempat untuk mengeluarkan urine dan feses,sementara pria menggunakan pispot dapat sangat tidak nyaman. Perawat harus membantu klien mengambil posisi yang nyaman.

Saat mengatur posisi klien penting mencegah agar otot tidak tegang sehingga tidak menimbulkan rasa tidak nyaman. Klien tidak pernah boleh dibiarkan duduk diatas pispot dan membiarkan tempat tidurnya dalam posisi datar, kecuali jika restriksi aktivitas membuat tempat tidurnya harus dalam posisi datar, apabila tempat tidur datar panggul akan berada dalam posisi hiperekstensi. Saat membantu klien keatas pispot , mungkin tempat tidur memang harus datar. Setelah klien berada diatas pispot, perawat meninggikan kepala tempat tidur dengan sudut 30 derajat. Meninggikan klien dengan dengan sudut 90 derajat akan membuat sulit pengaturan posisi. Dalam posisi duduk, klien harus mengangkat tubuhnya dengan menggunakan kekuatan lengannya sementara perawat meletakkan pispot. Kebanyakan klien terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut. Klien yang baru menjalani bedah abdomen,takut kalau jahitannya terkoyak akibat regangan yang mereka lakukan. Terlebih lagi, perawat membuat klien beresiko mengalami cidera dengan berupaya mengangkat klien keatas pispot.

2.1.6 Tindakan mengatasi masalah eliminasi alvi(BAB)

  1. Menyiapkan fases untuk bahan pemerikasaan

Menyiapkan fases untuk bahan pemeriksaan merupakan cara yang dilakukan untuk mengambil fases untuk bahan pmerikasaan, yaitu pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan kultur (pembiakan)

–          Pemeriksaan fases lengkap merupakan pemeriksaan fases yang terdiri atas pemeriksaan warna, bau, konstostensi, lendir, darah, dll.

–          Pemeriksaan fases kultur merupakan pemerikasaan fases melalui biakan dengan cara toucher.

Alat :

  1. Tempat penampung atau botol penampung beserta penutup.
  2. Etiket khusus.
  3. Dua batang lidi kapas sebagai alat untuk mengambil fases.

Prosedur kerja.

  1. Cuci tangan.
  2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  3. Anjurkan untuk buang air besar lalu ambil fases melalui lidi kapas yang telah dikeluarkan. Setelah selesai anjurkan untuk membersihkan daerah anus.
  4. Asupan bahan pemeriksaan ke dalam botol yang telah disediakan.
  5. Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan.
  6. Cuci tangan.
  1. Menolong buang air besar dengan mennggunakan pispot.

Menolong membuang air besar dengan menggunakan pispot merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan kepada pasien yang tidak mampu buang air besar secara sendiri dikamar kecil dengan cara menggunakan pispot (penampung) untuk buang air besar ditempat tidur, dengna tujuan memenuhi kebutuhan eliminasi alvi (BAB).

Alat dan bahan :

  1. Alas / perlak
  2. Pispot
  3. Air bersih
  4. Tisu
  5. Handuk
  6. Sampiran apabila tempat pasien di bangsal umum
  7. Sarung tangan
  8. Sabun

Prosedur kerja :

  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan prosedur
  3. Pasang sampiran
  4. Gunakan sarung tangan
  5. Pasang pengalas dibawah glutea
  6. Tempatkan piapot tepat dibawah glutea, tanyakan pada klien apakah sudah nyaman atau belu, kalau belum atur sesuai dengan kebutuhan.
  7. Letakkan sebuah gulungan handuk dibawah kurva lumbat punggung klien untuk menambah rasa nyaman.
  8. Anjurkan pasien untuk buang air besar pada pispot yang sudah disediakan.
  9. Setelah selesai siram dengan air hingga bersih dan keringkan dengan tisu.

10.  Catat tanggal dan jam defekasi serta karakteristiknya.

11.  Cuci tangan.

Prosedur pelaksanaan

  1. Bawa peralatan kedekat pasien.
  2. Jelaskan tujuan dan prosedur.
  3. Tutup jendela dan pasang sampiran.
  4. Pasang pengalas dibawah glutea
  5. Pasang selimut mandi.
  6. Cuci tangan
  7. Pakai sarung tangan
  8. Posisikan pasien dorsal rekamben
  9. Tempatkan pispot yang sudah diberi air dibawah glutea, tanyakan pada pasien apakah sudah nyaman atau belum,kalau belum atur sesuai dengan kenyamanan pasien

10.  Letakkan sebuah gulungan handuk dibawah kurva lumbal punggung pasien untuk menambah rasa nyaman.

11.  Anjurkan pasien untuk buang air besar pada pispot yang sudah disediakan

12.  Pastikan bahwa seprei dan stik laken tidak terkena.

13.  Tinngalkan pasien dan anjurkan untuk membunyikan bel jika sudah selesai atau memberi tahu perawat.

14.  Jika sudah selesai, tarik pispot dan letakkan lengkap dengan tutupnya diatas meja dorong/trolly

15.  Bersihkan dengan tisu dan menggunakan sabun,lalu bersihkan dengan air bersih.

16.  Keringkan dengan tisu

17.  Bereskan alat dan rapikan pasien

18.  Dokumentasi.

HUKNAH

  1. 1. Konsep Dasar Enema

Secara umum Enema atau huknah adalah tindakan yang digunakan untuk memasukkan suatu larutan atau cairan kedalam rectum dan colon sigmoid. Enema atau huknah diberikan tujuannya adalah untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik dan juga sebagai alat transportasi obat-obatan yang menimbulkan efek lokal pada mukosa rectum. (Perry,Potter.2005:1768).

  1. 2. Macam dan Tujuan Enema atau huknah

Enema dapat diklasifikasikan kedalam 4 golongan menurut cara kerjanya diantaranya : cleansing (membersihkan), carminative (untuk mengobati flatulence), retensi (menahan), dan mengembalikan aliran.

  1. a. Cleansing Enema

Clensing Enema merangsang peristaltik dengan mengiritasi kolon dan rektum dan atau dengan meregangkan intestinal dengan memasuki volume cairan. Ada 2 cleansing enema yaitu :

  1. Huknah rendah

Low enema (huknah rendah) diberikan hanya untuk membersihkan rektum dan kolon sigmoid. Sekitar 500ml larutan diberikan pada orang dewasa, klien dipertahankan pada posisi sims / miring kekiri selama pemberian. Tujuan huknah rendah diberikan adalah :

  1. Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy
  2. Merangsang peristaltik usus
  3. Tindakan pengobatan / pemeriksaan diagnostik
  1. Huknah tinggi

High enema (huknah tinggi) diberikan untuk membersihkan kolon sebanyak mungkin, sering diberikan sekitar 750-1000ml larutan untuk orang dewasa, dan posisi klien berubah dari posisi lateral kiri ke posisi dorsal cecumbent dan kemudian ke posisi lateral kanan selama pemberian ini cairan dapat turun ke usus besar. Cairan diberikan pada tekanan yang tinggi daripada low enema. Oleh karena itu, wadah dari larutan digantung lebih tinggi. Cleansing enema paling efektif jika diberikan dalam waktu 5-10 menit. Tujuan huknah tinggi diberikan untuk :

  1. Membantu mengeluarkan fases akibat konstipasi atau impaksi fekal
  2. Membantu defaksi yang normal sebagai bagian dari program latihan defakasi (bowel training program)
  3. Tindakan pengobatan / pemeriksaan diagnostik.
  4. b. Huknah Gliserin

Memasukkan cairan melalui anus ke dalam kolon sigmoid dengan menggunakan spuit gliserin bertujuan untuk melunakkan fases dan merangsang buang air besar serta sebagai tindakan pengobatan.

  1. c. Retention Enema

Retention enema, dimasukkan oil (pelumas) kedalam rektum dan kolon sigmoid, pelumas tersebut tertahan untuk waktu yang lama (1-3 jam). Ia bekerja untuk melumasi rektum dan kanal anal, yang akhirnya memudahkan jalannya fases.

  1. d. Carninative Enema

Carminative enema terutama diberikan untuk mengeluarkan flatus. Larutan dimasukkan kedalam rektum untuk mengeluarkan gas dimana ia meregangkan peritaltik. Untuk orang dewasa dimasukkan 60-180ml. Contoh enema carminative ialah larutan GMW,yang mengandung 30ml magnesium, 60ml gliserin, dan 90ml air.

  1. e. Enema bilas Harris

Enema Bilas Harris  ( Enema arus balik ),kadang kadang mengarah pada pembilasan kolon, digunakan untuk mengeluarkan flatus. Ini adalah pemasukan cairan yang berulang ke dalam rektur dan pengaliran cairan dari rektum. Pertama-tama larutan ( 100-200ml untuk orang dewasa ) dimasukkan ke rektum dan kolon sigmoid klien, kemudian wadah larutan direndahkan sehingga cairan turun kembali keluar melalui rectal tube ke dalam  wadah. Pertukaran aliran cairan ke dalam dan keluar ini berulang 5-6 kali,sampai ( perut ) kembung hilang dan rasa tidak nyaman berkurang atau hilang. Banyak macam larutan yang digunakan untuk enema. Larutan khusus mungkin diminta oleh dokter.

  1. 3. Indikasi
    1. Konstipasi

–          Kebiasaan buang air besar yang tidak teratur.

–          Penggunaan laxative yang berlebihan.

–          Peningkatan stress psikologis

  1. Impaksi fases

–          Kebiasaan buang air besar yang teratur

–          Konstipasi

  1. Persiapan pre operasi
  2. Untuk tindakan diagnostik misalnya pemeriksaan radiologi.
  3. Pasien dengan melana.
  4. 4. Kontra Indikasi
    1. Pasien dengan diverticulis,ulcerative colitis,crhon’s disease.
    2. Post operasi
    3. Pasien dengan gangguan fungsi jantung atau gagal ginjal, hemoroid, tumor rectum dan kolon.
  1. 5. Dampak Pemberian Huknah
    1. Dampak positif

–          membersihkan kolon bagian bawah (desenden) menjelang tindakan operasi seperti sigmoidoscopy atau colonoscopy.

–          Sebagai jalan alternatif pemberian obat.

–          Menghilangkan distensi usus.

–          Memudahkan proses defakasi.

–          Meningkatkan mekanika tubuh.

  1. Dampak negatif

–          Jika menggunakan larutan terlalu hangat akan membakar mukosa usus dan jika larutan terlalu dingin yang diberikan akan menyebabkan kram abdomen.

–          Jika klien memiliki kontrol sfingter yang buruk tidak akan mampu menahan larutan enema (perry,peterson,potter.2005).

Beberapa perbedaan dalam tindakan cleansing enema :

No Perbedaan Huknah rendah Huknah tinggi
1.

2.

3.

4.

5.

6.

– Tindakan

– Tujuan

– Kanul enema

– Posisi

– Jumlah cairan hangat yang diberikan untuk dewasa

– Tinggi irigator

– Tindakan   memasukkan cairan hangat dari rectum kedalam kolon desenden

–          Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, colonoscopy

–          Kanula Recti

–          Posisi sims miring kekiri

–          500 ml

–          ± 30 cm dari tempat tidur

–          Tindakan memasukkan cairan hangat dari rectum dimasukkan kedalam kolon asenden.

–          Membantu mengeluarkan fases akibat konstipasi atau impaksi fekal

–          Kanula usus

–          Posisi sim’s miring ke kanan

–          750-1000ml

–          ± 30-45 cm dari tempat tidur

Jumlah larutan yang diberikan tergantung pada jenis enema, berdasar usia dan jumlahh cairan yang bisa disimpan :

No Usia Jumlah Larutan
1.

2.

3.

4.

5

Bayi

Toddler atau preschool

Anak usia sekolah

Remaja

Deawasa

150 – 250 ml

250 – 350 ml

300 – 250 ml

500 – 750 ml

750 – 1000 ml


PELAKSANAAN

  1. 1. Pengertian

Tindakan yang digunakan untuk memasukkan suatu larutan atau cairan ke dalam rectum dan colon sigmoid.

  1. 2. Persiapan alat
    1. Pemberian melalui slang rectal dengan wadah enema pada enema rendah dan enema tinggi.

1. Wadah enema (huknah)

2. Volume larutan hangat

– Dewasa : 700-1000ml, dengan suhu 40,5-43ºC

– Anak – anak

Bayi : 150-250ml

Usia bermain (toddler): 250-350ml

Usia sekolah : 300-500ml

Remaja : 500-700

Cat : Suhu cairan yang digunakan untuk anak-anak adlah 37,7ºC,sedang untuk dewasa dihangatkan 40,5-43ºC

– Slang rectal dengann ujung bulat.

Dewasa : No.22-30 G French(fr)

Anak – anak : No.12-18  fr

3.   Slang menghubungkan slang rectal ke wadah (slang irrigator)

4.   Klem pengatur pada slang

5.   Termometer air untuk mengukur suhu larutan

6.   Pelumas lautan dalam air

7.   Perlak pengalas

8.   Selimut mandi

9.   Kertas toilet

10. Pispot

11. Baskom, waslap dan handuk, serta sabun

12. Sarung tangan sekali pakai

13. Tiang intravena

14. Cucing

15. Disinfektan

  1. Persiapan alat pada enema bilas harris (enema arus balik)
    1. Wadah enema
    2. Slang enema dan klem
    3. Pelumas
    4. Tutup Troli
    5. Perlak
    6. Tisu toilet
    7. Larutan : 500ml ledeng dengan suhu 105C
    8. Sarung tangan sekali pakai

(perry, Peterson,potter.2005)

  1. 3. Persiapan pasien
    1. Mengucapkan salam terapiutik
    2. Memperkenalkan diri
    3. Menjelaskan pad aklien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan
    4. Membuat kontak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)
    5. Selama komunikansi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam
    6. Klien atau keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klasifikasi
    7. Memperlihatkan kesabaran, punuh empati, sopan, dan perhatian serat respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
    8. Pasien disiapkan dlam posisi yang sesuai
    9. 4. Persiapan lingkungan
      1. Ruangan terutup
      2. Pastikan semua jendela atau pintu dakam keadaan tertutup agar privasi terjaga.
      3. Pasang sekat atau sampiran
      4. Gunakan selimut untuk melindungi daerah privasi pasien
      5. 5. Prosedur pelaksanaan
        1. a. Penatalaksanaan cleansing enema yang terdiri dari low enema (huknah rendah) dan high enema (huknah tinggi), diantaranya :
          1. Jelaskan prosedur kepada klien.

Mengurangi ansietas klien dan meningkatkan kerja sama prosedur.

  1. Tutup ruangan / tirai.

Memberikan privasi pada klien.

  1. Bantu klien untuk pada posisi miring ke kiri (lateral kiri) untuk huknah rendah dan miring ke kanan untuk huknah tinggi dengan lutut kanan fleksi.
  2. b. Persiapan alat untuk huknah gliserin
    1. Selimut mandi atau kain penutup
    2. Perlak atau pengalas
    3. Spuit gliserin
    4. Bengkok
    5. Gliserin dalam tempatnya yang direndam air panas
    6. Mangkok kecil
    7. Pispot
    8. Sampiran
    9. Tisu

10.  Waslap 2 buah

11.  Baskom 2 buah

12.  Handuk serta sabun

  1. c. Pemeberian melalui kemasan sekali pakai ( enema retensi minyak )
    1. Batang dengan ujung slang rectal
    2. Sarung tangan sekali pakai
    3. Pelumas larut dalam air
    4. Perlak pengalas
    5. Selimut mandi
    6. Kertas Toilet
    7. Pispot
    8. Baskom
    9. Waslap dan handuk, serta sabun

(Kusyati,eni.2006)

Biasanya ditempatkan pada posisi rekumben dorsal. Posisikan klien dengan sedikit control sfingter pada pispot.

Memungkinkan larutan enema mengalir kebawah dengan bantuan gravitasi sepanjang lengkung natural kolon sigmoid rectum, sehingga memperbaiki retensi larutan (klien dengan control sfingter buruk tidak akan mampu menahan larutan enema).

  1. Letakkan perlak pengalas dibawah pantat klien

Agar linen tempat tidur tidak basah

  1. Selimut butuh dan ekstrimitas bawah klien dengan selimut mandi, biarkan hanya anal yang kelihatan.

Mencegah pemajanan bagian tubuh yang tidak perlu dan mengurangi rasa malu klien.

  1. Susun wadah enema, hubungkan slang, klem, dan selang rectal.

Slang rectal harus cukup kecil untuk diameter anus klien, tetapi cukup besar untuk mencegah kebocoran disekitar slang.

  1. Tutup klem pengatur

Mencegah kehilangan larutan awal saat ditambah ke wadah

  1. Tambahkan larutan hangat kedalam wadah. Hangatkan air seperti layaknya mengalir  dari kran. Letakkan wadah salin normal dalam baskom kedalam baskom air panas sebelum menuangkan salin normal dalam baskom kedalam wadah enema. Periksa suhu larutan dengan thermometer air atau dengan meneteskan sedikit larutan diatas pergelangan tangan sebelah dalam.

Air panas dapat membakar mukosa usus sedangkan air dingin dapat menyebabkan karam abdomen dan sulit menahan air.

  1. Bilas wadah, isis dengan larutan, lepaskan klem, dan biarkan larutan keluar sampai tak ada udara. Tempatkan dekat dengan unit tempat tidur untuk memenuhi slang. Klem kembali slang.

Membuang udara dari dalam slang dan mencegah kehilangan cairan.

10.  Letakkan pispot dekat dengan tempat tidur.

Agar mudah untuk diambil bila klien tidak mampu menahan enema.

11.  Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.

Mengurangi transmisi mikro organisme

12.  Beri pelumas 3-4 cm pada ujung slang rectal dengan pelumas jeli.

Memungkinkan insersi halus slang tanpa resiko iritasi atau trauma pada mukosa rectal

13.  Alirkan sebagian kecil cairan keluar, sepanjang slang rectal untuk mengeluarkan udara dalam slang. Kemudian tutup kembali klem.

14.  Dengan perlahan, regangkan bokong dan cari letak anus. Instrusikan klien untuk rileks dengan menghembuskan nafas pada perlahan melalui mulut.

Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter anus eksternal akan meningkat.

15.  Masukkan ujung slang rectal secara perlahan dengan mengarahkanny ke umbilicus klien. Panjang insersi beragam ; 7,4-10 cm untuk orang dewasa, 5-7,5 cm untuk anak-anak, dan 2,5-3,25 cm untuk bayi. Tarik slang dengan segera, jika ditemukan obstruksi.

Insersia hati-hati mencegah trauma pada mukosa rectal akibat penusukan slang secara tidak sengaja pada dinding. Insersi yang melebihi batas dapat menyebabkan perforasi usus.

16.  Terus pegang slang sampai pengisian cairan berakhir.

Kontraksi otot dapat menyebabkan ekspultasi rectal.

17.  Buka klem pengatur dan biarkan larutan masuk dengan perlahan dengan wadah pada setinngi pinggul klien.

Penginfusan cepat dapat merangsang evakuasi dini, sebelum volume yang cukup dapat diinfuskan.

18.  Naikkan wadah secara perlahan sampai pada ketinggian diatas anus (30-45 cm untuk ketinggian enema tinggi, 30 cm untuk enema rendah, dan 7,5 cm untuk bayi). Waktu pengaliran sesuai dengan pemberian volume larutan (missal,1 liter dalam 10 menit).

Memungkinkan penginfusan perlahan terus-menerus, sebelum volume yang cukup diinfuskan. Jika wadah dinaikkan terlalu tinggi, tetesan infuse akan cepat dan memungkinkan akan nyeri akibat detensi kolon.

19.  Rendahkan wadah atau klem slang selama 30 detik, kemudian alirkan kembali secara lebih lambat jika klien mengeluh kram.

Penghentian sementara penginfusan adalah untk mencegah kram. Kram dapat menghambat klien menaahan semua cairan.

20.  Klem slang setelah semua larutan dialirkan.

Mencegah masuknya udara kedalalm rectum.

21.  letakkan lapisan tisu toilet disekitar slang pada anus dan dengan perlahan tarik slang.

Memberikan kenyamanan pada klien dan kebersihan.

22.  Jelaskan pada klien bahwa prasaan distensi adalah normal. Minta klien untuk menahan larutan selama mungkin saat berbaring ditempat tidur (untuk bayi atau anak kaci, dengan perlahan pegang kedua sisi pantat selama beberapa menit).

Larutan akan mendesak usus. Lamanya retensi beragam dengan tipe enema dan kemampuan klien untuk mengontruksi sfingter ani. Makin ditahan, perangsangan peristaltic dan defakasi akan lebih efektif (bayi dan anak-anak mempunyai control sfingter yang buruk).

23.  Bereskan wadah enema dan sleng pada tempat yang telah disediakan atau cuci secara menyeluruh dengan air hangat dan sabun bila akan digunakan ulang.

Mengontrol transmisi mikro organisme.

24.  Lepaskan sarung tangan dengan cara menariknya hingga terbalik dan taruh ke dalam wadah yang telah disediakan.

Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi.

25.  Bantu klien ke kamar mandi atau mengatur posisi pispot.

Posisi jongkok normal meningkatkan defakasi.

26.  Observasi feses dan larutan (peringatkan klien agar jaringan menyiram toilet sebelum perawat menginspeksi).

Jika enema diinstruksikan ”sampai bersih”, penting untuk mengobservasi isi larutan yang dikeluarkan.

27.  Bantu klien sesuai kebutuhan untuk mencuci area anal dengan air hangat dan sabun.

Isi fases dapat mengiritasi kulit. Kebersihan meningkatkan kenyamanan klien.

28.  Cuci tangan anda catat hasil enema pada catatan perawat.

  1. b. Penatalaksanaan huknah gliserin :
  2. Jelaskan tujuan dan proseedur pelaksaan.
  3. Pasang sampiran.
  4. Pasang selimut mandi dan tarik selimut tidur.
  5. Lepas pakaian bagian bawah.
  6. Atur posisi pasien.

–          Dewasa : miring kekiri dengan lutut kanan fleksi

–          Bayi dan anak : rekumben dorsal dibawahnya diberi pispot

  1. Pasang alat dan perlaknya.
  2. Teteskan gliserin pada punggung tangan untuk memeriksa kehangatan kemudian tuangkan mangkok kecil.
  3. Isi spuit gliserin 10 – 20 cc dan keluarkan udara.
  4. Setelah pasien berada pada posisi miring, tangan kiri dan kanan mendorong pantat ke atas sambil memasukkan spuit perlahan-lahan hingga rectum.

10.  Masukkan spuit gliserin 7-10 cm untuk orang dewasa dan 5-7,5 cm untuk anak serta 2,5-3,75 cm untuk bayi.

11.  Masukkan gliserin perlahan-lahan sambil menganjurkan pasien untuk menarik napas panjang dan dalam.

12.  Cabut spuit dan letakkan dalam bengkok.

13.  Bantu pasien BAB

–          Bantu pasien ke toilet untuk pasien yang bisa ke toilet

–          Untuk pasien dengan keadaan umum yang lemah dengan tirah baring, pasang pispot

14.  Ambil pispot

15.  Bersihkan daerah perianal pada pasien yang buang air besar pada pispot.

–          Bersihkan dengan tisu

–          Ambil waslap dan bersihkan dengan air sabun pada daerah perianal

–          Bilas dengan air bersih

–          Keringkan dengan handuk

16.  Tarik alas dan perlak.

17.  Ganti selimut mandi dan selimut tidur.

18.  Bantu pasien mengenakan pakaian bawah.

19.  Buka sampiran .

20.  Rapikan alat kemudian cuci tangan.

21.  Dokumentasikan warna dan konsistensi fases, adanya distensi abdomen.

  1. c. Penatalaksanaan enema dengan unit sekali pakai (enema retensi minyak).
  2. Ikuti langkah 1 sampai 5 ”slang rectal dengan wadah enema”.
  3. Letakkan pispot dekat tempat tidur.

Agar mudah untuk diambil bila klien tidak mampu menahan enema

  1. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.

Mengurangi transmisi mikroorganisme

  1. Kenakan sarung tangan sekali pakai.

Menurunkan transmisi mikroorganisme dari feses

  1. Lepaskan kap plastik dari ujung rectal. Meskipun ujung sudah berpelumas, jeli tambahan dapat diberikan sesuai kebutuhan.

Pelumas memudahkan insersi slang rectal tanpa menyebabkan iritasi atau trauma pada rectal

  1. Dengan perlahan, regangkan bokong dan cari letak anus. Instruksikan klien untuk rileks dengan menghembuskan napas pada perlahan melalui mulut.

Dengan mengembuskan napas, relaksasi sfingter anus eksternal akan meningkat

  1. Masukan ujung botol secara perlahan kedalam rectum. Masuknya sejauh 7,5 – 9 cm untuk orang dewasa (anak-anak dan bayi biasanya tidak mendapat enema hipertonik perkemasan).

Insersi perlahan mencegah trauma pada mukosa rectal

  1. Peras botol sampai semua larutan telah masuk rectum dan kolon. (kebanyakan botol mengandung kurang lebih 250ml larutan).

Larutan hipertonik memrlukan hanya sedikit volume untuk merangsang defekasi

  1. Ikuti langkah 20 sampai 27 ”slang rectal dengan wadah enema sebelumnya”

(kusyati,eni.2006)

  1. d. Penatalaksanaan Enema bilas harris (enema arus balik)
  2. Jelaskan tujuan dan prosedur kepada klien.
  3. Pasang sampiran.
  4. Tuanglah larutan kedalam wadah plastik dan tutupi wadah tersebut. Bawa Troli kesisi tempat tidur.
  5. Letakkan perlak dibwah pasien.
  6. Tempatkan pelumas diatas tisu. Oleskan pelumas tersebut pada ujung slang enema.
  7. Alirkan sedikit air didalam slang untuk mengeluarkan udara.
  8. Pakai sarung tangan.
  9. Masukkan slang ke dalam rectum sepanjang 10 cm.
  10. Lakukan bilas harris sebagai berikut untuk mempengaruhi peristaltik :

–          Buka klem, naikkan kaleng irigasi setinggi 30 – 45 cm diatas panggul pasien alirkan 200 ml cairan di atas rectum.

–          Turunkan kaleng irigasi sekitar 30 cm dibawah tempat tidur dan biarkan air mengalir keluar dari rectum ke dalam kaleng.

10.  Lanjutkan prosedur gas keluar. Jika semua cairan telah kembali ke luar, klem slang tersebut dan amgkat.

11.  angkat penutup tempat tidut.

12.  Kembalikan troli ke ruang peralatan. Buang isi kaleng, bersihkan peralatan pada enema biasa. Lepas sarung tangan dan buang dengan benar.

13.  Dokumentasikan waktu adanya distensi abdomen dan reaksi pasien.

Hal – hal yang perlu diperhatikan :

  1. Penggunaan enema yang tidak benar dapat menyebabkan terganggunyakeseimbangan elektrolit tubuh.
  2. Pemberian enema berulang dapat membuat perlakuan pada jaringan kolon.
  3. Tindakan enema tidak dapat diberikan selagi adanya nyeri perut yang belum dikethui penyebabnya.
  4. Peristaltik usus dapat menyebabkan peradangan apendiks hingga pecahnya apendiks.

(Perry,peterson,potter.2005)

  1. 3. Evaluasi.
    1. Menetapkan waktu yang teratur untuk defakasi.
    2. Berpartisipasi dalam program latiahan yang teratur.
    3. Memakan makanan sesuai dengan diet yang ditentukan.
    4. BAB dengan nyaman dan lancar.
    5. Minum ± 2000ml cairan / hari.
    6. Tidak terjadi defakasi pada saat dilakukan tindakan operasi.
    7. Sukses pada pemeriksaan diagnostic radiologi.

Diversi Usus

Penyakit tertentu menyebabkan kondisi – kondisi yang mencegah pengeluaran fases secara normal dari rectum. Hal ini menimbulkan suatu kebutuhan untuk membentuk suatu lubang (stoma) buatan yang permanen / sementara. Lubang yang dibuat melalui upaya bedah (ustomi) paling sering dibentuk di ileum (ileustumi) atau dikolon (kolostomi). Ujung usus kemudian ditarik kesebuah lubang didinding abdomen untuk membentuk stoma. Bergantung pada tipe prosedur bedah yang dilakukan. Jenis stoma yang dibentuk ada dua yakni klien tidak akan memiliki control terhadap materi fases yang keluar dari stoma (istomi inkontinen) atau klien memiliki control terhadap pengeluaran fases (ostomi kontinen). Untuk ostomi inkontinen, stoma ditutupi dengan sebuah kantung (dilekatkan) atau apa yang klien sebut sebagai “sebuah kantung” untuk mengumpulkan materi fases.

–          Ostomi inkontinen  adalah sebuah ileostomi merupakan jalan pintas keluarnya fases sehingga fases tidak melalui seluruh bagian usus besar. Akibatnya fases keluar lebih sering dan cair juga terjadi pada kolostomi di kolon asinden. Lokasi kolostomi ditentukan oleh masalah medis dan kondisi umum klien. Terdapat 3 jenis bentuk kolostomi :

  1. Loop Colostomy biasanya dilakukan dalam kondisi kedaruratan medis yang nantinya kolostomi tersebut akan ditutup. Jenis kolostomi ini biasanya mempunyai stoma yang berukuran besar, dibentuk dikolon transversal dan bersifat sementara.
  2. End Colostomy terdiri dari satu stoma, yang dibentuk dari ujung proksimal usus dengan bagian distal saluran GL dapat dibuang atau dijahit tertutup (disebut kantung Hartmann) dan dibiarkan didalam rongga abdomen. Pada banyak klien, end colostomy merupakan hasil terapi bedah pada kanker kolorektal. Pada kasus tersebut, rectum juga mungkin dibuang. Klien yang menderita divertikulitis dan ditangani melalui upaya bedah sering kali menjalani end colostomy yang bersifat sementara.
  3. Tidak seperti loop colostomy, usus dipotong melalui pemebdahan kedalam bentuk double barrel colostomy dan kedua ujungnya ditarik keatas abdomen. Duble barrel colostomy terdiri dari dua stoma yang berbeda. stoma proksimal ynag berfungsi dan stoma distal yang tidak berfungsi.

Ostomi yang sering mengeluarkan fases cair (mis ileostomi) menciptkan suatu tantangan dalam perawatannya.

–          Ostomi kontinen ini juga disebut diversi kontinen atau reservoar kontinen. Pada sebuah prosedur yang disebut ilenoal pull-trough, kolon diangkat dan ileum dianastomosis atau disambungkan ke sfingter anus yang utuh (Corman,1989;Dalton-loehner dan Connor,1989) tidak setiap klien yang menjalani kolektomi merupakan kandidak yang dilakukan prosedur ini untuk menentukan kriteria  pilihan, dibutuhkan koordinasi yang baik antara klien dan ahli bedah.

Ileostomi kontinen kock adalah tipe ostomi kontinen lain yang baru (Rolstad dan Hoyman,1992). Pada prosedur ini reservoar atau kantung internal dibentuk dari potongan usus halus klien. Bagian kantung ditarik keluar andomen klien sebagai sebuah stoma internal. Tidak seperti stoma ostomi lainnya, stoma eksternal dari ileostomi kontinenkock biasanya terletak sangat rendah pada abdomen klien. Biasanya dibawah garis celana dalam klien. Pada bagian ujung kantung internal terdapat tonjolan katup satu arah yang memungkinkan pencapaian kontinensia. Katup ini hanya memungkinkan isi fases keluar dari kantung jika kateter eksterna ditempatkan kedalam stoma secara intermiten karena kantung fases  yang dikeluarkan dari kantung kock jika di intubasi dengan kateter, tidak seperti individu lain yang menggunakan ostomi.

Melakukan Perawatan Stoma Rutin (Colostomy)

Alat dan Bahan :

  • o Kantong Colostomy
  • o Bak instumen, terdiri atas :

–          pinset anatomi

–          pinset cirugis

–          kom kecil

–          gunting

  • o Kapas
  • o Kasa steril
  • o NaCl
  • o Zink salp bila diperlukan
  • o Sarung tangan
  • o Bengkok
  • o Perlak
  • o Kantong plastic dan tempat sampah

Prosedur Pelaksanaan :

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  2. Dekatkan alat kedekat pasien.
  3. Pasang tirai atau sketsel untuk menjaga privasi pasien.
  4. Ganti selimut tempat tidur dengan selimut mandi.
  5. Mengatur posisi pasien ( supinasi ).
  6. Pasang perlak disisi kanan atau kiri sesuai letak stoma.
  7. Letakkan bengkok didekat klien.
  8. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan.
  9. Mengobservasi produksi stoma ( warna dan konsistensinya ).

10.  Membuka kantong kolostomy perlahan dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien. Buang kantong kolostomi pada kantong plastik yang sudah tersedia.

11.  Membersihkan dengan perlahan daerah disekitar stoma dengan tisu toilet menggunakan NaCl atau air hangat, hindari terjadinya pendarahan.

12.  Mengeringkan kulit sekitar stoma dengan kasa steril.

13.  observasi stoma dan kulit disekitar stoma.

14.  Memberikan salep jika terjadi iritasi pada kulit sekitar stoma.

15.  Mengukur kantong stoma dan membuat kantong kolostomy sesuai ukuran stoma.

16.  masukkan stoma melalui lobang kantong kolostomy.

17.  Lepas dan buang sarung tangan dengan tepat.

18.  Ganti selimut mandi dengan selimut tempat tidur buat pasien merasa nyaman

19.  Bereskan peralatan.

20.  Cuci tangan

21.  dokumentasikan.

Perawatan Pasien Ileostomi

Ileostomi adalah bukaan buatan permanent pada ileum, seperti pada kolostomi, bukaan atau stoma berada dipermukaan dinding abdomen. Drainese dari ileum berbentuk cair dan mengandung enzim pencernaan.

Perawatan pasien ileostomi mempunyai beberapa kesamaan dan beberapa dengan perawatan pasien kolostomi.

–          Perawatan pasien dengan ileostomi baru dilakukan oleh erawat yang berpengalaman.

–          Perawatan rutin dapat dilakukan oelh osisten keperawatan.

–          Drainese / keluaran bersifat sangat iritatif pada kulit, sehingga perawatan kulit disekitar stoma sangatlah diperlukan.

–          Kesesuaian ukuran cincin ileostomi merupakan hal yang penting agar tidak terjadi kebocoran.

Adapun gambar seperti berikut :

Perawatan Rutin Ileostomi (Pasien berada ditempat tidur)

  1. Lakukan semua tindakan awal prosedur.
  2. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, mengidentifikasi pasien dan memberi privasi.
  3. Siapkan peralatan yang diperlukan.

–          Baskom berisi air hangat

–          Perlak

–          Selimut mandi

–          Bedpan

–          Sarung tangan sekali pakai

–          Appliance (kantong) baru dan sabuk

–          Klem kantong

–          Peralut yang diserapkan & pipet

–          Bola kapas

–          Deodoran

–          Zat pembersih

–          Cincin karaya

–          Kasa segi empat 4×4

–          Tisu toilet

–          Handuk kertas

  1. Pasang penghalang tempat tidur untuk keselamatan. Tinggikan kepala tempat tidur danbantu pasien untuk miring kearah anda.
  2. Ganti selimut tempat tidur dengan selimut mandi.
  3. Letakkan perlak dibawah pasien.
  4. Pakai sarung tangan sekali pakai
  5. Letakkan bedpan diatas perlak dibelakang pasien.
  6. Letakkan ujung kantong ileostomi didalam bedpan. Buka klem dan biarkan keluar. Catat jumlah dan karakter drainase.
  7. Bersihkan ujung kantong drainase dengan tisu toilet dan keluarkan isinya. Letakkan tisu didalam bedpan, tutupi bedpan.
  8. Lepaskan sabuk dari kantongnya dan lepaskan dari tubuh pasien.taruh diatas handuk kertas
  9. Dengan pipet, teteskan sedikit pelarut disekitar cincin kantong. Pelarut ini akan melonggarkannya sehingga dapat dilepas. Tunggu beberapa detik jangan paksakan melepas kantong tsb.
  10. Tutup stoms dengan kasa.

–          Inspeksi kulit disekitar stoma dengan cermat

–          Jika daerah tersebut mengalami iritasi atau luka tutupi pasien dengan selimut mandi, pasang penghalang tempat tidur dan turunkan tempat tidur

–          Lepas sarung tangan dan buang dengan tepat

–          Cuci tangan anda

–          Laporkan pada perawat untuk meminta instruksi.

  1. Dengan hati –hati bersihkan dearah sekitar stoma dengan bola kapas. Gunakan larutan pembersih yang direkomendasikan, keringkan dengan perlahan.
  2. Angkat kasa dari stoma dan letakkan diatas handuk kertas.
  3. jika kantong yang digunakan memakai cincin karaya, basahi cincin tersebut, biarkan menjadi lengket dan pasang pada stoma. Jika kantong tersebut mengunakan strip perekat berlapis kertas disekitar bukaan stoma, lepaskan bagian kertasnya dan pasang disekeliling stoma.
  4. Klem kantong tersebut, tambahkan deodoran dan pasang cincinnya
  5. Atur letak sabuk mengelilingi tubuh pasien dan sambungkan dengan kantongnya.
  6. Ambil bedpan yang tertutup dan letakkan diatas kursi diatas handuk kertas
  7. Angkat perlak dan letakkan diatas bedpan.

–          Periksa sprei bagian bawah untuk memastikan bahwa bagian tersebut dalam keadaan kering

–          Ganti jika perlu.

  1. Ganti selimut mandi dengan selimut tempat tidur
  2. Kumpulkan peralatan yang kotor dan bedpan

–          Bawa keruang peralatan

–          Buang sesuai ketentuan yang berlaku

–          Jika sabuk dan kantongnya dapat digunakan kmbali, cuci dan biarkan mongering.

  1. Kosongkan, cuci dan keringkan bedpan, kembali kekamar pasien.
  2. Lepas dan buang sarung tangan dengan tepat.
  3. Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, melaporkan penyelesaian tugas, dan mendokumentasikan  tanggal, waktu, perawatan ileostomi, karakter dan jumlah drainase yang keluar dan raeksi pasien.

PERAWATAN RUTIN ILEOSTOMI  (di kamar mandi)

  1. Lakukan semua tindakan awal prosedur
  2. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, mengidentifikasi pasien, dan memberi privasi.
  3. Siapkan peralatan yang diperlukan :

Sarung tangan sekali pakai

Kantong (appliance) baru dan sabuk pengikatnya.

Selimut mandi

Klem kantong

Bola kapas

Pelarut dan pipet

Deodoran

Zat pembersih

Cincin karaya

Kasa segi empat 4 x 4

Handuk kertas

  1. Bawa peralatan ke kamar mandi pasien
  2. Bantu pasien memakai sandal dan mantel mandinya
  3. Bantu pasien ke kamar mandi. Posisikan ke toilet
  4. Letakkan selimut mandi di atas kaki pasien. Naikkan baju dan gulung sampai ke pinggang, buka kantongnya. Beritahu pasien untuk membuka kakinya.
  5. Pakai sarung tangan. Buka kantong ileostomi, arahkan ke toilet
  6. Dengan pipet teteskan sedikit pelarut disekitar cincin karaya untuk melonggarkan dari kulit. Jangan menekan kulit untuk melepaskan cincin
  7. Tutupi stoma dengan spons kasa untuk mengumpulkan drainase.
  8. Bersihkan daerah sekitar stoma dengan bola kapas serta air hangat dan sabun atau zat pembersih (jika daerah kulit luka, tanyakan padad perawat tentang instrusinya). Tepuk-tepuk hinnga kering daerah tersebut
  9. Angkat kasa dari stoma dan letakkan pada handuk kertas
  10. Jika kantong yang digunakan memakai cincin karaya, biarkan cincin tersebut menjadi lengket dan tempelkan pada stoma. Jika kantong memakai strip adesif bertutup kertas, lepaskan kertas tersebut dan tempelkan disekeliling stoma.
  11. Klem kantong tersebut dan pasang pada cincinnya
  12. Lepas dan buang sarung tangan dengan benar
  13. Atur sabuk pengikat yang bersih disekeliling tubuh pasien dan sambungkan dengan kantongnya
  14. Angkat selimut mandi dan bantu pasien untuk mencuci tangan dan kembali ke tempat tidur.
  15. Bersihkan kamar mandi pasien. Cuci sabuk pengikat dan peralatan jika dapat digunakan kembali, dan biarkan sampai kering
  16. Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, melaporkan penyelesaian tugas, dan mendokumentasikan tanggal, waktu perawatan ileostomi, tipe dan jumlah drainase yang keluar, dan reaksi pasien.


BAB III

PENUTUP

3.1  KESIMPULAN

Dalam menangani masalah eliminasi alvi,perawat harus memahami eliminasi normal dan faktor faktor yang meningkatkan atau menghambat eliminasi asuhan keperawatan yang mendukung akan menghormati dan kebutuhan  emosional klien. Tindakan yang dirancang untuk meningkatkan eliminasi normal juga harus meminimalkan rasa ketidaknyamanan. Dampak yang dapat terjadi akibat dari gangguan sistem gastrointestinal sangatlah beragam mulai dari konstipasi,diare,inkontinensia usus, dan hemoroid fecal infektion.

Enema atau huknah diberikan tujuannya adalah untuk meningkatkan defekasi dengan menstimulasi peristaltik. Penyakit tertentu menyebabkan kondisi – kondisi yang mencegah pengeluaran fases secara normal dari rectum, sehingga menyebabkan membuat suatu lubang dibagian usus, tepatnya didaerah kolon,seperti kolon asenden, traversum, desenden.

Dalam melakukan perawatan pada masalah diatas diperlukan pemahaman dalam melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang telah ada dan perawatan yang rutin.

DAFTAR PUSTAKA

Perry,potter.2005.Fundamental Keperawatan.Eds 4 jakarta : EGC

Perry,Peterson,Potter.2005. Keterampilan dan Prosedur Dasar.Eds 5 jakarta : EGC

Kusyati,eni.2006,Keterampilan dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar.jakarta : EGC

Admin.(2008).k2_Nurse: http://blogs.unpad.ac.id/k2_nurse

Dedis.2008.Intervensi keperawatan://http://amazing-care.blogspot.com

Donie.2008.enema:http://id.wikipedia.org

www:http://images.google.co.id/imgres

LAPORAN PENDAHULUAN

HYPERTERMI


Oleh :

DIAN PRATIWI

LAILIA MAGFIROTUS SIAM

NURMA EKA AYULINAR

RIA RIZKY MAULITA

RIFQYATUS SURFI MAULA

PRODI S1 KEPERAWATAN

STIKES BANYUWANGI

2007 – 2008

  1. I. DEFINISI

Hipertermi adalah keadaan suhu tubuh meningkat melebihi suhu normal yaitu suhu tubuh mencapai sekitar 40o secara terus menerus .

  1. II. ETIOLOGI

Hipertermi dapat disebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu . zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen . zat pirogen ini dapat berupa protein , pecahan protein , dan zat lain . terutama toksin polisakarida , yang dilepas oleh bakteri toksik / pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit .

Fase – fase terjadinya hipertermi

Fase I : awal

  • Peningkatan denyut jantung .
  • Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan .
  • Menggigil akibat tegangan dan kontraksi obat .
  • Kulit pucat dan dingin karena vasokonstriksi .
  • Merasakan sensasi dingin .
  • Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokonstriksi .
  • Rambut kulit berdiri .
  • Pengeluaran keringat berlebih .
  • Peningkatan suhu tubuh .

Fase II : proses demam

  • Proses menggigil lenyap .
  • Kulit terasa hangat / panas .
  • Merasa tidak panas / dingin .
  • Peningkatan nadi & laju pernapasan .
  • Peningkatan rasa haus .
  • Dehidrasi ringan sampai berat .
  • Mengantuk , delirium / kejang akibat iritasi sel saraf .
  • Lesi mulut herpetik .
  • Kehilangan nafsu makan .
  • Kelemahan , keletihan dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein .

Fase III : pemulihan

  • Kulit tampak merah dan hangat .
  • Berkeringat .
  • Menggigil ringan .
  • Kemungkinan mengalami dehidrasi .
  1. III. MANIFESTASI KLINIK

Pasien dengan gangguan thypoid akan mengalami

  • Minggu I

Pada umumnya demam berangsur naik , terutama sore hari dan malam hari . Dengan keluhan dan gejala demam , nyeri otot , nyeri kepala , anoreksia , dan mual , batuk , epitaksis , obstipasi / diare , perasaan tidak enak di perut .

  • Minggu II

Pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam , bradikardi , lidah yang khas ( putih , kotor pinggir hiperemi ) hepatomegali , meteorismus , penurunan kesadaran .

  1. IV. PATOFISIOLOGI

KUMAN MASUK PEMBULUH DARAH

PENGELUARAN ENDOTOKSIN

MERANGSANG HIPOTALAMUS

PROSES INFLAMASI

RESPON TUBUH

HIPERTERMI

  1. V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  • Pemeriksaan SGOT & SGPT

SGOT & SGPT pada demam typoid seringkali meningkatkan tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya tipoid .

  • Uji widal

Suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibody . Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasi . Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid .

  1. VI. PENATALAKSANAAN MEDIS

Yaitu tindakan yang diberikan meliputi :

  • BHSP .
  • Kenakan pakaian yang tipis .
  • Beri banyak minum .
  • Beri banyak istirahat .
  • Beri kompres .
  • Beri obat penurun panas .

  1. VII. TINJAUAN KEPERAWATAN
    1. A. Pengkajian

Adalah pengkajian dasar proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan tentang penderita agar dapat mengidentifikasi kebutuhan serta masalahnya .

Pengkajian ada 4 macam

  1. Pengumpulan data
    1. Data subyektif : data yang didapat oleh pencatat dan pasien atau keluarga dan dapat diukur dengan menggunakan standart yang diakui .
    2. Data obyektif : data yang didapat oleh pencatat dari pemeriksaan dan dapat diukur dengan menggunakan standart yang diakui .
    3. Analisa data
      1. Data primer : data yang diperoleh dari pasien itu sendiri melalui percakapan dengan pesien , pemeriksaan fisik pasien .
      2. Data sekunder : data yang diperoleh dari orang lain yang mengetahui keadaan pasien melalui komunikasi dengan orang yang dikenal , dokter / perawat .

Biodata

  1. Nama                     : berkaitan dengan identitas klien .
  2. Umur                     : demam dapat terjadi pada semua umur baik pria / wanita lebih sering pada anak – anak .
  3. Jenis kelamin         : mengantisipasi kesamaan , nama pada pasien dengan jenis kelamin berbeda .
  4. Agama                   : mengetahui pola perilaku pasien dan pendekatan spiritual .
  5. Pekerjaan               : perlu dikaji berhubungan dengan kesamaan dan aktivitas sehari – hari .
  6. Suku bangsa          : dikaji sehubungan dengan metode pendekatan yang digunakan untuk mendukung kesehatan klien serta untuk mengetahui adat istiadat .
  7. Alamat                  : untuk mengetahui kondisi lingkungan dan sanitasi uang ada disekitar .
  8. Nomor register      : perlu dikaji untuk membedakan pasien dengan nama yang sama .
  9. MRS                      : untuk mengetahui kapan pasien itu datang ke RS dan dilakukan penanganan .
  1. B. Anamnese
  2. Keluhan utama

Biasanya klien dengan thypoid maka mengalami hipertermi , itu adalah yang paling menonjol .

  1. Riwayat penyakit sekarang

Pengkajian meliputi tindakan pertama yang pernah diberikan pada keluhan utama .

  1. Riwayat penyakit dahulu

Pengkajian mengenai riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit yang dialami saat ini . pernahkah mengalami panas yang dialami sekarang .

  1. Riwayat psikososial dan spiritual

a)      Riwayat psikososial

Pada klien yang mengalami hipertermi akan timbul kecemasan .

b)      Aspek sosial

Pada klien yang mengalami hipertermi akan terjadi gangguan dalam berinteraksi dengan orang lain .

c)      Aspek spiritual

Klien akan mengalami gangguan dalam menjalankan ibadah karena klien harus menjalani ibadah . namun ada klien yang cenderung lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan begitu sebaliknya menyalahkan Tuhan akan penyakitnya yang di deritanya .

  1. C. Pola kebiasaan sehari – hari
  2. Pola aktivitas

Pola aktivitas menurun karena mengalami kelelahan disebabkan oleh hipertermi .

  1. Pola istirahat

Pola istirahat terganggu diakibatkan hipertermi .

  1. Pola kebersihan diri

Kebersihan diri kurang karena pasien cenderung memikirkan penyakit yang dideritanya daripada kebersihan diri .

  1. Pola nutrisi

Pola nutrisi terganggu karena hipertermi .

  1. D. Pemeriksaan fisik
  2. Keadaan umum
    1. Menggigil .
    2. Kulit pecah .
    3. Pengeluaran keringat berlebihan .
    4. Tampak lemah .
    5. Bibir kering .
    6. Tingkat kesadaran compos mentis sampai terjadi shock

GCS : mata = 4

Verbal = 5

Motorik = 6

  1. Tanda – tanda vital
    1. Tensi                : 105/65 mmHg – 125/80 mmHg dibawah / diatas normal .
    2. Nadi                : 70 – 110 x/menit dibawah / diatas normal .
    3. Respirasi          : 19 – 23 x/menit
    4. Suhu                : > 37 o C
    5. Berat badan

Perlu dikaji untuk menilai apakah reaksi fisiologis terhadap penyakit klien mengalami kehilangan / penurunan berat badan , asupan nutrisi yang tidak adekuat ataupun reaksi psikologis .

  1. E. Pemeriksaan sistem cephalocaudal
  2. Pemeriksaan kepala
  • Bibir : mukosa bibir kering , tidak ada cyanosis .
  • Lidah : tampak kotor & berwarna putih .
  1. Pemeriksaan ekstrimitas
  2. Pemeriksaan integumen
    1. F. Diagnosa keperawatan
    2. ketidak seimbangan volume cairan & elektrolit berhubungan dengan hipertermi .
    3. hipertermi berhubungan dengan proses infeksi .
    4. gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat .
  • Telapak tangan dan kaki berwarna kakuningan / tampak pucat .
  • Terjadi kelemahan & nyeri pada otot .
  • Kulit tampak kemerahan .
  • Akral hangat – panas .
  • Turgor baik .
  • Terjadi kelembapan kulit .
  • Dada tampak normal .
  • Abdomen nyeri tekan perut bagian kanan atas .
  1. G. Intervensi
  2. hipertermi berhubungan dengan proses penyakit .
  • BHSP
  • Beri penjelasan pada klien & keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan .
  • Lakukan kompres air dingin .
  • Anjurkan memakai pakaian tipis & menyerap keringat .
  • Mengatur jumlah pengunjung .
  • Observasi suhu tubuh .
  • Beri banyak minum , sedikit tapi sering .
  1. gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat .
  • BHSP
  • Beri penjelasan pada klien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan .
  • Anjurkan makan & minum sedikit tapi sering .
  • Anjurkan makan selagi hangat .
  • Beri makanan yang menarik dan tidak bertentangan dengan diit yang dianjurkan .
  • Ciptakan lingkungan yang optimal seperti menjaga kebersihan kamar .
  1. VIII. DAFTAR PUSTAKA

Carpenito , lynda jual . 2006 . buku saku diagnosa keperawatan edisi 10 , EGC , Jakarta .

www.nursingbegin.com

www.perawatindonesia.co.cc

BAB II

ISI

TAHUN- TAHUN AWAL SEKOLAH

Anak usia antara 6-12 tahun, periode yang kadang – kadang disebut sebagai masa kanak – kanak pertengahan atau masa laten, mempunyai tantangan baru. Kekuatan kognitif untuk memikirkan banyak factor secara stimultan memberikan kemampuan pada anak usia sekolah untuk mengevaluasi diri sendiri dan merasakan evaluasi teman – temannya. Sebagai akibatnya, penghargaan diri menjadi masalah sentral. Tidak seperti bayi dan anak pra sekolah, anak – anak usia sekolah dinilai menurut kemampuanya untuk menghasilkan hasil yang bernilai soaial, seperti nilai – nilai atau pekerjaan yang baik. Karenanya Erikson mengidentifikasi masalah sentral psikososial pada masa inisebagai krisis antara keaktifan dan inferioritas. Perkembangan kesehatan membutuhkan peningkatan pemisahan dari orang tua dan kemampuan menemukan penerimaan dalam kelompok yang sepadan serta merundingkan tantangan – tantangan yang berada di dunia luar.

  • PERKEMBANGAN FISIK

Laju pertumbuhan selama tahun sekolah awal lebih lambat daripada setelah lahir, tetapi meningkat secara terus menerus. Pada anak tetentu mungkin tidak mengikuti pola secara tepat. Anak usia sekolah tampak lebih langsing daripada anak usia pra seolah, sebagai akibat perubahan ditribusi dan keterbatasan lemak (Edelman dan Madel, 1994). Laju pertumbuhan berbeda setiap anak dan waktu yang berbeda. Rata – ratatinggi badan maeningkat 5 cm per tahun dan berat badan yang lebih bervariasi, menigkat 2 – 3,5 kg per tahun. Banyak anak yang berat badannya dua kali lipat selama tahun ertengahan masa anak – anak.

Pertumbuhan wajah bagian tengah dan bawah terjadi secara bertahap. Kehilangan gigi desidua (bayi) merupakan tanda maturasi yang lebih dramatis, mulai sekitar 6 tahun setelah tumbuhnya gigi – gigi molar pertama. Penggantian dengan gigi dewasa terjadi pada kecepatan sekitar 4/tahun. Jarigan limfoid hipertrofi, sering timbul tonsil dan adenoid yang mengesankan, yang kadang – kadang membutuhkan penanganan pembedahan.

Organ – organ seksual secara fisik belum matang, namun minat pada jenis kelamin yang berbeda dan tingkah laku seksual tetap aktif pada anak – anak dan meningkat secar progresif sampai pubertas. Masturbasi adalah biasa, bila tidak universal. Dalam adat yang lebih longgar, anak – anak pra pubertas sering melakukan elsperimen seksual.

  • PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN BAHASA

Pemikiran anak usia sekolah secara kualitas berbeda dari pemikiran anak yang lebih muda 1-2 tahun. Pada tempat kgnisi yang berdaya tarik, egosentris, dan terikat persepsi anak usia-sekolah semakin mempraktekan aturan aturan yang didasarkan pada fenomena yang dapat diamati, faktor pada banyak dimensi dan pandangan serta menginterpretasi persepsiya berdasarkan teori – teori realistik mengenai hukum – hukum fisik. Pegeseran dari ’praoperasional’ ke operasi logis yang nyata’ didokumentasi oleh Piaget dalam suatu seri percobaan ’konservasi’. Misalnya, seorang anak berusia 5 tahun yang memandangi sebuah bola dari tanah liat yag digulirkan ke seekor ular dapat bersikeras bahwa ular itu memiliki ’lebih banyak’ karena ia lebih panjang. Anak berusia 7 tahun secara khas menanggapi bahwa bola dan ular harus memilki berat yang sama karena tidak ada yang telah ditambahkan atau diambil atau karena ular tersebut lebih panjang dan lebih pipih. Reorganisasi kognitif ini terjadi pada berbagai kecepatan dalam konteks yang berbeda. Pada konteks interaksi sosial dengan saudara – saudaranya, anak kecil sering memperagakan suatu kemampuan memaham berbagai pandangan, jauh sebelum mereka memperagakan kemampuan tersebu dalam pemikirannya tentang dunia fisik.

Perubahan kognitif pada anak usia sekolah adalah kemampan untuk berfikir dengan cara logis tentang di sini dan saat ini dan bukan tetang abstraksi. Pemikiran anak usiasekolah tidak lagi didominasi oleh persepsinya dasekaligus kemampuan untuk memahami dunia secara luas. Sekiar 7 tahun, anak emasuki tahap Piaget ke tiga yaitu perkembangan kognitif, yang dikenal sebagai operasioal konkrit, ketika mereka mampu menggunakan simbol secara operasioal (aktivitas mental) dalam pemikiran, bukan kerja. Mereka mulai menggunakan proses pemikiran yang logis dengan materi konkret (objek, manusia dan peristiwa yang dapat mereka lihat dan sentuh).

Perkembanga bahasa sangat cepat selama masa kanak – kaa tengah dan pencapaian berbahasa tidak lagi sesuai dengan usianya. Rata – rata anak usia 6 tahun memiliki kosa kata sekitar 3000 kata yang cepat berkembang dengan meluasnya pergaulan dengan sebaya dan orang dewasa serta kemampuan membaca. Anak meningkatkan penggunaan berbahasa dan emgembangkan pengetahuan strukturalnya. Mereka menjadi lebih menyadari aturan sintaksis, aturan merangkai kata menjadi frase dan kalimat. Mereka juga mengidentifikasi generalisasi dan pengecualian terhadap atyran ini. Mereka menerima bahasa sebagai alat unuk menggambarkan dunia dalam cara subyektif dan menyadari bajwa kata – kata mempunyai arti yang berubah ubah dan bukan absolut.

  • PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL

Tugas perkembangan pada anak usia sekolah adalah industri versus inferioritas. Selama masa ini anak berjuang untuk mendapatkan kompetensi dan keterampilan yang penting bagi mereka untuk berfungsi sama seperti dewasa. Anak usia sekolah yang mendapatkan keberhasilan positif merasa adanya perasaaan berharga. Anak – anak yang menghadapi kegagalan dapat merasakan mediokritas (biasa saja) atau perasaan tidak berharga, yang dapat mengakibatkan menarik diri dari sekolah dan sebaya.

  • PERKEMBANGAN MORAL

Kebutuhan kode moral fan aturan sosial menjadi lebih nyata sesuai peningkatan kemampuan kognitif dan pengalaman sosial anak usia sekolah. Misalnya, anak usia 12 tahun mampu mempertimbangkan seperti apa jadinya masyarakat tanpa aturan karena kemampuan mereka untuk membuat alasan secara logis dan pengalaman mereka dalam kelompok bermain. Mereka memandang aturan sebagai prinsip dasar kehidupan, bukan hanya perintah dari yang memiliki otoritas. Pada awal tahun sekolah, anak menginterpretasikan secara ketat dan patuh terhadap aturan. Seiring dengan mereka berkembang, mereka menilai lebih fleksibel dan mengevaluasi aturan untuk diterapkan pada situasi yang ada. Anak usia sekolah mempertimbangkan motivasi dan prilaku aktual saat membuat penilaian tentang bagaimana prilaku mereka memengaruhi mereka sendiridan orang lain. Kemampuan untuk fleksibel saat menerapkan aturan dan mengambil perspektif orang lain yang esensial dalam mengembangkan penilaian moral. Kemampuan ini muncul pada nasa awal tetapi tampak lebih konsisten pada masa usia sekolah berikutnya.

  • HUBUNGAN SEBAYA

Pencapaian kelompok dan personal menjadi sangat penting pada anak usia sekolah. Sukses merupakan hal penting dalam aktivitas fisik dan kognitif. Bermain melibatkan sebaya dan pencapaian tujuan kelompok. Meskipun kegiatan soliter tidak dihilangkan, aktivitas ii tertutup oleh permainan kelompok. Belajar berperan, berkolaborasi, da bekerja sama untuk mencapa tujuan umum menjadi ukuran kesuksesan.

Anak usia sekolah menyukai sebaya sejenis daripada sebaya lain jenis. Identitas jender yang kuat dapat dilihat pada ikatan yang kuat dengan teman sejenis yang dipertahankan oleh anak, biasa dsebut ”geng”. Umumnya anak laki – laki dan perempuan memandang jenis kelamin yang berbeda secara negatif. Pengaruh sebaya menjadi lebih berbeda selama tahap perkembangan ini. Konformitas terlihat pada perilaku, gaya berpakaian, dan pola bicara, yang didorong dan dipengaruhi adanya kontrak dengan sebaya. Identitas kelompok meningkat. Seiring perubahan anak usia sekolah menuju adolesence.

  • IDENTITAS SEKSUAL

Freud menggambarkan masa kanak – kanak tengah sebagai periode laten karena ia merasa pada periode ini anak memilki sedikit ketertarikan dalam seksualitasnya. Sekarang ini banyak peneliti percaya baha anak usia sekolah memilki ketertarikan yan besar pada seksualitasnya. Beberapa anak melakukan permainan seks dan masturbasi tetapi secara sembunyi – sembunyi karena tidak diperbolehkan orang dewasa. Keinginan anak melihat majalah orang dewasa atau arti kata – kata eksplisit secara seksual juga merupakan salah satu contoh ketertarikan seksualnya.

  • KONSEP DIRI DAN KESEHATAN

Selama usia sekolah, identitas dan konsep diri menjadi lebih kuat dan lebih individual. Persepsi sehat sakit berdasarkan pada fakta yang mudah diobservasi seperti adanya atu tidak adanya penyakit dan keadekuatan tidur atau makan. Kemampuan fungsional merupakan standar untuk kesehatan personal dan kesehatan yang lain dinilai.

Antwerp dan Spaniolo (1991) telah mengembangkan kuesioner yang dapat digunakan sebagai alat ubtuk mengkaji dan meningkatkan gaya hidup yang sehat di antara anak usia sekolah. Alat ini meningkatkan kesadarn anak dan oranng tua tentang aktivitas yang meningkatkan kesehatan dan mencegah cedera.

Perawat atau pendidik kesehatan juga dapat mengggunakan alat ini untuk memperolah data untuk mengkaji kebutuhan pendidikan kesehatan anak.